
Sudah 3 hari berlalu sejak kejadian dimana Asyila mendapatkan luka di lengannya. Dan sudah 3 hari berlalu, Abraham yang melakukan semua pekerjaan rumah.
“Sudah ya Mas! Asyila sudah baik-baik saja, ini sudah 3 hari dan pekerjaan rumah, Mas terus yang menanganinya,” ucap Asyila setengah kesal karena dirinya tidak bisa melakukan apapun dan hanya menonton saja apa yang dilakukan oleh sang suami.
“Jangan mulai,” balas Abraham yang saat itu tengah mengepel lantai kamar.
Ashraf yang masih kecil itu pun ikut turun tangan menemani Sang Ayah yang tengah beres-beres rumah. Ashraf biasanya melakukan hal sederhana seperti mengambil sapu dan memberikan kepada Sang Ayah atau memungut dedaunan yang berguguran di depan rumah dan masih ada hal-hal kecil yang bisa dilakukan oleh Ashraf.
“Ayah!” panggil Ashraf yang berdiri di depan pintu kamar tanpa berani masuk kamar karena lantai masih basah.
“Diam disana dulu, sayang,” tutur Asyila menyuruh putra kecilnya untuk diam di tempat.
“Iya, Bunda,” jawab Ashraf dengan suara kecilnya yang menggemaskan.
Asyila dan Abraham saling bertukar pandang setelah mendengar jawaban menggemaskan dari putra kecil mereka.
Disaat yang bersamaan, Dyah datang dengan menggunakan sepeda motor jenis matic miliknya.
Ia datang karena mendengar kabar bahwa Aunty-nya sakit dan ingin menemuinya secara langsung.
“Assalamu’alaikum! Paman, Aunty, adik Ashraf!” Dyah mengucapkan salam dan kemudian memanggil satu-persatu penghuni rumah tersebut.
“Assalamu’alaikum!” Dyah kembali mengucapkan salam dan kali ini ia mengucapkan salam setengah berteriak.
Ashraf yang mendengarnya segera berlari menuruni anak tangga untuk menghampiri Dyah.
“Kak Dyah!” Ashraf terlihat sang senang hingga terus mempercepat langkah kaki kecilnya itu.
“Ashraf jangan lari nanti kamu....”
Bruk!
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Ashraf sudah lebih dulu terjatuh. Dyah panik dan segera menghampiri Ashraf.
“Huwa... huwa....” Ashraf menangis kesakitan karena kedua lututnya terbentur lantai.
“Ya Allah, kakak belum selesai bicara kamu malah jatuh duluan,” ucap Dyah sambil membantu Ashraf beranjak dari jatuhnya.
Abraham dan Asyila yang mendengar suara tangisan putra kedua mereka bergegas menuju lantai dasar.
“Dyah, Ashraf kenapa?” tanya Abraham dan mengambil alih menggendong putra keduanya.
Dyah dengan cepat menjelaskan kronologi bagaimana Ashraf bisa terjatuh.
Setelah mendengar penjelasan dari Dyah, Abraham paham dan mulai menghibur putra kecilnya agar segera berhenti menangis.
“Apa kabar Dyah?” tanya Asyila dan memeluk sekilas tubuh keponakan sang suami tercinta.
“Alhamdulillah baik, Aunty. Apakah lengan Aunty masih sakit?” tanya Dyah.
Asyila dan Dyah terus mengobrol dengan posisi berdiri. Sementara Ashraf masih saja menangis di gendongan Abraham.
__ADS_1
“Huwa... huwa...” Ashraf semakin memperkeras suara tangisan dan semuanya beralih memperhatikan Ashraf.
“Gendong!” pinta Ashraf sambil merentangkan tangannya ke arah Dyah.
“Minta gendong sama kak Dyah?” tanya Dyah sambil menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan bahwa Ashraf benar-benar minta gendong pada dirinya.
“Iya,” jawab Ashraf singkat.
Dyah menepuk dahinya dan mengambil alih menggendong putra kecil Paman dan Aunty-nya.
“Hufft... Ternyata Ashraf lumayan gendut ya,” ucap Dyah menggoda Ashraf.
Ashraf bukannya menangis, ia malah tertawa lepas. Tangisan yang sebelumnya dengan cepat berubah menjadi tawa.
“Astaga, kamu sengaja ya.” Dyah geleng-geleng kepala melihat akting Ashraf yang luar biasa hebatnya.
Abraham dan Asyila saling melirik melihat bagaimana putra kecil kedua mereka tertawa bahagia di gendongan Dyah.
“Ayo, kita bersantai-santai diruang keluarga!” ajak Asyila dan merekapun bersama-sama menuju ruang keluarga.
Di ruang keluarga.
“Mas, Asyila ke dapur dulu ya,” ucap Asyila yang ingin membuatkan minum untuk Dyah.
“Tidak boleh,” balas Abraham.
Dyah mengerutkan keningnya mendengar ucapan Pamannya.
Asyila tertegun dan selang beberapa detik, ia tertawa mendengar pertanyaan Dyah yang menggelitik perutnya.
“Haaa?” Abraham merasa bahwa pertanyaan Dyah adalah tuduhan untuknya.
Asyila bukannya menjelaskan, dirinya malah terus tertawa. Reaksi macam apa yang ada diraut wajah suaminya itu.
“Dasar pelit,” celetuk Dyah sambil geleng-geleng kepala.
“Ka-kamu salah paham, Dyah,” ucap Asyila yang berbicara sambil menahan tawanya, “Pamanmu tidak bermaksud untuk pelit. Akan tetapi, Aku tidak diizinkan untuk melakukan pekerjaan apapun,” jelas Asyila.
Abraham memilih untuk bergegas ke dapur dan membiarkan sang istri menjelaskan maksudnya.
Dyah yang memiliki jiwa penasaran tinggi akhirnya meminta Aunty-nya untuk bercerita lebih banyak lagi. Asyila dengan senang hati menceritakan apa yang dilakukan oleh suaminya.
“Masya Allah, Paman dari dulu tidak pernah berubah. Semoga calon suami Dyah memiliki sifat dan sikap seperti Paman,” ucap Dyah berharap karakteristik calon suaminya sama persis dengan Sang Paman.
“Kalau begitu kamu juga harus memiliki sifat dan sikap seperti istri Paman,” celetuk Abraham sambil meletakkan nampan berisi teh dan juga cemilan.
Dyah memiringkan bibirnya yang tak setuju dengan perkataan Abraham.
“Calon suami Dyah, harus menerima Dyah apa adanya,” balas Dyah dan mengangkat sebelah alisnya.
“Kalau begitu, kamu juga harus menerima kenyataan kalau calon suamimu tidak seperti Paman.”
__ADS_1
“Huh... Semoga saja seperti Paman,” ujar Dyah yang sangat berharap.
“Aamiin ya Allah,” sahut Asyila dan diikuti Abraham.
“Ngomong-ngomong, kamu sudah ada calon suami belum, Dyah?” tanya Asyila penasaran.
Dyah yang ingin menikmati teh miliknya langsung meletakkan kembali cangkir teh tersebut.
“So-soal itu sebenarnya....” Dyah ragu-ragu untuk membuka suara masalah calon suaminya yang ia sendiri bingung harus mengatakan apa.
“Iya, sebenarnya apa?” tanya Asyila semakin penasaran.
Dyah menggaruk tengkuknya yang tertutup hijab dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Istri Paman bertanya, cepat jawab!” pinta Abraham yang juga penasaran. Namun, tak menunjukkan ekspresi penasarannya pada Asyila maupun Dyah.
Dyah menelan salivanya dan bergegas menyeruput teh buatan Sang Paman.
“Akkh... Panas!” Dyah terkejut merasakan panas dibibir serta lidahnya.
Abraham tak bisa menahan tawanya, ia tertawa kecil sementara Asyila dan Ashraf kompak tertawa lepas melihat kelakuan Dyah.
“Kenapa teh ini panas sekali?” tanya Dyah dengan menahan malu.
“Bagaimana tidak panas? Itu baru saja Paman letakkan di meja dan kamu tidak sabaran meminumnya,” celetuk Abraham.
Kalau aku menjawab belum punya, Paman pasti meledekku. Tapi, aku menjawab sudah punya pasti Aunty dan Paman bertanya lebih.
Huftt... Bagaimana ini? 😫😥
“Sudah jangan dipikirkan, kalau sudah waktunya kamu pasti akan memberitahukan kami. Apakah malam ini kamu akan tidur disini?” tanya Asyila.
Dyah bernapas lega karena Asyila memutuskan tidak bertanya lagi kepada dirinya.
“Aunty tenang saja, malam ini dan dua hari ke depan Dyah akan tidur disini bersama Ashraf. Ashraf mau tidur sama kak Dyah?” tanya Dyah pada Ashraf.
“Mau!” seru Ashraf yang sangat senang dengan kehadiran Dyah.
Ponsel milik Abraham bergetar disaku celananya, dengan cepat ia mengeluarkannya untuk mengetahui siapa yang menghubungi dirinya.
“Siapa Mas?” tanya Asyila ketika sang suami baru saja mengeluarkan ponsel.
“Dayat menelepon Mas, Mas ke permisi dulu untuk menerima sambungan telepon dari Dayat.”
“Baik, Mas.”
Asyila sangat penasaran apa yang dibicarakan oleh Dayat. Ia berharap semoga saja Bunga tidak menceritakan masalah dirinya yang telah melumpuhkan orang-orang suruhannya yang mencoba untuk mencelakakan dirinya serta Eko.
Abraham 💖 Asyila
Like 💖 komen 👇🙏
__ADS_1