
“Kenapa masih berpakaian seperti ini, gantilah pakaian terlebih dahulu!” perintah Abraham karena Sang istri saat itu langsung merebahkan tubuhnya dan tidak berganti pakaian.
Asyila menggelengkan kepalanya dan hanya melepaskan hijabnya. Ketika ia beranjak dari tidurnya, Abraham terkejut melihat sprei kasur mereka berdarah.
“Ya Allah, apa ini?” tanya Abraham panik.
Abraham menarik tangan istri kecilnya dan menyentuh bagian punggung sang istri.
“Syila, Ya Allah! Apa ini, kenapa ada darah?” tanya Abraham panik.
Asyila menggigit bibirnya sendiri dan terdiam sejenak.
“Mas tidak ingin Asyila diam seperti ini, katakan apa yang sebenarnya terjadi!” perintah Abraham agar istri kecilnya mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Asyila mendongakkan kepalanya dan mulai bercerita mengenai apa yang telah terjadi di sekolah putra pertama mereka. Akan tetapi, Asyila tidak menceritakan semuanya secara detail tentang kejadian semalam.
Rahang Abraham langsung mengeras, pria itu mengepalkan tangannya kuat-kuat.
“Kurang ajar, beraninya mereka melukai istriku dan juga anakku.”
Siang itu, Abraham terlihat sangat marah dan hal itu juga yang membuat Asyila tidak ingin berbagi kesedihan dengan suaminya. Asyila ingin Sang suami bisa kembali pulih dan dapat beraktivitas seperti biasanya.
“Sudah, Mas tidak perlu marah-marah. Sekarang Asyila tidak apa-apa, tolong jangan membuat Asyila takut.” Asyila menangis dan meringkuk didalam pelukan suaminya.
“Mas sama sekali tidak marah dengan Syila, Mas marah dengan mereka-mereka yang mencoba mencelakakan keluarga kecil kita,” terang Abraham.
“Tolong jangan marah lagi ya Mas, Asyila sangat takut,” pinta Asyila agar suaminya bisa mengontrol kemarahannya.
Abraham meminta maaf dan berjanji tidak akan marah-marah lagi dihadapan istri kecilnya.
“Terima kasih, Mas,” ucap Asyila.
“Sekarang, bukalah pakaian Syila agar Mas bisa melihat sebesar apa luka dipunggung Syila!”
Dengan sangat terpaksa, Asyila membuka pakaiannya dihadapan suaminya. Bukan karena malu, Asyila hanya tidak ingin jika suaminya melihat punggungnya yang terluka hingga mengeluarkan darah. Asyila sendiri pun sangat penasaran dengan luka yang ada di punggungnya itu sebesar apa.
“Astaghfirullahaladzim, bagaimana bisa mereka melakukan hal ini kepada istriku?”
Abraham nampak sangat terkejut melihat punggung Asyila yang lukanya cukup besar. Tanpa pikir panjang lagi, Abraham cepat-cepat menghubungi dokter yang biasa menangani dirinya dan meminta dokter tersebut datang bersama dokter wanita atau perawat lainnya untuk menangani luka punggung istri kecilnya.
“Maaf, tidak seharusnya Asyila membuat Mas khawatir seperti ini,” tutur Asyila sambil berjalan ke arah almari pakaian dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai.
Asyila tidak langsung mengganti pakaiannya, karena ia harus membersihkan punggung terlebih dahulu dengan cara membersihkan diri atau mandi.
“Syila mau ngapain?” tanya Abraham ketika melihat istri kecilnya mengambil sebuah handuk.
“Mau mandi, Mas,” jawab Asyila dengan tersenyum manis.
Senyum manisnya itu adalah senyum kebohongan, dibalik senyumnya yang manis ada sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia merasa bahwa tubuh dan raganya seperti terpisah karena saking sakitnya.
Aku harus terlihat kuat dan terlihat baik-baik saja di hadapan Mas Abraham, Ya Allah tolong berikan hamba kekuatan.
Di dalam kamar mandi, Asyila sebisa mungkin untuk tetap sadarkan diri. Berkali-kali ia merem melek merasakan sakit di punggung dan menjalar ke seluruh tubuhnya.
Abraham semakin merasa khawatir di tempat tidur, tidak biasanya sang istri berlama-lama di dalam kamar mandi.
“Syila!” panggil Abraham dari luar kamar mandi.
Asyila tidak mendengar panggilan dari suaminya, ia terus saja berada di dalam kamar mandi.
Dan setelah hampir satu jam, Asyila akhirnya keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang menggigil hebat.
“Mas, Syila merasakan kedinginan,” ucap Asyila dengan bibir yang gemetar.
Abraham panik sambil merentangkan kedua tangannya agar Sang istri bisa segera berada di pelukannya.
__ADS_1
“Sini, datanglah ke pelukan Mas!”
Asyila menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa ia ingin sholat Dhuha terlebih dahulu.
“Mas tolong jangan melihat Asyila, Asyila ingin mengenakan pakaian dan sholat Dhuha dulu,” terang Asyila dan dengan cepat Abraham mengiyakan permintaan dari suaminya.
***
Asyila sudah selesai melaksanakan sholat Dhuha dan dengan langkah kecil, ia berjalan menuju tempat tidur.
“Mas, dokter kapan datang? Asyila ingin cepat-cepat diperiksa!” pinta Asyila yang kini terlihat manja disisi suaminya.
“Mungkin sebentar lagi dokter akan datang, Syila pakailah hijab!” perintah Abraham, agar ketika dokter datang Asyila tidak buru-buru mengenakan hijab.
Asyila mengiyakan dan mengambil hijabnya yang berada di almari pakaian. Baru saja Asyila mengenakannya, suara Arsyad terdengar dari luar kamar dan mengatakan bahwa dokter yang biasa menangani Ayah telah datang.
“Bunda, Pak dokter sudah datang,” ucap Arsyad sambil setengah menjerit agar bisa didengar oleh kedua orangtuanya.
“Iya sayang!” seru Asyila.
Asyila berjalan sambil menyentuh tembok, wanita muda itu terlihat sangat lemas dan Abraham semakin khawatir dengan kondisi sang istri yang terlihat lemah.
“Sayang, bantu Bunda keluar ya!” pinta Asyila.
Arsyad mengiyakan dan menggandeng tangan Bundanya menuju ruang tamu.
“Silakan masuk, dokter!” Dengan wajah yang memucat, Asyila mempersilakan kedua dokter tersebut untuk masuk.
Keduanya pun masuk ke dalam, akan tetapi dokter wanita itu langsung memegangi tangan Asyila dan mengatakan bahwa Asyila sedang sakit.
“Nona Asyila, boleh saya meminta ruangan lain untuk memeriksa kondisi Nona Asyila?” tanya dokter bernama Erlin.
Ketika Asyila ingin menjawab, tiba-tiba Asyila tak sadarkan diri. Dokter Erlin panik dan mencoba menuntun Asyila menuju sofa.
Sementara itu, dokter yang menangani Abraham sudah masuk ke dalam kamar Abraham.
Dokter Erlin dengan sigap memeriksa kondisi Asyila dan betapa terkejutnya dokter tersebut ketika tahu bahwa Asyila tengah berbadan dua.
“Tidak salah lagi, Nona Asyila tengah mengandung,” ucap Dokter Erlin ketika memeriksa denyut nadi dan perut Asyila.
Dokter Erlin dengan semangat berlari masuk ke dalam kamar Abraham yang saat itu tengah diperiksa oleh dokter Bayu.
“Tuan Abraham, ada kabar baik yang ingin saya sampaikan. Apakah Tuan Abraham ingin mendengarnya?”
“Kabar baik apa?” tanya Abraham penasaran.
“Nona Asyila...”
“Iya, istri saya kenapa?” tanya Abraham yang justru malah panik, “Apakah istri saya sakit parah?” tanya Abraham karena tak melihat Sang istri.
“Sebenarnya, Nona Asyila sekarang sedang pingsan,” ucap Dokter Erlin dan ketika ingin menjelaskan bahwa Asyila tengah berbadan dua. Arsyad sudah menangis, sehingga Dokter Erlin belum sempat memberitahukan hal tersebut.
“Bunda!” Arsyad menangis dan berlari menghampiri Bundanya di ruang tamu.
Disaat yang bersamaan, kedua orang tua Asyila, Rahma dan Ashraf telah tiba setelah menghadiri acara pernikahan saudara jauh.
“Assamu’alaikum,” ucap mereka berempat yang baru saja tiba.
Arumi mengernyitkan keningnya dan berpikir bahwa putri kesayangannya tengah tertidur.
“Sayang, kok tidur disini?” tanya Arumi yang kini sudah duduk di samping Asyila, “Syila!” panggil Arumi mencoba membangunkan Asyila.
“Bunda!” Arsyad berlari keluar dari kamar Ayahnya dan langsung memeluk tubuh bundanya. Arsyad tak menghiraukan kakek, nenek serta yang lainnya.
“Kamu kenapa menangis, Arsyad?” tanya Arumi terheran-heran.
__ADS_1
“Kata Dokter, Bunda pingsan,” jawab Arsyad.
“Bunda!” Ashraf pun ikut menangis dan mencoba membangunkan Bundanya yang tengah pingsan.
Herwan langsung menggendong tubuh putri kesayangannya dan membawanya masuk ke dalam kamar yang biasa ditiduri oleh Arsyad dan juga Ashraf.
“Kalian berdua sekarang jangan menangis!” perintah Herwan pada kedua cucunya agar berhenti menangis.
Dokter Erlin masuk ke dalam kamar yang kini tengah digunakan oleh Asyila dan meminta semua orang yang berada di dalam kamar tersebut untuk tetap tenang.
“Tolong semuanya tenang, Nona Asyila dalam keadaan baik-baik saja dan penyebab sakitnya Nona Asyila karena hormon Ibu hamil,” terang Dokter Erlin.
“Hamil?” Arumi, Herwan dan Rahma terkejut ketika mengetahui bahwa Asyila tengah berbadan dua.
“Alhamdulillah!” Arumi dan Herwan begitu senang. Saking senangnya, mereka bahkan berpelukan dengan menangis terharu.
Rahma yang mengetahui kabar kehamilan Asyila pun ikut senang dan di samping kabar bahagia itu juga, Rahma sedih teringat bayi mungilnya yang telah meninggal dunia.
“Dimana istriku?” Abraham datang bersama dengan Dokter Bayu.
Abraham telah mengetahui kabar bahagia tersebut. Keinginannya untuk menambah buah hati akhirnya tercapai, Abraham pun akhirnya tahu mengapa kondisi tubuh istri kecilnya akhir-akhir sangat tidak sehat.
“Dokter, tolong periksa juga punggung istri saya. Ada luka dipunggung Syila!” pinta Abraham.
Dokter Erlin mengiyakan dan keluar kamar untuk mengambil peralatannya di mobil. Kemudian, dokter Erlin masuk ke kamar lagi dan meminta yang lainnya untuk keluar kamar.
Di luar kamar, Abraham terus saja mengucapkan syukur. Ia benar-benar bahagia mengetahui bahwa istri tercintanya tengah mengandung anak ketiga mereka.
“Selamat ya Nak Abraham!” Arumi dengan bahagia memberikan selamat atas kehamilan putri kesayangannya.
“Terima kasih, Ibu. Semuanya, saya minta do'anya agar istri dan calon buah hati ketiga kami baik-baik saja!” pinta Abraham.
Beberapa saat kemudian.
Asyila tersadar dan pelan-pelan ia mencoba mengingat apa yang sebenarnya telah terjadi padanya. Ia pun ingat, bahwa sebelumnya ia tengah menyambut kedatangan Dokter Erlin dan juga Dokter Bayu.
“Maaf, Dok. Kenapa saya bisa disini?” tanya Asyila.
“Nona Asyila tadi pingsan, tak sadarkan diri,” jawab Dokter Erlin.
Asyila mencoba bangkit dari tidur dan merasakan bahwa punggungnya sudah diobati.
“Terima kasih, dokter. Bagaimana dengan keadaan suami saya?” tanya Asyila yang lebih mengkhawatirkan kondisi suaminya daripada dirinya.
“Alhamdulillah, Tuan Abraham baik-baik saja. Apalagi sekarang Tuan Abraham sedang dalam perasaan bahagia,” jawab Dokter Erlin.
“Perasaan bahagia? Alasannya, Dok?” tanya Asyila semakin penasaran.
“Selamat, Nona Asyila sekarang tengah mengandung dan untuk lebih jelasnya Nona Asyila datang ke rumah sakit agar mengetahui lebih pasti usia kandungan Nona Asyila,” jelas Sang dokter.
“Alhamdulillah, ternyata memang aku sedang mengandung. Terima kasih ya Allah, sehat-sehat ya sayang di dalam perut Bunda,” ucap Asyila bersyukur dan sambil mengelus-elus perutnya yang masih rata.
“Sekali lagi selamat, Nona Asyila. Kehamilan Nona Asyila masih trimester pertama, akan lebih baik jika Nona Asyila untuk sementara waktu tidak beraktivitas yang berat-berat dan juga jangan terlalu banyak berpikir. Saya pun tahu, ini bukan yang pertama kalinya Nona Asyila mengandung. Hanya saja, saya berharap Nona Asyila perbanyak istirahat,” jelas Dokter Erlin.
“Terima kasih Dok atas penjelasannya, Insya Allah saya akan berusaha menjaga kesehatan kami berdua,” jawab Asyila.
Dokter Erlin tersenyum lebar dan mempersilakan keluarga yang lain untuk masuk melihat keadaan terkini Asyila.
“Horee! Arsyad dan Ashraf akan memiliki adik!” Arsyad terlihat sangat senang mengetahui bahwa Bundanya tengah mengandung.
“Selamat ya sayang!” Arumi mencium kening putri kesayangannya dan kembali menangis terharu.
“Selamat ya Nona Asyila, saya ikut senang,” ucap Rahma memberikan selamat atas kehamilan ketiga Asyila.
Asyila mengucapkan terima kasih dan kini matanya tertuju ke arah suaminya yang terus menatapnya dengan tatapan penuh cinta.
__ADS_1
Abraham ❤️ Asyila