Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Rahma Datang Menjenguk


__ADS_3

Keesokan paginya.


Asyila tersenyum lebar melihat wajah suaminya yang tengah menggoda dirinya, wajah yang membuat siapapun melihatnya akan langsung tertawa.


“Sudah, Mas. Tolong jangan membuat Asyila tidak bisa berhenti tertawa!” pinta Asyila yang terus saja menahan tawanya.


“Tertawalah!” pinta Abraham dan kembali memasang wajah konyolnya.


Asyila akhirnya tak kuasa menahan tawanya, ia tertawa lepas seperti tak ada beban pada dirinya.


Melihat istri kecilnya tertawa, seketika itu membuat Abraham bahagia. Abraham sangat merindukan tawa sang istri yang menular.


“Assalamu'alaikum!”


Abraham dan Asyila kompak menoleh ke arah sumber suara yang baru saja mengucapkan salam.


“Wa'alaikumsalam,” balas sepasang suami istri itu.


“Ema!” Asyila terkejut sekaligus senang melihat sahabatnya datang menemuinya.


“Asyila!” teriak Ema heboh dan berlari kecil menghampiri sahabatnya.


“Kamu kenapa datang sepagi ini? Dimana Pak Yogi dan Kahfi?” tanya Asyila sambil celingak-celinguk mencari keduanya.


Abraham memasang wajah sebal, karena kedatangan Ema sepagi itu. Sehingga, Abraham tidak bisa bermesraan dengan sang istri.


Ema menoleh ke arah Abraham dengan tersenyum sebaik mungkin.


“Pak Abraham, Asyila saya pinjam sebentar ya!” pinta Ema.


Abraham tersenyum kecut dan bergeser menjauh, membiarkan Ema berada di dekat Sang istri.


“Suamimu itu benar-benar menyebalkan, lihat wajahnya! Terlihat sangat tak ikhlas,” bisik Ema.


Asyila tertawa geli sambil menganggukkan kepalanya.


“Kamu benar, Ema. Hampir setiap saat, suamiku selalu ingin dekat dan menempel padaku,” balas Asyila.


Abraham begitu penasaran dengan pembicaraan keduanya yang terlihat sangat serius. Akan tetapi, Abraham tak bisa mendekat dan ia pun memilih menikmati buah apel.


“Syila, kapan kamu bisa pulang ke rumah?” tanya Ema penasaran.


“Luka di bagian perutku belum kering, Ema. Dokter yang menangani ku pun belum memperbolehkan aku pulang dalam waktu dekat ini, maklum saja 'kan, aku habis keguguran,” terang Asyila dan tersenyum ramah ke arah sahabatnya.


“Maaf,” balas Ema yang malah mengingatkan Asyila dengan Azzam.


Abraham menyentil dahi sahabatnya yang terlihat sangat menggemaskan.

__ADS_1


Pletak!


“Awww.. Sakit tahu....”


“Kalau aku sudah sembuh, aku ingin kamu yang mentraktirku makan!” pinta Asyila yang terlihat baik-baik saja dengan apa yang diucapkan oleh Ema.


“Ok, apapun yang kamu ingin makan, aku siap membayarnya!” seru Ema.


Beberapa saat kemudian.


Abraham diruangan itu benar-benar seperti orang asing, lihat saja bagaimana Asyila dan Ema terus saja berbincang-bincang dengan begitu hebohnya. Meskipun begitu, ada rasa lega dihati Abraham melihat Sang istri bisa tertawa lepas.


“Mas kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Asyila ketika melihat suaminya tersenyum sendirian.


Abraham tersadar dan geleng-geleng kepala sembari tersenyum canggung.


“Asyila, aku pulang ya.”


“Pulang? Kenapa buru-buru sekali?” tanya Asyila yang terlihat kecewa karena sahabatnya akan kembali ke rumah.


Ema tertawa geli mendengar pertanyaan sahabatnya.


“Apa ada yang lucu?” tanya Asyila terheran-heran.


“Kamu tahu tidak? Kita sudah mengobrol lebih dari 3 jam,” jawab Ema sambil menunjuk jam di ponselnya.


Ema akhirnya pamit untuk kembali ke rumah, meninggalkan ruang rawat sahabatnya.


Selepas Ema pergi, Asyila dengan hati-hati turun dari ranjangnya untuk membersihkan diri.


“Syila yakin mau mandi?” tanya Abraham yang terlihat khawatir.


“Mas tidak perlu cemas, Asyila tidak membasahi seluruh tubuh Asyila. Lihat! Ada kain untuk mengelap tubuh Syila,” jawab Asyila sambil menunjukkan sebuah kain yang biasa digunakan untuk membersihkan diri.


“Apa perlu suamimu ini ikut?” tanya Abraham.


Asyila dengan cepat menggelengkan kepalanya dan masuk ke dalam kamar mandi dengan hati-hati.


****


Sore hari.


Suasana ruang rawat Asyila sore itu sangatlah ramai. Orang tua Asyila beserta buah hatinya bersama sang suami ada di dalam ruangan itu, belum lagi Ema beserta keluarga kecilnya.


“Assalamu’alaikum,” ucap Temmy, Yeni, Dyah dan juga Fahmi.


“Wa’alaikumsalam;” seru mereka.

__ADS_1


“Mari masuk!” Arumi dengan ramah mempersilakan mereka masuk ke dalam.


Arumi pun pamit keluar dari ruangan untuk mencari cemilan yang bisa dimakan oleh Dyah serta yang lainnya.


“Kak Dyah!” panggil Ashraf dan berlari menghampiri Dyah.


“Kamu sudah besar masih saja minta pangku,” omel Dyah karena sekarang Ashraf tengah duduk di pahanya.


“Biarin,” balas Ashraf yang terlihat sangat santai duduk dipangkuan Dyah.


Disaat yang bersamaan, Arumi sedang berjalan menuju warung yang menjual cemilan. Ketika sedang menoleh ke arah kanan, samar-samar Arumi melihat sosok wanita muda yang pernah tidur cukup lama di rumah menantu idamannya.


“Hei tunggu!” panggil Arumi dan berharap bahwa dugaannya tidak salah, ”Ya Allah, ternyata benar ini kamu,” imbuh Arumi dan seketika itu juga memeluk tubuh Rahma.


Rahma menangis terharu, ternyata Arumi masih tetaplah sama. Yaitu, masih mengenal dirinya.


“Kamu mau kemana? Kenapa tidak pernah datang ke rumah, bukankah Ibu sudah katakan kalau mau ke rumah ya main saja,” terang Arumi.


Saat itu Arumi terus saja berbicara, sampai ia lupa bahwa sedang mencari cemilan untuk para tamu yang tengah berkunjung menemui putri kesayangannya.


“Kamu sekarang terlihat sangat segar, Ibu setiap hari berdo'a agar kamu diberikan kelancaran oleh Sang maha pencipta,” terang Arumi.


Rahma tidak banyak berbicara, karena saat itu dia adalah pendengar yang baik bagi Arumi yang tanpa henti-hentinya mengatakan bahwa sangat senang bertemu dengan Rahma, wanita muda yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.


“Ini apa, Nak Rahma?” tanya Arumi ketika melihat banyak sekali kotak makan yang berada tak jauh dari Rahma.


“Ini nasi kotak pesanan orang, Ibu. Alhamdulillah sekarang Rahma sudah memiliki usaha kecil-kecilan di rumah,” jawab Rahma.


“Usaha kecil-kecilan? Kamu terima pesanan yang kalau tidak salah namanya cat-cat apa ya?” tanya Arumi yang tiba-tiba bingung dalam pelafalan bahasa bibir.


Rahma tertawa kecil dan segera melengkapi maksud dari apa yang ingin dikatakan oleh Arumi.


“Catering,” jelas Rahma.


“Nah, itu maksudnya Ibu,” balas Arumi, “Lalu, ini mau kamu antar kemana?” tanya Arumi.


“Sebenarnya ini untuk Ibu dan yang lainnya, kebetulan Rahma memasak lebih,” terang Rahma.


“Ibu dan lainnya, maksud kamu apa Rahma?”


“Rahma datang kemari sebenarnya ingin mengunjungi Nona Asyila, bolehkah Rahma bertemu dengan Nona Asyila?” tanya Rahma penuh harap.


Wajah ceria Arumi tiba-tiba mendadak kecut, sehingga Rahma pun sedih. Rahma berpikir bahwa Arumi tidak mengizinkannya untuk bertemu dengan malaikat penolongnya.


“Nak Rahma, kenapa bertanya seperti itu? Kalau memang Nak Rahma ingin bertemu dengan Asyila, mari ikut Ibu dan Ibu akan mengantarkan kamu sampai pada Asyila,” jelas Arumi.


Senyum Rahma seketika itu mengembang sempurna, ia sangat senang karena sebentar lagi akan bertemu dengan Asyila.

__ADS_1


__ADS_2