Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Fahmi Berusaha Mendapatkan Hati Dyah


__ADS_3

Malam hari.


Abraham tersenyum tipis sambil fokus dengan laptop dihadapannya.


Perasaan Abraham begitu senang ketika istri kecilnya tengah tidur di paha Abraham.


“Huaamm!” Asyila menguap dan terkesiap ketika menyadari bahwa dirinya tertidur.


“Maaf, Mas. Tidak seharusnya Asyila tidur dan tidak menemani Mas terjaga,” ucap Asyila sambil mengusap kedua matanya.


“Sudah tidak apa-apa, lagipula ini sudah jam 10. Memang sudah waktunya untuk kita tidur, Mas minta maaf ya istriku karena membuat istriku yang cantik ini ketiduran,” tutur Abraham sambil menyentuh hidung mancung Asyila.


Asyila mengangguk kecil dan mengambil pensil yang jatuh didekat paha suaminya.


Glek! Mata Abraham terbuka lebar ketika melihat belahan dada istri kecilnya yang begitu seksi.


“Tahan, tahan,” ucap Abraham sambil mengelus dadanya.


“Tahan kenapa?” tanya Asyila bingung.


Abraham tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan.


“Syila sebaiknya tidur duluan, Mas harus menyelesaikan pekerjaan ini!” perintah Abraham agar ia fokus dengan pekerjaannya.


“Baiklah, Mas,” jawab Asyila menurut.


Asyila dengan langkah kecilnya berjalan menuju kamar mandi, sebelum masuk ke dalam kamar mandi ia menoleh ke arah putra kecilnya yang tengah tertidur pulas.


“Huh..” Asyila menghela napasnya setelah keluar dari kamar mandi mengambil air wudhu.


Ia menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur dan bergeser memeluk tubuh Ashraf. Perlahan, Asyila tertidur menyusul putra kecilnya.


Abraham menoleh sekilas ke arah Asyila dan kembali fokus dengan laptop dihadapannya.


“Cepat juga tidurnya,” ucap Abraham bermonolog.


Abraham terlihat sangat fokus, sampai-sampai ia tak mendengar getaran ponselnya.


Drrrtttt!!!! Abraham kemudian menyadari dan segera menerima telepon dari Dyah.


“Assalamu'alaikum, Paman! Penginapan paman yang mana?” tanya Dyah dari balik telepon.


Abraham terkesiap dan bergegas keluar untuk melihat apa benar keponakannya datang.


“Astaghfirullahaladzim, kamu sama siapa kemari?” tanya Abraham terkejut.


Dyah cengengesan tanpa dosa melihat wajah Pamannya yang terlihat sangat terkejut dengan kedatangannya.

__ADS_1


Ketika Abraham ingin marah, ia langsung menghela napasnya dan mendekati keponakannya itu.


“Ini sudah malam, kenapa datang kemari tanpa pemberitahuan?” tanya Abraham.


Saat Dyah ingin menjawab, Fahmi pun muncul dengan beberapa bungkus plastik ukuran besar.


“Assalamu'alaikum Paman!” sapa Fahmi dan mencium punggung tangan Abraham.


“Wa'alaikumsalam, jadi kalian pergi berdua?”


“Iya Paman,” jawab Fahmi.


Dyah yang melihat keakraban Paman dan Fahmi terheran-heran, entah bagaimana Fahmi bisa sedekat itu.


Dyah mengangkat kedua bahunya dan berlari masuk ke penginapan Pamannya.


Abraham ingin mencegah Dyah untuk tidak berisik, akan tetapi Dyah terlanjur masuk dan Abraham berharap agar Dyah tak sampai membangunkan Ashraf.


“Paman, ini ada sedikit jajan untuk Paman, Aunty dan adik Ashraf,” tutur Fahmi sambil memberikan oleh-oleh yang sengaja Fahmi beli ketika dalam perjalanan menuju tempat liburan Abraham dan yang lainnya.


Abraham menerimanya dan mengucapkan terima kasih kepada Fahmi.


“Bagaimana hubunganmu dengan Dyah?” tanya Abraham yang ingin mengetahui lebih banyak tentang hubungan keponakannya dan calon keponakannya.


Wajah Fahmi mendadak kusut, dikarenakan sikap Dyah yang kurang peka.


Fahmi menggelengkan kepalanya, “Dyah tidak semudah yang aku pikirkan, Paman. Bisa dikatakan Dyah kurang peka dalam urusan asmara,” jawab Fahmi apa adanya.


Abraham tertawa kecil dan geleng-geleng kepala ketika mengingat bagaimana dulu Dyah berusaha mendekatkan dirinya dengan istri kecilnya, Asyila.


“Apa ada yang lucu, Paman?” tanya Fahmi kebingungan.


“Sangat lucu, dulu calon istrimu sangat berperan aktif dalam hubungan dan Asyila. Mengapa Aku mengatakan lucu? Ya karena dulu Dyah begitu peka dan pintar mendekatkan kami berdua, sekarang kehebatannya langsung hilang dan menjadi kurang peka atau mungkin tidak peka,” jelas Abraham.


Fahmi semakin penasaran dengan calon istrinya dan bertekad untuk berusaha mendapatkan hati Dyah seutuhnya.


“Menghadapi wanita memang harus sabar, aku tahu kamu pasti bisa mendapatkan hati Dyah. Sebenarnya, ada pria yang menyukai Dyah dan langsung ditolaknya,” ucap Abraham sambil menepuk-nepuk bahu Fahmi.


Glek! Fahmi langsung menelan salivanya dengan susah payah.


Abraham kembali tertawa ketika melihat reaksi Fahmi.


“Sudah, kamu tenang saja. Tidak seru 'kan, kalau tidak ada saingan cinta,” ucap Abraham menggoda Fahmi.


Fahmi tersenyum kaku sambil mengangguk pelan.


Abraham mengeluarkan ponselnya di saku celananya dan menghubungi pemilik penginapan untuk menyiapkan satu dua kamar malam itu juga.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian.


Seorang pria berpakaian baju muslim serta sarung yang melingkar sempurna di pinggangnya datang menghampiri Abraham. Lalu, ia memberitahukan kepada Abraham bahwa dua kamar yang sebelumnya dipesan oleh Abraham kini telah siap.


Abraham mengucapkan terima kasih kepada pemilik penginapan.


“Kalau begitu saya pamit dulu, kebetulan istri saya sedang hamil besar dan tidak enak kalau ditinggal lama-lama,” ucapnya.


“Iya, Pak. Semoga istri dan calon bayi sehat wal'afiat,” balas Abraham.


“Aamiin ya rabbal alamiin, kalau begitu saya permisi wassalamu'alaikum!”


“Wa'alaikumsalam,” balas Abraham dan Fahmi.


Abraham merangkul bahu Fahmi dan membawanya menuju kamar penginapan yang sudah ia pesan.


“Sekarang tidurlah, perjalanan mu pasti sangat melelahkan,” ucap Abraham dan meninggalkan Fahmi agar calon keponakannya segera beristirahat.


Fahmi segera merebahkan tubuhnya ditempat tidur, ia menatap langit-langit kamar sembari berdo'a agar Dyah bisa menyadari perasaan Fahmi untuknya.


Disaat yang bersamaan, Abraham masuk ke dalam kamar penginapan dan melihat Dyah yang sedang menikmati desert cokelat milik Ashraf.


“Kenapa kamu habiskan?” tanya Abraham sambil meletakkan bungkusan yang sebelum diberikan oleh Fahmi kepadanya diatas meja.


“Ya mau bagaimana lagi, Paman. Lagipula desertnya sudah tidak dingin lagi dan cair,” jawab Dyah dengan santainya.


“Ya sudah, setelah ini keluarlah dari sini!” perintah Abraham dan kembali fokus dengan laptopnya.


“Paman dosa loh mengusir keponakannya sendiri,” ucap Dyah semanis mungkin.


“Siapa juga yang mau mengusir kamu? Paman sudah memesan kamar nomor 5,” terang Abraham.


Untungnya malam itu, Asyila maupun Ashraf tidak terbangun dengan kedatangan Dyah. Dyah pun sengaja tidak membangunkan Ibu dan anak itu, dikarenakan ia akan banyak cerita dan yang terjadi selanjutnya adalah tidak bisa tidur.


“Sudah selesai, Paman menang yang paling baik se-dunia. Kalau begitu, Dyah ke kamar dulu terima kasih Paman ku yang paling tampan,” tutur Dyah dan melenggang pergi menuju kamar penginapan yang sudah dipesan oleh Pamannya.


Ketika Dyah ingin melangkah masuk ke dalam kamar penginapan, tiba-tiba Fahmi memanggilnya.


“Ada apa lagi?” tanya Dyah.


“Ini tas kamu!” Dengan senyumnya, Fahmi memberikan tas ransel Dyah yang berisi pakaian calon istrinya.


Dyah menepuk dahinya dan mengambil tas ransel miliknya.


“Ya ampun, aku benar-benar lupa. By the way, thank's ya,” ucap Dyah kemudian masuk ke kamarnya dan mengunci pintu penginapan rapat-rapat.


Fahmi menghela napasnya dan masuk ke dalam penginapan dengan raut wajah sedikit sedih.

__ADS_1


“Lebih semangat lagi Fahmi,” ucap Fahmi menyemangati dirinya sendirian.


__ADS_2