Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Abraham Kerasukan


__ADS_3

Setelah cukup lama berada di dalam kamar mandi, Asyila pun bergegas keluar dan kembali menghampiri suaminya.


“Mas baik-baik saja 'kan? Apakah ini sangat sakit?” tanya Asyila sambil menyentuh lengan suaminya yang terbalut oleh perban.


“Tidak sakit sama sekali, karena sudah ada Syila disini,” balas Abraham sambil mencubit hidung mancung Asyila.


Asyila tersenyum tipis sembari menjauhkan tangan suaminya yang terus saja mencubit hidung.


“Ini kenapa?” tanya Abraham ketika tak sengaja melihat bagian pergelangan Asyila memiliki lebam.


Asyila refleks menarik tangan yang tengah berada digenggaman suaminya.


“Oh, ini ka-karena Asyila....” Asyila menggantungkan ucapannya sembari mencari alasan menjawab pertanyaan dari suaminya.


“Karena apa? Apakah Asyila terjatuh dan akhirnya seperti ini?” tanya Abraham menduga-duga.


“I-iya Mas, ini karena Asyila kurang hati-hati ketika tengah berjalan ke halamam belakang,” balas Asyila yang terpaksa berbohong.


“Syila terpeleset?” tanya Abraham sekali lagi.


“Iya Mas,” balas Asyila lirih.


Abraham menghela napasnya dan meminta kepada sang istri agar membantunya merebahkan diri.


“ Lain kali Syila harus berhati-hati agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Sekarang, bantu suamimu ini berbaring!” pinta Abraham.


Asyila mengiyakan dan sangat berhati-hati membantu suaminya berbaring.


“Sebaiknya, Mas tetap berada di rumah sakit untuk beberapa hari ke depan,” tutur Asyila yang tak ingin jika suaminya pulang cepat.


“Sudah Mas katakan, Mas baik-baik saja dan hanya luka kecil saja,” balas Abraham dengan sangat santai.


“Ini bukan masalah kecil, Mas. Saat ini Mas tengah terluka dan Asyila tidak ingin gara-gara kepulangan Mas ke rumah, luka Mas Abraham bisa terbuka lagi. Setidaknya, tunggu sampai luka Mas Abraham kering,” ucap Asyila yang tidak ingin jika luka tembak suaminya terbuka dikemudian hari.


Ketika Abraham ingin membalas ucapan sang istri, Edi serta yang lainnya masuk ke dalam ruangan Abraham dan meminta izin untuk kembali ke rumah mereka.


Abraham dan Asyila kompak mengiyakan keinginan mereka untuk pulang meninggalkan rumah. Tak lupa, Abraham serta Asyila mengucapkan banyak terima kasih kepada mereka yang telah membantu Abraham.


“Sekarang mereka sudah pulang,” tutur Asyila sambil memperbaiki pakaian suaminya.


“Karena mereka sudah pulang, sekarang hanya kita berdua,” balas Abraham dan memberikan senyum manisnya.

__ADS_1


Meskipun Abraham tengah berbaring di ranjang karena ulah dari mafia. Akan tetapi, Abraham sama sekali tak terlihat seperti orang sakit, senyum dan juga wajahnya tetap saja berseri-seri apalagi melihat istri kecilnya berada di dekatnya.


“Mas kenapa senyum-senyum begitu?” tanya Asyila dan refleks mencubit pinggang suaminya.


“Awww... Dasar nakal,” celetuk Abraham karena tangan istri kecilnya baru saja mencubit pinggangnya.


“Habisnya, Mas Abraham senyum-senyum sendiri. Asyila pikir Mas sedang kerasukan,” ledek Asyila.


“Memang benar, saat ini Mas tengah kerasukan,” balas Abraham dan tertawa kecil.


“Haaa? Kerasukan?” tanya Asyila yang mulai panik.


“Kerasukan cinta karena Asyila,” jawab Abraham dan tertawa lepas.


Asyila melongo mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh suaminya.


“Wah-wah, sekarang Mas pintar yang menggombal,” balas Asyila dan kemudian geleng-geleng kepala.


“Bukan pintar menggombal. Akan tetapi, suamimu ini memang benar-benar tengah kerasukan.”


“Mas, ini masih sangat pagi dan ucapan Mas pagi-pagi begini sudah ngelantur,” ucap Asyila dan meminta suaminya untuk terus beristighfar.


Melihat suaminya yang terus beristigfar, Asyila sangat senang. Senyumnya yang cantik seketika itu mekar bak bunga mawar di pagi hari.


“Suami pintar,” puji Asyila dan memberikan kecupan mesra di pipi serta kening suaminya yang saat itu tengah berbaring.


“Lagi!” pinta Abraham yang memang sangat menyukai perlakuan khusus dari sang istri.


“Tidak hanya pipi dan kening yang akan Asyila cium. Akan tetapi, ini juga,” tutur Asyila sambil menyentuh bibir suaminya, “Eiittss.. Tapi ada syaratnya,” imbuh Asyila.


“Syarat? Syarat apa?” tanya Abraham penasaran.


“Mas Abraham harus sarapan dulu, Asyila tahu pasti Mas Abraham belum sarapan,” terang Asyila sambil menoleh ke arah meja rumah sakit yang tak ada apa-apa.


“Saat ini suamimu masih sangat kenyang, nanti saja setelah Mas mendapatkan ciuman dari Syila,” balas Abraham yang sama sekali belum ingin makan.


Kruyuk! Kruyuk!


Seketika itu Asyila menoleh ke arah perut suaminya dan Abraham hanya bisa diam mematung mengetahui bahwa perutnya tidak bisa bekerjasama dengannya.


“Mas dengan 'kan, tadi? Perut Mas saja sangat jujur,” ucap Asyila dan tertawa kecil melihat wajah suaminya yang tengah tersenyum kaku.

__ADS_1


“Itu tadi bukan bunyi suara perut Mas,” tutur Abraham mencoba mengelak.


Kruyuk! Kruyuk! Suara perut Abraham semakin keras dan membuat Asyila seketika itu tertawa lepas.


“Jangan bilang Mas tengah kerasukan setan lapar,” ucap Asyila sambil menyentuh perutnya yang sedikit keram karena seringnya tertawa.


Abraham pun ikut tertawa karena ulah istri kecilnya yang terus saja menertawakannya.


Di dalam ruangan itu, tidak ada sama sekali kesedihan. Abraham maupun Asyila justru terlihat sangat bahagia, mereka bisa tertawa lepas seperti tak ada beban dalam hidup mereka.


“Mas... Sudah jangan tertawa lagi!” pinta Asyila melihat suaminya yang terlihat begitu bahagia dengan tawanya.


Abraham seketika itu menghentikan tawanya dan meminta Asyila agar mengusap-usap kepalanya.


Asyila dengan senang hati mengiyakan dan mulai mengusap-usap kepala suaminya.


“Tadi, ketika Asyila kemari apakah Ashraf tahu?” tanya Abraham yang kini berubah menjadi sangat serius.


“Tidak, Mas. Ashraf tadi pagi sedang pergi bersama Ayah sesudah pulang dari masjid,” balas Asyila apa adanya.


“Sebaiknya, Syila jangan lama-lama berada disini. Kasihan Ashraf sendirian di rumah, meskipun ada Ayah dan Ibu dirumah.”


“Iya, Mas. mungkin satu jam lagi Asyila akan pulang ke rumah dan setelah sholat Dzuhur Asyila akan kemari menemani Mas Abraham sampai besok pagi,” terang Asyila yang ingin menemani suaminya yang tengah berbaring di rumah sakit.


“Baiklah, kalau itu maunya Asyila,” balas Abraham yang memang sangat senang jika sang istri terus berada disisinya.


Beberapa saat kemudian.


Asyila menoleh ke arah jam dinding yang ternyata sudah waktunya bagi Asyila untuk kembali ke rumah. Dengan sangat terpaksa, Asyila harus meninggalkan suaminya seorang diri.


“Mas, sudah jam segini. Asyila harus kembali ke rumah, Mas kalau ingin sesuatu langsung hubungi Asyila ya! Insya Allah Asyila akan datang kemari membawa keinginan Mas Abraham,” tutur Asyila sembari menyentuh tangan suaminya.


“Syila tenang saja, Suamimu disini tidak akan rewel sama sekali. Toh, luka seperti ini sudah biasa Mas dapatkan,” terang Abraham.


Mereka terus berbincang-bincang sebelum berpisah, sampai akhirnya Asyila benar-benar pergi meninggalkan suaminya seorang diri.


Dengan langkah berat, Asyila meninggalkan pujaan hatinya.


Mas Abraham harus kuat. Asyila akan berusaha lebih keras lagi agar kedepannya Mas Abraham tak mendapatkan luka-luka seperti itu lagi.


Setelah kepergian istri kecilnya, Abraham langsung memejamkan matanya untuk segera tidur.

__ADS_1


__ADS_2