Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Datang Berkunjung Ke Rumah Iis


__ADS_3

Iis terkejut melihat sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan rumahnya. Ia belum menyadari bahwa yang datang adalah orang-orang yang telah membantu dirinya dan bayi mungilnya.


Iis masih terus memperhatikan mobil hitam dihadapannya dan tersadar ketika melihat Asyila yang baru saja turun dari mobil.


“Ya Allah, ternyata Pak Abraham dan Nona Asyila yang datang!”


Iis menangis terharu melihat keluarga kecil Abraham yang baru saja keluar dari mobil.


“Assalamu’alaikum, apa kabar Iis?” tanya Asyila dan merentangkan kedua tangannya.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Iis dan terus menangis di pelukan Asyila, wanita yang telah mengurungkan niatnya untuk mengakhiri hidupnya dan telah mengembalikan buah hatinya kembali ke pelukannya.


“Kami datang seharusnya senang dong, ini kenapa menangis?" tanya Asyila mencoba menenangkan Iis.


“Saya menangis karena saking bahagianya, Nona Asyila. Mari masuk di gubuk saya yang sederhana ini,” ucap Iis mengajak mereka untuk masuk ke dalam.


“Jangan bicara seperti itu, kamipun senang bisa berkunjung kemari,” balas Asyila.


Asyila masuk ke dalam rumah sambil memperhatikan dinding rumah berbahan anyaman bambu yang sudah tak layak huni. Bagaimana jika hujan dan angin kencang menerpa?


Begitulah kira-kira yang Asyila pikirkan di dalam benaknya.


“Bunda, kok bolong semua?” tanya Ashraf polos sambil menunjuk ke arah dinding yang terbuat dari anyaman bambu.


“Ssuutt... Ashraf diam ya.” Dyah berbisik di telinga Ashraf agar tak banyak bicara.


Ashraf menurut saja dengan apa yang dikatakan oleh Dyah.


“Maaf karena rumah saya seperti ini,” ucap Iis dengan tatapan sedih karena memang rumahnya sudah sangat mengkhawatirkan.


Asyila menyentuh tangan sang suami dengan tatapan serius. Tatapan yang meminta agar sang suami membantu Iis.


“Asyila saja yang berbicara,” ucap Abraham ditelinga sang istri.


Senyum Asyila langsung mengembang sempurna dan mulai membuka suara masalah rumah yang ditempati oleh Iis.


“Kami akan membantu membangun ulang rumah ini, Insya Allah pembangunannya akan berjalan secepat mungkin,” jelas Asyila.


Iis terpaku dan tertegun mendengar penjelasan dari Asyila. Apakah ini mimpi?


Kenapa Allah sangat baik terhadap dirinya?


Begitulah kira-kira yang dipikirkan oleh Iis.


Iis menangis dan berniat bersujud di kaki Asyila. Namun, dengan cepat Asyila mencegah apa yang ingin dilakukan oleh Iis.


“Jangan lakukan hal seperti ini, kita semua sama di mata Allah,” tutur Asyila dan memeluk tubuh kurus Iis.


Abraham begitu kagum dengan ucapan Asyila yang benar-benar menyejukkan hati. Sekali lagi, Abraham bangga menjadi suami dari seorang wanita berhati mulia.


Aunty Asyila benar-benar mulia. Paman Abraham sangat beruntung memiliki istri seperti Aunty. 😇


Dyah bahkan meneteskan air mata bahagianya ketika menyaksikan Asyila dan Iis saling berpelukan.


“Terima kasih, Nona Asyila dan Pak Abraham. Semoga Allah membalas semua kebaikan kalian,” tutur Iis yang terus menangis terharu.

__ADS_1


“Sesama manusia sudah seharusnya saling membantu,” balas Asyila bijak.


“Oek.... oek...” Bayi mungil berjenis kelamin perempuan menangis.


“Iis! Anakmu nangis!” Terdengar dari dalam kamar suara wanita tuan memanggil Iis.


“Maaf semuanya, saya permisi ke kamar dulu!”


Iis terlebih dulu menghapus air matanya, kemudian Ia berlari kecil menuju kamar untuk menenangkan bayi mungilnya yang terus saja menangis.


“Dyah, tolong bawakan barang-barang yang ada di mobil ya!” pinta Asyila.


“Baik, Aunty!” Dyah beranjak dari duduknya dan mengajak Ashraf untuk ikut dengannya mengambil barang-barang yang isinya tentu saja keperluan bayi dan kebutuhan hidup sehari-hari Iis, nenek serta bayi mungilnya untuk beberapa bulan ke depan.


Beberapa menit kemudian.


“Sudah, Aunty!”


“Terima kasih, Dyah dan Ashraf!”


Dyah dan Ashraf kembali duduk di lantai yang beralaskan tikar.


“Maaf semuanya,” ucap Iis yang baru saja keluar dari kamarnya bersama bayi mungilnya dan diikuti oleh seorang nenek tua.


“Santai saja, bolehkah aku menggendong bayimu?” tanya Asyila.


“Tentu saja boleh,” jawab Iis dan memberikan bayi mungilnya kepada Asyila.


Asyila tertegun melihat bayi berumur 3 bulan sedang tertidur pulas di gendongannya.


“Ya Allah, maaf semuanya. Saya lupa membuatkan minuman, kalau begitu saya permisi ke dapur,” ucap Iis dan bergegas menuju dapur.


“Apa kabar Nek?” tanya Asyila sambil bergeser duduk mendekat ke arah wanita tua itu.


“Sudah beberapa hari ini tubuh Nenek kedinginan, mungkin karena cuaca yang berubah-ubah seperti ini,” jelasnya.


Asyila mendengarkan semua keluh kesah dari Nenek tua itu. Sesekali Asyila menoleh ke arah bayi mungil yang sedang berada di gendongannya.


“Mari dinikmati minumannya!” Iis menyuguhkan teh hangat dan meletakkan di hadapan mereka.


“Terima kasih Iis, kalau boleh tahu nama bayimu siapa?” tanya Asyila penasaran.


“Namanya Neneng,” balas Iis.


Asyila mengangguk kecil dan mulai memanggil nama bayi mungil di gendongannya.


“Ya ampun, aku hampir lupa. Ini ada sedikit rezeki untuk Iis, Nenek dan Neneng,” terang Asyila sembari menoleh ke arah kardus dan beberapa plastik yang ia beli bersama sang suami tercinta.


Iis tertegun dan memeluk neneknya yang duduk disampingnya.


“Alhamdulillah, terima kasih Pak Abraham dan Nona Asyila. Kalian benar-benar orang yang berhati mulia,” ujar Iis sambil menangis di pelukan Neneknya.


Nenek Iis pun larut dari suasana haru tersebut, ia bersyukur atas kebaikan dari sepasang suami istri yang sama sekali tidak ada ikatan persaudaraan.


“Bunda, mau lihat!” pinta Ashraf tanpa beranjak dari pangkuan Dyah.

__ADS_1


“Mau lihat adik cantik?” tanya Asyila pada putra kecilnya.


“Iya, Bunda,” balas Ashraf dengan suara kecilnya.


Asyila tersenyum manis dan memperlihatkan wajah cantik Neneng yang berada di gendongannya.


“Hallo adik cantik!” sapa Ashraf dengan tatapan penuh kagum, ”Bunda, adiknya bawa pulang ya!” pinta Ashraf dengan tatapan penuh harapan.


“Haaa?” Asyila terkejut dengan permintaan putra kecilnya yang tidak terduga.


Lain halnya dengan Abraham yang justru senyum-senyum mendengar permintaan putra kecil mereka.


“Itu kode...” Abraham menggerakkan mulutnya ke arah Asyila tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


Asyila menggigit bibirnya dan menggelengkan kepalanya ke arah Abraham.


Perbincangan terus saja berlanjut, sampai akhirnya keluarga kecil Abraham memutuskan untuk kembali ke rumah. Dikarenakan, hari sudah semakin sore dan cuaca pada saat itu perlahan mulai gelap.


Iis dan Nenek melambaikan tangan ke arah mobil arah yang perlahan pergi meninggalkan rumah mereka.


“Mereka benar-benar keluarga yang baik,” ucap Nenek.


“Iis pikir di dunia ini sudah tidak ada lagi orang berhati mulia seperti mereka, kalaupun ada mungkin mereka tidak sebaik Pak Abraham dan Nona Asyila,” tutur Iis sambil terus memperhatikan arah jalan mobil itu pergi.


****


Beberapa hari kemudian.


Abraham dan Asyila baru saja melakukan panggilan video pada putra pertama mereka di Jakarta. Banyak hal baru yang diceritakan oleh Arsyad kepada kedua orangtuanya. Mulai dari membersihkan kebun anggur bersama Nenek buyutnya, memancing ikan di kolam dan masih banyak lagi hal-hal baru yang diceritakan


oleh Arsyad.


“Mas jangan disini!” pinta Asyila pada suaminya yang tiba-tiba memeluk tubuhnya dari belakang.


“Lalu dimana?” tanya Abraham menggoda.


“Iya, nanti di kamar ya Mas..”


“Ya sudah, ayo kita ke kamar sekarang!” ajak Abraham dengan begitu semangat, “Kita harus cepat memberikan adik perempuan untuk Arsyad dan Ashraf,” imbuh Abraham yang sebenarnya ingin sekali memiliki bayi lagi.


“Kalau tiba-tiba yang jadi bayi laki-laki bagaimana, Mas?” tanya Asyila dengan malu-malu.


“Ya kita buat lagi sampai punya bayi perempuan,” jawab Abraham dengan sangat santai.


“Mas kira gampang apa melahirkan?” tanya Asyila sedikit kesal.


Abraham tersenyum tipis dan membalikkan tubuh sang istri agar menghadap kepadanya.


“Iya Mas tahu perjuangan Syila melahirkan Arsyad dan Ashraf. Sebelumnya, Mas mengucapkan terima kasih atas perjuangan Syila,” terang Abraham dan memberikan ciuman bibir.


Dyah yang ingin mengambil air minum tak sengaja melihat sepasang kekasih halal tersebut sedang bermesraan di dapur.


“Astaghfirullahaladzim!” Dyah berteriak dan segera berbalik badan. Untungnya, ia tidak melihat adegan ciuman tersebut dikarenakan posisi Abraham yang membelakangi dirinya.


Abraham dan Asyila terkesiap seperti orang yang sedang tertangkap basah. Padahal sebenarnya mereka Memang tertangkap basah wkwkw... 😅

__ADS_1


Abraham 💖 Asyila


Terima kasih atas kunjungan Kalian!


__ADS_2