
Kediaman Abraham Mahesa.
Abraham dan Asyila telah tiba di rumah, para medis kompak menurunkan Abraham dan meletakkan Abraham di kursi roda yang sebelumnya telah dibeli oleh Asyila untuk suaminya.
“Assalamu'alaikum,” ucap Abraham dan Asyila.
“Wa'alaikumsalam, mari masuk.” Arumi terlihat sangat sedih dengan mata berkaca-kaca ketika melihat menantu kesayangannya duduk di kursi roda.
Arsyad dan Ashraf berjalan mendekat dengan tatapan sedih karena Ayah mereka untuk sementara waktu tidak bisa berjalan normal seperti biasanya.
Para medis membawa Abraham masuk dan meletakkan beberapa alat medis untuk pengobatan Abraham di rumah. Kemungkinan, setiap hari akan ada perawat ataupun dokter yang akan datang untuk mengontrol kondisi terbaru Abraham.
“Untuk sementara ini Tuan Abraham sebaiknya perbanyak istirahat, kami kedepannya akan berusaha untuk memberikan perawatan terbaik meskipun tidak di rumah sakit,” ucap dokter yang menangani Abraham.
Abraham, Asyila dan yang lainnya mengucapkan terima kasih. Kemudian, dokter itu serta yang lainnya pamit untuk kembali ke rumah sakit.
Kini Abraham hanya bisa berbaring di kamar dan ditemani oleh kedua putra kecilnya yang terus menatapnya dengan tatapan sedih.
Arumi, Dyah dan Herwan pun pamit untuk meninggalkan kamar agar Abraham bisa kembali beristirahat.
“Kalian kenapa tampak sedih? Seharusnya kalian senang karena Ayah bisa pulang ke rumah. Atau kalian ingin Ayah kembali lagi ke rumah sakit?” tanya Abraham.
Arsyad dan Ashraf dengan cepat menolak sambil menggelengkan kepala mereka.
“Tidak boleh, Ayah disini saja,” ucap Arsyad sambil menggenggam erat tangan Ayahnya seakan-akan takut jika Ayahnya benar-benar kembali ke rumah sakit.
“Ayah... hiks .. hiks.” Ashraf yang berada disebelah kiri Ayahnya tiba-tiba menangis dan langsung naik ke tempat tidur dengan memeluk erat lengan Ayahnya.
Asyila menangis terharu, meskipun ia sedih karena keadaan suaminya. Namun, dibalik itu semua ada hal manis yang bisa dipetik dari peristiwa yang terjadi.
“Sayang, Ayah disini seharusnya jangan menangis. Kalian wajib menghibur Ayah, agar Ayah kalian bisa kembali sembuh. Siapa yang mau Ayah sembuh?” tanya Asyila kepada Arsyad serta Ashraf.
Keduanya kompak mengangkat tangan mereka sambil menyebutkan nama mereka masing-masing.
“Nah kalau begitu, kalian harus banyak tersenyum dan tidak boleh menangis seperti tadi.”
__ADS_1
“Siap Bunda,” balas keduanya.
Asyila tiba-tiba merasa lapar, ia pun menawarkan suaminya untuk makan bersamanya. Abraham mengangguk kecil dan tanpa pikir panjang, Asyila bergegas keluar kamar untuk segera mengambil makanan di dapur.
“Aunty, bagaimana keadaan Paman? Maksudnya Dyah, apakah Paman sudah tidur?” tanya Dyah penasaran.
“Masih sangat pagi untuk Pamanmu tidur, Dyah,” balas Asyila sambil terus melangkahkan kakinya menuju ruang makan.
Dyah seperti anak ayam yang mengikuti induknya, ia terus mengikuti Asyila ke ruang makan.
Arsyad dan Ashraf tetap setia menemani Ayah mereka yang masih berbaring di tempat tidur dengan kaki yang terbalut perban.
“Kalian kenapa diam saja?” tanya Abraham terheran-heran karena hanya bisa mendengar napas kedua putra kecilnya.
Arsyad dan Ashraf kompak mendongak ke arah Abraham.
“Kenapa melihat Ayah seperti itu?” tanya Abraham menoleh ke arah putra kecilnya secara bergantian.
“Ayah cepat sembuh ya, biar Ayah yang antar Arsyad ke sekolah,” tutur Arsyad yang ingin sekali jika Ayahnya bisa mengantarkannya ke sekolah.
Abraham mengiyakan sambil membelai lembut rambut Arsyad.
“Hhmm... Kalau Ashraf mau sekolah, Ashraf harus jadi anak penurut. Insya Allah Ayah dan Bunda akan menyekolahkan Ashraf tahun depan,” terang Abraham.
“Yang sama seperti sekolah Kak Arsyad ya Ayah!” pinta Ashraf yang ingin sekali bisa sekolah bersama dengan Arsyad.
Arsyad dengan semangat meminta Ayah mereka untuk mengizinkan Ashraf sekolah di sekolah yang sama dengannya.
Abraham dengan berat hati menggelengkan kepalanya, tanda ia menolak keinginan Ashraf yang ingin satu sekolah dengan Kakaknya.
“Sayang, kalau yang itu Ayah tidak mengizinkannya. Ayah harap Ashraf tidak sedih dan tidak kecewa karena Ayah tidak mengizinkan Ashraf satu sekolah dengan Kak Arsyad,” jelas Abraham.
Abraham tidak bisa membayangkan bagaimana jika kedua buah hatinya tinggal di Jakarta, sementara ia dan istri tinggal di Bandung berdua saja.
“Kalau Ashraf satu sekolah dengan Kak Arsyad, bagaimana dengan Ayah dan Bunda yang ada di Bandung? Kalau Ayah tidak apa-apa, tapi bagaimana dengan Bunda?
__ADS_1
Bunda siapa nanti yang jaga?” tanya Abraham yang ingin mendengar respon dari Ashraf.
Ashraf dengan cepat mengurungkan niatnya untuk sekolah di sekolah yang sama dengan Sang kakak, apa yang dikatakan oleh Ayahnya sangatlah benar. Jika ia dan Arsyad sekolah di Jakarta bersama, otomatis kedua orangtuanya akan kesepian di rumah. Belum lagi jika Sang Ayah berkerja dan harus pulang malam, bahkan bisa saja berhari-hari tidak pulang karena urusan pekerjaan belum juga selesai.
Disaat yang bersamaan, Asyila datang dengan membawa makanan berisi sepiring nasi serta lauknya ditambah pula dengan dua gelas air minum berukuran besar.
Tidak hanya Asyila yang masuk ke dalam kamar, Dyah pun masuk untuk mengajak kedua adiknya keluar dari kamar.
“Ayo main monopoli sama kakak!” ajak Dyah sambil menggerakkan tangannya agar Arsyad serta Ashraf segera meninggalkan ruang kamar orang tua mereka.
Arsyad dan Ashraf berlari secepat mungkin untuk bermain permainan monopoli yang sebelumnya Dyah beli.
Asyila dan Abraham saling menatap dengan senyum manis mereka.
“Istriku sekarang terlihat semakin cantik,” puji Abraham.
Asyila tersipu malu sambil mengambil piring di nampan.
“Mas, besok Asyila mau ke rumah mbak dari Mbak Rahma. Apakah boleh?” tanya Asyila.
“Apa harus besok? Bagaimana kalau nanti sore, Mas juga ingin ikut kesana,” jawab Abraham.
Asyila menghela napasnya sambil melihat kondisi suaminya yang tak berdaya di rumah sakit.
“Mas sebaiknya banyak-banyak beristirahat di rumah, soal itu biar Asyila saja yang mengurusnya. Mas tidak perlu khawatir mengenai Asyila, Insya Allah Asyila dilindungi oleh Sang Pencipta langit dan bumi,” terang Asyila.
Abraham menghela napasnya dan ia pun mengangguk kecil tanda setuju.
“Mas lapar, ayo suapi Mas!” pinta Abraham dan membuka mulutnya hingga berbentuk o besar.
“Baca Do'a dulu, Mas Abraham!”
Abraham menepuk dahinya dan keduanya membaca Do'a bersama sebelum menikmati makan bersama.
Teras depan rumah.
__ADS_1
Fahmi tiba-tiba datang dan seketika itu juga membuat Dyah menjadi salah tingkah, sebenarnya bukan hal pertama bagi Dyah melihat Fahmi muncul dihadapannya. Akan tetapi, lain halnya dengan kali ini. Dyah ingin terlihat elegan dihadapan calon suaminya itu.
Fahmi menggelengkan kepalanya melihat gaya Dyah yang aneh, ia pun terang-terangan mengatakan bahwa ia menyukai Dyah yang seperti biasanya. Tidak ada istilah jaga image, Fahmi ingin Dyah tampil apa adanya seperti yang sebelumnya.