
Senyum Asyila merekah sempurna menyambut pagi hari yang cerah, secerah hatinya kala itu.
“Selamat pagi, istriku,” tutur Asyila berbisik ditelinga Sang istri sembari memeluk tubuh istri kecilnya dari belakang.
“Selamat pagi juga suamiku,” balas Asyila menyapa sapaan suaminya.
“Kalau boleh tahu, Syila kenapa pagi ini terlihat bahagia?” tanya Abraham penasaran dan meletakkan dagunya di pundak Asyila.
“Asyila tak sabar ingin menanti bulan puasa, Mas Abraham. Besok kita akan pergi ke Jakarta dan akan melewati puasa pertama di sana,” jawab Asyila.
“Oh, jadi itu alasannya mengapa Asyila pagi ini terlihat begitu bahagia. Bahkan, mentari pagi saja kalah cantiknya,” puji Abraham.
Asyila mengernyitkan keningnya dan tertawa melepaskan mendengarkan suaminya yang memuji dirinya.
“Kok malah tertawa?” tanya Abraham penasaran.
“Bagaimana tidak tertawa, Mas terlalu berlebihan dalam memuji Asyila,” jawab Asyila.
Abraham hanya tertawa kecil mendengar jawaban dari suaminya.
“Oek... Oek... Oek...” Bayi Akbar tiba-tiba menangis dan seketika itu juga Asyila melepaskan pelukan suaminya untuk segera menghampiri bayi mungil mereka yang tengah menangis.
“Cup... Cup... Cup ... Jangan menangis!” pinta Asyila sembari menggendong bayi mungilnya itu.
Abraham hanya bisa memperhatikan istri kecilnya yang saat itu tengah mencoba menenangkan buah hati mereka.
“Kesayangan Bunda langsung diam?” tanya Asyila pada bayi mungil yang tiba-tiba menghentikan tangisannya.
Abraham menggerakkan tangannya memberi isyarat agar istri kecilnya segera datang kepadanya.
“Sebentar ya Mas, Syila coba taruh bayi kita ke keranjang bayi,” tutur Asyila dan meletakkan bayi mungil itu kembali ke keranjang bayi.
Saat Asyila ingin kembali menghampiri suaminya, tiba-tiba terdengar suara pintu yang sedang diketuk.
“Tok.. tok.. tok..”
“Siapa?” tanya Asyila sambil cepat-cepat mengganti pakaiannya dengan pakaian tertutup.
“Dyah!” seru Dyah dari luar pintu kamar.
“Iya Dyah, ada apa?” tanya Asyila dari dalam kamar yang masih berusaha secepat mungkin mengganti pakaiannya.
“Ada yang ingin Dyah katakan, Aunty!”
Asyila yang telah selesai mengganti pakaiannya itu pun bergegas membukakan pintu untuk Dyah. Sementara Sang suami memilih menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan hanya terlihat bagian kepalanya saja.
“Iya Dyah, apa ada hal penting yang ingin kamu sampaikan?” tanya Asyila penasaran.
“Begini Aunty, malam ini Bela tidur di rumah Dyah ya!” pinta Dyah.
__ADS_1
“Apakah Bela sudah menyetujuinya? Kalau Bela mengiyakan, tidak mungkin Aunty ataupun Pamanmu melarangnya,” balas Asyila.
“Terima kasih, Aunty. Kalau begitu, Dyah ajak Bela ke rumah Dyah sekarang ya!” pinta Dyah yang terlihat sangat senang seperti sesuatu yang luar biasa indahnya.
Asyila tertawa kecil mendengar permintaan Dyah.
“Ini masih sangat pagi, kenapa tidak nanti saja setelah sarapan?”
“Oh iya ya, kenapa Dyah sampai lupa,” balas Dyah dan melenggang pergi untuk membuat sarapan.
Asyila yang memang sudah mandi, saat itu bergegas kembali masuk ke dalam kamar dan mengenakan hijab miliknya untuk segera turun ke dapur menyiapkan sarapan.
“Mas, Syila ke bawah ya. Mau memasak sarapan.”
Abraham hanya bisa mengiyakan, meskipun ia masih ingin memeluk istri kecilnya di tempat tidur.
“Aunty kenapa turun? Pagi ini biar Dyah dan Bela yang memasak sarapan,” terang Dyah yang saat itu tengah mengiris daun bawang.
“Benarkah?” tanya Asyila memastikan.
Dyah dan Bela seketika itu mengiyakan dengan begitu kompak.
“Baiklah, kalau begitu Aunty yang akan menyapu lantai,” tutur Asyila yang bersiap-siap untuk mengambil sapu lantai.
“Aunty tidak perlu melakukannya,” cegah Dyah.
“Karena kami sudah menyapu dan juga mengepel lantai,” jawab Dyah dan mengedipkan sebelah matanya kepada Asyila.
“Lalu, apa yang akan Aunty kerjakan kalau semua pekerjaan rumah sudah kalian ambil alih?” tanya Asyila kebingungan.
Dyah menggaruk-garuk kepalanya sembari tersenyum bodoh.
“Ya sudah kalau begitu, Aunty main saja dengan cucu kecil Aunty,” tutur Asyila dan bergegas mencari cucu pertamanya, Asyila kecil.
Dyah tertawa kecil, sementara Bela tersenyum manis.
“Ayo kita lanjutkan lagi!” Dyah kembali melanjutkan pekerjaannya memasak begitu juga dengan Bela yang membantu Dyah untuk menyiapkan sarapan pagi.
***
Sore hari.
Abraham, Asyila dan juga bayi mungil mereka sore itu sedang berada di ruang keluarga.
Di ruang keluarga, hanya ada mereka bertiga. Dikarenakan, Bela hari itu sampai besok menginap di kediaman keluarga kecil Dyah.
“Mas, Bela sekarang lagi apa ya?” tanya Asyila yang terlihat agak sedih.
Melihat wajah istri kecilnya sedih, Abraham malah tersenyum.
__ADS_1
“Mas kok malah tersenyum begitu?” tanya Asyila dan memanyunkan bibirnya.
“Bu-bukan maksud Mas untuk mengejek Syila, akan tetapi Mas senang melihat wajah Asyila yang seperti itu. Terlihat jelas kalau Syila tidak rela jika Bela tidur di rumah Fahmi dan Dyah,” terang Abraham.
“Bukan tidak rela, Mas. Hanya saja agak aneh saja kalau tidak ada Bela,” balas Asyila.
“Iya, Mas tahu. Bukankah besok Bela sudah pulang,” tutur Abraham dan memberikan kecupan mesra di kening Asyila.
“Semoga saja Bela terus bahagia ya Mas.”
“Insya Allah,” balas Abraham.
Ketika Abraham sedang memandangi wajah istri kecilnya, tiba-tiba ponsel milik Abraham berbunyi dan seketika itu juga Abraham menerima panggilan telepon tersebut.
“Assalamu’alaikum, iya Edi ada apa?”
Asyila menoleh ke arah suaminya yang saat itu tiba-tiba terlihat begitu panik.
“Baik, aku akan segera kesana. Wassalamu'alaikum!”
Setelah memutuskan sambungan telepon, Abraham buru-buru berlari menuju kamar untuk segera mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih rapi.
Melihat suaminya yang nampak panik, Asyila memutuskan untuk segera menyusul suaminya yang baru saja berlari meninggalkan dirinya dan bayi mereka di ruang keluarga.
“Mas Abraham mau kemana?” tanya Asyila ketika baru saja masuk ke dalam kamar dan melihat suaminya yang sudah berpakaian rapi.
“Edi memberitahukan Mas kalau Dayat saat ini tengah koma di rumah sakit,” tutur Abraham pada istri kecilnya.
“Innalilahi wa innailaihi rojiun, kenapa Pak Dayat bisa sampai koma Mas?” tanya Asyila dengan tatapan tak percaya atas apa yang telah terjadi kepada sahabat dari suaminya itu.
“Mas juga belum tahu pasti, karena saat Edi menghubungi Mas, suara Edi begitu parau. Untuk mengetahui lebih jelas, Mas harus pergi ke rumah sakit tempat dimana Dayat di rawat,” terang Abraham.
“Mas, Asyila ikut ya!” pinta Asyila yang ingin menemani suaminya pergi untuk melihat keadaan Dayat.
Abraham menatap lekat sepasang bola mata cantik istri kecilnya dan membelai lembut rambut panjang Asyila yang saat itu tengah diikat.
“Syila, bukannya Mas tak ingin ditemani oleh Asyila. Akan tetapi, di rumah sakit itu AC nya sangat dingin dan sangat tidak cocok dengan bayi kita. Lebih baik Mas yang pergi dan Syila tetaplah dirumah bersama dengan Akbar,” tutur Abraham dan berharap Asyila mengerti akan maksud dari ucapannya itu.
Asyila mengulum bibirnya sendiri dan dengan sedih ia mengangguk setuju.
“Pokoknya Mas cepat pulang!” pinta Asyila.
“Insya Allah,” jawab Abraham.
Abraham pun pamit pergi meninggalkan istri serta bayi mereka di rumah.
Melihat suaminya pergi, Asyila hanya bisa berdo'a memohon agar Allah selalu melindungi suaminya dimana pun suaminya berada.
“Nak, sekarang kita hanya berdua saja di rumah. Bunda sebenarnya ingin sekali pergi, akan tetapi apa yang dikatakan oleh Ayahmu memanglah benar,” tutur Asyila.
__ADS_1