
Arumi dan Herwan pun duduk di sofa atas permintaan Dyah.
“Bapak dan Ibu apa kabar?” tanya Ema menyapa kedua orang tua dari Sahabatnya, Asyila.
“Alhamdulillah kami sehat, Nak Ema apa kabar?” tanya Arumi yang menyapa Ema.
“Alhamdulillah, Ema baik Ibu Arumi,” jawab Ema.
Bela datang ke ruang keluarga setelah memanggil Mbok Num, Ibu Lastri dan Ibu Juminah agar datang menghampiri Asyila serta yang lain yang berada di ruang keluarga.
“Mbok Num, Ibu Lastri dan Ibu Minah! Perkenalkan ini Ayah, Ibu dan putra kedua saya,” tutur Asyila memperkenalkan anggota keluarga yang lain kepada ketiga wanita yang bekerja padanya.
Mereka bertiga dengan senyum lebar menyapa orang tua Asyila dan putra kedua Asyila.
“Ayah, Ibu! Mereka ini sekarang bekerja untuk Asyila, saat ini Asyila memiliki usaha kecil-kecilan yaitu menjual kue kacang dan pakaian muslim,” ungkap Asyila dengan senyum manisnya.
“Hallo, saya Ibu dari Asyila,” tutur Arumi memperkenalkan dirinya dengan saling berjabat tangan.
Usai berkenalan dan saling sapa, Mbok Num, Ibu Lastri dan Ibu Juminah kembali ke perkerjaan mereka masing-masing.
“Asyila sangat senang sekali karena Ayah, Ibu dan juga Ashraf datang kemari,” tutur Asyila yang kini duduk bersebelahan dengan Ibunya, Arumi. “Ashraf memang tidak sekolah, Ibu?” tanya Asyila.
“Mendengar kamu sakit, Ayah dan Ibu ke sekolah Ashraf untuk meminta izin selama 3 hari. Yang artinya, kami kesini hanya sebentar,” terang Arumi.
“Tidak masalah, Ibu. Yang penting, Asyila senang karena Ayah, Ibu dan Ashraf datang kemari. Insya Allah, Asyila cepat sembuh sebelum Ayah, Ibu dan juga Ashraf kembali ke Jakarta,” jelas Asyila.
“Amiin,” sahut mereka yang berada di ruang keluarga.
“Asyila, sebaiknya kamu beristirahat di kamar. Ayah dan Ibu juga ingin istirahat,” tutur Arumi agar putri kesayangannya segera sembuh.
“Ayah dan Ibu sebaiknya makan dulu. Baru istirahat,” balas Asyila.
“Tadi di jalan kami sudah makan, karena Ashraf merengek ingin makan di pinggir jalan,” terang Arumi.
Asyila tertawa kecil dan meminta Ashraf untuk mendekat padanya.
“Ashraf tadi makan apa?” tanya Asyila penasaran.
“Makan bakso, Bunda. Bakso besar sekali,” jawab Ashraf sambil mendeskripsikan besarnya bakso dengan kedua tangannya.
“Wah, besar sekali. Ashraf masih lapar?” tanya Asyila dengan tatapan keibuan.
“Tidak, Bunda. Ashraf sudah kenyang,” jawab Ashraf dengan menyentuh perutnya.
“Syukurlah kalau sudah kenyang. Ashraf tidak mau istirahat, seperti Kakek dan Nenek?”
“Ashraf tidak lelah dan tidak ngantuk, Bunda. Ashraf mau main dengan Kahfi, Kak Bela dan juga adik Asyila,” terangnya dan berlari kecil untuk kembali bermain dengan putri kecil Dyah.
Karena Arumi dan Herwan telah beristirahat di kamar, Abraham pun mengajak istri kecilnya untuk beristirahat juga. Agar istri kecilnya segera sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasa.
“Mas, tolong ambilkan Asyila vitamin!” pinta Asyila yang baru ingat ternyata dirinya belum minum vitamin.
“Syila tadi belum minum vitamin?” tanya Abraham sembari mengambil vitamin milik istri kecilnya.
“Iya, Mas. Asyila lupa kalau belum minum vitamin. Oya, nanti sore tolong belikan Asyila seblak ya Mas!” pinta Asyila yang tiba-tiba ingin menikmati seblak yang agak pedas agar tubuhnya keluar keringat.
“Kalau Mas buatkan seblak, Asyila mau atau tidak?” tanya Abraham menawarkan diri untuk membuatkan istri kecilnya seblak.
“Mas yakin mau Asyila repotkan? Kalau beli seblak diluar, Asyila hanya tinggal makan dan Mas Abraham tidak perlu repot-repot memasak untuk Asyila,” terang Asyila.
“Bukankah Suamimu ini suka memasak? Lagipula, Mas juga ingin menikmati seblak dan barangkali yang lain juga mau seblak. Maka dari itu, Mas yang akan membuatkan seblak untuk seisi rumah dan yang pasti seblak buatan Mas sehat serta higienis,” ujar Abraham dan mengecup lembut kening Istri kecilnya yang sudah berada di tempat tidur.
“Kalau Mas memang ingin seperti itu, baiklah Asyila menurut saja. Terima kasih suamiku yang paling baik, pengertian, tampan dan pokoknya paling Asyila cintai,” tutur Asyila sembari memeluk suaminya.
“Alhamdulillah,” ucap Abraham mendengar penuturan dari istri kecilnya yang hampir semua perkataan istri kecilnya adalah perkataan yang membuat Abraham bangga pada dirinya sendiri.
Sore hari.
Seperti yang telah dijanjikan oleh Abraham, kini dirinya tengah sibuk di dapur untuk membuat seblak keinginan istri kecilnya.
Abraham akan sangat sibuk sekaligus repot di dapur karena dirinya akan membuat seblak yang cukup banyak untuk dinikmati oleh keluarga yang lain.
“Wah, Paman mau memasak apa? Ada telur, sayur, kerupuk, ceker dan masih banyak lagi. Ayo beritahu Dyah!” pinta Dyah yang sangat penasaran dengan apa yang akan dimasak oleh Pamannya tersayang.
“Kalau sudah matang, kamu akan tahu sendiri,” jawab Abraham yang membuat Dyah semakin penasaran.
“Paman, apa tidak bisa langsung memberitahukan Dyah?” tanya Dyah.
__ADS_1
“Mau tahu?” tanya Abraham dan dengan cepat Dyah mengangguk. ”Rahasia,” celetuk Abraham dan memotong-motong sayur.
“Yah, kok malah jadi rahasia? Ya sudahlah, Dyah akan menunggu di ruang keluarga. Dyah tidak sabar ingin menikmati masakan Paman,” tutur Dyah sembari berlari kecil meninggalkan Abraham seorang diri di dapur.
Asyila yang baru selesai menyusui bayi mungilnya, memutuskan untuk menyusul Sang suami yang tengah sibuk di dapur.
Abraham yang saat itu tengah memotong-motong bahan untuk membuat seblak, terkejut melihat istri kecilnya yang sudah memasuki dapur.
“Ya Allah, Syila kenapa datang ke dapur? Ayo, Mas antarkan Syila kembali ke kamar,” ucap Abraham.
“Mas, tolong biarkan Asyila disini. Asyila mau melihat Mas membuat seblak,” balas Asyila.
“Baiklah, kalau Asyila ingin seperti itu,” sahut Abraham.
Abraham kembali fokus dengan masakannya dan memberikan beberapa potong sosis yang bisa langsung dimakan pada istri kecilnya.
“Ini, makanlah,” ujar Abraham dengan memberikan beberapa sosis kepada Asyila.
“Terima kasih, Mas,” balas Asyila menerima sosis pemberian suaminya.
Saat Asyila ingin membuka bungkus sosis, tiba-tiba Abraham mengambil sosis tersebut dari tangan Asyila dengan maksud membantu Sang istri membuka bungkus sosis tersebut.
“Masya Allah,” puji Abraham sembari tersipu malu.
Abraham mencubit lembut hidung mancung Asyila dan kembali fokus dengan masakannya.
Asyila mulai mengunyah sosis pemberian suaminya sampai habis dan tiba-tiba Ashraf datang dengan membawa sepotong paha ayam yang tinggal setengah.
“Ashraf, kalau mau duduk tidak boleh sambil berdiri apalagi sambil berjalan seperti itu,” ucap Asyila secara tegas.
“Maaf, Bunda. Ashraf tidak akan mengulanginya lagi,” balas Ashraf dan duduk di kursi bersebelahan dengan Bundanya.
“Iya, Bunda maafkan. Sekarang habiskan ayamnya!”
“Baik, Bunda,” sahut Ashraf dan perlahan mengunyah paha ayam tersebut sampai habis.
Usai menghabiskan paha ayam miliknya, Ashraf memutuskan untuk kembali bermain dengan Bela dan juga Kahfi di teras depan rumah.
“Masih lama ya Mas?” tanya Asyila yang terdengar tidak sabar ingin menikmati seblak buatan suaminya.
“Mungkin 20 menit lagi seblaknya jadi,” jawab Abraham.
“Sabar sebentar ya Syila, insya Allah sebentar lagi akan matang sempurna,” tutur Abraham dan mengecup lembut kening Asyila.
Asyila tersenyum lebar dan mengiyakan penuturan suaminya.
Beberapa menit kemudian.
Seblak buatan Abraham pun akhirnya jadi dan saat itu juga Dyah tiba untuk melihat masakan Pamannya.
“Yes, akhirnya Dyah tahu kalau Paman memasak seblak. Wow, Dyah jadinya tak sabar ingin menikmati seblak buatan Paman,” ucap Dyah yang terlihat seperti anak kecil.
“Kamu sudah menikah, jaga sikap!” tegas Abraham.
“Memangnya kalau sudah menikah Dyah tidak boleh seperti ini. Mau setua apapun, tetap saja Dyah keponakan Paman,” terang Dyah.
Pernyataan Dyah membuat Abraham tak bisa berkata-kata lagi. Apa yang dikatakan oleh Dyah memanglah benar. Mau setua apapun mereka nanti, tetap saja Dyah adalah keponakan dari Abraham Mahesa.
“Dyah tahu, Paman pasti tidak bisa mengelak perkataan Dyah. Kalau begitu, Dyah mau ke ruang keluarga untuk memanggil yang lain agar bisa menikmati seblak buatan paman.”
Sembari Dyah memanggil yang lain, Abraham perlahan meletakkan seblak tersebut ke dalam mangkok dengan jumlah orang yang berada di rumahnya. Termasuk Ema, Kahfi dan juga Mbok Num.
“Mas, bolehkah Asyila menambah sedikit sambal?” tanya Asyila yang ingin menikmati seblak pedas.
“Boleh, asal jangan banyak-banyak,” balas Abraham.
“Tenang saja, Asyila tidak akan menambahkan sambal banyak-banyak!”
Dyah datang dengan membawa banyak pasukan.
“Kakek, Nenek! Lihatlah, Paman memasak seblak untuk kita. Dyah berani jamin kalau Seblak buatan Paman itu enak sekali,” ucap Dyah memuji masakan Pamannya.
“Nenek percaya apa yang dikatakan Dyah!” seru Arumi.
Abraham agak salah tingkah karena sebentar lagi mertuanya akan merasakan seblak buatannya.
“Silakan duduk!” Asyila tersenyum sembari mempersilakan mereka untuk segera duduk. “Mbok Num kenapa hanya berdiri saja? Ayo duduk, tidak perlu sungkan dengan kami,” imbuh Asyila.
__ADS_1
Mbok Num mengangguk kecil dan duduk tepat disamping Dyah.
“Semuanya, mohon dinikmati dan semoga buatan saya tidak mengecewakan,” ucap Abraham. Kemudian, meminta Ashraf untuk memimpin Do'a sebelum makan.
“Wow, ini seblak terenak yang pernah Dyah coba,” ucap Dyah yang terlihat seperti seorang model yang mengiklankan makanan seblak.
“Dyah, jangan berlebihan. Makanlah yang baik dan benar!” perintah Abraham.
Dyah tersenyum canggung dan kembali menikmati seblak tersebut.
Asyila mengangkat dua jempol tangannya ke arah Sang suami yang artinya bahwa seblak yang dimasak oleh Abraham memanglah enak.
Alhamdulillah, istriku ternyata suka dengan seblak yang aku masak. Kalau begini, apakah aku sudah bisa dianggap sebagai koki masak untuk istri?😅
Abraham tersenyum dengan penuh percaya diri setelah dipuji oleh istri kecilnya.
***
Usai menikmati seblak bersama, kini waktunya bagi Mbok Num untuk mencuci alat makan yang kotor.
Melihat Mbok Num yang mencuci alat makan sebanyak itu, Asyila memutuskan untuk membantu. Akan tetapi, langkah Asyila langsung dicegah oleh Abraham dan justru Abraham lah yang membantu Mbok Num mencuci piring.
“Tuan Abraham tak perlu melakukan ini. Urusan alat makan yang kotor biar Mbok Num saja,” ucap Mbok Num yang tidak dibantu oleh Abraham, karena itu bukan tugas seorang Abraham Mahesa.
“Mbok Num santai saja dengan saya, kalau begitu biar saya saja yang menyusun alat makan yang sudah bersih ke rak piring,” balas Abraham.
Mbok Num akhirnya mengiyakan daripada Abraham terus memaksa dan membuat Mbok Num merasa tidak enak.
Setelah semuanya selesai, Abraham mengajak istri kecilnya untuk berkumpul di ruang keluarga bersama yang lain.
“Bunda!” Ashraf berlari menghampiri Asyila dan ikut menuntun Bundanya menuju sofa. “Bunda cepat sembuh ya, biar besok temani Ashraf olahraga,” imbuh Ashraf.
“Ashraf, Bunda saat ini sedang tidak sehat. Kalaupun besok sembuh, belum tentu Bunda bisa olahraga bersama Ashraf,” ujar Abraham.
“Kenapa tidak bisa?” tanya Ashraf dengan ekspresi bingung.
“Ashraf, jangan dengarkan perkataan Ayah. Kalau Bunda sudah sembuh, Bunda akan menemani Ashraf olahraga,” pungkas Asyila setengah membungkuk.
“Horeee! Besok ditemani Bunda,” ucap Ashraf sembari bertepuk tangan.
Abraham meminta Ashraf untuk tidak berisik karena saat itu putri kecil Dyah tengah terlelap.
Ashraf seketika itu diam tak bersuara sedikitpun.
“Nak Abraham, Ibu mau tanya bagaimana Nak Abraham bisa memasak Seblak seenak itu? Tolong ajari Ibu cara memasak seblak!” pinta Arumi yang sangat penasaran dengan resep Seblak buatan menantu idamannya itu.
Abraham terkekeh kecil sekaligus salah tingkah mendengar ucapan dari Ibu mertuanya yang begitu ingin tahu mengenai resep Seblak buatannya.
“Ibu ini bisa saja, lagipula Abraham hanya memasak seblak seperti seblak pada umumnya,” balas Abraham.
“Bolehlah Ibu minta resepnya,” sahut Arumi yang terdengar agak memaksa.
Melihat ekspresi wajah Ibunya, Asyila tak bisa berhenti tertawa. Asyila tertawa sampai air matanya keluar.
“Ibu salah ya?” tanya Arumi dengan ekspresi terheran-heran karena putri kesayangan malah menertawakan dirinya.
“Ibu sama sekali tidak salah, akan tetapi ekspresi Ibu benar-benar menggemaskan,” terang Asyila sembari berusaha untuk tidak tertawa.
“Paman, seblak buatan Paman apakah masih ada? Soalnya, Mas Fahmi pasti ingin menikmati Seblak yang Paman buat,” tutur Dyah pada Pamannya.
“Kamu tenang saja, bagian Fahmi dan Yogi sudah Paman pisahkan,” ungkap Abraham.
Ema yang mendengar keterangan Abraham seketika itu tersenyum lebar.
Abraham izin ke kamar untuk melihat bayi mungilnya, Asyila serta yang lainnya mengiyakan.
“Syila sayang, Suamimu itu sungguh sangat baik, tampan, pintar memasak dan yang paling penting sangat bertanggung jawab dengan keluarga,” puji Arumi sembari menepuk pundak Asyila.
“Alhamdulillah, Ibu. Asyila sangat beruntung mempunyai Suami seperti Mas Abraham,” sahut Asyila yang begitu bangga dengan sosok Abraham Mahesa.
Di dalam kamar, Abraham terkejut melihat bayi mungilnya yang sudah berada di pinggir ranjang dan telat sedikit saja bayi mungilnya itu akan jatuh ke lantai.
Abraham mengucap syukur karena ia datang tepat waktu. Meskipun begitu, Abraham memutuskan untuk merahasiakan kejadian tersebut karena jika istri kecilnya tahu, sudah pasti Sang istri menyalahkan dirinya sendiri yang teledor.
“Terima kasih ya Allah, terima kasih,” ucap Abraham dengan terus menciumi pipi tembam putra kecilnya.
Abraham tidak langsung keluar dari kamar, karena ia tengah menata rasa terkejutnya yang belum hilang.
__ADS_1
Sekitar 10 menit, barulah Abraham memutuskan untuk keluar dari kamar dan bergabung dengan keluarga yang lain.
“Adik Akbar kesayangan Kak Ashraf!” sapa Ashraf ketika melihat Ayahnya menggendong adik kecilnya.