
Cukup lama Salsa menata amarahnya, sampai akhirnya ia dikejutkan oleh suara ketukan pintu.
“Tok... Tok... Tok!”
“Siapa?” tanya Salsa dari dalam kamar.
“Ini Ibu, Nak Salsa. Tolong buka pintunya!” pinta Arumi.
Salsa mengatur napasnya dan berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan mertua Abraham.
“Kamu tidak apa-apa, Nak Salsa?” tanya Arumi sambil merapikan rambut Salsa yang berantakan karena insiden perkelahian antar Salsa, Ema dan juga Dyah.
“Salsa baik-baik saja, Bu. Dikampung, Salsa sudah terbiasa menjadi bahan bully-an,” jawab Salsa seakan-akan dirinya tengah teraniaya.
“Nak Salsa yang sabar ya, kedepannya Nak Salsa akan dekat dengan mereka. Mereka seperti itu, karena masih belum bisa menerima kehadiran anggota baru,” terang Arumi.
Mana mungkin aku bisa dekat dengan mereka berdua. Toh, sebentar lagi mereka akan menjadi mayat.
“Sekali lagi, Ibu minta maaf atas kelakuan mereka berdua. Tolong jangan diambil hati ya Nak Salsa!” pinta Arumi pada Salsa.
“Ibu Arumi tidak perlu meminta maaf, Salsa pun tidak sakit hati dengan perlakuan mereka. Mungkin, yang Ibu katakan ada benarnya, kedepannya mereka akan akrab kepada Salsa dan bisa saja kami menjadi sahabat,” balas Salsa yang berusaha untuk terlihat seperti manusia berhati malaikat.
Arumi tersenyum dan sekali lagi membelai lembut rambut panjang Salsa.
“Nak Salsa, ada baiknya kamu mengenakan hijab,” tutur Arumi.
Wajah Salsa seketika itu berubah menjadi panik. Berpakaian tertutup saja sudah membuatnya tak nyaman, apalagi sampai mengenakan hijab.
“Salsa pikir-pikir dulu ya Bu,” balas Salsa yang sangat tak suka dengan apa yang dikatakan oleh Arumi.
Arumi mengangkat kedua alisnya dan bergegas meninggalkan kamar yang saat itu ditempati oleh Arumi.
Melihat Arumi yang baru saja keluar dari kamar Salsa, wajah Dyah seketika itu kesal.
“Nenek Arumi ngapain menemui wanita bermuka dua itu?” tanya Dyah sambil membawa Arumi menjauh dari depan kamar tersebut.
“Nenek hanya ingin melihat Salsa saja,” jawab Arumi.
“Nenek tahu 'kan? Dia disini tidak akan lama. Bagaimanapun, Paman sudah menentang keras kehadiran di rumah ini,” ungkap Dyah.
“Iya, Nenek tahu,” balas Arumi.
Abraham yang melihat Ibu mertua serta Keponakannya tengah berbincang-bincang, bergegas menghampiri mereka berdua dan mengajak keduanya untuk mengobrol di ruang keluarga.
Sesampainya di ruang keluarga, mereka duduk di sofa dan wajah mereka kini berubah menjadi sangat serius.
“Besok akan ada pertunjukkan yang spektakuler dan pertunjukkan spektakuler itu akan membuat Ibu serta yang lainnya terkejut karena fakta yang sebenarnya akan terungkap,” terang Abraham.
“Maksud dari perkataan Nak Abraham apa?” tanya Arumi begitu penasaran.
“Besok Ibu akan tahu. Oya, kapan Ayah kemari?” tanya Abraham karena Ayah mertuanya belum juga datang.
“Kemungkinan besok pagi, Ayahmu ini masih sangat sibuk. Lebih lagi kalau ada saudara yang sedang mempunyai acara,” balas Arumi.
“Baiklah, Abraham ke kamar dulu ya Bu. Kepala Abraham agak pusing,” tutur Abraham.
__ADS_1
“Minum obat Nak Abraham, apa mau Ibu belikan obat yang mujarab?”
“Tidak usah, Bu. Mungkin saja Abraham kurang berisitirahat. Abraham masuk ke kamar ya bu.”
Abraham beranjak dari duduknya dan bergegas masuk ke dalam kamar untuk segera beristirahat.
Ashraf yang saat itu sedang dikamar seorang diri sambil memeluk bingkai foto Bundanya, seketika itu terkejut manakala Ayahnya tiba-tiba masuk.
Ashraf cepat-cepat menghapus air matanya dan segera menutup seluruh tubuhnya tak terkecuali wajahnya dengan selimut.
Abraham tahu bahwa putra kecilnya menangis karena merindukan sosok Bunda kesayangannya. Akan tetapi, Abraham memilih untuk berpura-pura tak tahu bahwa Ashraf tengah menangis.
“Ashraf sudah tidur? Sayang sekali, Ayah ingin memberitahukan sesuatu kepada Ashraf dan membawa Ashraf bermain,” ucap Abraham sambil membuka pakaiannya dan menggantinya dengan pakaian yang lebih santai.
Karena tak mendapat respon dari buah hatinya, Abraham pun memilih untuk bersholawat mencairkan suasana yang ada.
Sekitar 10 menit lamanya, Ashraf pun membuka selimutnya dan berusaha menampilkan senyumnya.
“Ayah!” panggil Ashraf.
Abraham menoleh sambil memasang ekspresi terkejut.
“Loh, kesayangannya Ayah bangun?” tanya Abraham sambil berlari kecil naik ke tempat tidur.
Ashraf tak menjawab pertanyaan Ayahnya. Justru, bocah kecil itu tersenyum dan meminta Ayahnya untuk segera menemaninya tertidur.
“Ayah, Bunda lupa ya sama kita?”
Deg!
Hal yang paling menyakitkan di dunia ini bukanlah ditinggalkan oleh orang yang kita cintai selamanya. Akan tetapi, ketika orang yang kita cintai itu justru melupakan kita.
“Hiks... Hiks... Bunda jahat, Bunda tidak sayang ashraf.”
Bocah kecil itu terus saja menangis dan terus meluapkan isi hatinya.
Abraham hanya bisa diam sambil berusaha menahan air matanya.
Dalam hatinya, ia ingin sekali memberitahukan kenyataan yang ada. Akan tetapi, disisi lain jika dirinya mengatakan hal jujur, kedua buah hatinya serta yang lainnya pasti akan membenci dirinya yang sudah cukup lama membohongi mereka.
Ashraf terus saja menangis dengan waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya ia terlelap karena kelelahan menangis.
“Maafkan Ayah ya sayang, Ayah masih belum bisa memberitahukan kenyataan yang ada. Tolong mengertilah maksud Ayah,” ucap Abraham lirih sambil menghapus air mata buah hatinya yang tersisa.
Ketika Abraham ingin menyelimuti tubuh buah hatinya, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Abraham pun cepat-cepat menerima sambungan telepon itu karena tak ingin buah hatinya terbangun.
“Assalamu’alaikum,” ucap seorang pria dari balik telepon.
“Wa’alaikumsalam, ada apa Dayat?” tanya Abraham pada sahabatnya.
“Bagaimana, apakah besok kami datang ke rumah anda?” tanya Dayat memastikan.
“Tentu saja, kalian harus datang tepat waktu. Bagaimanapun, kita harus segera menyingkirkan wanita itu dari kehidupanku,” balas Abraham.
“Baiklah, kami akan menyelesaikan tugas kami malam ini dan besok kami akan datang ke perumahan Absyil untuk menyelesaikan tugas kami yang beberapa bulan lagi belum sempat terselesaikan.”
__ADS_1
“Bagus, terima kasih,” tutur Abraham.
Percakapan itu pun berakhir dan Abraham kembali meletakkan ponselnya di nakas.
Sebelum tidur, Abraham memilih untuk melaksanakan sholat sunah dua raka'at dan setelah itu membaca ayat suci Al-Quran.
Baru kemudian, ia bisa tidur nyenyak dan berharap esok pagi berjalan sesuai dengan rencananya yang telah ia persiapkan berbulan-bulan lamanya.
Tengah malam, Salsa terbangun dari tidurnya dan kebetulan ia merasa sangat lapar. Ia pun memutuskan untuk pergi ke dapur mencari makanan yang bisa ia makan.
Akan tetapi, baru saja tiba di dapur dirinya sudah dikejutkan oleh kedatangan Dyah yang memang saat itu haus.
“Kamu sengaja ya membututi aku?” tanya Salsa pada Dyah yang saat itu tengah menuangkan air di dalam gelasnya.
“Maksudmu? Bukankah kamu yang sengaja masuk ke dalam kehidupan kami?” tanya Dyah dan refleks menampar wajah Salsa dengan sangat keras.
Plak!
“Aakkh!” Salsa berteriak sambil menyentuh pipinya yang tiba-tiba terasa sangat panas karena tamparan keras dari Dyah.
“Sakit? Apa mau aku tampar sekali lagi?” tanya Dyah sambil berteriak ditelinga Salsa.
Salsa tak bisa terima dengan apa yang sudah dilakukan oleh Dyah. Dyah benar-benar telah menginjak harga dirinya, Salsa pun mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk membalas tamparan keras dari Dyah.
Akan tetapi, tangannya segera dicegah oleh Abraham.
“Jangan sekali-sekali kamu bersikap kasar terhadap keponakanku,” tegas Abraham yang memang kebetulan merasa haus dan memutuskan untuk pergi ke dapur.
Abraham bernapas lega, karena Salsa belum sempat menampar wajah keponakan kesayangannya itu.
“Tetapi...”
“Masuklah ke kamar sekarang juga!” perintah Abraham yang tak ingin mendengar penjelasan dari Salsa.
Salsa dengan kesal meninggalkan dapur dan bergegas masuk ke dalam kamar.
Disaat yang bersamaan, Arumi datang menghampiri keduanya yang berada di dapur.
“Apakah tadi kalian mendengar suara orang berteriak?” tanya Arumi setengah mengantuk.
“Tidak ada, Ibu. Ibu kenapa kemari?” tanya Abraham.
Arumi yang masih mengantuk hanya bisa menganggukkan kepalanya dan kembali masuk ke dalam kamarnya.
Kini, hanya ada Abraham dan Dyah yang masih di dapur.
“Dyah tidak apa-apa? Apakah wanita itu menyakiti Dyah?” tanya Abraham memastikan.
“Paman tenang saja, Dyah yang justru sangat senang karena bisa memberikan pelajaran kepada wanita bermuka dua itu. Bagaimanapun, Dyah akan terus menentang keras kehadirannya di rumah ini,” tegas Dyah.
Abraham tersenyum melihat semangat 45 dari Keponakannya.
“Melihat kamu yang seperti sudah dipastikan kamu menang. Ya sudah, Paman ke atas lagi,” ucap Abraham sambil membawa segelas air putih untuk menghilangkan rasa haus di tenggorokannya.
Dyah bergegas mengambil air minum dan cepat-cepat masuk ke dalam kamarnya. Ia tidak ingin berlama-lama di dapur karena semakin membuatnya kesal ketika melihat pintu kamar yang saat itu ditempati oleh Salsa.
__ADS_1