
Seminggu kemudian.
Orderan kue kacang buatan Asyila meningkat dengan sangat cepat, Asyila bahkan kewalahan jika harus melakukannya seorang diri. Untungnya ada Dyah serta Ema yang ikut membantunya dalam membuat kue kacang.
2 hari yang lalu Ema serta keluarga kecilnya baru tiba setelah liburan di Jakarta, tempat dimana Mami Ema tinggal.
“Asyila, sebaiknya kamu beristirahat sebentar. Lihatlah, wajahmu pucat seperti itu,” tutur Ema melihat wajah Asyila yang pucat karena dari pagi hingga sore membuat kue kacang tanpa henti.
“Kamu tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja,” balas Asyila yang saat itu tengah memasuki kue kacang ke dalam toples.
“Asyila, aku khawatir seperti ini karena tak ingin kamu kenapa-kenapa. Ayo, sekarang kamu duduk biar kue kacang ini menjadi urusanku,” ucap Ema yang tak ingin sahabatnya kenapa-kenapa.
“Baiklah, aku akan beristirahat di ruang keluarga bersama dengan bayi ku,” sahut Asyila.
Asyila perlahan beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruang keluarga.
“Mas...” Melihat suaminya yang sedang duduk seorang diri sambil menggendong bayi mungil mereka, Asyila langsung duduk dan bersandar di bahu suaminya.
“Asyila pasti kelelahan?” tanya Abraham yang melihat ekspresi wajah istri kecilnya.
“Ya begitulah, Mas. Sekarang ini Asyila banjir Orderan, untungnya mereka memesannya tidak dalam waktu yang mepet,” jawab Asyila.
“Asyila istirahatlah dulu, nanti dilanjutkan lagi,” tutur Abraham.
Sekitar 5 menit Abraham terdiam menunggu respon istri kecilnya, akan tetapi Sang istri tak merespon sedikitpun.
Abraham pun menoleh ke arah wajah istrinya yang ternyata sudah terlelap di bahunya.
Masya Allah, Syila pasti sangat kelelahan. Makanya bisa tidur dalam posisi seperti ini.
Abraham meletakkan bayi mungil mereka di sebelah kanan dengan sangat hati-hati, setelah itu ia memperbaiki posisi tidur Sang istri.
“Nah, kalau begini tidak akan membuat leher Asyila sakit,” ucap Abraham bermonolog.
Setelah itu, Abraham menggendong bayi Akbar dan meletakkannya ke ranjang bayi.
Karena tak ingin membuat istri kecilnya bangun cepat, Abraham memutuskan untuk duduk di teras depan rumah sembari berbincang-bincang dengan sopir pribadinya, Eko.
45 menit kemudian.
Asyila terbangun dari tidurnya dan menyadari bahwa dirinya ketiduran. Ia menoleh sekilas ke arah jam di dinding.
“Astaghfirullahaladzim, aku ketiduran,” ucap Asyila dengan terkaget-kaget.
Wanita muda itu lari terbirit-birit menuju dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.
“Haduh, maaf. Aku ketiduran,” ucap Asyila dan dengan cepat mengambil alih memasukkan kue kacang ke dalam toples.
“Asyila kau kenapa?” tanya Ema terheran-heran.
“Iya, Aunty kenapa? Seperti kebakaran jenggot saja,” sahut Dyah.
“Aku tadi ketiduran di sofa,” jawab Asyila.
“Alhamdulillah!” seru Dyah dan Ema yang sangat senang mengetahui bahwa Asyila ketiduran.
“Kok malah Alhamdulillah? Kalian senang ya?” tanya Asyila terheran-heran.
“Kami sangat senang kalau kamu ketiduran, Asyila. Kamu itu kecapekan,” jawab Ema.
__ADS_1
Asyila menarik napas panjang dan menghembusnya. Kemudian, Asyila kembali fokus dengan kue kacang dihadapannya.
“Syila, sebenarnya tetangga sebelah rumahku juga memesan kue kacang sebanyak 5 toples. Aku sih belum mengiyakan karena orderan kue kacang mu sangat banyak,” terang Ema.
“Ema, rezeki itu jangan ditolak. Memangnya mau diambil hari apa?” tanya Asyila.
“Lusa, apakah bisa?” tanya Ema.
“Tentu saja bisa, tidak baik menolak rezeki. Lagipula sebagian dari hasil penjualan kue kacang akan aku berikan kepada yang membutuhkan,” terang Asyila.
“Ini yang aku suka dari kamu, sudah cantik, baik lagi,” puji Ema.
“Kamu ini bisa saja,” sahut Asyila sembari geleng-geleng kepala.
“Apa yang dikatakan Ema memanglah benar, Aunty. Sudah cantik, baik dan yang pasti Sholehah,” puji Dyah.
“Aamiin, kalian pun sama sepertiku,” sahut Asyila.
Mereka bertiga fokus dengan pekerjaannya masing-masing, hingga tak terasa pekerjaan mereka selesai tepat waktu.
“Alhamdulillah,” ucap ketiganya karena telah berhasil menyelesaikan kue kacang sebanyak 120 toples.
Asyila mengucapkan terima kasih kepada Dyah dan Ema. Kemudian, ia mengeluarkan amplop dan memberikan amplop tersebut kepada mereka berdua.
“Ini untuk kalian berdua, aku sangat senang karena ada yang membantu,” tutur Asyila.
“Aunty, tidak perlu memberikan amplop ini kepada Dyah. Lagipula, Paman sudah sangat banyak memberikan Dyah uang,” ucap Dyah yang tak ingin menerima uang pemberian dari istri Pamannya.
“Asyila, aku benar-benar membantu kamu dan tak mengharapkan sedikitpun imbalan,” ujar Ema.
“Aku mohon, jangan menolak pemberian dari ku. Jika kalian menolak, aku tak akan lagi membuat kue kacang,” terang Asyila.
“Nah begitu dong,” tutur Asyila dengan senyum manisnya.
“Syila, kalau begitu aku langsung pulang ya. Kahfi pasti sangat jenuh dengan Papanya,” terang Ema yang ingin pamit pulang.
“Baiklah, terima kasih ya Ema. Jangan pernah bosan datang kemari,” sahut Asyila.
Ema mengucapkan salam dan melenggang pergi meninggalkan rumah sahabatnya.
Kini, hanya ada Asyila dan juga Dyah yang masih berada di dapur.
“Dyah, malam ini tidur disini atau pulang ke rumah?” tanya Asyila sembari menyusun toples berisi kue kacang ke dalam paper bag.
“Sepertinya tidur di rumah, Aunty. Mas Fahmi malam ini ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan,” jawab Dyah.
Malam hari.
Melihat istri kecilnya yang kelelahan, Abraham berinisiatif memijat kaki Sang istri agar rasa lelah di kaki istrinya bisa berkurang.
“Apa yang Mas lakukan?” tanya Asyila ketika Sang suami mulai memijat kakinya.
“Mas ingin mengurangi rasa pegal dan juga lelah Asyila,” jawab Abraham dan terus memijat kedua kaki istri kecilnya secara bergantian.
“Mas tidak perlu melakukan hal ini, seharusnya Asyila yang melayani Mas Abraham,” tutur Asyila mencoba menarik kakinya dari tangan suaminya. Akan tetapi, Abraham dengan erat memegang kaki Sang istri agar tidak menjauh.
“Maksud Syila, suami itu wajib dilayani dan seorang istri tidak boleh diperlakukan dengan baik oleh suaminya?” tanya Abraham yang membuat Asyila bingung.
“Bukan itu juga maksud Asyila, Mas,” balas Asyila yang bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
“Asyila bingung'kan?” tanya Abraham dan terkekeh kecil melihat ekspresi polos Sang istri.
20 menit kemudian, Abraham masih saja memijat kaki Sang istri dan membuat Asyila merasa sangat beruntung karena mendapatkan suami yang begitu perhatian.
Saat Asyila tengah memandangi wajah suaminya, tiba-tiba ponsel Abraham berbunyi.
Abraham menoleh sekilas ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.
“Sebentar ya Syila, Mas angkat telepon dulu,” tutur Abraham dan beranjak dari tempat tidur agar bisa lebih santai menjawab telepon tersebut.
Malam-malam begini siapa yang menghubungi Mas Abraham? Apakah begitu penting sampai tak bisa menunggu sampai besok?
Abraham yang telah selesai berbicara lewat telepon, bergegas menghampiri istri kecilnya. Abraham tersenyum lebar dan memeluk Sang istri dengan penuh semangat.
“Mas kenapa terlihat sangat senang begini? Siapa yang menghubungi Mas? Apakah sangat penting?” tanya Asyila.
“Salah satu teman bisnis Mas ingin memesan kue kacang buatan Asyila sebanyak 200 toples,” ungkap Abraham.
“Benarkah?” tanya Asyila memastikan.
“Tentu saja, istriku,” jawab Abraham.
“Alhamdulillah, terima kasih ya Mas,” tutur Asyila dengan senyum manisnya.
Asyila memeluk suaminya dengan penuh bahagia, saat ini dirinya benar-benar banjir orderan kue kacang.
“Semangat ya istriku,” ucap Abraham memberi semangat kepada istri kecilnya.
“Asyila akan selalu semangat selama Mas Abraham mendukung apa yang Asyila lakukan,” jawab Asyila.
Besok jadwal Asyila akan sangat sibuk, Asyila pun mengajak suaminya untuk segera tidur.
Pagi hari.
Narti datang untuk mengambil kue kacang pesanannya, entah sudah berapa kali dirinya bolak-balik memesan kue kacang buatan Asyila yang memang sangat enak.
“Nona Asyila, saya sangat senang bekerja sama dengan Nona Asyila,” tutur Narti yang sudah menjadi pelanggan tetap Asyila.
“Alhamdulillah, semoga kerjasama kita ini berkah ya Bu Narti,” balas Asyila.
“Nona Asyila, saya permisi dulu ya. Minggu depan saya pesan 350 toples ya!” pinta Narti.
“Insya Allah ya Bu Narti, akan saya usahakan. Kemungkinan, saya juga mencari orang untuk membantu saya,” terang Asyila.
Narti mendo'akan usaha Asyila dan bergegas masuk ke dalam mobil untuk segera mengantarkan kue kacang tersebut kepada tuannya.
Asyila melambaikan tangan dan berjalan masuk ke dalam rumah.
“Mas Abraham!” Melihat suaminya yang tengah duduk di ruang tamu, Asyila berlari kecil ke dalam pelukan suaminya.
“Pasti orderan kue kacang bertambah lagi?” tanya Abraham.
“Iya, Mas. Alhamdulillah. Kue kacang Asyila banjir orderan, ya Allah. Rasanya seperti mimpi,” ujar Asyila dengan mata berkaca-kaca.
Abraham menciumi kening Istri kecilnya berulang kali karena sangat bangga atas kerja keras istri kecilnya yang dalam waktu hitungan Minggu sudah mendapatkan pelanggan tetap serta omset penjualan yang terus menanjak.
“Mas, sepertinya Asyila harus mencari orang yang bisa membantu Asyila membuat kue kacang. Asyila tidak mungkin membiarkan Dyah dan Ema terus-menerus membantu Asyila,” terang Asyila.
“Kalau memang begitu, biar Mas yang membantu Asyila mencari orang untuk menemani Asyila membuat kue kacang!” seru Abraham.
__ADS_1
“Terima kasih ya Mas,” balas Asyila yang semakin mempererat pelukannya.