
Akhirnya setelah puas memukul suaminya, ketiganya pun bergegas pergi ke tempat yang sebelumnya dikatakan oleh Abraham. Mereka berlari secepat mungkin untuk segera menemui pria yang bernama Yogi.
Ketika tengah berlari, mereka dikejutkan oleh pria yang sama kejamnya dengan suami mereka yaitu, Darwin.
Darwin sendiri adalah saudara kandung Arif, Arif bahkan dengan teganya membiarkan Darwin melakukan hal tak senonoh kepada mereka.
“Mau kemana kalian?” tanya Darwin yang telah menghadang ketiganya.
Mereka saling menoleh dan dengan kompak mendorong Darwin agar terjatuh.
Darwin pun terjatuh dan sangat terkejut dengan ketiganya yang berani melawannya.
“Dimana Mas Arif?” tanya Darwin bermonolog.
Darwin langsung melotot tajam dan berlari masuk ke dalam rumah Kakaknya, ia curiga bahwa Kakaknya sedang dalam masalah.
“Mas Arif!” teriak Darwin terkejut ketika melihat Arif tak sadarkan diri dalam keadaan terikat.
Darwin mengepalkan tangannya kuat-kuat dan meninju dinding dengan sangat kesal.
“Wanita kurang ajar, tidak tahu diuntung!” teriak Darwin.
Abraham yang tengah sibuk mencari bukti, terkejut mendengar suara teriakan seorang pria yang suaranya sudah jelas bukan suara dari Arif.
Bruk! Abraham tak sengaja menyenggol barang, hingga barang-barang bengkel berserakan.
“Siapa disana!” teriak Darwin dan bergegas menuju sumber suara.
“Siapa kamu?” tanya Darwin dan mengambil tongkat baseball.
Tanpa pikir panjang, Darwin melayangkan tongkat baseball tersebut ke arah kepala Abraham.
Untungnya, Abraham cepat tanggap dan mengelak.
Darwin seperti orang kesetanan, ia terus mengarahkan tongkat baseball ke arah Abraham. Namun, lagi-lagi Abraham mengelak.
“Siapa kamu!” teriak Darwin hingga urat-urat lehernya terlihat.
“Aku yang harusnya bertanya, siapa kamu?” tanya Abraham.
Darwin tertawa remeh dan melempar tongkat baseball ke arah Abraham.
“Kurang tepat,” sahut Abraham sambil menangkap tongkat baseball tersebut.
Disisi lain, ketiga wanita itu terus saja berlari ketakutan. Mereka dari kejauhan telah melihat papan nama bertuliskan penginapan mawar.
“Sepertinya itu yang dimaksud oleh Pak Abraham,” ucap Yuni dengan napas terengah-engah.
Ketiganya mempercepat lari mereka dan disaat yang bersamaan, Yogi keluar bersama Ema, Kahfi dan juga Ashraf.
“Tolong kami, apakah anda Pak Yogi?” tanya Yuni terengah-engah.
“Kalian siapa?” tanya Ema yang terlihat sangat cemburu karena tiba-tiba ada tiga orang wanita berlari menghampiri suaminya, “Abang kenal dengan mereka?” tanya Ema pada suaminya.
“To-tolong jangan salah paham, kami kesini atas petunjuk dari Pak Abraham kalau Pak Yogi bisa membantu kami,” terang Mela.
Yogi terkejut dan menanyakan keberadaan Abraham kepada mereka bertiga.
“Dimana Abraham sekarang?” tanya Yogi dengan tak sabaran.
Yuni, Mela dan Heni saling menggeleng, bukannya tidak ingin memberitahukan dimana Abraham sekarang. Akan tetapi, mereka terlalu takut untuk kembali ke rumah yang cukup lama mereka tempati dengan suami yang begitu kejam.
Meskipun Ema cemburu, ia berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Ia pun mempersilakan ketiganya masuk ke penginapan mereka.
“Bisakah kalian jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Yogi.
🍃
__ADS_1
Asyila berhasil tiba dikediaman Arif dengan menggunakan GPS yang ia pasangkan di ponsel suaminya. Samar-samar Asyila mendengar suara kegaduhan dari dalam, membuat Asyila semakin khawatir.
Asyila masuk mengendap-endap ke dalam rumah dan mendapati seorang pria tengah diikat dalam keadaan tak sadarkan diri.
“Aaakkkhhh!” Suara Abraham berteriak kesakitan.
Asyila terkejut dan segera berlari menuju bagian belakang rumah. Betapa kagetnya ia melihat suaminya sudah bersimbah darah dan tak sadarkan diri.
“Bruk!” Asyila baru saja memukul pria yang telah menyakiti suaminya.
“Aaahhh... Siapa kamu?” tanya Darwin sambil merintih kesakitan karena kepalanya baru saja dipukul oleh Asyila dengan menggunakan panci.
Asyila sangat kesal, ia terus saja memukuli Darwin dan dengan sekuat tenaga mematahkan jari tangan kanan Darwin yang telah membuat suaminya terluka.
Perlahan Darwin kehilangan kesadarannya dan ia pun pingsan setelah dihajar habis-habisan oleh wanita dihadapannya yang berpakaian serba tertutup sampai-sampai hanya terlihat kedua matanya saja.
“Mas, bertahanlah...” Asyila menangis ketakutan melihat bagian kepala suaminya mengeluarkan darah.
Ia pun mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi polisi agar segera menangkap Arif serta Darwin.
“Mas, maafkan Asyila. Akan tetapi, Asyila harus pergi sekarang! Asyila yakin Mas Abraham kuat,” ucap Asyila yang tidak mungkin berdiam di rumah Arif sampai polisi datang.
“30 menit lagi polisi akan sampai, Mas. Bertahanlah sedikit lagi ya Mas, Assalamu’alaikum.”
Asyila berlari keluar rumah, ia harus segera sampai ke penginapan agar yang lainnya tidak tahu bahwa sebenarnya Asyila memiliki keahlian ilmu beladiri dan juga yang telah membuat perhitungan kepada Darwin.
Beberapa saat kemudian.
Asyila berusaha tetap tenang dengan berada didalam kamar. Sementara itu, ia terus saja memikirkan keadaan suaminya.
“Assalamu’alaikum, Asyila! Apakah kamu di dalam?”
Asyila terkesiap dan segera membukakan pintu untuk sahabatnya, “Wa’alaikumsalam,” jawab Asyila.
Ema menarik tangan sahabatnya untuk bergegas menghampiri Yogi yang tengah dikerumuni tiga orang wanita.
Ketika akan masuk ke dalam kamar keluarga kecil Ema, polisi datang bersama dengan Abraham yang terlihat sudah baik-baik saja. Meskipun bagian kepalanya harus diperban.
“Mas Abraham!” Asyila berlari dan segera memeluk suaminya, “Apakah Mas baik-baik saja?” tanya Asyila.
“Alhamdulillah, Mas baik-baik saja. Untungnya ada seorang wanita yang menghubungi polisi. Akan tetapi, polisi tidak bisa menghubunginya kembali karena nomor teleponnya di private,” jelas Abraham.
Asyila bernapas lega dan tak lupa mengucapkan syukur karena suaminya baik-baik saja.
“Arif dan Darwin telah ditangkap. Mereka berdua adalah dalang dari kematian Lia, istri keempat Arif. Ketika polisi datang, polisi menemukan bukti sebuah pisau dengan noda darah yang sudah kering di kandang ayam dan setelah diperiksa lebih lanjut, darah itu adalah darah Lia,” jelas Abraham.
Ema menatap kesal ketika tahu ada pria yang memiliki istri empat, ia pun cepat-cepat masuk dan menarik telinga suaminya agar segera keluar dari penginapan itu.
Yuni, Mela dan Heni tersenyum senang karena akhirnya Kakak beradik Arif dan Darwin telah mendekam di penjara.
“Mas sangat berhutang dengan wanita itu. Tapi kenapa, wanita itu tidak....”
“Sudah jangan dipikirkan, Mas. Yang terpenting sekarang Mas baik-baik saja dan akhirnya pelaku pembunuhan itu bisa tertangkap,” tutur Asyila mengalihkan pembicaraan.
Abraham sama sekali tak curiga, justru ia senang karena istri kecilnya tidak sampai keluar dari penginapan.
“Ini untuk kalian,” ucap Abraham sambil memberikan amplop kepada mereka bertiga.
“Ini apa, Tuan Abraham?” tanya Yuni yang terlihat ragu-ragu menerima amplop dari Abraham.
“Didalamnya ada uang tunai untuk kalian pulang kampung, sekarang kalian harus membuka lembaran baru dan melupakan masa lalu,” jawab Abraham yang sangat kasihan dan iba melihat ketiganya yang begitu menderita.
“Ya Allah, terima kasih!”
“Terima kasih, Tuan Abraham!”
“Allahu Akbar, terima kasih atas kebaikan Tuan Abraham kepada kami.”
__ADS_1
Abraham mengangguk kecil dan tersenyum tipis pada ketiganya.
Penduduk sekitar pantai sudah berkumpul untuk menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi. Sampai akhirnya, polisi pergi untuk membawa pelaku pembunuhan dan memberikan mereka ganjaran yang setimpal.
“Oya, besok akan ada polisi yang ingin meminta alamat lengkap Almarhumah Mbak Lia. Tolong tulis alamatnya dengan sangat lengkap!” pinta Abraham.
Mereka kompak mengangguk dan pamit untuk kembali ke rumah Arif, suami kejam mereka.
Mereka bertiga masih sangat terpukul dengan meninggalkan Lia yang begitu mengerikan.
Diantara istri-istri Arif, hanyalah Lia lah yang masih sangat muda yaitu usianya baru sekitar 19 tahun.
Kebodohan terbesar mereka adalah percaya dengan janji-janji manis seorang Arif. Pada awalnya Arif memberikan mereka kebahagiaan yang begitu menjanjikan. Akan tetapi, itu tidak berlangsung lama karena sebenarnya mereka hanya dimanfaatkan oleh suaminya mereka sendiri.
Di dalam kamar, Abraham dan Asyila tengah berbincang-bincang di tempat tidur. Asyila menangis pilu ketika mendengar kisah keempat istri Arif terutama Lia yang sudah meninggal dunia dengan cara yang mengenaskan. Yaitu, dibunuh oleh suami serta iparnya sendiri.
“Mas.. Kenapa dunia ini begitu kejam? Kenapa seorang pria tidak bisa menghargai wanita? Kenapa wanita selalu dan harus berada dibawah pria?” tanya Asyila sambil menangis.
Sungguh, Asyila takut membayangkan bagaimana ia menjadi salah satu istri Arif yang begitu tidak berperikemanusiaan.
”Sssuutt... Tidak semua pria seperti mereka. Lagipula, mereka berdua tidak akan pernah keluar dari penjara,” tutur Abraham sambil menghapus air mata istri kecilnya.
“Hiks... hiks... Kenapa wanita harus selalu ditindas?”
“Syila jangan sedih lagi, Mas telah memberikan mereka uang yang cukup untuk kembali ke kampung halaman mereka. Yakinlah bahwa Allah akan memberi jalan kebahagiaan untuk mereka setelah pergi menjauh dari pria keji itu.”
“Iya, Mas. Terima kasih karena Mas sangat mempedulikan orang lain,” tutur Asyila yang sangat beruntung memiliki suaminya yang begitu baik kepada sesama makhluk hidup.
“Ayo siap-siap sebentar lagi memasuki waktu Maghrib!” ajak Abraham untuk segera mengambil air wudhu.
“Pasti sakit ya Mas?” tanya Asyila sambil menoleh ke arah kepala suaminya yang tengah diperban.
“Tidak, karena sudah diobati dengan senyum Syila,” jawab Abraham.
Asyila tertawa geli dan mencubit lengan suaminya dengan begitu gemas.
“Mas ini sedang sakit masih saja gombalin Asyila,” celetuk Asyila.
“Biarin, lagipula Mas gombalin istri sendiri,” sahut Abraham.
Mereka saling tertawa dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
🍃
Ema memanyunkan bibirnya sambil melipat kedua tangannya ke dada.
“Adik sayang, kok dari tadi Abang perhatikan mukanya cemberut gitu?” tanya Yogi yang pura-pura tidak tahu bahwa istrinya sedang cemburu.
“Siapa yang paling cantik?” tanya Ema jutek.
“Apanya?” tanya Yogi yang malah bingung dengan pertanyaan dari istrinya.
“Itu yang tadi, diantara mereka dan Ema siapa yang paling cantik?” tanya Ema.
“Hhhm..... Tentu saja Adik sayang,” jawab Yogi.
Ema langsung memukuli dada suaminya dengan cukup keras.
“Kok Abang malah dipukul?” tanya Yogi sambil menahan sakit karena pukulan istrinya.
“Berarti tadi Abang memperhatikan wajah-wajah mereka. Ema sebel sama Abang, pokoknya nanti malam Abang tidak dapat jatah!” tegas Ema dan masuk ke dalam kamar mandi dengan begitu kesal.
Yogi menggaruk-garuk kepalanya dan bingung harus membela diri yang bagaimana lagi.
“Salah lagi, salah lagi. Memang cowok selalu salah dan cewek selalu benar,” ucap Yogi bermonolog dan pasrah karena nanti malam ia tidak akan mendapat jatah dari istrinya. 😭
Mohon untuk Like dan komen teman2..
__ADS_1
Agar author makin dan makin semangat update..