Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Sebatas Sahabat


__ADS_3

Dyah meneteskan air matanya dan berlari untuk segera masuk ke dalam mobil, meninggalkan Kevin yang terlihat begitu terkejut melihat Dyah berlari pergi masuk ke dalam mobil.


Kevin pun beranjak dan meminta orang suruhannya untuk membereskan semuanya. Kemudian, ia berlari menyusul Dyah yang sudah berada di dalam mobil.


“Dyah, kamu kenapa menangis?” tanya Kevin khawatir.


“Kevin, kenapa kamu harus melakukan hal seperti itu? Kenapa kamu harus mengatakannya?” tanya Dyah sembari terus menangis.


“Aku tidak bisa memendam perasaanku begitu lama, Dyah. Apa mencintai seseorang itu dilarang?” tanya Kevin sambil duduk menghadap ke arah Dyah.


Dyah terdiam kembali sambil air matanya terus mengalir. Ia tidak pernah berpikir bahwa persahabatan antara dirinya dan Kevin menimbulkan perasaan lain.


“Tolong katakan kepadaku, Dyah! Apakah mencintai seseorang adalah kesalahan?” tanya Kevin dengan mata berkaca-kaca.


Dyah masih tetap diam. Dyah masih sangat dan sangat terkejut dengan apa yang Kevin lakukan untuknya.


Suasana di mobil itu benar-benar sepi dan Kevin pun memutuskan untuk mengendarai mobilnya agar segera keluar dari hutan pohon Pinus.


Akhirnya mereka keluar dari hutan pohon Pinus, Kevin pun langsung menghentikan mobilnya di tempat yang cukup ramai dan berharap Dyah mau menjawab pertanyaan darinya segera mungkin.


Dikarenakan, kurang dari 3 jam ia harus bergegas ke bandara.


“Kenapa Kevin?” tanya Dyah dengan sangat lirih dan nyaris membuat Kevin tak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Dyah.


“Maksudnya?” tanya Kevin yang belum paham dengan apa yang ditanyakan oleh Dyah.


“Kenapa harus aku?”


Kevin terdiam sejenak sembari mengatur napasnya.


“Aku juga tidak tahu, Dyah. Rasa cinta dihatiku timbul begitu saja,” jawab Kevin apa adanya.


“Kevin, tolong kamu lupakan ucapanmu yang tadi!” pinta Dyah.


“Kenapa? Apa selama ini kamu tidak pernah menyukaiku?” tanya Kevin penasaran dengan perasaan Dyah untuknya.


“Aku hanya menganggap mu sebatas sahabat,” jelas Dyah.


“Seharusnya kamu tahu, tidak ada persahabatan yang benar-benar murni, Dyah. Aku pikir kamu pun memiliki perasaan yang mendalam untukku selama ini.”


Dyah kembali menitikkan air matanya, ia benar-benar terkejut mendengar penjelasan Kevin. Dan disisi lain Dyah tidak bisa menerima kenyataan bahwa Kevin mencintai dirinya.


Baginya, Kevin adalah sahabat yang sangat luar biasa baiknya.


“Maaf, Kevin. Aku tidak bisa menerima cintamu apalagi lamaran dari mu. Dari dulu, hubungan kita hanya sebatas sahabat dan selamanya akan menjadi sahabat. Tolong maafkan aku, jika kamu membenciku aku siap menerimanya. Tapi. tolong maafkan aku karena tak bisa membalas perasaan mu untukku!” pinta Dyah tanpa berani menatap mata Kevin yang terus saja tertuju padanya.


Lagi-lagi Kevin harus menerima kenyataan pahit dalam hubungan asmaranya.


Entah apa yang sedang Allah mainkan untuk dirinya, entah apa yang tengah Allah persiapkan untuk dirinya sehingga sampai detik ini belum bisa merasakan cinta yang semestinya.


Kevin mencoba untuk tenang meskipun hatinya menangis. Dyah gadis yang ia cintai ternyata hanya menganggapnya sebatas sahabat dan tidak lebih dari itu.


“Jika kamu tidak bisa menerimaku juga tidak apa-apa. Apakah persahabatan kita tetap berlanjut?” tanya Kevin mencoba untuk tetap tegar dengan menampilkan senyum terbaiknya.


Dyah yang sebelumnya tidak berani menatap Kevin, kini langsung menatap ke dua bola mata indah milik Kevin.


“Dari dulu, sekarang dan nanti kamu akan tetap menjadi sahabatku. Tolong maafkan aku karena tak bisa....”

__ADS_1


“Sssuutt.... Jangan lagi meminta maaf lagi. Meskipun kamu menolak ku, setidaknya aku telah lega karena telah mengungkapkan perasaanku ini. Sekarang aku akan mengantarmu pulang, tolong jangan lagi meminta maaf!”


Dyah mengangguk kecil, suasana didalam mobil membuatnya sangat canggung.


Untuk mengurangi rasa canggungnya, Dyah memilih menyalakan musik dan berharap semuanya kembali seperti semula.


“Saat aku pulang nanti, kamu ingin aku bawakan apa?” tanya Kevin yang berusaha mencairkan suasana.


“Aku akan memikirkannya nanti,” jawab Dyah sesantai mungkin.


Kevin mengangguk setuju dan mulai mengendarai mobilnya untuk mengantarkan Dyah kembali ke rumah.


Tanpa disadari oleh Dyah, Kevin ternyata menangis dan dengan cepat Kevin menghapus air matanya. Ia tidak ingin terlihat lemas di depan gadis yang ia cintai.


Meskipun berat, lagi-lagi Kevin harus menerima kenyataan yang ada. Ia harus kembali membuang jauh rasa cintanya yang entah kapan bisa hilang seutuhnya.


“Siapa?” tanya Kevin ketika mendengar suara ponsel Dyah berbunyi.


“Paman Abraham,” jawab Dyah dan segera menerima sambungan telepon dari Pamannya yang masih berada di Jakarta.


Dyah berbincang-bincang dengan Pamannya cukup lama. Sampai-sampai Kevin menjadi penasaran dengan perbincangan antara Dyah dan juga Abraham.


Usai menerima telepon, Dyah meminta Kevin untuk mengantarkannya ke perumahan Absyil.


Tanpa pikir panjang, Kevin berputar arah ke daerah perumahan Absyil.


“Apa ada hal yang sangat penting?” tanya Kevin.


“Iya, sedikit. Maaf merepotkan kamu,” tutur Dyah.


Setibanya di perumahan Absyil, Dyah pun meminta Kevin untuk segera pergi.


“Sampai jumpa lagi, Dyah. Assalamu'alaikum!”


“Wa’alaikumsalam, hati-hati Kevin!” Dyah tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Kevin yang perlahan pergi meninggalkan perumahan Absyil.


Kevin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, hatinya terasa teriris pisau yang sangat tajam.


“Aku pikir Dyah lah pelabuhan terakhir untukku. Ternyata, bukan. Gadis seperti apa yang Engkau akan Engkau takdirkan kepadaku Ya Allah?”


Dyah bergegas masuk ke dalam rumah milik keluarga kecil Pamannya. Sang Paman beberapa saat yang lalu meminta Dyah untuk menunggu seseorang yang akan datang ke rumah itu.


Dyah pun menuruti apa yang dikatakan Paman dan memutuskan untuk menyapu lantai sembari menunggu kedatangan orang yang dimaksud oleh Sang Paman.


“Akkkhh!” Dyah tak sengaja menabrak ujung meja dan menjerit kesakitan ketika ujung meja tersebut mengenai lengannya.


Seketika itu, Dyah menangis dengan begitu menyedihkan.


Bukan karena sakit, melainkan karena ia merasa sangat bersalah telah membuat Kevin mencintainya.


Selama ini, Dyah sama sekali tak menganggap Kevin lebih dari sekedar sahabat.


“Ya Allah, ini bukan termasuk dosa 'kan? Hamba benar-benar tidak memiliki perasaan untuk Kevin, apa memang Hamba dan Kevin tidak bisa hanya menjadi sahabat? Apakah Hamba harus menjaga jarak dengan Kevin setelah kejadian hari ini?”


****


Dyah baru saja melaksanakan sholat ashar, matanya terlihat sangat sembab karena terus saja menangis. Ia berharap Sang pencipta dapat mendengarkan semua do'a-do'anya yang telah ia curahkan.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum, selamat sore!”


Dyah terkejut dan segera menghapus air matanya. Ia pun beranjak untuk menemui seseorang yang dimaksud oleh Pamannya, Abraham.


“Assalamu’alaikum!”


“Wa’alaikumsalam,” jawab Dyah tanpa berani menatap lawan bicaranya karena kondisi matanya yang sembab.


“Benar ini rumahnya Pak Abraham?” tanya wanita itu.


“Benar, silakan masuk!” Dyah pun mempersilakan tamu itu untuk masuk ke dalam.


“Terima kasih,” jawabnya.


Dyah meminta wanita itu untuk menunggunya karena ia harus menyiapkan minuman untuk wanita tersebut.


Beberapa menit kemudian.


“Begini, kedatangan Ibu kemari karena ingin memberikan uang tunai ini.”


“Kalau boleh tahu, ini uang apa ya Ibu?” tanya Dyah dan memberanikan diri menatap lawan bicaranya. Meskipun ia malu karena matanya yang bengkak.


“Insya Allah kedepannya Ibu akan tinggal di perumahan Absyil. Kebetulan Ibu adalah tetangga Tuan Abraham. Dan uang ini adalah uang muka untuk salah satu rumah yang akan dibeli oleh Putra Ibu,” jelasnya.


Dyah mengangguk kecil dan menerima bungkusan cokelat yang tentu saja isinya adalah uang.


Setelah memberikan uang tersebut, wanita itu pergi karena ada urusan yang penting. Dyah pun mengangguk dan tak lupa mengucapkan terima kasih.


Setelah wanita tua itu pergi, Dyah pun menghubungi Pamannya untuk memberitahukan bahwa uang tersebut sudah berada di tangannya.


“Baik, Paman. Wa’alaikumsalam,” balas Dyah dan cepat-cepat menaruh minuman yang ia suguhkan ke dapur.


Setelah berbincang-bincang dengan Pamannya ditelepon, Dyah bergegas menuju kamar Pamannya untuk meletakkan uang tunai tersebut ke tempat yang sudah diperintahkan oleh Sang Paman, Abraham.


Kemudian, Dyah melenggang keluar rumah dan tak lupa mengunci pintu rumah tersebut.


“Ternyata ini alasan Paman memberikan aku kunci rumah dan memerintahkan aku untuk terus membawanya,” ucap Dyah bermonolog dan berjalan kaki untuk mencari kendaraan umum roda empat.


Malam hari.


Dyah terlihat sangat serius ketika membaca pesan dari Kevin yang memberitahukan bahwa Kevin sudah tiba di Bali.


Kini, Dyah bingung harus membalas apa kepada Kevin, pria yang beberapa jam lalu menyatakan perasaannya kepada Dyah.


“Aku harus balas apa?” Dyah sangat kebingungan dan hampir 1 jam ia belum juga membalas pesan dari Kevin.


“Tok... Tok!”


“Siapa?” tanya Dyah.


“Ini Papa, sayang. Kenapa dari tadi tidak keluar kamar? Ayo keluarlah ada yang ingin Papa ceritakan!” pinta Temmy.


“Iya, Pa. Sebentar lagi Dyah keluar!” seru Dyah.


Sebelum keluar dari kamar, Dyah akhirnya membalas pesan dari Kevin.


💌 Dyah :

__ADS_1


Semangat sahabatku!


Begitulah balasan Dyah untuk Kevin. Dyah pun bergegas keluar dari kamarnya untuk berkumpul bersama kedua orangtuanya.


__ADS_2