
Di dalam kamar, Asyila langsung merebahkan tubuhnya yang terasa kurang sehat.
“Mas, kenapa ya tiba-tiba Asyila memiliki perasaan yang tidak enak. Seperti ada sesuatu hal yang buruk yang akan terjadi kepada Asyila,” terang Asyila sambil memejamkan mata.
Abraham terdiam dan segera menyusul sang istri yang lebih dulu merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
“Sssuuttt, jangan berbicara hal yang tidak-tidak seperti tadi. Saat ini Syila tengah hamil muda dan sebagai Ibu hamil, Syila tidak boleh berpikiran yang aneh-aneh,” tegas Abraham.
“Tapi, Mas...”
“Sssuutt, tidak ada tapi-tapian. Sekarang yang perlu Syila lakukan adalah tidur,” ucap Abraham memotong ucap sang istri.
“Mas, bantu Asyila ke kamar mandi!” pinta Asyila yang tiba-tiba manja.
Melihat sang istri yang manja seperti itu, Abraham malah sangat senang. Abraham bahkan ingin setiap hari jika sang istri bermanja-manja seperti itu.
“Ayo sini!” Dengan hati-hati Abraham mengangkat tubuh sang istri dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Hampir 5 menit lamanya mereka berada di kamar mandi, sampai akhirnya Asyila keluar dulu dengan pakaian yang cukup terbuka.
“Mas, Asyila langsung tidur ya,” tutur Asyila.
Abraham menelan salivanya dengan begitu sulit, dikarenakan pakaian sang istri yang memancing syahwatnya.
“Syila yakin mau tidur dengan pakaian yang seperti itu? Tidak kedinginan? Apa Syila ingin Mas yang menghangatkan tubuh Syila?” tanya Abraham menawarkan diri untuk menghangatkan tubuh sang istri.
Asyila dengan cepat menggelengkan kepalanya dan menaruh guling ditengah-tengah tempat tidur.
“Ini batas untuk kita, malam ini Mas tidak boleh melewati batas guling ini. Asyila mau tidur dengan tenang,” tegas Asyila dan cepat-cepat menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, kecuali bagian kepala.
Abraham dengan terpaksa menuruti keinginan istrinya dan dengan langkah tak berdaya, Abraham berjalan mendekati tempat tidur dan seketika itu juga merebahkan tubuhnya tanpa memeluk tubuh sang istri.
“Syila yakin tidak mau Mas peluk?” tanya Abraham yang terdengar memohon agar sang istri menghancurkan guling pembatas diantara mereka.
“Sssuutt, ini sudah malam. Asyila sangat mengantuk,” tutur Asyila dan mengubah posisi tidurnya menjadi membelakangi suaminya serta menutup seluruh tubuhnya termasuk bagian kepala.
Abraham sekali lagi mengeluarkan napas panjang dan memutuskan untuk tidur tanpa memeluk tubuh sang istri.
Disaat yang bersamaan, kedua pasangan lainnya masih saja asik dengan jagung bakar ditangan mereka. Sesekali mereka tertawa melihat tingkah lucu Ashraf dan Kahfi yang terlihat seperti anak kembar.
“Mas, mau lagi!” pinta Dyah dan membuka mulutnya lebar-lebar.
Fahmi tertawa kecil dan kembali menyuapi jagung bakar ke dalam mulut istrinya yang sebelumnya sudah ia pisahkan dari bonggol jagung.
“Bagaimana, apakah enak?” tanya Fahmi sambil membersihkan area mulut istrinya yang sedikit kotor.
Ema yang menyaksikan keromantisan Dyah dan Fahmi langsung gigit jari.
“Abang, lihat mereka! Abang juga harus lebih romantis dari mereka,” ucap Ema yang malah melampiaskan kekesalannya pada suaminya.
“Ya Allah, tidak hanya cemburu dengan Abraham dan Asyila. Sekarang istriku juga cemburu kepada pasangan Fahmi dan Ema,” ucap Yogi lirih sambil menggaruk-garuk kepalanya.
__ADS_1
“Abang sedang memikirkan apa? Cepat suapi adik!” pinta Ema dan membuka mulutnya lebar-lebar seperti kuda Nil.
Yogi pun cepat-cepat menyuapi jagung bakar ke dalam mulut istrinya dan bukannya romantis. Ema malah tersedak jagung pemberian suaminya.
“Uhuk... Uhuk... Uhuk...”
Yogi panik dan bergegas mengambil air minum untuk diberikan kepada istrinya. Belum sampai ke mulut sang istri, Yogi malah tersandung dan seketika itu air menyirami seluruh wajah Ema.
“Abang!” teriak Ema dengan geramnya.
“Maaf, Abang tidak sengaja,” tutur Yogi sambil mengelap wajah istrinya yang tak sengaja tersiram air, “Tadi ada batu sehingga Abang tersandung,” imbuh Yogi.
Dyah dan Fahmi hanya bisa menahan tawa mereka melihat sepasang suami istri di hadapan mereka berdua yang tengah berdebat.
“Abang, kalau mau mengelap wajah Dyah harusnya dengan penuh perasaan. Dengan penuh cinta dan tidak boleh asal mengelap saja,” ucap Ema.
Yogi hanya diam mendengar omelan istrinya.
“Abang...” Ema memasang wajah masamnya karena suaminya tak menjawab perkataannya.
“Iya adikku tercinta,” balas Yogi dan mencium sekilas pipi istrinya.
Hati Ema langsung berbunga-bunga dan dengan cepat memberikan ekspresi mengejek ke arah Dyah dan juga Fahmi yang ternyata masih melihat ke arahnya serta suami.
“Hahaha... Hahah.. iri ya? Bilang bos,” celetuk Ema yang mengira bahwa dirinya telah menang dari pasangan Dyah dan Fahmi.
Dyah mengangkat sebelah alisnya ke arah Ema, seakan-akan tengah menerima tantangan yang diberikan oleh Ema.
Fahmi tersenyum bahagia dan berbisik di telinga istrinya.
“Mas Fahmi nakal,” ucap Dyah sambil memukul-mukul dada suaminya dengan sangat manja.
Ema terbelalak melihat keduanya yang semakin romantis. Ema tak ingin kalah telak dari Dyah.
“Abang...” panggil Ema dan memberikan kedipan mata berulang kali pada suaminya.
Melihat istrinya yang terus saja mengedipkan mata, Yogi pun panik dan berusaha untuk mengetahui penyebab mata istrinya yang terus saja mengedip.
“Mata adik kemasukan debu? Sini Abang tiup,” tutur Yogi yang bersiap-siap untuk meniup mata istrinya.
Dyah tak bisa menahan tawanya, ia tertawa dan meminta suaminya untuk segera membawanya masuk ke dalam, sebelum perang dunia kesekian kalinya terjadi.
“Menyebalkan, bagaimana bisa Abang berpikiran kalau mata adik kemasukan debu?” tanya Ema yang terlihat sedang menahan geram karena pemikiran suaminya yang begitu polos.
“Dari tadi Adik selalu begini-begini,” jawab Yogi sambil mempraktekkan bagaimana mata istrinya terus berkedip-kedip.
Ema memanyunkan bibirnya dan beranjak dari duduknya. Kemudian, memanggil kedua bocah yang tengah asik menikmati jagung bakar di dekat tanaman anggur.
“Ashraf, Kahfi! Sini sayang, ayo tidur sama Mama!” panggil Ema.
Kedua bocah kecil itu langsung berlari kecil ke arah Ema.
__ADS_1
“Tidur sama Bunda ya,” terang Ema dan membawa kedua bocah kecil itu masuk ke dalam rumah, meninggalkan Yogi sendirian.
Yogi menggaruk-garuk kepalanya dan dengan sedih, ia membereskan sisa-sisa bakar jagung seorang diri.
“Nasib punya istri yang super bawel,” ucap Yogi.
Bisa dikatakan, sifat keduanya begitu bertentangan.
Ema yang super manja dan ingin diperhatikan, sementara Yogi adalah pria yang sangat kaku dalam hubungan asmara. Meskipun begitu, keduanya menunjukkan cinta mereka dengan cara mereka sendiri.
Ema tak langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur, ia terlebih dulu menyuruh kedua bocah kecil itu untuk gosok gigi, cuci tangan dan cuci kaki sebelum tidur. Barulah setelah itu, mereka tidur bersama-sama.
“Kenapa dikunci, Ma?” tanya Kahfi ketika melihat Mamanya baru saja mengunci pintu, padahal Papanya belum masuk ke kamar.
“Sudah, tidak apa-apa. Malam ini Papa tidur di kamar yang lain, ayo tidur sudah larut malam!” ajak Ema.
Ashraf dan Kahfi bersama-sama melafalkan Do'a sebelum tidur. Kemudian, mereka kompak memejamkan mata untuk segera tidur.
Cukup lama, akhirnya kedua tertidur juga. Dan kini, hanya tinggal Ema saja yang belum tidur.
Abang Yogi sangat menyebalkan. Bagaimana bisa, isyarat mataku dianggap seperti tengah kemasukan debu. Hadehhh, suamiku ini benar-benar menyebalkan.
Disaat yang bersamaan, Yogi menghela napasnya karena sisa-sisa dari bakar jagung sudah ia bersihkan.
“Alhamdulillah, semuanya sudah selesai. Tinggal bersih-bersih badan dan bergegas tidur dengan istri tercinta,” tutur Yogi dan cepat-cepat masuk ke dalam rumah.
Yogi tersenyum dan berniat untuk masuk ke dalam kamar. Akan tetapi, langkah kaki Yogi terhalang oleh pintu kamar yang tak bisa dibuka.
“Haaa? Apa pintu ini benar-benar rusak?” tanya Yogi berpikir bahwa pintu kamar itu rusak, tak bisa dibuka.
Ketika Yogi ingin meminta bantuan Abraham, pintu kamar itu terbuka dan sebuah bantal melayang tepat di wajahnya.
“Malam ini, Abang tidur di kamar lain,” ucap Ema dan kembali menutup pintu rapat-rapat.
“Kenapa untuk masalah percintaan, aku terlihat sangat bodoh? Huuffttt...”
Yogi menggaruk-garuk kepalanya dan ketika ia berbalik badan, ternyata ada Arumi yang tengah berdiri tak jauh dari tempat Yogi berdiri.
“Nak Yogi kenapa belum tidur?” tanya Arumi.
Yogi yang awalnya nampak sedih, seketika itu wajahnya berubah menjadi begitu bersinar.
“Sebentar lagi, Bu Arumi. Saya saat ini sedang mencari udara segar,” jawab Yogi.
Arumi mengernyitkan keningnya tak percaya dengan perkataan Yogi ketika melihat bantal yang berada di genggaman Yogi.
“Lagi berantem sama Nak Ema ya? Ibu sarankan agar Nak Yogi banyak-banyak bersabar dan turuti saja kemauan Nak Ema,” terang Arumi dan melenggang masuk ke dalam kamarnya.
Yogi lagi-lagi mengelus dadanya dan berharap kedepannya ia tidak salah mengira dengan kode atau isyarat-isyarat dari istri tercintanya itu.
Like ❤️ komen 😘
__ADS_1