
Asyila tiba di rumah dan langsung disambut dengan pelukan hangat oleh buah hatinya, Ashraf.
“Assalamu’alaikum, kesayangannya Ayah dan Bunda,” ucap Asyila dan berjongkok untuk membalas pelukan hangat dari buah hatinya.
“Wa’alaikumsalam, Bunda. Bunda tadi kemana?” tanya Ashraf dengan tatapan menggemaskan.
“Bunda ada urusan sebentar sayang, kesayangannya Bunda sudah makan?” tanya Asyila sambil menyentuh kedua pipi Ashraf yang sedikit berisi.
“Sudah Bunda. Bareng kakek dan nenek,” jawab Ashraf.
Asyila tersenyum dan beranjak dari jongkoknya. kemudian, menggandeng tangan Ashraf membawanya masuk ke ruang keluarga untuk menemui kedua orangtuanya yang tengah bersantai-santai di ruang keluarga.
“Asyila, kamu sudah pulang!” Arumi cepat-cepat menghampiri putri tunggalnya itu.
“Sudah, Bu,” jawab Asyila dan secara bergantian mencium punggung tangan kedua orangtuanya.
“Nak Abraham mana?” tanya Herwan yang tak melihat menantu kesayangannya itu.
“Mas Abraham sedang ada urusan, Ayah. Kemungkinan untuk beberapa hari ke depan Mas Abraham tidak pulang ke rumah,” jawab Asyila yang terpaksa berbohong.
“Tidak pulang ke rumah? Lalu, kalau tidak pulang ke rumah suamimu tidur dimana, Asyila?” tanya Arumi yang menampilkan wajah herannya.
Asyila tersenyum dan membisikkan sesuatu hal ditelinga Ibunya. Setelah mendengar perkataan Asyila, Arumi cepat-cepat mengangguk dan menyetujuinya.
“Kalau itu Ibu setuju!” seru Arumi sambil mengangkat kedua jempol tangannya.
Herwan penasaran dan segera mendekati ke arah istrinya, Arumi.
“Apa yang Asyila katakan?” tanya Herwan sambil mencolek lengan Arumi dengan jari telunjuknya.
“Huusssh... Ini rahasia antara Ibu dan anak. Mas tidak perlu tahu dengan urusan kami,” sahut Arumi.
Herwan memanyunkan bibirnya dan menoleh ke arah Asyila, mungkin saja dengan melihat Asyila, Herwan langsung mendapatkan jawabannya.
“Hhmmm... Apa yang Ibu katakan memang benar, Ayah,” tutur Asyila dan melenggang pergi meninggalkan kedua orangtuanya yang masih di ruang tamu. Kemudian, membawa Ashraf bersantai-santai di kolam ikan samping rumah yang ukurannya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.
Kolam ikan yang baru beberapa hari dibuat oleh Abraham untuk buah hatinya agar tak jenuh selama jauh dari Abraham maupun Asyila.
“Bunda, ikan ****** nya banyak,” ucap Ashraf sambil menunjuk ke arah ikan ****** yang tengah bergerak kesana-kemari.
“Iya sayang, karena ikannya sudah banyak, tugas Ashraf adalah memberikan ikan ****** makanan ikan yang cukup,” tutur Asyila dan memberikan botol berukuran kecil yang isinya makanan ikan kepada Ashraf.
Asyila mengucapkan terima dan dengan tangan kecilnya, ia menaburkan makanan ****** ke kolam.
Tawa Ashraf terdengar begitu bahagia manakala mulut-mulut ikan ****** melahap makanannya.
Usai memberikan makanan kepada para ikan ******, Asyila kembali mengajak Ashraf masuk ke dalam rumah dan mengajak buah hatinya untuk menikmati es krim.
“Bunda, mana es krimnya?” tanya Ashraf yang tiba-tiba ingat alasan mengapa Bundanya pergi tak mengajak dirinya.
__ADS_1
“Kebetulan es krimnya habis sayang, bukankah di kulkas masih ada?” tanya Asyila balik.
Ashraf mengangguk kecil dan dengan senyum manisnya ia meminta Bundanya untuk segera mengambilkan es krim kesukaannya.
Beberapa jam kemudian.
Asyila baru saja selesai mandi dan bergegas memakai pakaian lebarnya.
“Mas Abraham pasti sudah menunggu aku, sebaiknya aku bergegas menuju rumah sakit,” tutur Asyila bermonolog sembari memberikan lip tint di bibirnya dengan warna yang disukai oleh sang suami.
Ketika selesai merias wajahnya, Asyila tersenyum bangga dan juga bersyukur karena telah diberikan kecantikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
“Masya Allah, Allahu Akbar,” tutur Asyila memuji kebesaran Sang Pencipta semesta alam.
Setelah semuanya siap, Asyila bergegas menarik koper berukuran sedang dan membawa koper tersebut keluar kamar.
“Bunda mau kemana?” tanya Ashraf ketika melihat Asyila baru keluar dari kamar dengan membawa sebuah koper.
“Bunda ada urusan penting, sayang. Kalau urusan Bunda sudah beres, Bunda akan pulang bersama Ayah. Ashraf dirumah dulu ya bersama kakek dan nenek!” pinta Asyila sambil mengelus-elus pipi buah hatinya.
Tanpa pikir panjang, Ashraf pun menyetujui perkataan Bundanya dan dengan manisnya Ashraf memeluk pinggang Bundanya dengan erat.
“Selama Bunda pergi, Ashraf tidak boleh nakal! Ashraf harus mematuhi apa yang dikatakan oleh kakek dan nenek,” tutur Asyila yang sebenarnya tak tega meninggalkan buah hatinya, sementara dirinya masih ingin terus dekat dengan si kecil, Ashraf.
“Iya Bunda,” balas Ashraf yang begitu penurut.
Arumi dan Herwan pun datang menghampiri Asyila yang sebentar lagi meninggalkan rumah.
“Iya, Ibu. Asyila makannya nanti sama Mas Abraham,” balas Asyila.
“Ya sudah, pergilah! Kamu hati-hati dan salam untuk suamimu.”
“Siap, Ibu,” balas Asyila.
“Oya, sayang. Nanti sore Ayah dan Ibu tidur di rumah kami, otomatis Ashraf juga ikut kami. Apakah boleh?” tanya Arumi.
“Ibu kenapa bertanya seperti itu? Tentu saja boleh, Ibu. Lagian, Ashraf pasti sangat senang tidur dikamar Bundanya,” terang Asyila.
Asyila kemudian menoleh ke arah Ashraf dan Ashraf dengan cepat mengiyakan apa yang dikatakan oleh Bundanya itu.
“Ayah, Ibu! Asyila berangkat dulu,” tutur Asyila dan mencium punggung tangan kedua orangtuanya secara bergantian.
“Bunda!” panggil Ashraf sambil meraih tangan Bundanya untuk segera mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkannya.
“Anak pintar,” puji Asyila.
Akhirnya Asyila benar-benar pergi untuk segera menemui suaminya di rumah sakit.
****
__ADS_1
Rumah Sakit
Asyila turun dari mobil dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Pak Udin yang telah mengantarkan dirinya.
“Pak Udin, terima kasih,” tutur Asyila.
Pak Udin mengangguk kecil, “Ngomong-ngomong siapa yang sakit, Nona Asyila?”
“Mas Abraham, Pak Udin,” jawab Asyila.
“Haa, Tuan Abraham sakit apa Nona Asyila?” tanya Pak Udin yang terlihat panik.
“Pak Udin tidak perlu khawatir seperti itu, Mas Abraham hanya sakit ringan saja. Insya Allah beberapa hari ke depan sudah boleh pulang. Tolong Pak Udin jangan beritahukan orang rumah ya tentang masalah ini!” pinta Asyila.
“Baik, Nona Asyila. Saya berjanji tidak akan memberitahukan siapapun dan saya berharap bahwa Tuan Abraham segera sembuh,” balas Pak Udin.
“Terima kasih, Pak Udin. Asyila langsung pamit ya, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” balas Pak Udin dengan sangat ramah.
Asyila bergegas masuk ke dalam rumah sakit untuk bergegas menemui suaminya.
“Assalamu'alaikum, Mas Abraham!” sapa Asyila ketika memasuki ruangan suaminya.
“Wassalamu'alaikum, istriku,” balas Abraham yang saat itu tengah berbaring.
Asyila berlari kecil dan tak lupa mencium punggung tangan suaminya.
“Masya Allah, melihat bidadari surga secantik ini sakit suamimu ini langsung hilang,” puji Abraham.
“Mas jangan berlebihan seperti itu, jangan membuat kepala Asyila besar,” balas Asyila sembari geleng-geleng kepala melihat kelakuan suaminya yang sangat manis dalam berbicara.
“Mas mengatakannya karena benar, istriku,” sahut Abraham.
Asyila menghela napasnya dan mengangguk kecil menyetujui apa yang dikatakan oleh suaminya.
“Oya, Mas Abraham sudah makan?” tanya Asyila.
“Alhamdulillah, sudah. Tadi ada suster cantik yang menyuapi makanan untuk Mas,” jawab Abraham.
Asyila seketika itu mengernyitkan keningnya dan menampilkan wajah masamnya.
“Mas kalau mau bercanda jangan seperti ini, membuat Asyila kesal saja,” terang Asyila sambil membuka nasi kotak yang isinya berbagai macam jenis lauk kesukaan suaminya dan tentu saja semuanya bergizi.
“Iya, Maaf. Lain kali, Mas tidak akan sebercanda itu,” balas Abraham yang terlihat bersalah.
Asyila tersenyum lebar dan dengan gerak cepat mengecup kening suaminya.
“Asyila hanya bercanda, Mas. Asyila tahu Mas adalah Suami yang sangat setia,” tutur Asyila dengan menampilkan senyum terbaiknya.
__ADS_1
Terima kasih atas like dan juga komentar kalian 🙏🙏