
Asyila tersenyum dan mengambil sepotong paha ayam untuk Bela.
“Mau Aunty temani disini apa tidak?” tanya Asyila yang kini telah duduk tepat disamping Bela.
“Tidak usah, Aunty. Bela bisa makan disini sendirian,” jawab Bela yang tidak ingin merepotkan Asyila.
“Yakin?” tanya Asyila memastikan.
“Iya, Aunty,” jawab Bela kembali.
Sebelum meninggalkan Bela seorang diri di ruang makan, Asyila mengecup lembut kepala Bela dan melenggang pergi menuju ruang tamu.
“Bela makan sendirian?” tanya Abraham pada istri kecilnya yang baru saja mendekat tepat di samping Abraham.
“Iya, Mas Abraham. Bela makan sendirian, padahal sebelumnya sudah Asyila tawarkan untuk menemaninya,” jawab Asyila apa adanya.
Abraham mengajak istri kecilnya untuk duduk sekaligus berbincang-bincang dengan para penghuni perumahan Absyil.
Tak terasa waktu sudah hampir mendekati Maghrib, merekapun berpamitan untuk segera pulang.
Asyila tersenyum dan mengeluarkan amplop yang tentu saja berisi uang untuk diberikan kepada anak-anak mereka yang hadir.
“Terima kasih, Aunty!”
“Terima kasih, Aunty!”
Mereka tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Asyila yang telah memberikan mereka sebuah amplop.
“Sama-sama,” balas Asyila dengan sangat ramah.
Ruang tamu pun akhirnya kembali sepi dan saatnya bagi Asyila untuk beres-beres.
“Aunty, Dyah bantu ya,” ucap Dyah ketika melihat Asyila sedang merapikan meja ruang tamu.
“Tidak perlu, Dyah. Aunty bisa sendiri,” balas Asyila yang menolak bantuan dari Dyah karena tak ingin merepotkan keponakan dari suaminya itu.
“Aunty tidak perlu sungkan dengan Dyah, bagaimanapun Dyah adalah keponakan Aunty juga,” balas Dyah dan mengambil sapu lantai untuk menyapu lantai yang cukup kotor.
Asyila hanya bisa mengiyakan keinginan Dyah yang ingin membantunya.
Bela juga ikut andil dalam membereskan ruang tamu yang memang agak berantakan.
Tak butuh waktu lama, ruang tamu pun bersih kinclong.
“Dyah, Bela. Terima kasih sudah membantu Aunty,” ucap Asyila yang tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Dyah dan juga Bela yang telah membantunya.
“Sama-sama, Aunty,” balas keduanya dengan kompak.
“Dyah, malam ini tidur disini ya!” pinta Asyila yang sangat ingin keluar kecil Dyah tidur di rumah.
Dyah tak bisa langsung mengambil keputusan, ia melirik sekilas ke arah suaminya. Fahmi pun langsung mengiyakan permintaan Asyila.
“Alhamdulillah,” ucap Asyila yang sangat senang karena rumahnya akan ramai.
“Sudah mau Maghrib, ayo siap-siap!” perintah Abraham yang lebih dulu melenggang masuk ke dalam kamar untuk persiapan melaksanakan sholat Maghrib di masjid.
Fahmi pun pulang ke rumahnya untuk mengganti pakaian sekaligus membawa pakaian untuk dirinya, Dyah dan juga buah hati mereka.
__ADS_1
“Mas Fahmi yakin pulang sendirian?” tanya Dyah pada suaminya.
“Sudah, tidak apa-apa. Mas tahu kok pakaian mana yang akan dibawa kesini,” jawab Fahmi dengan sangat santai.
Fahmi akhirnya pamit untuk kembali ke rumah.
Dyah tersenyum bahagia melihat punggung suaminya yang perlahan menjauh dari pandangannya.
“Aunty, Mas Fahmi tidak jauh berbeda dengan Paman Abraham ya? Sudah baik, tampan, Sholeh dan yang pasti memuliakan istrinya,” ucap Dyah dengan perasaan Berbunga-bunga.
Asyila sangat senang melihat Dyah yang bahagia, Asyila berharap bahwa kedepannya dan sampai mau menjemput mereka terus bersama.
“Kak Dyah, adik Asyila menangis di kamar,” ucap Bela yang mendengar suara tangisan dari putri kecil Dyah.
Seketika itu juga Dyah berlari menuju kamar.
“Bela, ayo siap-siap kita harus sholat!” pinta Asyila pada Bela.
Bela mengiyakan dan bergegas untuk mengganti pakaiannya.
Beberapa saat kemudian.
Asyila, Dyah dan juga Bela telah selesai melaksanakan sholat di ruang sholat.
Sementara Abraham dan Fahmi seperti biasa, mereka melaksanakan sholat di masjid.
Senyum Asyila tiba-tiba merekah sempurna, ia seperti mendapatkan ide cemerlang yang harus ia keluarkan saat itu juga.
“Aunty kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Dyah penasaran.
Asyila melepaskan mukena miliknya dan melipatnya, kemudian ia mengajak Dyah serta Bela untuk pergi ke ruang kerjanya.
“Aunty serius?” tanya Dyah karena sebelumnya belum terealisasikan karena ada beberapa hal yang membuat Asyila tak bisa menyentuh alat jahit.
“Insya Allah, Aunty saat ini sedang semangat 45!” Asyila tersenyum lebar dengan penuh semangat.
Wanita muda itu mendaratkan bokongnya di kursi dan mulai menggunting bagian kain untuk dijadikan sebuah pakaian muslim.
Dyah dan Bela saling tukar pandang ketika melihat Asyila yang begitu serius dengan kain dihadapannya.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Abraham dan juga Fahmi yang baru saja tiba dari Masjid.
Mendengar ucapan salam dari suaminya, Asyila pun beranjak dari duduknya untuk menyambut kedatangan suami tercinta.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” balas Asyila menghampiri suaminya dan tak lupa mencium punggung tangan suaminya.
Abraham menyentuh kepala istri kecilnya yang tertutup hijab, kemudian mencium kening Istri kecilnya dengan penuh cinta.
“Mas, Asyila mau fokus menjahit pakaian. Apakah boleh?” tanya Asyila yang lebih dulu meminta izin, meskipun Asyila tahu bahwa suaminya pasti akan mengizinkannya.
“Boleh, apapun yang Asyila lakukan Mas akan selalu mendukung. Bila perlu, Mas ikut membantu Asyila menjahit pakaian,” balas Abraham.
Asyila terkekeh kecil mendengar perkataan suaminya.
“Mas tidak perlu ikut menjahit, Mas hanya cukup memperkenalkan produk Asyila ke karyawan serta karyawati Mas Abraham yang berada di kantor,” terang Asyila.
“Ide bagus, kenapa Mas tidak kepikiran sampai situ ya?” tanya Abraham yang berpura-pura tak mengerti.
__ADS_1
“Bohong saja, Asyila tahu Mas Abraham mengerti kalau soal beginian,” celetuk Asyila.
Abraham tertawa kecil mendengar celetukan istri kecilnya.
“Ehem!” Dyah berdehem karena sepasang suami istri dihadapannya tak menyadari bahwa mereka berdua sedang diperhatikan oleh Dyah, Fahmi dan juga Bela.
Karena tak ingin diganggu, Abraham saat itu juga menuntun istri kecilnya untuk segera masuk ke dalam kamar agar mereka berdua bisa bermesraan di kamar.
“Mas ini ada-ada saja, bagaimana bisa Mas membawa Asyila masuk ke dalam kamar? Asyila masih ada pekerjaan yang harus Asyila selesaikan, Mas,” terang Asyila.
“Pekerjaan rumah?” tanya Abraham memastikan.
“Bukan, Mas. Asyila sedang menjahit pakaian dan bisa dikatakan itu sampel untuk memperkenalkan produk pakaian muslimah Asyila,” jawab Asyila.
“Istriku sayang, besok saja ya. Lagipula, ini sudah malam,” ucap Abraham.
Asyila mengiyakan dengan patuh, bagaimanapun perkataan suaminya adalah perintah untuknya.
“Istri pintar,” puji Abraham dan kembali memberikan kecupan mesra di kening Asyila.
“Suami pengertian,” puji Asyila balik.
Asyila tersenyum dan memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat.
“Terima kasih ya Mas, Mas memang suami yang pengertian,” terang Asyila pada suaminya.
“Terima kasih juga istriku, yang selalu melayani suamimu ini dengan sangat baik,” balas Abraham.
Dyah dan Fahmi sedang berada di ruang tamu sembari berbincang-bincang, sementara Bela memilih untuk menonton kartun di ruang keluarga seorang diri.
Bela tiba-tiba merindukan Arsyad dan juga Ashraf yang biasanya menonton kartun bersama dengannya.
Tanpa sadar, Bela tertawa sendiri ketika mengingat bagaimana Arsyad dan Ashraf sering adu argumen. Meskipun begitu, rasa sayang Arsyad dan juga Ashraf terlihat sangat kuat.
Asyila yang sudah menyelesaikan urusannya di kamar bersama Sang suami, memutuskan untuk keluar dari kamar. Menyelesaikan urusan dengan suami dalam arti membantu suaminya mengganti pakaian dengan pakaian yang lebih santai.
“Kalian hanya berdua saja? Dimana Bela?” tanya Asyila karena tak melihat Bela di ruang tamu bersama Dyah dan juga Fahmi.
“Bela ada, Aunty. Sedang menonton kartun di ruang keluarga,” jawab Dyah.
“Ya sudah, kalian teruskan saja mengobrolnya. Aunty mau ke ruang keluarga dulu,” tutur Asyila dan melenggang pergi menuju ruang keluarga untuk menemani Bela menonton kartun.
Bela tertawa lepas ketika melihat adegan yang sangat lucu.
“Bela sedang menertawakan apa?” tanya Asyila sambil mendaratkan bokongnya di sofa.
“Itu Aunty, Ipin sedang dikejar Rambo,” jawab Bela sambil menunjuk ke arah layar televisi.
Asyila pun ikut tertawa karena acara kartun tersebut benar-benar lucu dan juga menggelitik perut.
“Sepertinya sangat seru,” ucap Abraham yang tiba-tiba muncul.
Asyila terkejut dan refleks memukul lengan suaminya yang datang secara tiba-tiba.
“Mas kebiasaan mengagetkan Asyila,” ucap Asyila setelah memukul lengan suaminya.
Abraham hanya tertawa kecil mendengar keluhan dari istri kecilnya itu.
__ADS_1
“Bukannya minta maaf, Mas Abraham malah tertawa,” celetuk Asyila.
“Iya, Maaf,” balas Abraham sambil membelai lembut punggung istri kecilnya.