
Asyila telah selesai menyiapkan barang-barang serta keperluan selama berada di Jakarta. Kemungkinan mereka akan berada di Jakarta seminggu penuh.
“Apakah semuanya sudah siap?” tanya Abraham yang baru masuk ke dalam kamar setelah menidurkan Ashraf di kamar sebelah.
“Alhamdulillah, sudah Mas. Ashraf apakah sudah tidur?” tanya Asyila memastikan.
“Tentu saja sudah, sekarang waktunya untuk kita tidur sebelum berangkat ke Jakarta!” ajak Abraham dan menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur.
Asyila menggelengkan kepalanya dan enggan bergabung dengan sang suami yang terus menatapnya.
“Asyila masak dulu ya Mas,” ucap Asyila dan Abraham pun mengiyakan keinginan sang istri.
Abraham menghela napasnya ketika sang istri benar-benar keluar dari kamar untuk memasak makanan. Ia sejujurnya ingin sekali bermanja-manja dengan Asyila, akan tetapi mau bagaimana lagi?
Ia tidak bisa meminta sang istri untuk menemaninya dan bermanja-manja dengannya.
“Hoek... Hoek...” Asyila berlari kecil menuju kamar mandi dekat dapur dan berusaha memuntahkan isi perutnya yang benar-benar membuatnya merasa pusing.
Disaat yang bersamaan, Abraham turun dari kamar untuk membantu sang istri memasak menu makan siang. Pria itu terkejut dan berlari secepat mungkin ke arah kamar mandi ketika mendengar suara Asyila yang seakan sedang muntah-muntah.
“Syila!” panggil Abraham.
Asyila keluar dari kamar mandi dengan wajah yang berubah pucat. Ia berjalan gontai seakan-akan kakinya tak kuat untuk berpijak.
“Wajah Syila kenapa pucat begini?” Abraham terlihat panik dan mendekap tubuh Asyila, ”Ayo kita ke rumah sakit sekarang!”
“Asyila tidak mau ke rumah sakit, Mas. Asyila harus menyelesaikan tugas Asyila di dapur.”
“Kesehatan Syila lebih penting daripada di dapur!”
“Lihat! Asyila sudah baik-baik saja,” ucap Asyila yang berusaha terlihat membaik.
“Huh...’’ Abraham menghela napasnya dan mengiyakan keinginan Asyila.
“Baiklah. Tapi, Mas akan membantu Syila memasak!”
Asyila tersenyum manis dan merekapun bersama-sama memasak makanan untuk makan siang mereka.
****
Kondisi Asyila sudah membaik setelah makan siang, ia dan keluarga kecilnya sebentar lagi akan berangkat menuju Jakarta.
Mereka hanya tinggal menunggu kedatangan Dyah yang juga ingin ikut bersama mereka.
”Huh... Syukurlah! Dyah pikir sudah ditinggal,” ucap Dyah yang baru saja tiba dengan napas terengah-engah.
Asyila tertawa mendengar perkataan Dyah, ”Bagaimana bisa kami meninggalkan mu?”
Dyah mengernyitkan keningnya ketika melihat wajah Asyila yang memucat.
“Aunty sakit ya?” tanya Dyah untuk memastikan bahwa Asyila baik-baik saja.
“Sedikit,” jawab Asyila singkat.
Dyah berganti menatap Pamannya yang berdiri sambil memegang tangan Ashraf.
“Ada apa?” tanya Abraham datar.
”Aunty sedang sakit dan kita akan melakukan perjalanan?” Dyah menatap sebal ke arah Pamannya itu.
Asyila menyentuh kedua tangan Dyah dan mengatakan bahwa ia tidak perlu berobat. Asyila terus meyakinkan Dyah maupun suaminya agar mereka segera berangkat menuju Jakarta.
“Mas, ayo berangkat!” ajak Asyila dengan sedikit manja.
Lagi-lagi Abraham tak bisa menolak keinginan sang istri untuk cepat-cepat bergegas menuju Jakarta.
“Ya sudah, ayo kita berangkat! Bismillahirrahmanirrahim!”
“ Bismillahirrahmanirrahim!”
Ashraf memilih duduk di kursi tengah bersama Dyah. Setidaknya, ia bisa lebih leluasa untuk tidur dipangkuan Dyah.
__ADS_1
“Ashraf, jangan naik di paha kakak dong,” ucap Dyah setengah kesal.
“Biarin,” jawab Ashraf santai dan dengan penuh percaya diri, ia duduk dipangkuan Dyah.
Abraham dan Asyila tertawa bersama ketika melihat kelakuan putra kecil mereka.
“Paman, jangan lupa bonusnya ya!” pinta Dyah.
“Bonus apa?” tanya Abraham terheran-heran.
“Dyah sekarang jadi baby sitter untuk Ashraf, Paman. Jadinya, Paman harus memberikan Dyah bonus. Tidak usah banyak-banyak, cukup uang 10 lembar warna merah,” terang Dyah sembari menahan tawanya.
“Kamu ya, dari dulu tidak pernah berubah. Selain makan, kamu juga mata duitan,” ejek Abraham.
“Gini-gini, Dyah keponakan Paman yang paling cantik dan imut,” ucap Dyah memuji dirinya sendiri.
“Masih cantik dan imut Bunda,” celetuk Ashraf.
Dyah gemas dengan Ashraf yang sama sekali tak berpihak kepadanya. Ingin rasanya Dyah menggigit pipi Ashraf yang sangat menggemaskan seperti donat.
Abraham dan Asyila hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Ashraf yang selalu berpihak kepada Bundanya tersayang.
Beberapa jam kemudian.
Abraham serta yang lainnya mengucapkan syukur ketika telah tiba dikediaman Abraham. Baru saja mereka turun dari mobil, Arsyad sudah berlari menuju kedua orangtuanya.
“Ayah! Bunda!” Arsyad yang biasanya ceria tiba-tiba berubah menjadi cengeng.
Arsyad menangis dikaki sang Ayah, Abraham terkejut dan dengan cepat mengangkat tubuh putra pertamanya ke dalam pelukannya.
“Kenapa jagoan Ayah menangis?” tanya Abraham sambil membelai rambut putra pertamanya.
“Arsyad kangen Ayah dan Bunda,” jawab Arsyad dengan suara serak khas orang yang tengah menangis.
Asyila mendekati Arsyad dan merentangkan kedua tangannya.
“Bunda juga mau peluk Arsyad!”
Ashraf yang melihat betapa cengeng Kakaknya itu hanya bisa melongo.
“Iisshh.. Mulutnya ditutup, Ashraf. Nanti ada lalat masuk,” ucap Dyah.
Ashraf segera menutup mulutnya rapat-rapat dan meminta Ayahnya untuk menggendongnya juga.
“Ternyata Ashraf mau Ayah gendong juga ya!”
Arumi dan Herwan datang menghampiri putri dan menantu kesayangannya.
“Assalamu'alaikum Ayah, Ibu!”
“Wa’alaikumsalam!”
Abraham lebih dulu mencium punggung tangan mertuanya dan barulah Asyila.
“Loh, ini kenapa Arsyad menangis?” tanya Arumi terheran-heran karena sebelumnya Arsyad tak menangis apalagi bersedia.
“Hiks... Hiks... Arsyad kangen Ayah sama Bunda,” jawabnya yang masih memeluk Asyila.
“Apa kabar Nenek dan Kakek?” sapa Dyah dan tak lupa mencium punggung tangan mertua dari Pamannya.
“Alhamdulillah, baik. Kamu sekarang kurusan ya,” ucap Arumi.
Abraham dan Asyila baru menyadari bahwa tubuh Dyah sedikit lebih kurus.
“Jangan menatap Dyah seperti itu, Nenek saja menyadari perubahan Dyah, kenapa Paman dan Aunty tidak?” tanya Dyah kesal.
“Sudah-sudah, kita lanjutkan perbincangan kita di dalam. Ibu sudah memasak makanan untuk kalian!” ajak Arumi.
Arsyad enggan turun dari gendongan Asyila, ia benar-benar terlihat menyedihkan.
Rasa kangen yang ia pendam harus benar-benar ia keluarkan sore itu juga.
__ADS_1
“Sayang, Bunda harus mandi, Arsyad sama Ayah dulu ya!” pinta Asyila dengan selembut mungkin.
“Tidak mau, Arsyad mau sama Bunda dulu. Baru sama Ayah,” jawabnya yang enggan melepaskan pelukannya.
“Ya sudah, 5 menit lagi Bunda mandi ya!” pinta Asyila.
“Iya, bunda.”
Ashraf mulai mengantuk, jika ia mengantuk sudah pasti ia mengucek matanya sendiri.
“Ayah...” Ashraf menarik-narik kerah baju Abraham.
Abraham paham benar dengan apa yang dilakukan oleh Ashraf. Tak ingin berpikir panjang, ia langsung membawa putra kecilnya ke dalam kamar.
“Sayang, Bunda mandi ya! Lihat adik Ashraf sudah masuk kamar, pasti mau tidur,” ucap Asyila.
Arsyad masih ingin berlama-lama dengan Bundanya. Akan tetapi, ia tidak mungkin bersikap egois terus-menerus.
“Kak Dyah, temani Arsyad ke kebun ya!” pinta Arsyad yang kini telah berdiri di dekat Dyah.
Dyah yang sebenarnya ingin bersantai-santai, tak bisa menolak keinginan adiknya itu.
“Baiklah, ayo! Tapi, jangan lama-lama.”
Asyila terus memperhatikan punggung putra pertamanya yang perlahan mulai menjauh.
“Mumpung Arsyad lagi bersama Dyah, kamu cepat mandi nak,” ucap Arumi yang tiba-tiba datang dan membuat Asyila terkejut.
Asyila mengelus-elus dadanya yang hampir saja copot.
“Ibu membuat Asyila terkejut,” tutur Asyila.
“Maaf deh, ya sudah sana mandi. Kasihan loh makanan Ibu dianggurin begini,” pungkas Arumi.
Asyila mengangguk kecil dan bergegas menuju kamar sang suami.
“Aakkkhhh!” Asyila berteriak ketika baru saja masuk kamar.
“Sssuuutt!” Abraham dengan cepat membungkam mulut Asyila dengan tangannya.
“Ini suamimu,” terang Abraham.
“Mmmmm...” Asyila sama sekali tak dapat bicara karena mulutnya masih dibungkam oleh sang suami.
“Maaf hehehe..” Abraham segera menjauhkan tangannya dan tak pikir panjang ia melepaskan hijab yang Asyila kenakan.
“Mau mau ap....” Belum juga bertanya, sang suami sudah mencium bibirnya secara tidak sabaran.
Mau tak mau Asyila larut dalam permainan sang suami, mereka menikmatinya dengan penuh cinta.
Lalu dimana Ashraf? Ternyata Abraham meletakkan putra kecilnya di kamar Dyah, agar Abraham lebih mudah menghabiskan waktunya bersama sang istri.
Asyila melenguh ketika lehernya ditelurusi oleh bibir suaminya, Abraham sore itu benar-benar bersemangat melakukan pemanasan. 😳
“Mmm.. Mas.. As-Asyila mandi dulu ya!" pinta Asyila.
Bukannya menjawab, Abraham kembali mencium bibir istri kecilnya dan memperdalam ciumannya itu.
Sesekali Asyila mendesah menikmati apa yang dilakukan oleh suaminya.
“Mas sangat mencintai Asyila,” ucap Abraham berbisik basah ditelinga Asyila.
“Asyila juga sangat mencintai Mas,” balas Asyila dengan mata terpejam.
Abraham membawa Asyila ke atas tempat tidur dan kembali melakukan pemanasan di atas ranjang.
“Mas merindukan Asyila,” ucap Abraham sembari merangkul pinggang Asyila.
“Mas, kita wudhu dan sholat dulu ya!” pinta Asyila.
“Baiklah, ayo kita wudhu!” seru Abraham sebelum melakukan hubungan suami-istri.
__ADS_1
Abraham 💖 Asyila