Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Apakah Aku Akan Mati?


__ADS_3

Keesokan pagi.


Byurrrr!


Asyila terperanjat ketika air telah membasahi seluruh wajahnya. Wanita itu mencoba bangkit, akan tetapi seluruh tubuhnya telah diikat kencang oleh kedua pria dihadapannya.


Teriknya panas matahari pun membuat penglihatan Asyila sedikit terganggu.


“Si-siapa sebenarnya kalian? Dan mau apa kalian menangkap serta mengikatku seperti ini?” tanya Asyila sambil menggerakkan tubuhnya barangkali tali yang mengikat tubuhnya bisa sedikit longgar.


“Hahaha... Hahahaha .”


Bukannya menjawab pertanyaan Asyila, mereka malah tertawa keras dan terlihat begitu gembira melihat Asyila yang sudah tak berdaya.


“Hei wanita cantik, kamu tidak sadar kita ada dimana sekarang?” tanya salah satu dari mereka dan kembali tertawa lepas.


Asyila menoleh ke kiri dan ke kanan, betapa terkejutnya Asyila ketika mengetahui bahwa dirinya sedang berada di atas kapal.


“Lepaskan aku, tolong lepaskan aku!” pinta Asyila yang mulai ketakutan.


Perlu diketahui, Asyila agak sedikit takut dengan yang namanya air. Dulu, awal-awal menjadi pengantin baru. Suaminya sempat mengajarinya cara berenang, akan tetapi jika melihat laut seluas itu Asyila sudah tidak sanggup membayangkan apa yang terjadi selanjutnya.


“Tentu saja kami akan melepaskan kamu. Kami akan melepaskan mu di lautan yang luas dan dalam ini,” terang pria yang kini telah membuka penutup wajahnya.


“Aku mohon, tolong lepaskan aku. Apa yang sebenarnya kalian inginkan? Kalian ingin uang?” tanya Asyila.


“Kami sama sekali tidak menginginkan uang darimu apalagi dari suamimu. Yang kami inginkan sekarang adalah mengambil nyawamu dengan cara menenggelamkan kamu ke laut lepas ini,” terangnya.


Asyila menggelengkan kepalanya berulang kali.


“Tidak, tidak. Tolong jangan lakukan hal itu!” pinta Asyila.


Asyila tidak bisa melakukan apa-apa, tubuhnya lemah tak berdaya.


“Meskipun kami melepaskan tali yang menjerat tubuhmu. Kamu sama sekali tidak bisa bergerak, karena kamu sudah menyuntikkan obat yang efeknya cukup manjur untuk membuatmu tak bertenaga,” terangnya lagi.


“Apakah kalian harus sejahat ini terhadap seorang wanita? Apakah dengan cara kalian membunuhku, hidup kalian tenang begitu saja? Sekarang beritahu aku, apa sebenarnya motif kalian menculik ku dan ingin membunuhku di laut lepas ini?” tanya Asyila.


“Kamu tidak perlu tahu, yang perlu kamu ketahui adalah ketika kamu sudah menjadi mayat. Suamimu akan cepat-cepat menikahi wanita lain yang tentunya lebih cantik dan lebih segalanya darimu,” terang pria lainnya.


“Mas Abraham bukan pria yang seperti itu. Meskipun aku telah tiada, Mas Abraham tidak akan pernah mencari pengganti ku,” balas Asyila.


“Hahaha... Hahaha... Anggap saja kata-kata yang baru saja kamu ucapkan adalah kata-kata penghibur diri sekaligus kata-kata terakhir,” tegasnya.


Asyila yang ketakutan akhirnya menangis. Tubuhnya benar-benar tak berdaya dan mustahil bagi Asyila untuk menggerakkan kakinya karena tubuhnya perlahan mati rasa.


Apakah aku akan mati?

__ADS_1


Bagaimana dengan Mas Abraham dan keluarga yang lainnya?


Bahkan, janin yang tengah aku kandung tak bisa aku lindungi.


“To, lebih ke tengah lagi!” perintah si penculik kepada temannya yang lainnya untuk pindah posisi semakin ke tengah.


“Kalian kejam, kalian tidak punya hati. Allah pasti akan membalas perbuatan kalian yang kejam ini!” teriak Asyila.


Mereka bertiga kompak tertawa mendengar teriakkan Asyila yang sungguh berani.


“Adukan saja semua keluh kesah mu kepada Tuhanmu, kami tidak takut,” balas salah satu dari mereka.


“Hiks... Hiks... Mas Abraham! Mas Abraham!” teriak Asyila memanggil nama suaminya berulang kali.


“Panggil saja terus, panggil lah sampai suaramu habis sekalipun. Suamimu itu tidak akan bisa mendengarnya,” balasnya.


Salah satu dari mereka mendekat dan menampar wajah Asyila. Belum cukup dengan menampar wajah Asyila, pria itu mengambil benda tumpul dan memukuli kepala Asyila.


Darah segar pun keluar dan mulai membasahi hijab yang Asyila kenakan.


Asyila tak bisa berteriak, ia sudah sangat lemas. Perlahan ia kehilangan kesadaran dan akhirnya kembali pingsan.


“Kita tidak punya banyak waktu, cepat tenggelamkan wanita ini dan kita pergi dari sini!” perintah salah satu dari mereka.


Pria yang baru saja memukul Asyila, bergegas menenggelamkan Asyila. Kemudian, kapal yang mereka naiki bergegas meninggalkan Asyila yang sudah mereka tenggelamkan.


Disaat yang bersamaan, Abraham merasa sakit di dadanya. Ia merasa sangat sesak dan tidak bisa bernapas, seperti orang yang tengah kehabisan oksigen.


Abraham memukul dadanya sendiri dengan wajah yang sangat pucat. Kemudian, ia tiba-tiba tak sadarkan diri dan membuat Dayat serta yang lainnya yang berada di dalam mobil panik saat itu juga.


“Kita pergi ke rumah sakit sekarang juga!” perintah Dayat yang tidak ingin ada sesuatu hal buruk terjadi kepada sahabatnya.


Di rumah, Arumi tiba-tiba menangis histeris dan membuat Herwan terkejut melihat istrinya seperti orang kerasukan.


“Kamu kenapa Dik? Kenapa tiba-tiba menangis?” tanya Herwan panik.


“Asyila!” teriak Arumi dan terus menangis histeris.


Herwan menarik tubuh istrinya dan memeluk tubuh sang istri dengan sangat erat.


“Putri kita, Mas. Aku merasa ada hal buruk yang tengah dihadapi putri kita. Ya Allah, firasat apa ini?” teriak Arumi.


Arumi meronta-ronta agar suaminya segera melepaskan pelukannya. Rasanya, Arumi ingin sekali berlari sekencang mungkin mencari keberadaan buah hatinya yang sudah sehari menghilang.


“Asyila!” teriak Arumi.


Ema yang mendengar teriakkan Ibu dari sahabatnya, bergegas mendekat dengan begitu panik.

__ADS_1


“Asyila!” teriak Arumi sekali lagi.


Ema kemudian ikut menangis, perasaannya ikut sedih melihat wanita dihadapannya menangis histeris.


“Tenanglah, kalau menangis bisa menyelesaikan masalah. Sudah dari kemarin Mas menangis,” ucap Herwan pada sang istri.


“Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Asyila ada putri kita, anak kita satu-satunya yang tersisa. Dia disana tidak hanya sendirian, ada janin yang sedang dikandungnya. Mas mau aku bagaimana? Diam saja?” Arumi terlihat sangat marah dan tiba-tiba ia tidak sadarkan diri.


Dengan tangan gemetar, Herwan mengangkat tubuh istrinya.


“Maaf, Nak Ema. Tidak seharusnya Nak Ema melihat kami yang seperti ini,” tutur Herwan dan membawa sang istri masuk ke dalam kamar.


Ema menangis dan terduduk di lantai. Ia berulang kali memukul dadanya sendiri karena tak tahan dengan kondisi yang tengah dialami oleh Asyila.


“Asyila!” teriak Ema dengan penuh histeris.


Kenapa Ya Allah? Kenapa Engkau selalu menguji rumah tangga Asyila dan Pak Abraham seberat ini?


Mereka adalah orang yang sangat baik, apakah Engkau harus terus menguji mereka?


Mendengar para orang tua yang terus berteriak, Ashraf dan Kahfi hanya bisa bersembunyi di balik selimut.


Ashraf menangis di dalam selimut sembari mengingat kejadian dimana dirinya diculik dan dipukuli.


“Bunda...” panggil Ashraf lirih yang begitu merindukan sosok Bundanya serta pelukan hangat yang selalu Asyila berikan untuknya.


“Bunda...” panggil Ashraf yang terdengar begitu menyedihkan.


Kahfi yang mendengar tangisan dan panggilan Ashraf, memutuskan mencari Ema dan memberitahukan bahwa Ashraf terus saja memanggil Bundanya.


Kahfi bergegas turun dari tempat tidur dan berlari mencari keberadaan Mamanya, Ema.


“Mama!” panggil Kahfi yang melihat Ema menangis, “Mama, Ashraf nangis terus,” imbuh Kahfi.


Ema segera menghapus air matanya dan memeluk sekilas tubuh putra tunggalnya. Kemudian, keduanya bergegas masuk ke dalam kamar.


“Ashraf!” panggil Ema sambil mengangkat selimut yang menutupi tubuh putra kedua sahabatnya.


“Bundaaa..” Ashraf kembali menyebutkan nama Bundanya.


Ema pun segera mendekat dan ternyata saat itu Ashraf tengah demam.


“Kahfi, tolong minta Pak Udin untuk memanaskan mesin mobil, sekarang! Sebentar lagi kita pergi ke rumah sakit,” tutur Ema memberi perintah.


Kahfi mengiyakan dan berlari secepat mungkin untuk memberitahukan kepada Pak Udin bahwa mereka sebentar lagi akan pergi ke rumah sakit.


“Bundaaa...” Ashraf terus saja memanggil Bundanya.

__ADS_1


Ema merasakan sesak di dadanya karena semua kejadian yang telah menimpa keluarga dari sahabatnya.


Komen sebanyak-banyaknya, biar crazy up 😘


__ADS_2