
Abraham dan Asyila terbangun ketika suara alarm ponsel Abraham berbunyi, merekapun bergegas untuk melakukan mandi wajib.
Usai mandi bersama, keduanya saling bergantian mengerikan rambut satu sama lain menggunakan handuk. Sebenarnya, bisa saja mereka menggunakan hair dryer. Akan tetapi, waktu itu tidaklah tepat untuk menggunakan hair dryer karena takut membangunkan yang lainnya.
“Kruyuk! kruyuk!” Suara perut Abraham.
Karena waktu yang bisa dikatakan masih tengah malam, suara perut Abraham terdengar sangat keras dan membuat Asyila tidak dapat menahan tawanya.
“Lapar banget ya Mas?” tanya disela-sela tawanya.
“Dosa menertawakan suami sendiri,” balas Abraham.
“Iya deh, Maaf. Ayo cari makanan di dapur!” ajak Asyila dan cepat-cepat mengenakan pakaian mereka.
Setibanya di dapur, ternyata ada Arumi yang tengah mengambil air minum.
“Ehem, lapar ya habis....” Arumi tak sanggup melanjutkan perkataannya, justru ia malah tertawa geli.
“Ibu sudah selesai?” tanya Asyila sambil menyembunyikan perasaan malunya.
Arumi mengangguk sembari melirik keduanya secara bergantian.
“Makan yang kenyang ya,” ucap Arumi setelah mengucapkan kata tersebut, Arumi melenggang pergi menuju kamar Arsyad dan Ashraf.
Asyila geleng-geleng kepala dan tiba-tiba teringat akan sosok Almarhum Nenek Erna.
“Ada apa?” tanya Abraham ketika melihat ekspresi wajah sedih istrinya.
“Mas, kalau masalah ini sudah selesai. Asyila ingin pergi ke tempat pemakaman Nenek, Asyila tiba-tiba teringat Nenek yang usil,” terang Asyila dengan mata berkaca-kaca.
“Insya Allah, secepatnya kita akan bertemu dengan Nenek,” balas Abraham.
Asyila tersenyum tipis dan mulai membuka isi kulkas. Ia pun memilih menggoreng udang yang lebih praktis dan cepat.
Abraham terus saja memperhatikan istri kecilnya, apalagi ketika Sang istri mengibaskan rambut panjangnya yang membuat Abraham klepek-klepek.
“Masya Allah, cantiknya ciptaan Allah,” puji Abraham.
Asyila menoleh dengan memberikan kedipan genit arah suaminya.
“Kalau begitu terlihat semakin cantik dan juga seksi,” jelas Abraham dan memberikan ciuman udara.
Asyila mengiyakan dan kembali melanjutkan aktivitasnya menggoreng udang.
Setelah hampir 10 menit, akhirnya udang goreng buatan Asyila siap untuk dinikmati.
Seperti biasa, mereka akan makan menggunakan piring yang sama dan saling menyuapi makanan satu sama lain.
Usai makan bersama, Asyila bergegas mencuci piring dan kembali membawa sang suami masuk ke dalam rumah.
Deg!
Asyila tiba-tiba merasakan ada sesuatu buruk akan terjadi di rumah itu, membuat Abraham seketika itu menoleh ke belakang karena istri kecilnya berhenti mendorong kursi rodanya.
“Kenapa berhenti?” tanya Abraham.
“Mas, sepertinya rumah ini tidak aman. Mas tolong hubungi para polisi agar menjaga rumah kita!” pinta Asyila karena setelah jam 10 malam, para polisi yang berjaga akan kembali ke markas mereka dan akan kembali berjaga setelah jam 5 subuh.
Abraham langsung mengiyakan dan Asyila cepat-cepat membawa suaminya masuk ke dalam rumah.
Pyar! Tiba-tiba suara pecahan kaca terdengar dan otomatis semua orang yang berada di dalam rumah itu terjaga.
Apa yang Asyila takutkan ternyata telah terjadi, ketiga peneror itu telah datang dan memasuki halaman rumah kediaman Abraham.
“Ada apa ini? Kenapa Ibu mendengar suara pecahan kaca?” tanya Arumi yang nampak belum sepenuhnya sadar.
“Ayah, bunyi apa tadi?” tanya Arsyad sambil mengucek matanya.
Pyar! Lagi-lagi suara pecahan kaca itu terdengar dan samar-samar ada seorang pria yang mencoba untuk masuk ke dalam rumah.
Malam itu, nampak sangat menegangkan. Tak pernah terpikirkan oleh Abraham maupun Asyila, bahwa mereka bertiga berani datang menginjakkan kaki masuk ke halaman rumah Abraham.
“Semuanya, cepat masuk ke dalam kamar dan jangan ada yang membukanya!” perintah Abraham.
Herwan langsung menarik tangan Arsyad dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Asyila dengan paniknya mendorong secepat mungkin kursi roda suaminya dan masuk ke dalam kamar.
Ketika sudah sampai kamar, Asyila cepat-cepat menghubungi polisi dan meminta bantuan para polisi untuk segera datang ke rumah menangkap para peneror itu.
“Mas... Mas, bagaimana ini? Asyila takut,” ucap Asyila panik.
__ADS_1
“Tenanglah, cobalah untuk tetap tenang. Insya Allah semuanya akan baik-baik saja,” balas Abraham yang sebenarnya ia lebih panik dari Asyila.
Dep! Seluruh lampu rumah tiba-tiba padam dan dibarengi dengan teriakan kedua bocah dari kamar yang lain.
“Nenek, kakek!” Ashraf berteriak ketakutan, ia paling takut dengan yang namanya kegelapan.
Arumi dan Herwan pun ikut panik, seakan-akan dunia akan kiamat.
“Asyila takut, Mas. Bagaimana dengan anak-anak kita? Mereka pasti sangat ketakutan terutama Ashraf yang phobia dengan kegelapan,” ucap Asyila yang benar-benar panik.
Ketiga peneror itu berusaha masuk ke dalam rumah, mereka telah bertekad untuk menghabisi nyawa seluruh penghuni rumah.
Tak terkecuali, penjaga gerbang rumah. Pak Udin yang saat itu sudah terkapar di lantai dengan bersimbah darah akibat senjata tajam yang berulang menusuk punggung serta bagian perutnya.
10 menit kemudian, akhirnya ketiga peneror itu berhasil menerobos masuk ke dalam rumah.
Dengan senter di ponsel mereka, mereka pulang mencari keberadaan penghuni rumah dengan menelusuri kamar satu persatu.
“Buka sekarang!” teriak si peneror ketika tahu bahwa didalam kamar ada orang.
“Ayah!” teriak Arsyad ketakutan.
Mereka tertawa terbahak-bahak ketika mendengar suara teriakan ketakutan dari putra Abraham.
“Ternyata di dalam adalah anaknya, ayo kita dobrak dan bunuh semua yang ada di dalam secepat mungkin!” teriak salah satu peneror.
Malam itu benar-benar sangat tegang dan ketiga peneror itu seperti orang kerasukan. Mereka tidak berpikir keras mengenai perbuatan yang mereka lakukan, mereka tidak bisa memahami antara yang benar dan salah.
Sebenarnya apa penyebab dari kemarahan mereka?
Ternyata mereka adalah musuh Abraham 10 tahun yang lalu, mereka bertiga memiliki dendam membara pada Abraham yang telah memasukkan mereka ke dalam penjara 10 tahun yang lalu. Setelah bebas dari penjara, bukannya mereka bertobat. Justru, mereka ingin membalaskan dendam yang harus mereka selesai malam itu juga.
Asyila sudah tidak tahan lagi ketika mendengar suara teriakkan kepanikan serta ketakutan dari buah hatinya. Dengan bermodalkan cahaya di ponsel, Asyila bergegas keluar dari kamar dan dengan gerakan cepat mengunci suaminya dari luar kamar.
“Asyila!” teriak Abraham panik karena istri kecilnya benar-benar nekad keluar kamar.
“Asyila! Buka pintunya! Apa yang sedang kamu pikirkan istriku!” teriak Abraham.
Malam itu Abraham terlihat sangat marah besar sekaligus panik. Sang istri dengan gegabah keluar dari kamar dan sengaja mengunci dirinya.
“Ya Allah!” teriak Abraham kebingungan dan menangis di dalam kamar.
Asyila berlari secepat mungkin dan mengambil tongkat besi yang berada di ruangan belakang. Dengan gemetar, Asyila memasrahkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ia rela mati demi keluarganya dari pada berdiam diri di dalam kamar.
“Huh.. huh.. huh..” Napas Asyila terengah-engah dan berusaha memberanikan diri menghampiri ketiga peneror itu.
“Bismillahirrahmanirrahim!” teriak Asyila dan berlari dengan tangan kiri membawa ponsel dan tangan kanan membawa tongkat besi.
Asyila menghampiri mereka dan memukuli mereka secara membabi buta. Asyila mengeluarkan seluruh tenaganya untuk melumpuhkan ketiga peneror itu.
Siapapun yang terlihat oleh Asyila, Asyila langsung memukulinya. Teriakkan kesakitan terus menggema di ruangan itu, rasa takut Asyila langsung berubah menjadi keberanian.
“Akkkhh!”
“Aaaaaaaakkkkhhh!”
Teriak demi teriakkan terus saja bersahutan, Asyila sudah tak bisa mengendalikan kemarahannya.
Bughh!
Asyila terjatuh ketika merasakan sebuah tangan dengan keras memukul punggungnya dan membuat ponsel miliknya terbanting jatuh ke lantai dengan sangat keras. Hingga ponsel Asyila rusak seketika itu juga.
Hal tersebut tidak langsung membuat Asyila menyerah, dengan gerakan cepat Asyila berhasil merebut ponsel salah satu dari mereka.
Samar-samar Asyila melihat salah satu dari mereka sudah tak sadarkan diri dengan darah yang mengucur deras di bagian lengan.
Arumi, Herwan dan kedua putra Abraham bisa mendengar bahwa itu adalah suara Asyila. Akan tetapi, Herwan tidak bisa membuka pintu karena akan sangat berbahaya bagi kedua cucunya. Karena Abraham, sudah memberikan amanat kepada dirinya untuk menjaga kedua cucunya.
Diluar kamar, Asyila dan kedua peneror yang tersisa terus saja berkelahi.
Entah siapa yang akan menang, yang jelas Asyila terlihat sangat berani melawan para peneror.
“Aaakkkhh!” Asyila berteriak ketika merasakan sakit di bagian pinggangnya, rupanya sebuah pisau menusuk bagian pinggangnya.
Tak menyerah sampai disitu. Dengan tenaga yang tersisa, Asyila menarik pisau tersebut dan menusukkan pisau itu ke telapak tangan si peneror berulang kali.
Sampai akhirnya, lampu pun menyala.
Polisi tiba dengan pasukan yang cukup banyak.
Ketika masuk, mereka terkejut mendapati ketiga pria telah tak sadarkan diri dengan berlumuran darah. Sementara Asyila masih setengah sadar dan meminta tolong dengan suara yang terdengar sangat berat.
__ADS_1
“Cepat bawa Nona Asyila ke rumah sakit!” perintah salah satu polisi yang pangkatnya lebih tinggi dari polisi yang lainnya.
Disaat yang bersamaan, Arumi dan Herwan keluar dari kamar. Sementara Arsyad dan Ashraf terpaksa harus dikurung karena tidak boleh melihat apa yang sebenarnya terjadi.
“Astaghfirullahaladzim, Ya Allah!” Arumi berteriak histeris ketika melihat ketiga peneror sudah bersimbah darah. Arumi seketika itu juga tak sadarkan diri karena sangat syok dengan apa yang ada dihadapannya.
Herwan pun terkejut dan tak bisa berpikir jernih, tubuhnya langsung kaku dan polisi yang menyadari hal itu langsung membawa Arumi serta Herwan ke kamar yang lain.
“Cepat cari Tuan Abraham!”
Mereka berpencar dan mencari setiap sudut ruangan, ternyata Abraham tak sadarkan diri di dalam kamarnya dengan tubuh yang sudah tergeletak di lantai.
“Bawa ketiganya ke rumah sakit dan pastikan mereka bertiga tidak ada yang mati!” perintah polisi itu lagi.
Malam itu benar-benar malam yang mengerikan, para tetangga bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi di kediaman Abraham. Hingga para polisi berbondong-bondong datang ke rumah itu.
“Ya Allah!” Para tetangga berteriak histeris ketika melihat tubuh Pak Udin digotong masuk ke dalam ambulance dengan bersimbah darah.
Semua tetangga yang menyaksikan hal itu mendadak ketakutan. Kemudian, para polisi meminta mereka untuk segera pulang.
Akan tetapi, bukannya pulang mereka malah ingin menerobos masuk ke dalam halaman rumah Abraham.
Untuk membuat mereka jera, para polisi kompak menodongkan senjata api dan hal tersebut membuat mereka lari kocar-kacir.
Abraham, Asyila, Pak Udin dan ketiga peneror langsung dibawa ke rumah sakit.
Para polisi bertanya-tanya dan tidak berani menduga-duga apa yang telah terjadi sehingga ketika peneror itu berhasil dilumpuhkan.
Setibanya di rumah sakit, mereka berlima langsung ditangani oleh dokter.
Mereka berlima masuk ke ruangan yang berbeda-beda tentunya.
Untungnya, kondisi rumah sakit sangatlah sepi. Sehingga tidak membuat kegaduhan bagi siapapun yang melihatnya.
“Ya Allah, Tuan Abraham!” Faisal terkejut bukan main melihat Abraham datang dengan orang-orang yang bersimbah darah.
Faisal dengan cepat mengambil alih untuk menangani Abraham dan mulai memeriksa kondisi Abraham.
Para polisi dengan kompak berjaga di rumah sakit untuk berjaga-jaga jika nanti ada sesuatu hal yang terjadi dan bisa lebih parah yang mereka bayangkan.
“Untuk yang lainnya, cepat kembali ke rumah korban dan berjaga-jaga sampai besok pagi!”
“Siap, komandan!" seru mereka dan bergegas kembali ke kediaman Abraham.
Kebetulan, malam itu banyak dokter yang cuti karena ada urusan keluarga. Untungnya, beberapa dari mereka bisa dihubungi dan bergegas datang ke rumah sakit.
Beberapa polisi, mulai khawatir dengan kondisi Asyila.
“Nona Asyila mengalami luka yang cukup serius, apakah ia akan baik-baik saja?” tanya salah satu polisi yang berjaga-jaga di depan ruangan Asyila.
“Kita serahkan semuanya kepada Allah, seumur-umur aku belum pernah melihat kejadian yang seperti ini. Apa mungkin Nona Asyila yang menghajar mereka sampai seperti itu?”
“Melihat dari kondisi Nona Asyila dan lainnya, seperti benar bahwa Nona Asyila lah yang mengajar mereka. Akan tetapi, lebih pastinya kita menunggu sampai Nona Asyila dan yang lainnya sadar.”
Dirumah.
Arsyad dan Ashraf menangis ketakutan di dalam kamar, mereka berdua terus berteriak agar Nenek dan Kakek mereka membukakan pintu.
“Asyila!” teriak Arumi.
Arumi tersadar dari pingsannya dan ia bermimpi melihat Asyila yang pergi bersamaan dengan hilangnya cahaya putih.
“Asyila, putriku! Ya Allah, jangan ambil putri hamba!” teriak Arumi histeris dan terlihat seperti orang yang tengah kerasukan.
Salah satu polisi datang untuk menenangkan Arumi, bukannya tenang Arumi malah semakin menjadi-jadi.
“Dimana Asyila? Dimana putriku?” tanya Arumi sambil memukul dada polisi yang mencoba menenangkan dirinya.
“Ibu yang tenang, putri Ibu sekarang berada di rumah sakit. Ibu tidak boleh berteriak seperti ini karena akan berpengaruh terhadap kondisi Ibu,” ucap Sang polisi.
“Ya Allah, kenapa harus seperti ini? Engkau tidak boleh mengambil putri hamba secepat ini, kalau pun mati biarkan hamba saja yang mati!” teriak Arumi.
Arumi menangis histeris dan teriakkan terdengar sampai ke telinga Arsyad dan juga Ashraf.
“Nenek! Nenek!” panggil mereka berulang kali.
Arumi bangkit dan dengan sekuat tenaga berjalan menuju kamar kedua cucunya, darah yang berceceran di lantai belum juga hilang dan tanpa pikir panjang, Arumi membukakan pintu untuk kedua cucunya.
“Diam di dalam kamar!” perintah Arumi yang kini berada di dalam kamar dan mengunci pintu kamar agar keduanya tidak keluar.
“Nenek, dimana Ayah dan Bunda?” tanya Arsyad dengan suara serak karena terlalu lama berteriak serta menangis.
__ADS_1