
Suasana ruang tamu kembali hening, Kevin pun menghela napasnya dan sangat jelas bahwa dirinya sedang mengalami kegugupan.
Rahma menoleh sekilas ke arah Kevin sembari memberikan senyumnya dan membuat yang lainnya semakin penasaran dengan hubungan keduanya.
“Sebenarnya kedatangan kami adalah untuk memberitahukan Pak Abraham serta yang lainnya bahwa sebentar lagi kami akan melangsungkan pernikahan,” tutur Kevin.
Rahma perlahan membuka tas miliknya dan mengeluarkan sebuah undangan pernikahan.
“Ini undangan pernikahan kami,” ucap Rahma malu-malu sembari memberikan undangan tersebut kepada Abraham.
Cara Rahma memandangi Kevin sangatlah berbeda seperti ada cipratan cinta dari tatapan tersebut.
“Bismillahirrahmanirrahim,” tutur Kevin, “Sebenarnya kedatangan kami adalah untuk memberitahukan Pak Abraham serta yang lainnya bahwa sebentar lagi kami akan melangsungkan pernikahan,” imbuh Kevin mengutarakan maksud kedatangannya dan kemudian menghela napasnya.
Rahma perlahan membuka tas miliknya dan mengeluarkan sebuah undangan pernikahan.
“Ini undangan pernikahan kami,” ucap Rahma malu-malu sembari memberikan undangan tersebut kepada Abraham.
Abraham, Asyila serta kedua orang Asyila tersenyum lebar mendengar bahwa keduanya akan segera melangsungkan pernikahan.
Sementara Dyah dan Ema masih terheran-heran dengan hubungan keduanya yang ternyata akan segera melangsungkan pernikahan.
“Kalian serius mau menikah? Maksudku, kalian bertemu dimana?” tanya Dyah penasaran.
“Sebenarnya aku dan Rahma tidak sengaja bertemu. Saat itu dia sedang berbelanja di salah satu minimarket yang berada di Jakarta, nah kebetulan saat itu aku juga berada di tempat itu. Karena terburu-buru aku menabraknya dan akhirnya berkenalan,” tutur Kevin malu-malu.
Rahma tersipu malu mendengar penuturan dari calon suaminya.
“Singkat cerita kami dekat dan ternyata Rahma ini kenal dengan keluarga Pak Abraham. Sampai akhirnya aku menyatakan cinta kepadanya dan Rahma menerimanya,” ungkap Kevin dengan wajah memerah seperti tomat.
Dyah bertepuk tangan dan mengucapkan selamat kedua calon mempelai.
“Selamat ya, aku sangat senang akhirnya kamu akan menikah,” ucap Dyah dari hati yang paling.
“Aku juga Kevin, selamat ya atas hubungan kalian. Semoga kalian selalu diberikan kebahagiaan,” sahut Ema yang sangat senang dengan hubungan keduanya.
“Terima kasih semuanya, jangan lupa hadir di acara pernikahan kami yang Insya Allah akan diselenggarakan pada hari Jum'at,” ujar Kevin.
“Tentu saja kami semua akan datang,” balas Abraham sambil mengangkat kedua alisnya.
“Alhamdulillah,” tutur Kevin.
Kevin merasa sangat lega dan kemudian mereka berdua pamit untuk segera pergi karena harus mengantarkan undangan pernikahan mereka kepada yang lain.
Abraham, Asyila serta yang lainnya menyemangati keduanya sampai hari dimana mereka akan menjadi suami istri dan membina hubungan rumah tangga yang akan membawa mereka ke Surga-Nya Allah.
Kedua pun akhirnya pamit dan bergegas meninggalkan Perumahan Absyil.
Selepas kepergian Kevin dan juga Rahma, Dyah dan Ema pun membicarakan hubungan keduanya yang sangat mirip dengan sinetron.
“Ternyata kisah cinta seperti itu tidak hanya ada di sinetron ya, buktinya saja Kevin dan Mbak Rahma akan menikah hanya karena insiden tabrakan di minimarket,” tutur Dyah.
“Jujur saja, aku terkejut dengan hubungan keduanya. Akan tetapi, itulah yang namanya takdir. Kita tidak pernah tahu takdir cinta kita akan berlabuh di mana. Seperti aku dan Abang Yogi,” tutur Ema.
“Seperti aku dan Mas Fahmi juga,” sahut Dyah sembari berkacak pinggang.
Asyila tertawa mendengar keduanya yang membicarakan mengenai takdir cinta mereka.
__ADS_1
“Sudah, ayo temani aku ke dapur!” ajak Asyila dan memberikan bayi mungilnya kepada Sang Ibu, Arumi.
Ketiga wanita itu pun berjalan bersama menuju dapur.
“Aunty belum sarapan?” tanya Dyah mengira Aunty-nya itu ingin sarapan.
“Oh, aku sudah sarapan tadi. Sekarang bantu Aunty membuat brownies ya!” pinta Asyila yang tiba-tiba ingin menikmati brownies kukus.
“Wah, kalau soal makanan Dyah tidak akan menolak,” ucap Dyah penuh semangat.
Di saat yang bersamaan, Abraham kembali duduk di sofa ruang tamu dan mulai membaca isi undangan tersebut.
“Semoga kalian berdua selalu diberikan kebahagiaan,” tutur Abraham mendoakan Kevin dan juga Rahma.
****
Rahma tersenyum setelah ia bertemu dengan keluarga Abraham, ia sangat ingat betul bagaimana dirinya yang begitu menyedihkan.
“Kamu memikirkan apa?” tanya Kevin melihat calon istrinya tersenyum sendiri.
“Aku hanya teringat dengan nasibku yang malang beberapa tahun yang lalu. Untungnya ada Nona Asyila dan keluarganya yang tanpa pandang bulu menerimaku menjadi keluarga angkat mereka. Kalau saja tidak ada mereka, aku pasti sudah mati bunuh diri,” terang Rahma.
Kevin tersenyum dan tangan kirinya menyentuh lembut pipi Rahma.
“Mas, apa kamu yakin akan menikah denganku yang sudah menjadi janda ini? Maksudku, diluar sana banyak wanita yang masih gadis dan juga menarik. Tetapi, kenapa Mas malah memilih ku yang masa lalunya sangatlah buruk,” tutur Rahma.
“Maksudmu karena kamu adalah seorang janda dan dulunya memiliki suami tak tahu diri itu? Selama ini aku sangat serius dan tak peduli dengan masa lalu kamu. Yang terpenting sekarang kita fokus mengejar serta menjalani masa depan kita bersama-sama,” tegas Kevin yang terlihat jelas bahwa pria muda itu mencintai calon istrinya, Rahma.
Rahma sekali lagi tersentuh dengan penuturan dari calon suaminya itu.
“Iya, Aku paham. Sekali lagi terima kasih atas semuanya dan terima kasih sudah menerima kekurangan ku ini,” balas Rahma.
Sore hari.
Ashraf dengan semangat meminta Sang Ayah untuk segera pergi jalan-jalan, Abraham pun mengiyakan dan meminta buah hatinya untuk menunggu.
“Sayang, Ayah ke kamar dulu. Sebentar lagi kita akan berangkat,” tutur Abraham pada putra keduanya.
“Baik, Ayah,” jawab Ashraf kemudian berlari keluar rumah untuk memanggil Kahfi.
Abraham masuk ke dalam kamar untuk berpamitan dengan istri kecilnya yang tengah menyusui bayi mungil mereka.
“Syila, Mas keluar dulu ya bersama Ashraf dan Kahfi,” tutur Abraham.
“Iya, Mas. Tolong belikan Asyila seblak ya Mas!” pinta Asyila.
“Seblak? Tumben ingin seblak?” tanya Abraham terheran-heran, karena selama ini Asyila tidak pernah makan seblak.
“Iya, Mas. Tadi Asyila melihat video orang yang sedang makan seblak di sosmed. Jadinya, Asyila mau mencicipi rasa seblak,” ungkap Asyila.
“Ok, nanti Mas belikan seblak untuk Syila,” tutur Abraham dan memberikan kecupan mesra dibibir istri kecilnya.
Abraham pun turun ke bawah dan berpamitan kepada Arumi serta Herwan.
Kemudian masuk ke dala mobil yang ternyata sudah dikuasai oleh Ashraf dan juga Kahfi.
“Kita mau kemana, Tuan Abraham?” tanya Pak Udin.
__ADS_1
“Kita berkeliling saja Pak Udin, kalau ada makanan yang diinginkan anak-anak atau Pak Udin juga mau, kita saya akan membelikannya,” tutur Abraham.
Pak Udin tersenyum dan perlahan mengendarai mobil meninggalkan Perumahan Absyil.
Ashraf terlihat sangat senang di kursi tengah sembari bernyanyi dengan bahasanya sendiri.
Beberapa saat kemudian.
“Ayah, Ashraf mau itu,” ucap Ashraf menunjuk ke arah penjual jagung bakar.
“Pak Udin, kita kesana ya!” perintah Abraham.
“Siap, Tuan Abraham.”
Pak Udin memutar arah menuju penjual jagung bakar yang cukup ramai pembeli.
“Ayo anak-anak kita turun!”
Ashraf dan Kahfi pun turun dari mobil dengan penuh semangat.
“Ayah, Ashraf mau yang rasa keju,” pinta Ashraf.
Abraham pun mengangguk setuju dengan keinginan buah hatinya.
“Kahfi kenapa diam saja? Kahfi mau rasa apa, sayang?” tanya Abraham setengah menunduk agar bisa mendengar suara Kahfi.
“Rasa balado, Ayah,” jawabnya.
Abraham mengiyakan dan menoleh ke arah Pak Udin yang berdiri tepat dibelakangnya.
“Pak Udin mau jagung bakar rasa apa?” tanya Abraham.
“Kalau saya yang original saja, Tuan Abraham,” jawab Pak Udin.
Abraham pun memesan tiga jagung bakar dengan rasa yang telah disebutkan oleh Ashraf, Kahfi dan juga Pak Udin. Sementara dirinya tak memesan karena sedang tidak ingin makan jagung bakar.
Usai menikmati jagung bakar, Ashraf meminta Ayahnya untuk membeli air minum. Abraham pun mengiyakan sembari menoleh ke arah sekitar barangkali ada yang menjual air mineral.
“Sayang, sepertinya disini tidak ada yang menjual air mineral. Kita ke minimarket saja ya?”
“Iya, Ayah,” jawab Ashraf.
Merekapun kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk membeli air mineral di minimarket.
Tak sampai lima menit, mereka akhirnya tiba di minimarket.
“Anak-anak dan Pak Udin diamlah di mobil!” perintah Abraham dan turun seorang diri untuk membeli air mineral.
“Tambah apa lagi, Aa'?” tanya pegawai minimarket sembari memainkan rambutnya untuk menarik perhatian Abraham.
Abraham hanya diam tanpa menoleh sedikitpun ke arah wanita genit dihadapannya.
Setelah membayar biaya air mineral tersebut, Abraham langsung berlari masuk ke dalam mobil dan memberikan mereka bertiga air mineral.
Abraham ❤️ Asyila
Like ❤️
__ADS_1