Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Mengajak Rahma Ke Panti Asuhan


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Rahma perlahan sudah bisa menerima kenyataan mengenai Neneknya yang telah meninggal dunia. Awalnya ia sangat sedih dan berharap segera menyusul Sang Nenek ke surga, akan tetapi keinginannya itu langsung sirna setelah Asyila kembali menyemangatinya.


Rahma berpikir bahwa Asyila adalah sosok penolong sekaligus pelindung untuknya yang sengaja Allah kirim untuknya.


“Semuanya sudah beres, mari ikut saya pulang!” ajak Asyila sambil merangkul lengan Rahma.


“Kamu yakin mengajak saya pulang ke rumah? Apakah tidak apa-apa?” tanya Rahma memastikan.


“Sekarang ini Mbak Rahma sangat butuh lingkungan yang mendukung, insya Allah tempat kami adalah tempat yang tepat untuk Mbak Rahma. Mbak Rahma tidak perlu sungkan dengan saya dan yang lainnya, kami benar-benar tulus membantu Mbak Rahma. Apalagi, sekarang Mbak Rahma tidak punya siapa-siapa. Memangnya Mbak Rahma berani pulang ke rumah Mbak Rahma?” tanya Asyila penasaran.


Rahma dengan cepat menggelengkan kepalanya, meskipun suaminya itu sudah masuk ke dalam penjara. Tetap saja, Rahma masih merasa takut. Ditambah, ia kehilangan buah hatinya untuk selama-lamanya karena suami dan ipar yang kurang ajar.


“Mbak Rahma yang tenang, sekarang sudah tidak ada lagi orang yang berani menyakiti Mbak Rahma. Kalaupun ada, orang itu harus berhadapan langsung dengan saya,” tegas Asyila.


Kedua wanita itu kemudian berjalan bersama menuju area parkir. Sesampainya di area parkir, sudah ada Eko yang menunggu Asyila dan juga Rahma.


Eko sebenarnya sedikit tak setuju dengan apa yang dilakukan oleh Asyila, akan tetapi Eko tidak berhak memberikan komentar terhadap istri dari Tuan mudanya itu.


“Pak Eko, kita jangan langsung pulang ke rumah ya!” pinta Asyila.


Eko menoleh ke arah Asyila dengan tatapan penasaran.


“Asyila mau Pak Eko membawa kami ke panti asuhan,” jelas Asyila yang sudah cukup lama ingin sekali pergi ke panti asuhan.


Eko tersenyum lebar dan mengangguk setuju.


Diperjalanan menuju panti asuhan, Asyila dan Rahma tak banyak berbicara. Asyila sesekali melirik ke arah Rahma yang masih terlihat sedih dan berharap setelah berada di panti asuhan, Rahma bisa sedikit terhibur.


“Hallo, assalamu'alaikum. Iya Mas,” ucap Asyila menyapa suaminya dengan menggunakan ponsel.


“Wa'alaikumsalam, Syila sudah sampai mana?” tanya Abraham dari balik telepon.

__ADS_1


“Asyila masih dalam perjalanan, Mas. Ini Asyila tidak langsung pulang, Asyila mau ke panti asuhan dulu. Maaf ya Mas, Asyila sebelumnya tidak memberitahukan Mas,” jawab Asyila.


“Iya tidak apa-apa, lain kali kalau mau pergi ke suatu tempat harus kasih tahu Mas.”


“Iya, Mas. Sekali lagi Asyila minta maaf,” ucap Asyila.


Perbincangan itu terus saja berlanjut, Rahma yang berada tepat di samping Asyila merasa iri. Meskipun begitu, Rahma senang karena orang sebaik Asyila sudah sepatutnya mendapatkan keluarga yang sempurna.


“Maaf ya Mbak, tadi suami saya menelepon,” ucap Asyila setelah mengakhiri sambungan telepon.


“Iya, tidak apa-apa,” balas Rahma.


Akhirnya setelah perjalanan yang cukup menyita waktu, mereka pun sampai di panti asuhan. Asyila dan Rahma turun terlebih dahulu, sementara Eko masih sibuk menata barang-barang yang akan diberikan untuk anak-anak panti asuhan yang sebelumnya sudah Asyila siapkan.


“Nona Asyila dari dulu memang tidak pernah berubah, dengan siapapun selalu baik. Semoga saja kebaikan Nona Asyila selalu berbalik kepadanya,” ucap Eko sambil mengeluarkan beberapa kardus dan juga kantong plastik berisi banyak makanan yang berada di kursi belakang.


Asyila dan Rahma disambut dengan sangat baik oleh pemilik panti asuhan. Ternyata, pemilik panti asuhan adalah orang yang sebelumnya ditolong oleh Asyila dan juga suaminya beberapa tahun yang lalu. Tentu saja Asyila masih dan pemilik panti asuhan itu juga ingat dengan sangat jelas orang yang telah membantunya.


“Masya Allah, ternyata Nona Asyila,” ucap pemilik panti asuhan dan dengan bahagia memeluk Asyila.


“Ibu apa kabar?” tanya Asyila dengan penuh perhatian.


“Alhamdulillah, Ibu baik-baik saja. Bagaimana dengan Nona Asyila dan juga Tuan Abraham?” tanya wanita bernama Sumirah.


“Alhamdulillah kami baik, hanya saja Mas Abraham sedang dalam kondisi yang sedikit kurang baik,” jawab Asyila tanpa ingin menjelaskan kondisi suaminya yang tidak bisa berjalan untuk beberapa bulan ke depan.


“Apapun itu, semoga Tuan Abraham selalu dalam lindungan Allah. Kalian berdua adalah orang yang sangat baik dan Allah pasti akan membalas semua kebaikan kalian,” ucapnya.


Rahma yang mendengar perkataan Ibu Sumirah langsung merasa minder. Ternyata, tidak hanya dirinya saja yang menganggap Asyila sangat baik. Bahkan, wanita dihadapannya pun ikut memuji kebaikan Asyila.


“Oya, ini siapa?” tanya Ibu Sumirah penasaran sambil menoleh ke arah Rahma.


“Perkenalkan ini Mbak Rahma, teman Asyila,” terang Asyila memperkenalkan Rahma sebagai temannya.

__ADS_1


Rahma tersenyum lebar, Asyila dengan lantangnya mengatakan bahwa dirinya adalah teman.


Ibu Sumirah tersenyum dan mengajak keduanya untuk masuk ke dalam. Sesampainya di dalam, Rahma tiba-tiba merasa sedih. Banyak sekali anak-anak kecil yang berkeliaran dan ada juga beberapa bayi yang berada di ranjang kecil mereka.


Rahma yang masih teringat dengan bayinya, refleks mendekati salah satu bayi yang menurutnya paling menyentuh perasaannya.


“Sayang,” ucap Rahma dan dengan hati-hati menggendong bayi mungil tersebut.


Rahma menggendong tubuh bayi mungil tersebut dengan sangat hati-hati, ia berpikir jika bayinya hidup mungkin akan selucu dan seimut bayi yang tengah ia gendong.


“Apa wanita yang bernama Rahma itu sedang ada masalah?” tanya Ibu Sumirah penasaran.


Asyila pun menceritakan tentang meninggalnya bayi mungil Rahma. Akan tetapi, Asyila tidak menceritakan mengenai suami dan ipar Rahma yang kurang aja. Bukan apa-apa, Asyila tidak ingin aib seseorang ia ceritakan dan berpikir bahwa sesuatu yang buruk haruslah dikubur dalam-dalam.


Eko datang membawa sebagian hadiah yang sebelumnya sudah Asyila siapkan.


“Ya ampun, maaf ya Pak Eko,” ucap Asyila dan langsung berjalan tergesa-gesa untuk mengambil barang yang lainnya yang masih tertinggal di mobil.


Asyila mengambil barang yang tersisa dan memberikannya kepada pemilik panti asuhan untuk anak-anak yang berada di panti asuhan tersebut.


“Maaf sebelumnya, apakah bayi ini ada orang tua?” tanya Rahma penasaran.


“Anak ini tentu saja memiliki orang tua, ibunya sendiri bahkan yang mengantarkan bayi ini kemari dan akan membawanya pulang dua bulan kemudian,” terang Ibu Sumirah.


“Kalau boleh tahu, kenapa Ibunya harus mengambil dua bulan lagi?” tanya Rahma semakin penasaran.


Ibu Sumirah pun bercerita kalau Ibu dari si bayi sedang bekerja ke luar kota dan akan kembali dua bulan lagi. Rahma mengangguk kecil, keinginan untuk mengadopsi bayi itu akhirnya pupus sudah.


Saat Rahma ingin meletakkan bayi itu kembali ke ranjang kecilnya, bayi itu tiba-tiba menangis dan sisi keibuan Rahma tiba-tiba muncul. Dengan refleks Rahma menyusui bayi mungil tersebut, Ibu Sumirah dan Asyila pun terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Rahma. Akan tetapi, mereka tidak bisa mencegah Rahma karena apa yang dilakukan Rahma adalah naluri seorang Ibu.


Rahma seketika itu meneteskan air matanya, akan lebih bahagia jika bayi yang sedang ia susui adalah bayinya sendiri.


“Mbak Rahma, sebaiknya menyusui di ruangan tertutup,” ucap Ibu Sumirah.

__ADS_1


Rahma tersenyum lebar dan berjalan ke arah lain untuk menyusui bayi mungil tersebut.


__ADS_2