
Saat Abraham, Edi serta para pria yang lainnya berbincang-bincang. Lain halnya dengan Asyila, wanita muda itu dengan sangat serius memperhatikan sekaligus mempelajari mengenai ilmu bela diri yang sedang dipamerkan oleh anak-anak SMA.
Asyila tersenyum manis ketika melihat gerakan-gerakan tersebut, bagaimanapun gerakan-gerakan tersebut sudah ia kuasai dengan sangat baik.
“Apakah Mbak Asyila tertarik dengan ilmu bela diri? Kalau iya, saya bersedia mengajari Mbak Asyila ilmu bela diri seperti itu,” ucap Luna yang ternyata sudah berada di samping kanan Asyila.
“Tidak, terima kasih,” balas Asyila.
“Takut tidak bisa ya Mbak? Iya sih, ilmu pencak silat bela diri seperti itu memang sangat sulit. Terlebih lagi Mbak Asyila sudah punya anak, pasti tidak ada waktu untuk melakukan hal seperti itu,” ujar Luna.
Asyila tersenyum manis membalas ucapan Luna.
“Ngomong-ngomong Mbak Luna sudah lama menguasai ilmu bela diri?” tanya Asyila penasaran.
“Iya lumayan sih, sekitar 3 tahun dan yang mengajarinya adalah teman saya di Sumatera,” jawab Luna.
Keduanya mulai akrab karena sikap Asyila yang ramah dengan wanita yang dulu pernah tertarik dengan suaminya.
“Mbak Luna sudah menikah?” tanya Asyila penasaran.
“Alhamdulillah, sudah. Akan tetapi, takdir berkata lain. Suami saya meninggal ketika tengah bertugas di Palestina,” jawab Luna apa adanya.
“Innalilahi wa innailaihi rojiun, maaf saya tidak tahu,” tutur Asyila turut berdukacita.
“Tidak perlu canggung seperti itu, bagaimanapun semua itu sudah menjadi takdir. Sekarang saya lebih memfokuskan mengurusi putri kecil kami yang baru berumur 3 tahun,” ujar Luna.
Abraham yang tengah mengobrol dengan Edi serta yang lainnya, seketika itu menoleh ke arah Asyila yang ternyata tengah mengobrol dengan Luna.
Dari dulu, Abraham tak pernah sekalipun tertarik dengan wanita manapun. Setiap ada wanita yang mendekatinya bahkan menyatakan perasaan secara terang-terangan, Abraham selalu mengatakan bahwa dirinya telah memiliki calon istri. Walaupun saat itu, dirinya tak pernah melihat Asyila beranjak dewasa.
“Lihatlah bagaimana Anda menatap Nona Asyila dengan tatapan seperti itu, saya selaku sahabat Tuan Abraham merasa sangat iri dengan rumah tangga Tuan Abraham dan juga Nona Asyila. Boleh bagi tipsnya?” tanya Edi penasaran karena dirinya tak bisa seromantis pasangan Abraham dan Asyila.
“Kuncinya cuma satu, saling menghargai perasaan satu sama lain. Kalau kita sudah menghargai pasangan kita, insyaallah semuanya berjalan lancar. Wanita itu paling suka kalau kita selalu mengucapkan terima kasih untuk tindakan kecil sekalipun, kalau kita sudah melakukan hal tersebut, otomatis pasangan kita akan merasa sangat dihargai. Ayo, mulailah hari ini terapkan kalimat tersebut!”
“Masya Allah, hari ini saya banyak mendapatkan pelajaran dari Tuan Abraham, terima kasih,” ujar Edi dengan tatapan penuh kekaguman dengan sosok dari Abraham Mahesa, sahabatnya itu.
“Jangan berterima dengan aku, berterima kasihlah dengan istrimu,” balas Abraham karena yang pantas itu adalah seorang istri yang sudah banyak berkorban untuk keluarga serta mendidik anak-anak.
Edi saat itu juga menghampiri istrinya yang duduk agak menjauh untuk mengucapkan terima kasih atas saran dari Abraham.
Abraham kembali menoleh ke arah istrinya, akan tetapi Sang istri tidak berada di tempat duduknya dan hanya ada Luna yang duduk disana.
Karena tak ingin istri kecilnya kenapa-kenapa, Abraham pun beranjak untuk mencari keberadaan istri tercintanya itu.
“Mas mau kemana?” tanya Luna menghentikan Abraham yang ingin mencari keberadaan istri kecilnya.
“Istriku dimana?” tanya Abraham yang tak menoleh sama sekali ke arah Luna.
“Oh, Mbak Asyila kalau tidak salah pergi ke toilet,” jawab Luna dengan senyum manisnya.
Abraham melenggang pergi begitu saja setelah tahu bahwa istri kecilnya sedang berada di toilet.
“Astaga,” tutur Asyila terkejut mendapati suaminya sudah berdiri di pintu keluar masuk toilet.
Asyila menyentuh dadanya yang berdebar kencang seketika itu juga karena ulah suaminya.
“Mas sama sekali tidak mengejutkan Asyila, kenapa respon Asyila seperti melihat sesuatu yang menakutkan?” tanya Abraham terheran-heran.
“Asyila tentu saja sangat terkejut Mas, lagipula kenapa Mas berada di depan pintu toilet? Bukankah tadi sedang mengobrol dengan Pak Edi?” tanya Asyila.
“Iya memang tadi sedang mengobrol, tapi sekarang sudah tidak. Mau pulang sekarang apa nanti?” tanya Abraham.
“Sudah jam 9 malam, sebaiknya kita pulang ya Mas. Kasihan anak-anak terutama Bayi Akbar,” balas Asyila.
“Ya sudah, ayo kita pamit pulang!” ajak Abraham untuk segera kembali ke rumah.
Abraham merangkul pinggang istri kecilnya sembari melangkah menghampiri Edi serta yang lainnya untuk segera berpamitan pulang.
“Edi, aku dan Asyila ingin pulang,” tutur Abraham dengan terus merangkul pinggang istri kecilnya seakan-akan takut istrinya itu pergi menjauh.
“Kenapa buru-buru pulang?” tanya Edi yang masih ingin menghabiskan waktunya dengan Abraham.
“Bayi kami tidak bisa ditinggal lama-lama, tidak enak juga dengan mertua,” jawab Abraham apa adanya.
“Oh, Maaf bukan maksud saya melarang Tuan Abraham dan Nona Asyila untuk pulang,” tutur Edi merasa bersalah.
__ADS_1
“Ayolah, jangan terlalu sungkan seperti ini. Ya sudah, kami pamit dulu. Semuanya, terima kasih untuk hari ini, kami pulang dulu. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!”
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!” seru mereka sambil terus melambaikan tangan ke arah Abraham dan Asyila yang perlahan pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Di area parkir.
Pak Udin tersenyum lebar melihat sepasang suami istri tersebut tengah berjalan mendekat. Sepertinya, keduanya menikmati acara berbuka puasa bersama para sahabat Abraham.
“Sudah makan, Pak Udin?” tanya Asyila.
“Alhamdulillah sudah, Nona Asyila. Oya, ini yang kembaliannya,” tutur Pak Udin sambil menyerahkan sisa uang tersebut kepada Abraham.
“Pak Udin, itu semua uangnya untuk Pak Udin. Tak masalah kalau ada kembaliannya, ambil saja!”
“Alhamdulillah, terima kasih Tuan Abraham,” balas Pak Udin dan kembali memasukkan uang tersebut kedalam kantong celana miliknya.
“Ayo Pak Udin, kita langsung pulang saja!” perintah Abraham agar segera kembali ke rumah.
Pak Udin mengiyakan sambil membuka pintu mobil dan mempersilakan keduanya untuk segera masuk ke dalam mobil.
Setelah semuanya masuk ke dalam mobil, Pak Udin langsung menginjak pedal gas meninggalkan area hotel tersebut.
Sepanjang perjalanan menuju pulang, Asyila tak henti-hentinya menyandarkan kepalanya di bahu suaminya sembari menggenggam erat tangan suaminya itu.
“Mas, Mbak Luna itu cantik ya. Memangnya dulu Mas tidak pernah menaruh perasaan kepada Mbak Luna?” tanya Asyila penasaran.
“Syila ini bicara apa? Tidak hanya ke Luna, bahkan pada wanita lain pun Mas tidak pernah menaruh perasaan sedikitpun. Kecuali, dengan Asyila,” jelas Abraham dari lubuk hatinya yang paling dalam.
“Benarkah? Memangnya berapa banyak wanita yang mendekati Mas Abraham?” tanya Asyila yang semakin penasaran sekaligus bangga dengan pernyataan suaminya.
“Kalau itu bisa dibilang cukup banyak, dulu suamimu ini bahkan sangat populer pada masanya,” jawab Abraham dengan begitu narsis.
“Jangankan dulu, sekarang pun masih banyak yang mencoba menarik perhatian Mas Abraham,” ucap Asyila dan seketika itu bergeser menjauh sambil melipat kedua tangannya ke dada.
Abraham sangat senang melihat bagaimana ekspresi wajah istri kecilnya yang tengah cemburu. Hal tersebut membuktikan bahwa Sang istri sangat mencintainya dirinya.
“Syila sayang, dihati suamimu ini hanya ada Asyila seorang. Sejak awal, tidak ada yang bisa mencuri perhatian suamimu. Kecuali, Asyila seorang. Ayolah, berikan senyuman terbaik Asyila untuk Mas!” pinta Abraham dan menciumi pipi istri kecilnya berulang kali.
Pak Udin merasa seperti nyamuk saja diantara mereka berdua, kehadirannya yang tengah mengemudikan mobil seolah-olah tak dianggap.
“Mas, hentikan!” perintah Asyila sambil mendorong pelan tubuh suaminya agar tak dekat-dekat dengannya.
Asyila yang semula ngambek sekaligus cemburu, perlahan mulai tenang dan membalas dekapan suaminya.
“Apakah hanya Asyila seorang?” tanya Asyila memastikan.
“Tentu saja, Allah saksinya,” tegas Abraham yang memang dari awal mengunci hatinya hanya untuk Asyila seorang.
Hati Asyila seketika itu luluh dan berbangga diri dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
“Terima kasih ya Mas,” ucap Asyila pada suaminya karena sudah mencintainya lebih dulu.
“Terima kasih juga istriku,” balas Abraham dan mengecup kening Asyila dengan sangat mesra.
“Mas, Asyila boleh tidur sejenak dipelukan Mas? Asyila mengantuk dan ingin tidur,” ucap Asyila yang sudah memejamkan matanya.
“Tidurlah, kalau sudah sampai Mas akan membangunkan Asyila,” balas Abraham dengan suara yang sangat lembut.
Tak butuh waktu lama, Asyila akhirnya terlelap di dalam dekapan suaminya yang sangat Asyila cintai.
Abraham mengelus-elus punggung istri kecilnya agar Sang istri semakin nyaman tidur di dalam dekapannya itu.
Disaat yang bersamaan, bayi Akbar tiba-tiba terbangun dan seketika itu membuat Arumi yang tidur terperanjat.
“Astaghfirullahaladzim, iya kesayangan Nenek,” ucap Arumi dan bergegas untuk menggendong cucu keempatnya itu.
Arumi menimang-nimang cucu kesayangannya dengan penuh kasih sayang, dalam hati Arumi dirinya ingin sekali melihat cucu-cucu bertumbuh besar dan juga sukses.
“Semoga saja Nenek dan Kakek diberikan umur yang panjang agar bisa melihat cucu-cucu Nenek dan juga Kakek tumbuh menjadi orang yang sukses, bermanfaat serta Sholeh-sholeh,” tutur Arumi dengan penuh harap.
Beberapa saat kemudian.
Arumi yang berada di ruang tamu bersama dengan suaminya sambil menggendong cucu kesayangannya, seketika itu bernapas lega setelah melihat dari jendela ruang tamu bahwa putri serta menantu kesayangan telah kembali.
“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham dan Asyila.
__ADS_1
“Wa’alaikumsalam,” balas Arumi dan juga Herwan.
Abraham mencium punggung tangan mertuanya dan diikuti pula oleh Asyila.
“Bayi Akbar rewel ya Ibu?” tanya Asyila sambil mengambil alih menggendong bayi mungilnya tersebut.
“Akbar baru ini rewelnya, mungkin kangen sama Bundanya,” balas Arumi.
“Maaf ya sayang, lagi-lagi bayi mungil Bunda ditinggal. Kita masuk ke kamar ya, pasti bayi Akbar haus,” tutur Asyila.
“Ayah, Ibu. Kami langsung ke kamar ya sekaligus beristirahat, sebelumnya terima kasih sudah menjaga anak-anak selagi kami tidak berada di rumah,” tutur Abraham.
“Ah, jangan berkata seperti itu Nak Abraham. Kami juga senang menjaga anak-anak,” balas Arumi yang sama sekali tak masalah jika harus setia hari menjaga cucu-cucunya itu.
Setibanya di dalam kamar, Abraham buru-buru mengganti pakaiannya. Sementara Asyila masih harus menyusui bayi mungilnya agar kembali tidur.
“Mas, besok kita mau berbuka puasa dimana?” tanya Asyila pada suaminya yang sedang mengenakan piyama.
“Kalau itu Mas belum tahu, ya kita tanyakan dulu kemauan Ashraf dan juga Bela,” jawab Abraham.
“Mas ternyata lebih peka daripada Asyila,” ucap Asyila tertawa kecil.
“Syila ini bicara apa, Mas ke dapur dulu ya mau ambil minum,” tutur Abraham.
“Asyila boleh minta dibuatkan sesuatu tidak Mas?” tanya Asyila dengan wajah yang begitu menggemaskan.
Abraham tak bisa menahan keinginannya untuk mencium pipi istri kecilnya, ia pun mendekat dan menciumi pipi istri kecilnya berulang kali karena saking gemasnya.
“Mas, Asyila sedang menyusui bayi Akbar. Kalau bayi kita tersedak bagaimana?” tanya Asyila.
“Ya mau bagaimana lagi, habisnya Asyila menggemaskan. Oya, Asyila mau dibuatkan apa?” tanya Abraham.
“Teh hangat,” jawab Abraham tersipu malu, “Tetapi, kalau Mas tidak mau ya tidak apa-apa,” imbuh Asyila.
“Belum juga dijawab, malah Asyila jawab sendiri. Tentu saja Mas mau, kalau begitu Mas ke dapur dulu. Tak sampai 10 menit, teh hangat keinginan Asyila akan tiba di kamar!”
“Terima kasih ya Mas,” balas Asyila dengan senyum manisnya.
Abraham pun melanjutkan langkahnya menuju dapur untuk mengambil air minum serta membuatkan teh hangat keinginan istri kecilnya.
“Asyila ini lama-lama semakin menggemaskan saja,” tutur Abraham bermonolog sambil senyum-senyum sendiri.
“Masya Allah, Ibu perhatikan Nak Abraham tadi senyum-senyum sendiri. Kalau boleh tahu, nak Abraham senyum-senyum kenapa?” tanya Arumi yang tiba-tiba jiwanya keingintahuannya muncul kembali.
Abraham saat itu juga teringat dengan Neneknya yang sangat ia sayangi.
“Tidak ada apa-apa, Ibu,” jawab Abraham.
“Terus, keluar kamar mau ngapain?” tanya Arumi lagi.
“Abraham haus dan Asyila ingin minum teh hangat.”
“Oh, kalau urusan teh hangat biar Ibu saja yang membuatkannya.”
“Tidak usah, Ibu. Biar Abraham saja, lagipula Abraham ingin melakukannya sendiri.”
“Nak Abraham ini benar-benar suami idaman, kalau begitu Ibu mau ke depan ya. Ayahmu jam segini masih ingin ditemani mengobrol,” tutur Arumi dan melenggang menuju ruang tamu untuk segera menemani suaminya, Herwan.
Abraham bergegas menuju dapur dan setibanya di dapur, Abraham langsung memasak air agar segera mendidih.
Tak butuh waktu lama, teh hangat yang dibuat oleh Abraham untuk istri kecilnya akhirnya jadi juga.
“Istriku sayang, teh hangat buatan suamimu ini sudah jadi. Ayo minumlah!” pinta Abraham.
“Terima kasih ya Mas, maaf telah merepotkan Mas Abraham,” balas Asyila sambil menerima secangkir teh hangat.
“Tidak repot sama sekali, bayi kita sudah tidur?” tanya Abraham sambil menoleh ke arah ranjang bayi mungilnya.
“Alhamdulillah, sudah Mas. Oya, ini Asyila langsung minum ya Mas.”
“Silakan, jangan lupa bismillah sebelum meminumnya,” tutur Abraham sambil membelai lembut rambut panjang Sang istri tercinta.
Asyila perlahan meneguk teh hangat tersebut sampai habis.
“Alhamdulillah, gulanya pas tidak kemanisan,” tutur Asyila dan perlahan merebahkan tubuhnya agar rileks.
__ADS_1
“Mas wudhu dulu ya, habis itu Asyila juga wudhu. Ok!”
“Iya, Mas Abraham!” seru Asyila.