
Tiba bagi Arumi untuk pergi ke pasar seorang diri, wanita berumur setengah abad lebih itu sudah siap untuk membeli keperluan rumah sehari-hari. Ketika akan melangkah keluar pintu, samar-samar Arumi mendengar putri kesayangannya memanggil dan dengan cepat Arumi menoleh.
“Jangan lari-lari seperti itu, sayang. Ingat! kamu sekarang tengah hamil dan tidak boleh banyak berlari,” ucap Arumi mengingatkan kehamilan Asyila.
“Asyila baik-baik saja, Ibu. Bolehkah Asyila ikut ke pasar?” tanya Asyila yang ingin menemani Ibunya pergi berbelanja di pasar.
“Kalau Ibu boleh-boleh saja, tapi bagaimana dengan Arsyad dan Ashraf yang berada di rumah. Apa Asyila sudah meminta izin kepada Nak Abraham?” tanya Arumi.
“Tunggu sebentar ya Ibu, Asyila akan bertanya dengan Mas Abraham. Setelah Mas Abraham mengizinkan, Asyila kemudian meminta bantuan Ayah untuk menjadi Arsyad dan ashraf.”
Arumi mengiyakan dan dengan semangat Asyila kembali masuk ke dalam kamar untuk meminta izin dari suaminya.
Setelah mendengar keinginan sang istri yang ingin pergi ke pasar, Abraham tanpa pikir panjang mengiyakan keinginan istri kecilnya dan mengingatkan kepada istri tercintanya untuk tidak kelelahan selama berbelanja.
“Terim kasih, suamiku!”
Asyila pun pamit dan melenggang pergi meninggalkan suaminya yang tengah berada di tempat tidur. Kemudian, mendatanginya Sang Ayah dan meminta Ayahnya itu untuk menjaga Arsyad serta Ashraf.
“Sayang, Bunda dan Nenek mau ke pasar dulu. Kalian jangan nakal selama Bunda dan Nenek Arumi ke pasar, kalian mengerti?”
Biasanya anak kecil akan merengek untuk ikut ke pasar, akan tetapi lain halnya dengan kedua putra kecil Asyila dan Abraham. Keduanya sangat menurut dengan apa yang dikatakan oleh orang tua mereka berdua.
“Ayah, Asyila pergi dulu ke pasar. Tolong jaga Arsyad dan Ashraf, kalau mereka tidak bisa diam mohon disiplinkan mereka!” pinta Asyila.
“Kamu tenang saja, mereka adalah anak-anak baik dan tidak nakal,” balas Herwan.
Akhirnya Asyila pergi menemani Ibunya ke pasar untuk membeli keperluan dapur sehari-hari.
“Ibu lihat, kamu semakin hari semakin sedih. Apa yang sebenarnya sedang kamu cemaskan dan kamu pikirkan sayang?” tanya Arumi melihat ekspresi wajah dari putrinya terlihat tegang.
“Asyila tidak sedang mencemaskan apalagi memikirkan hal yang tidak penting, Ibu,” jawab Asyila.
“Kalau begitu, kamu sedang memikirkan hal yang sangat penting. Benar 'bukan?”
Asyila seketika itu membisu dan membuat Arumi yakin bahwa putri kesayangannya sedang dalam masalah.
“Kalau ada masalah itu tidak baik dipendam sendiri, apalagi sekarang kamu sedang mengandung sayang. Apa Nak Abraham yang membuatmu sedih?” tanya Arumi yang sebenarnya pertanyaannya itu hanya sekedar pancingan saja. Toh, Arumi sangat yakin bahwa keduanya saling mencintai satu sama lain dan tak mungkin bagi keduanya untuk bertengkar.
“Mas Abraham sama sekali tidak membuat Asyila sedih, Ibu. Mungkin kondisi Asyila karena bawaan dari calon bayi,” ucap Asyila.
Arumi terdiam sejenak dan akhirnya percaya dengan apa yang dikatakan oleh Asyila.
***
Setibanya di pasar, Arumi dan Asyila bergegas turun dari motor. Sementara Pak Udin memilih untuk menikmati kopi dan gorengan di warung-warung pinggir pasar.
“Kamu yakin mau ikut masuk ke dalam sayang? Ibu takut kamu kelelahan,” tutur Arumi.
“Ibu tidak perlu terlalu mengkhawatirkan kondisi Asyila, kalau Ibu terlalu mengkhawatirkan Asyila itu artinya putri Ibu ini bukanlah wanita kuat.”
“Kata siapa putri Ibu bukanlah wanita kuat? Jelas-jelas putri Ibu ini wanita yang sangat kuat,” ucap Arumi menegaskan bahwa Asyila adalah wanita yang kuat.
__ADS_1
Asyila terkekeh geli melihat wajah Ibunya yang sangat menyayangi dirinya.
“Ayi Ibu, tunggu apalagi? Asyila tidak sabar ini masuk pasar!” ajak Asyila dan keduanya pun melanjutkan langkah mereka memasuki pasar.
Arumi dan Asyila terus saja berbincang-bincang, sampai akhirnya Arumi terjatuh karena secara tiba-tiba ada orang datang menabraknya dan sekaligus merampas dompet miliknya yang berisi uang dengan jumlah yang cukup banyak.
“Ibu tidak apa-apa?” tanya Asyila sambil mencoba membantu Arumi beranjak dari jatuhnya.
“Ya Allah, Asyila. Uang Ibu, dompet Ibu dicuri oleh orang tadi!” Arumi berteriak histeris dan yang lainnya langsung mengejar si pencuri itu.
Pasar yang awalnya sudah ramai kini semakin ramai serta heboh karena kejadian tersebut. Asyila pun secara refleks berlari mengejar si pencuri itu, ia bahkan lupa bahwa di dalam perutnya ada sebuah janin yang tengah berkembang.
“Asyila!” teriak Arumi ketika melihat Asyila sudah berlari menjauh ke arah si pencuri itu lewat.
Para pedagang mencoba menenangkan Arumi dan yang lainnya tergerak hatinya untuk menangkap si pencuri tersebut.
Asyila berlari tak kenal takut, untuk menyingkat waktu yang ada, Asyila memutuskan meminjam motor salah satu tukang ojek di pasar tersebut.
“Pak, motornya saya pinjam sebentar. Ibu saya sedang kecopetan dan ini KTP saya, kalau sampai satu jam saya tidak datang, Bapak langsung telepon polisi untuk menangkap saya,” terang Asyila dan tanpa pikir panjang, wanita muda itu mengendarai motor mengejar si pencuri dengan kecepatan tinggi.
Pemilik motor terlihat kebingungan sambil memperhatikan KTP milik Asyila. Kemudian, beberapa orang datang menanyakan si pemilik motor alias tukang ojek tentang keberadaan Asyila.
“Pak, lihat wanita cantik berpakaian tertutup dengan hijab besarnya lewat sini?” tanya salah satu pria yang berusaha menghentikan Asyila atas permintaan Arumi sendiri.
“Yang ini ya?” tanya pemilik motor sambil memperlihatkan foto KTP Asyila.
“Iya, benar. Ini orangnya,” jawab pria yang sebelumnya bertanya pada pemilik motor.
“Ya Allah, bapak tahu putri saya dimana?” tanya Arumi yang baru saja tiba dengan air mata yang terus saja mengalir.
“Ya Allah, putri saya sekarang ini sedang hamil, Pak. Saya benar-benar sangat takut,” jelas Arumi dan seketika yang lainnya terkejut.
Disaat yang bersamaan, Asyila terus saja mengejar si pencuri dompet milik Ibunya. Ternyata, pencuri itu tidak melakukan aksi curang itu sendiri. Ada temannya yang telah menunggu di tempat yang mereka rencanakan, kemudian mereka bersama-sama pergi.
“Tin.... tin...” Asyila berkali-kali membunyikan bel motor sambil berteriak agar keduanya segera berhenti.
“Cepat berhenti!” teriak Asyila yang benar-benar jauh berbeda dengan Asyila yang sebelumnya.
Pengemudi motor yang juga satu komplotan dengan pencuri dompet Arumi terus saja melajukan motornya, sampai akhirnya mereka berdua berhenti di tempat sepi.
Asyila tanpa rasa takut ikut berhenti dan dengan berani datang menghampiri keduanya.
“Cepat, kembalikan dompet Ibu saya!” pinta Asyila.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain dan kemudian tertawa terbahak-bahak.
Mereka meremehkan wanita yang tengah marah tersebut.
“Tolong kembalikan dompet Ibu saya, saya janji setelah kalian mengembalikannya saya akan melupakan kejadian ini dan melepaskan kalian berdua,” ucap Asyila dengan sangat serius.
Keduanya kembali tertawa keras dan salah satu dari mereka mencoba memukul Asyila.
__ADS_1
Namun sayangnya, tangan pria itu langsung ditangkap oleh Asyila dan seketika itu juga Asyila memelintir tangan pencuri itu ke arah belakang dengan gerakan cepat. Tidak hanya sampai disitu, Asyila bahkan menendang bagian belakang lutut sehingga pencuri itu terjatuh dan berteriak kesakitan ketika lututnya mencium aspal.
“Akhhhh!”
Asyila masih kurang puas, kemungkinan emosinya saat itu juga berasal dari calon buah hatinya yang sedang ia kandung.
“Dasar perempuan kurang aja!” teriak pria yang lainnya, yang tak terima dengan apa yang telah Asyila lakukan kepada komplotannya.
Pria yang sebelumnya mengemudikan motor, terlihat sangat geram dengan apa yang dilakukan oleh Asyila. Ia pun mendatangi Asyila dan melayangkan tendangan ke arah perut Asyila. Akan tetapi, dengan sigap Asyila menangkapnya kemudian menjatuhkannya dengan sangat keras.
Untuk mengalahkan Asyila, mereka berdua memutuskan menyerang Asyila secara bersamaan. Akan tetapi, hal tersebut justru membuat Asyila semakin kuat dan tak butuh waktu lama mereka akhirnya menyerah.
“Alangkah baiknya jika kekuatan kalian, kalian gunakan untuk hal yang lebih baik. Diluar sana banyak pekerjaan halal yang menanti kalian, akan tetapi kalian malah menggunakan keahlian kalian secara tidak bijak. Untuk ini, saya akan mengirim kalian berdua ke penjara dan semoga setelah kalian keluar, kalian bisa menjadi orang baik,” tutur Asyila dan bergegas menghubungi polisi.
***
Setelah permasalahan tersebut selesai, Asyila buru-buru kembali ke pasar dengan membawa dompet milik Ibunya tercinta.
“Ya Allah, Asyila. Kamu kemana saja Nak?” Arumi langsung memeluk tubuh Asyila padahal Asyila sendiri belum turun dari motor.
“Ibu, Asyila tidak apa-apa. Ini dompet Ibu sudah Asyila ambil dari mereka,” tutur Asyila dan melepaskan pelukan Ibunya. Kemudian, menyerahkan dompet tersebut kepada pemiliknya, yaitu Ibunya sendiri.
“Ya Allah, ini kenapa bisa sama kamu Nak? Apakah kamu yang mengambil dompet ini dari pencuri itu?” tanya Arumi.
Asyila merasa sangat sesak karena banyaknya orang yang mengerumuni dirinya dan Ibunya.
“Ibu, sebaiknya kita bicarakan ini di mobil ya!” ajak Asyila dan tak lupa memberikan motor serta kunci tersebut kepada si pemilik.
Setelah mengucapkan terima kasih, Asyila cepat-cepat membawa Ibunya masuk ke dalam mobil.
“Ya Allah, apa ini?” tanya pemilik motor ketika ingin melihat bensin motornya dan malah menemukan beberapa lembar uang berwarna merah di jok motornya.
Pemilik motor sekaligus tukang ojek itu menangis terharu, ia benar-benar bersyukur karena Asyila memberikannya uang.
“Alhamdulillah, uang ini bisa untuk membeli obat istriku,” ucapnya.
Disaat yang bersamaan, Asyila dan Arumi masuk ke dalam mobil. Pak Udin terkesiap sekaligus terheran-heran, karena keduanya masuk tidak membawa belanjaan.
“Belanjaannya ketinggalan ya Nona Asyila?” tanya Pak Udin berpikir bahwa keduanya lupa membawa belanjaan mereka.
Arumi langsung menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan membuat Pak Udin nampak sangat terkejut.
“Apakah Nona Asyila yang secara langsung melawan mereka?” tanya Pak Udin.
“Pak Udin dan Ibu tidak perlu khawatir, tentu saja bukan Asyila yang melawan orang jahat itu. Dijalan, kebetulan ada orang baik yang menolong Asyila dan singkat cerita Asyila bisa pulang dengan selamat,” jelas Asyila yang tentu saja cerita itu hanya karangan belaka saja.
Asyila tidak ingin Arumi maupun yang lainnya tahu tentang keahliannya tersebut.
“Lain kali jangan seperti itu lagi, Asyila. Ingat! Kamu sekarang sedang hamil."
Deg!
__ADS_1
Asyila seketika itu tersadar dan langsung menyentuh perutnya. Ia benar-benar lupa bahwa saat itu dirinya tengah berbadan dua.
Ya Allah, kenapa hamba bisa melupakan hal ini. Untung saja, orang jahat itu tidak sampai menendang perut hamba. Terima kasih, Ya Allah.