Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Tidur Di Hotel


__ADS_3

Malam hari.


Abraham dan keluarga kecilnya sudah berada di rumah sakit, mereka tengah menunggu kabar baik dari dokter yang menangani Herwan.


Dikarenakan, Herwan mengalami koma dan racun telah menyebar dibeberapa titik dalam tubuhnya.


“Ya Allah, sebenarnya ular-ular itu dari mana datangnya? Kenapa harus Ayahmu yang terkena gigitannya? Jika disuruh memilih, Ibu lebih baik yang terkena gigitannya daripada Ayahmu,” ucap Arumi yang terus menangis tiada henti.


Dyah yang berada di jejeran kursi dekat Arumi hanya bisa berdo'a memohon keselamatan mertua dari Pamannya. Ditambah, Arsyad dan Ashraf masih sangat kecil untuk kehilangan seorang Kakek.


“Ibu jangan terlalu memikirkan masalah ular-ular di rumah, Abraham sudah meminta polisi dan petugas pemadam kebakaran untuk segera menangkap ular-ular itu. Sekarang yang harus kita lakukan adalah berdo'a memohon keselamatan untuk Ayah,” tutur Abraham.


Meskipun begitu, Arumi belum bisa tenang selama ular-ular di kediaman menantunya belum juga ditangkap.


“Ibu....” Asyila mendekat dan menggenggam kedua tangan Arumi.


“Maaf ya sayang, Ibu sangat takut kehilangan Ayahmu,” ucap Arumi dan menangis di pelukan putri kesayangannya tanpa mengeluarkan suara.


Abraham menoleh ke arah kedua putra kecilnya dan mendekati keponakannya, Dyah.


“Bawalah Arsyad dan Ashraf ke hotel terdekat, beristirahatlah!” perintah Abraham.


Dyah tentu saja menyetujui perintah dari Pamannya, ia tidak tega melihat kedua adiknya berada di rumah sakit.


“Lalu, Paman dan yang lainnya?” tanya Dyah.


“Jangan memikirkan kami, yang terpenting kalian bisa beristirahat di hotel. Oya, beritahu Paman nama hotelnya jika sudah sampai. Pak Udin akan mengantarkan kalian,” terang Abraham.


“Tidak mau, kami mau disini sama Ayah dan Bunda,” tolak Arsyad dan segera memegang erat tangan Sang Ayah.


Abraham berjongkok dan membelai lembut rambut putra pertamanya.


“Arsyad sayang, besok pagi kalian bisa datang kemari. Rumah sakit tidak boleh untuk anak kecil, apalagi anak kecilnya seperti Arsyad dan Ashraf yang kuat-kuat ini. Arsyad harus mengikuti apa yang dikatakan Ayah, kalau tidak?” tanya Abraham bermaksud agar putra pertamanya meneruskan kalimat yang ia katakan.


“Masuk neraka,” jawab Arsyad melanjutkan apa yang dikatakan oleh Sang Ayah.


“Dyah, bawa Arsyad dan Ashraf ke hotel sekarang!” perintah Abraham.


“Ayo sayang, cium tangan Ayah, Bunda dan Nenek Arumi!”


Arsyad dan Ashraf mencium punggung tangan Ayah dan Bundanya, lalu mencium punggung tangan Sang Nenek tersayang.


“Assalamu'alaikum!” Dyah melambaikan tangannya setelah mencium Paman. Aunty dan Nenek dari kedua adik kecilnya itu.


Pak Udin pun bergegas mengantarkan keponakan dan buah hati dari Tuan mudanya.


“Arsyad dan Ashraf harus mendengarkan apa yang Kak Dyah katakan, kalian sekarang menjadi tanggung jawab Kak Dyah. Kalian mengerti!”

__ADS_1


“Mengerti!” seru Arsyad dan juga Ashraf.


Arumi terus memperhatikan kedua punggung cucunya. Melihat bagaimana polosnya Arsyad dan Ashraf membuat Arumi tersentuh serta berusaha kuat untuk menghadapi cobaan yang sedang menimpa keluarganya.


“Tidak seharusnya Ibu menangis di depan Arsyad dan Ashraf. Ibu jadi merasa bersalah,” tutur Arumi sambil mengusap air matanya.


“Ibu...” Asyila memeluk dan mengusap punggung Ibunya, “Kita cari makan ya Ibu! Dari tadi Ibu belum makan sesuap nasi pun.”


“Asyila benar, Ibu harus makan meskipun hanya sedikit agar Ibu tidak sakit,” sahut Abraham yang tak ingin jika Ibu mertuanya jatuh sakit.


“Terima kasih karena telah mengkhawatirkan Ibu,” ucap Arumi dan melepaskan pelukan Asyila, ”Ayo kita cari makan di restoran terdekat,” imbuh Arumi.


Asyila mengembangkan senyumnya dan memegangi tangan Sang Ibu tercinta. Merekapun bersama-sama mencari restoran atau rumah makan terdekat di sekitar rumah sakit.


Disaat yang bersamaan, Dyah dan kedua putra kecil dari Paman serta Aunty-nya telah sampai di hotel yang jaraknya sekitar 3 km dari rumah sakit.


Dilihat dari luar, hotel itu cukup bagus dan tidak seram seperti kebanyakan hotel-hotel lain di Ibukota.


“Selamat malam, mau pesan berapa kamar?” tanya resepsionis hotel.


“Kamar 1 tapi ranjang dua ukuran besar, ada?” tanya Dyah.


“Sebentar, saya periksa dulu,” balas resepsionis hotel.


“Baik,” sahut Dyah.


“Kak, gendong!” pinta Ashraf merengek minta digendong.


“Ini kuncinya, kebetulan di lantai empat masih ada kamar yang kosong sesuai permintaan Kakak,” terang sang resepsionis wanita.


Dyah mengambil kunci kamar dan segera mengajak kedua adiknya ke lantai empat. Pak Udin membuntuti Dyah dari belakang sembari menarik koper ukuran besar yang sebelumnya sudah dibawa oleh Abraham dari rumah. Koper itu berisi beberapa pakaian Abraham, Asyila, Arsyad dan juga Ashraf.


“Sini kopernya biar saya saja yang membawanya!” pinta Porter alias pengangkut barang.


“Tidak usah, biar saya sendiri saja yang membawanya,” tolak Pak Udin yang ingin mengantarkan Dyah dan kedua putra kecil Tuan mudanya ke depan kamar mereka.


Porter atau si pengangkut barang menyetujui keinginan dari Pak Udin.


“Terima kasih, Pak Udin,” ucap Dyah berterima kasih.


“Sama-sama, Mbak Dyah. Karena Mbak Dyah dan bos kecil sudah disini, saya pamit dulu. Assalamu'alaikum!”


“Wa’alaikumsalam.”


Dyah membuka pintu kamar sesuai dengan nomor yang ada dikunci. Senyum Dyah merekah sempurna ketika melihat isi di dalam kamar hotel itu.


“Sudah jam 9 malam, kalian mau mandi?” tanya Dyah.

__ADS_1


“Mau,” jawab Arsyad.


Jawaban Arsyad dan Ashraf tentulah berbeda. Ashraf yang tidak terlalu suka mandi, apalagi bukan dimandikan oleh Bundanya pasti menolak dan memilih untuk cuci muka, tangan dan kaki saja sebelum tidur.


“Karena Ashraf tidak mau mandi, ya sudah sini cuci muka, tangan dan kaki ya!”


Ashraf mengangguk setuju dan Dyah menuntun bocah kecil itu masuk ke dalam kamar mandi.


Sementara Arsyad masih menunggu gilirannya untuk bisa menikmati kamar mandi seorang diri.


“Sekarang tinggal Arsyad yang harus mandi, Kakak sudah menyiapkan air hangat untuk Arsyad. Sekarang mandilah!”


Arsyad cepat-cepat melepaskan pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Ashraf sudah bersiap-siap untuk tidur di kasur empuk.


“Kak...”


“Ada apa Ashraf?” tanya Dyah.


“Puk puk!” pinta Ashraf sambil memukul bokongnya sendiri, mencontohkan bagaimana Dyah harus menidurkannya.


Dyah menelan salivanya dan memukul pelan bokong adiknya itu.


“Tidurlah adikku sayang, besok kita ke rumah sakit untuk menjenguk Kakek,” ucap Dyah.


Tak butuh waktu lama, Ashraf pun tertidur pulas dan terdengar dengkuran halus.


“Dingin...” Arsyad keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan celana miliknya.


Dyah yang melihatnya segera membongkar isi koper untuk memberikan pakaian kepada Arsyad yang kedinginan.


“Lepas celananya, pakai handuk ini!” Dyah memberikan handuk milik Arsyad.


Arsyad mengambil handuk itu dan mengenakannya.


“Ini pakai baju tidur!” Dyah memberikan baju tidur kesukaan Arsyad.


Arsyad segera memakainya dan setelah itu, ia bergegas naik ke tempat tidur untuk berisitirahat.


“Sekarang tidurlah, jangan lupa baca do'a,” tutur Dyah.


Usai membaca do'a sebelum tidur, Arsyad segera memejamkan mata. Sebenarnya ia ingin sekali tidur bersama orang tuanya, akan tetapi, mengingat bahwa Sang Kakek tengah sakit, Arsyad harus sabar sampai Sang kakek tercinta benar-benar sembuh.


Kini tinggal Dyah yang belum juga tertidur, tiba-tiba ia teringat dengan pria yang memberikannya sapu tangan berwarna biru muda dengan bordiran nama Kikan.


“Kikan? Apa mungkin itu nama istrinya?”


Dyah menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur sambil terus memperhatikan sapu tangan ditangannya pemberian dari pria berpakaian muslim, sarung serta peci khas orang yang baru pulang dari masjid.

__ADS_1


“Seperti ustadz,” ucap Dyah bermonolog.


Abraham 💖 Asyila


__ADS_2