Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Akhirnya


__ADS_3

Dua hari telah berlalu, aktivitas Asyila semakin padat karena suami sering kali meminta Asyila untuk menyiapkan makanan mulai dari pagi, siang, sore dan juga malam untuk dibawa ke kantor.


Tentu saja yang membawanya bukan Asyila, melainkan Eko yang selalu siap dengan apa yang diperintahkan Abraham kepadanya.


Tidak hanya sibuk memasak makanan, Asyila bahkan harus meluangkan waktunya untuk bermain dengan Ashraf yang sering kali membuat Asyila kelimpungan dengan kelincahan Ashraf.


Belum lagi, jika Ashraf merengek untuk minta dibelikan sesuatu atau keinginan yang tiba-tiba datang begitu saja.


Asyila sangat berharap bahwa keluarga kecil Ema segera kembali ke Bandung. Sehingga, Ashraf bisa bermain kembali dengan Kahfi. Putra kecil Ema dan Yogi.


“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga,” ucap Asyila dan merebahkan tubuhnya di sofa.


Ketika Asyila ingin memejamkan mata, Ashraf datang dan meminta Asyila untuk menemaninya bermain dihalaman rumah depan. Mau tak mau Asyila pun mengiyakan ajakan Ashraf dan merekapun bersama-sama menuju halaman rumah depan.


“Bunda, lihat!” Ashraf dengan semangat menghidupkan air dan mengisi bak ukuran sedang dengan air. Kemudian, dengan penuh semangat Ashraf masuk ke dalam bak tersebut.


Asyila tertawa kecil melihat Ashraf yang sangat bersemangat main air.


“Sayang, kalau sudah penuh jangan lupa dimatikan airnya. Ashraf tidak boleh membuang-buang air!”


“Baik, Bunda,” jawab Ashraf dan mengikuti apa yang dikatakan oleh Asyila.


Cukup lama Ashraf berada di dalam bak, sampai akhirnya Asyila meminta izin pada Ashraf untuk masuk ke dalam.


“Sayang, Bunda ke kamar mandi sebentar ya Nak.”


“Baik, Bunda!” seru Ashraf.


Asyila berlari kecil masuk ke dalam rumah dan berjalan menaiki anak tangga.


Sesampainya di kamar, Asyila langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membuang air kecil.


Setelah selesai, Asyila bergegas menemani putra kecilnya, Ashraf. Namun, langkah Asyila terhenti ketika mendengar ponselnya berbunyi.


“Dora?”


Asyila mengernyitkan keningnya tanpa menerima sambungan telepon tersebut. Asyila pun terkejut ketika melihat 10 panggilan tak terjawab dari Dora.


“Kenapa Dora menghubungi aku sebanyak ini? Apa ada hal penting yang ingin dia bicarakan? Aku rasa, aku tidak pernah memiliki hal penting selain hanya menolongnya saja,” ucap Asyila bermonolog dan kembali meletakkan ponselnya.


Ashraf tertawa lepas ketika memukul-mukul air yang tengah merendam setengah tubuhnya.


“Bunda lama,” celetuk Ashraf ketika Asyila baru saja tiba.


“Maaf ya sayang, Ashraf sudah selesai belum?” tanya Asyila karena tak ingin buah hatinya kedinginan.


“Sebentar lagi ya Bunda,” jawab Ashraf dengan suara yang dibuat-buat agar Bundanya tersayang menuruti keinginannya untuk bermain air lebih lama lagi.


Asyila akhirnya luluh juga. Ia tidak bisa menolak keinginan putra kecilnya yang masih ingin bermain air.


Disaat yang bersamaan, Eko datang untuk mengambil bekal Tuan Mudanya. Asyila yang melihat Eko keluar dari mobil, bergegas masuk ke dalam untuk mengambil bekal suaminya.


“Hallo, Bos kecil!” sapa Eko.


“Pak Eko, Ayah mana?” tanya Ashraf dengan lugunya.


“Ayah Abraham sedang kerja dan belum bisa pulang,” jawab Eko.


Ashraf mengangguk kecil dan kembali fokus dengan air yang merendam setengah tubuhnya


“Ini, Pak Eko!” Asyila menyerahkan bekal suaminya kepala Eko, “Oya Pak Eko, Mas Abraham nanti malam pulang jam berapa? Soalnya Asyila hubungi nomor Mas Abraham tidak aktif,” imbuh Asyila.


“Kebetulan saya ingin menyampaikan pesan dari Tuan Muda Abraham. Tuan Muda bilang kalau nanti malam Tuan Muda akan pulang setelah sholat isya dan alasan kenapa nomor Tuan Muda tidak aktif, dikarenakan Tuan Muda sedang fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya. Begitu kira-kira yang Tuan Muda katakan ke saya dan meminta saya menyampaikan pesan tersebut kepada Nona Asyila,” terang Eko.

__ADS_1


“Terima kasih, Pak Eko. Tolong sampaikan juga kepada Mas Abraham kalau Asyila menunggunya malam ini,” ucap Asyila agar Eko menyampaikan pesan tersebut kepada suaminya tercinta.


“Baik, Nona Asyila. Kalau begitu saya permisi, Wassalamu'alaikum!”


“Wa'alaikumsalam!”


Malam ini pokoknya aku harus melayani Mas Abraham sebaik mungkin. Semoga saja Ashraf tidak rewel seperti malam-malam sebelumnya.


Ashraf telah puas bermain air dan meminta Bundanya untuk membawanya masuk ke dalam rumah.


“Sebentar ya sayang, Bunda akan mengambil handuk Ashraf dulu di dalam. Ashraf jangan kemana-mana dan diam disini!” perintah Asyila.


Ashraf mengiyakan dan tetap berdiri sembari menunggu handuk dari Bundanya.


Saat itu Ashraf masih mengenakan pakaian lengkap tanpa ada niat sedikitpun untuk melepaskan pakaiannya.


Asyila datang dan meminta Ashraf untuk segera melepaskan pakaiannya. Dengan cepat Ashraf menolak dan mengatakan ia malu jika ada orang yang lewat dan melihat tak mengenakan pakaian.


Asyila tentu saja tertawa dengan penolakan putra kecilnya yang tak ingin melepaskan pakaiannya. Akan tetapi, Asyila segera terdiam karena Ashraf telah bersiap-siap untuk menangis.


“Sudah-sudah, Bunda bukan menertawakan Ashraf. Ya sudah ayo kita masuk ke dalam!” ajak Asyila sambil melilitkan handuk ke tubuh kecil Ashraf.


****


Sudah hampir jam 9 malam akan tetapi, Abraham belum juga kembali.


Membuat Asyila sedikit tak tenang karena Sang suami belum juga memberi kabar apapun.


“Cepatlah pulang Mas! Asyila sangat merindukan Mas,” ucap Asyila yang tengah duduk di ruang tamu seorang diri.


Ashraf sudah tidur setelah melaksanakan sholat isya bersama Bundanya.


Asyila sedikit lebih tenang karena Ashraf tidur lebih awal dan kebetulan malam itu tidak rewel seperti malam-malam sebelumnya.


Dengan cepat Asyila berlari keluar rumah dan menyambut kedatangan suaminya dengan senyum semanis mungkin.


“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham pada istri kecilnya.


Asyila dengan semangat membalas salam dari suaminya dan tak lupa mencium punggung tangan suaminya yang baru saja tiba.


“Mas...” Asyila dengan manjanya memeluk lengan suaminya sembari menyentuh jemari tangan Abraham.


“Apakah Ashraf sudah tidur?” tanya Abraham setengah berbisik.


“Sudah Mas. Malam ini Asyila seutuhnya milik Mas,” jawab Asyila setengah berbisik.


Abraham menoleh ke arah sopir pribadinya dan memerintahkan kepada Eko untuk kembali ke rumahnya sendiri. Kemudian, besok pagi sebelum jam 7 Eko harus sudah tiba di perumahan Absyil.


“Kenapa mendadak sekali Tuan Muda?” tanya Eko karena sebelumnya Abraham telah memintanya untuk tinggal di perumahan Absyil.


Abraham menatap datar tanpa menjawab pertanyaan Eko.


Mau tak mau Eko pun mengiyakan dan bergegas meninggalkan perumahan Absyil.


“Maaf ya Mas. Kemarin-kemarin kita sangat sulit untuk tidur bersama,” ucap Asyila merasa bersalah.


“Sudah tidak apa-apa, yang terpenting malam ini kita harus melakukannya. Mas tidak ingin berpuasa terlalu lama, belum lagi ketika Asyila datang bulan.”


“Hehehe... Insya Allah malam ini kita bisa melakukannya Mas,” jawab Asyila.


Abraham merangkul pinggang Asyila dan menuntunnya masuk ke dalam. Pintu pun dikunci dan dipastikan tidak ada yang bisa masuk.


“Ashraf tidur dikamar kita atau kamarnya sendiri?” tanya Abraham dan menciumi bibir Asyila.

__ADS_1


Asyila segera menutup mulut suaminya dengan tangannya.


“Sabar sebentar ya Mas. Ashraf malam ini tidur di kamarnya,” jawab Asyila.


Abraham yang ingin cepat-cepat bisa berduaan dengan Istri kecilnya langsung mengangkat tubuh istri kecilnya dan membawanya masuk ke dalam kamar.


“Mas, mandi dulu!” pinta Asyila.


“Huh!” Abraham menghela napasnya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Mumpung Mas Abraham mandi, aku harus bersiap-siap terlebih dahulu.


Asyila berlari kecil untuk mengambil air wudhu di kamar bawah. Setelah itu, ia kembali masuk ke dalam kamar dan bergegas mengenakan mukena.


Beberapa menit kemudian.


Abraham telah selesai dan segera mengenakan atribut sholatnya. Seperti biasa, ia dan istri kecilnya akan melaksanakan sholat sunah dua raka'at sebelum melakukan hubungan suami istri.


“Kenapa sudah pakai mukena?” tanya Abraham.


Asyila hanya tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Awas ya nanti,” ucap Abraham.


Usai melaksanakan sholat, Asyila segera melepaskan mukenanya dan naik ke tempat tidur.


Melihat istri kecilnya sudah berada di tempat tidur, membuat Abraham tidak sabar lagi menahan hasratnya yang sudah cukup lama ia tahan karena ulah dari kedua putranya yaitu Arsyad dan Ashraf. Terutama Ashraf yang beberapa hari sebelumnya sangat menempel dengan istri kecilnya.


Abraham dan Asyila bersama-sama membaca do'a sebelum berjima' seperti yang mereka lakukan sebelumnya. Kemudian,


“Mas...” Asyila terlihat sangat malu ketika sang suami mulai menciumi lehernya.


Abraham tak menggubris perkataan panggilan istri kecilnya, justru Abraham semakin menikmatinya.


Asyila mendorong suaminya ke samping dan apa yang terjadi?


Kini posisi Asyila justru yang berada di atas tubuh Abraham yang masih berpakaian lengkap.


Asyila yang malu-malu berusaha untuk melayani suaminya dengan sebaik mungkin. Ia pun berjanji kedepannya akan lebih berisitirahat lagi jika suaminya menginginkan dirinya.


“Ma..malam ini biar Asyila yang melayani Mas,” ucap Asyila dan dengan malu-malu melepaskan pakaian suaminya..


Abraham tersenyum senang dan mengikuti langkah selanjutnya dari istri kecilnya.


“Asyila mencintai Mas Abraham selamanya,” bisik Asyila dan menciumi bibir Abraham dengan cukup liar.


Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu oleh Abraham tercapai juga. Abraham sangat puas berkali-kali lipat dengan apa yang istri kecilnya lakukan. Sungguh malam yang sangat indah bagi Abraham dan Asyila.


“Selamat tidur, istriku,” ucap Abraham pada Asyila yang sudah terlelap karena kelelahan.


Leher putih Asyila kini dipenuhi tanda kepemilikan oleh Abraham. Tidak hanya leher Asyila saja, leher Abraham pun sama banyaknya dengan Asyila. Asyila benar-benar semangat melayani suaminya tercinta.


Abraham menyingkirkan dengan lembut beberapa helai rambut Asyila yang menutupi wajah polosnya. Dipandanginya wajah sang istri dengan begitu serius dan tak mengurangi tatapan cinta Abraham pada Asyila.


“Mas.. Ayo tidur,” tutur Asyila lirih dan menggerakkan kepalanya agar bisa tidur di dada bidang suaminya.


“Sebentar lagi, Mas ingin mendengar suara napas Asyila,” balas Abraham dan membiarkan Asyila kembali tidur.


Abraham membelai lembut punggung mulus Asyila yang tertutup oleh selimut. Sungguh Asyila wanita yang selalu membuat Abraham jatuh cinta berkali-kali dan dengan orang yang sama pula.


Terima kasih Ya Allah. Hamba tidak akan berhenti untuk terus mengucapkan terima kasih atas kebaikan Mu yang begitu luar biasanya indahnya.


Abraham 💖 Asyila

__ADS_1


__ADS_2