
Asyila menyuapi makanan untuk suaminya dengan sangat hati-hati dan Abraham pun bergantian menyuapi istri kecilnya.
“Kenapa malah menangis?” tanya Abraham ketika melihat air mata istri kecilnya menetes.
Asyila menggelengkan kepalanya dan segera menghapus air matanya.
“Asyila sangat senang, Mas. Akhirnya keinginan Asyila terwujud, Mas sekarang sudah sadar dan Asyila pun sudah bisa merasakan suapan dari Mas. Terima kasih suamiku,” ucap Asyila dan mencium kening suaminya.
Abraham melirik sekilas ke arah Arsyad dan Ashraf yang ternyata tengah sibuk melihat-lihat gambar matras karakter Spider-Man.
Abraham tersenyum dan mengarahkan pipinya ke arah istri kecilnya isyarat agar Sang istri segera menciumnya.
Asyila menghela napasnya sembarangan menaik turunkan pundaknya dan sekilas mencium pipi suaminya.
“Sebelahnya juga!” pinta Abraham.
“Dasar genit,” ledek Asyila setelah mencium pipi suaminya.
“Genit sama istri sendiri tidak dilarang, justru mendapat pahala apalagi kalau kita...”
“Sssuuut...” Asyila menutup mulut suaminya dengan tangannya, “Mas jangan bicara sembarangan, ada Arsyad dan Ashraf disini,” imbuh Asyila.
Abraham melepaskan tangan istri kecilnya dari mulutnya dan menciumi punggung tangan istri kecilnya berkali-kali.
Disaat yang bersamaan, Dokter pria datang bersama dengan satu perawat wanita yang ingin memeriksa kondisi Abraham.
“Selamat pagi menjelang siang, bagaimana keadaan Tuan Abraham sekarang?” tanya Sang Dokter.
Abraham pun mengatakan kondisi tubuhnya dengan sejujur-jujurnya dan Dokter itu pun mulai memeriksa kondisi Abraham.
Akan tetapi, sebelum memeriksa kondisi Abraham, Dokter itu meminta Asyila dan kedua bocah kecil itu untuk keluar dari ruangan.
Mau tak mau akhirnya Asyila mengiyakan dan mengajak kedua putra kecilnya untuk menunggu diluar.
“Sini sayang!” panggil Asyila kepada Arsyad dan juga Ashraf.
Arsyad dan Ashraf berlari kecil mengikuti langkah kaki Bunda mereka.
Diluar, Asyila dan kedua buah hatinya duduk di kursi tunggu sembari menunggu Dokter mengizinkan mereka masuk kembali ke ruangan Abraham.
__ADS_1
Arumi dan Herwan datang dengan membawa cemilan kedua cucu mereka dan ada beberapa roti untuk mengisi perut Asyila agar putri kesayangan mereka tidak lapar karena harus menemani Abraham.
“Kenapa kalian di luar?” tanya Arumi dan ikut duduk di kursi tepat di samping Asyila.
“Dokter sedang berada di dalam dan tengah memeriksa Mas Abraham, Ibu kenapa membeli cemilan sebanyak ini?” tanya Asyila sambil melirik ke arah kantong belanjaan Ibunya.
“Ini untuk Arsyad, Ashraf dan juga kamu sayang. Sekalian buat di rumah juga,” jawab Arumi.
Herwan pun diantara Arsyad dan juga Ashraf.
“Mau Kakek pangku?” tanya Herwan sambil bergantian menoleh ke arah Arsyad serta Ashraf.
Keduanya dengan kompak mengiyakan dan Herwan pun mengangkat tubuh cucunya secara bergantian ke atas pangkuannya.
Asyila mengeluarkan ponselnya dan segera memotret Ayah serta kedua buah hatinya.
“Cekrek! Cekrek!” Bunyi suara ponsel Asyila.
“Ibu juga mau!” seru Arumi dan Asyila kembali memotret kedua orangtuanya serta kedua buah hatinya tersayang.
Dokter dan perawat keluar dari ruangan Abraham. Asyila langsung mendekat dan menanyakan keadaan terbaru dari suaminya.
Sang dokter tersenyum ramah dan mengatakan bahwa kondisi Abraham sudah mulai membaik dan kemungkinan tidak lama lagi akan diperbolehkan untuk pulang. Tentu saja Asyila dan lainnya sangat senang, mereka mengucapkan syukur kepada Allah subhanahu wa ta'ala serta tim medis yang telah menangani Abraham Mahesa.
Asyila masuk dengan langkah terburu-buru dan menghampiri suaminya yang saat itu tengah tersenyum lebar ke arahnya.
“Mas...” Asyila menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca, kemudian ia mencium punggung tangan suaminya dengan cukup lama.
Arumi dan Herwan bernapas lega karena menantu idaman mereka sebentar lagi akan diperbolehkan pulang.
“Mas, Dokter mengatakan bahwa tidak lama lagi Mas akan pulang ke rumah. Di rumah, Asyila janji akan lebih memperhatikan Mas dan akan lebih merawat Mas dengan sangat baik,” ucap Asyila bersungguh-sungguh.
Abraham dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Mas tidak ingin Asyila seperti itu, rawatlah Mas sewajarnya. Kalau Asyila memperhatikan dan merawat Mas lebih giat lagi, tentu saja itu akan membuat suamimu ini merasa bersalah. Lagipula, Mas menikahi Asyila bukan untuk membuat Asyila kerepotan,” tegas Abraham yang tidak ingin menjadi beban bagi istri kecilnya, “Dari dulu sampai sekarang, Asyila telah memperlakukan Mas dengan sangat baik. Jadi, tolong jangan mengatakan hal seperti tadi yang terdengar seakan-akan Asyila tidak percaya diri dalam menjalani kewajiban seorang istri,” imbuh Abraham.
Arumi dan Herwan terperangah mendengar apa yang dikatakan oleh menantu idaman mereka. Dari perkataannya saja, sudah menunjukkan bahwa Abraham memang sangat mencintai putri tunggal kesayangan mereka.
“Asyila sangat beruntung memiliki suami seperti Nak Abraham,” ucap Arumi lirih.
“Tidak hanya Asyila, kita pun sangat beruntung memiliki menantu seperti Nak Abraham,” sahut Herwan.
__ADS_1
Asyila menatap serius wajah suaminya dan perlahan mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
“Sekarang jangan lagi menangis, Suamimu ini ingin terus melihat senyum istrinya yang sangat cantik,” ucap Abraham sambil menyentuh pipi istri kecilnya.
Abraham mengernyitkan keningnya dan menoleh ke arah samping untuk melihat kedua putra kecilnya. Akan tetapi, Abraham terkejut dan seketika itu juga Asyila serta kedua orangtuanya menoleh ke arah dimana Abraham memfokuskan pandangannya.
“Masya Allah,” ucap Asyila melihat kedua putra kecilnya telah tertidur di tempat tidur yang biasa Asyila gunakan.
Arumi dan Herwan tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca, pemandangan yang sangat mengharukan.
“Anak-anak kita sangat menggemaskan, akan lebih gemas lagi jika kita bayi lagi,” ucap Abraham dan hanya didengar oleh Asyila.
Wajah Asyila merah merona mendengar ucapan suaminya yang lagi-lagi membahas soal bayi.
“Ingat, Mas lagi sakit dan soal baby kita pikirkan kalau Mas sudah sembuh,” ucap Asyila yang juga berbicara lirih agar tak di dengar oleh kedua orangtuanya.
Arumi dan Herwan tidak ingin mengganggu sepasang suami istri tersebut. Merekapun memilih untuk keluar dari ruangan dan mencari udara segar sembari berbincang-bincang.
Setelah kedua orang tua Asyila pergi meninggalkan ruangan, Asyila pun mencium bibir suaminya dengan cukup lama.
“Cepatlah sembuh suamiku,” ucap Asyila yang terlihat gugup.
Abraham tertawa kecil sambil menyentuh bibirnya yang baru saja dicium oleh istri kecilnya.
Hal yang paling membuat Abraham senang adalah melihat wajah malu-malu sang istri.
“Lagi!” pinta Abraham.
Asyila menggelengkan kepalanya dan mencubit bibir suaminya.
“Tadi sudah, kalau mau banyak tunggu Mas Abraham pulang ke rumah,” jawab Asyila sambil mengangkat kedua alisnya.
“Kalau begitu, kita pulang hari ini!” seru Abraham dengan sangat santainya.
“Mas jangan bercanda, kondisi Mas sekarang masih sangat lemah,” ucap Asyila dan akhirnya mencium kembali bibir suaminya agar suaminya itu tidak berpikiran cepat-cepat pulang.
Abraham mengucapkan terima kasih sembari mengedipkan sebelah matanya ke arah istri kecilnya.
“Genit,” celetuk Asyila.
__ADS_1
“Biarin, lagipula dengan istri sendiri,” balas Abraham dan membuat Asyila tidak bisa membalas ucapan suaminya.
Abraham ❤️ Asyila