Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Keseriusan Ashraf Dalam Belajar


__ADS_3

Ashraf mengangkat kedua alisnya dan berlari secepat mungkin untuk segera sampai di ruang makan.


Abraham tertawa sembari geleng-geleng kepala melihat reaksi Ashraf.


“Paman, ayo cepat duduk! Dyah sudah tidak tahan ingin menikmati cumi-cumi bumbu balado yang dimasak oleh Aunty,” ujar Dyah agar Pamannya segera duduk di kursi.


Abraham mengiyakan dan mendaratkan bokongnya di kursi yang biasa ia duduki tepat di samping Sang istri tercinta.


“Terima kasih, Mas. Sudah mau membantu Asyila,” tutur Asyila dengan tersenyum manis ke arah suaminya.


“Syila juga harus berterima kasih kepada Ashraf,” balas Abraham melirik ke arah Ashraf.


Asyila mengangguk kecil dan menoleh ke arah Ashraf yang tengah tersenyum malu-malu.


“Terima kasih ya sayang,” ucap Asyila sembari membelai lembut rambut Ashraf.


Ashraf mengangguk kecil dengan malu-malu mendengar ucapan terima kasih dari Bundanya.


“Paman, ayo pimpin Do'a Dyah tidak sabar lagi,” tutur Dyah dengan memasang wajah memelas.


Abraham geleng-geleng kepala melihat tingkah laku keponakannya.


“Ashraf sayang, tolong pimpin Do'a sebelum makan!” pinta Abraham.


“Baik, Ayah,” jawab Ashraf dan mengangkat kedua tangannya sembari membaca do'a sebelum makan bersama-sama.


Beberapa menit kemudian.


Ashraf yang telah selesai sarapan, memutuskan untuk belajar karena dalam beberapa hari lagi dirinya akan mengikuti tes untuk sekolah di pondok pesantren yang sama dengan Sang kakak, Arsyad.


Ashraf berlari masuk ke dalam kamarnya dan mencari buku belajar milik Arsyad yang kebetulan masih tersimpan dengan baik di dalam sebuah almari kecil yang di dalamnya banyak sekali kumpulan buku mengenai agama Islam.


Ashraf senang ketika ia menemukan buku yang dulu sering dibaca oleh Kakaknya, Arsyad.


“Belajar disini saja, biar tidak berisik,” tutur Ashraf bermonolognya dan duduk di kursi meja belajar sembari membuka halaman pertama dari buku milik Sang Kakak, Arsyad Mahesa.


Asyila yang telah selesai mencuci piring, memutuskan untuk mengganti pakaiannya karena ia harus menyirami tanaman hias miliknya yang berada di halaman depan rumah.


Asyila berjalan masuk ke dalam dan melihat suaminya tengah mengenakan pakaian resmi.


“Mas, kenapa pakai pakaian resmi? Mas mau ke kantor?” tanya Asyila penasaran.


“Iya, Syila. Mas harus datang ke kantor untuk mengontrol beberapa karyawan baru,” terang Abraham yang tengah memilih dasi yang cocok untuknya.


“Itu tidak cocok, Mas Abraham. Warna biru tua garis-garis ini yang cocok daripada warna putih garis-garis,” terang Asyila dan membantu suaminya memakaikan dasi.


Abraham tersenyum melihat bagaimana Sang istri begitu perhatian padanya.


“Muacchhh!” Abraham mencium kening Asyila dengan penuh kelembutan.


Asyila mendongakkan padanya dan membalas ciuman lembut Abraham dengan senyum manisnya.


“Sudah selesai, Mas mau berangkat sekarang?” tanya Asyila pada suaminya.


“Mungkin 5 menit lagi,” jawab Abraham sembari tersenyum lebar.


“Karena masih ada waktu 5 menit, biarkan Asyila mengganti pakaian dulu,” tutur Asyila sembari membuka almari pakaiannya dan bergegas mengganti pakaiannya.


Asyila mengambil hijab yang senada dengan warna gamis yang ia kenakan.


“Cantik tidak, Mas?” tanya Asyila sembari memutar-mutar memperlihatkan gamis yang ia kenakan hasil jahitannya.


“Tentu saja istriku sangat cantik,” puji Abraham yang malah fokus dengan wajah cantik istri kecilnya.


“Mas, yang Asyila maksud itu gamis yang Asyila kenakan dan bukan wajah Asyila,” jelas Asyila sembari menahan kesal.


“Benarkah? Ya Allah, Mas benar-benar tidak fokus. Kecantikan Asyila membuat fokus Mas goyah,” ucap Abraham yang malah membuat Asyila geli mendengar ucapan dari suaminya.


“Mas, ini masih pagi. Jangan membuat Asyila ingin mencubit pipi Mas!” pinta Asyila yang sangat gemas dengan suaminya itu.

__ADS_1


“Syila ini ada-ada saja, kalaupun benar tentu saja Mas senang bisa dicubit oleh salah satu bidadari surga,” terang Abraham.


Asyila mendekat dan menyentuh bibir suaminya dengan jari telunjuknya.


“Mas, Asyila masih belum pantas jika disebut salah satu bidadari surga. Masih banyak kesalahan-kesalahan yang Asyila lakukan, baik yang disengaja maupun tidak. Sekarang Asyila sudah berpakaian lengkap, ayo keluar,” tutur Asyila panjang lebar dan melenggang keluar dari kamar mereka.


Abraham mengernyitkan keningnya mendengar penuturan istri kecilnya yang malah membuat Abraham penasaran mengapa istri kecilnya mengatakan hal yang begitu serius.


Setibanya di depan rumah, Asyila langsung menyalakan air kran dan perlahan menyirami tanaman hias miliknya agar nampak segar.


Abraham menghela napasnya yang terasa berat dan kembali masuk ke dalam untuk berpamitan dengan yang lain.


Asyila menyiram tanaman hias miliknya sembari melamunkan sesuatu.


Bagaimana aku bisa memberitahukan yang sebenarnya kepada Mas Abraham bahwa aku adalah wanita bercadar yang membuat Mas Abraham penasaran?


Aku takut, Mas Abraham marah dan kecewa terhadapku.


“Asyila!” panggil Abraham sembari berjalan mendekat ke arah Asyila yang tengah menyiram tanaman hias.


Asyila terkesiap dan seketika itu menoleh ke arah Abraham.


“Syilaaaa!” Abraham terkejut dengan apa yang dilakukan oleh istri kecilnya padanya.


“Massss!” teriak Asyila. “Haduh, maaf ya Mas. Asyila tidak sengaja,” ucap Asyila yang baru saja menyiram air pada suaminya.


Abraham tertawa kecil melihat celananya yang sudah basah.


“Ayo Mas kita ke kamar, Mas harus ganti celana,” tutur Asyila mengajak suaminya masuk ke dalam kamar sembari mematikan air kran agar tidak mengalir.


“Syila, sudah waktunya Mas berangkat. Syila tenang saja, bentar lagi celana Mas juga kering,” balas Abraham.


“Tapi, Mas....”


“Sudah, tidak apa-apa. Mas berangkat ya, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!”


“Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, maaf ya Mas!”


Abraham pun masuk ke dalam mobil dan perlahan mobil tersebut keluar dari halaman rumah sampai akhirnya tak terlihat lagi.


Asyila menghela napasnya dan menyalahkan dirinya sendiri yang malah banyak melamun.


“Aunty, ayo masuk ke dalam!” panggil Dyah.


“Iya Dyah, ada apa?” tanya Asyila.


“Adik Akbar tadi menangis dan sudah Dyah bawa keluar. Sekarang, adik Akbar sedang bersama Mas Fahmi di ruang keluarga,” terang Dyah.


“Rewel?” tanya Asyila sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


“Tidak, Aunty,” jawab Dyah.


Asyila pun tiba di ruang keluarga dan tak melihat batang hidung putra ke-duanya yaitu, Ashraf Mahesa.


“Dyah, Ashraf kemana?” tanya Asyila pada Dyah.


“Dyah juga tidak tahu, Aunty. Di kamar Aunty juga Ashraf tidak ada,” jawab Dyah.


“Kamu tolong jaga Akbar dulu, Aunty mau mencari Ashraf. Tidak biasanya dia menghilang begini,” ujar Asyila dan melenggang pergi mencari Ashraf.


Asyila lebih dulu mencari Ashraf di dalam kamar yang menjadi milik Arsyad dan juga Ashraf.


Asyila mengernyitkan keningnya ketika samar-samar ia mendengar suara Ashraf di dalam kamar. Perlahan, Asyila membuka kamar putra kecilnya dan ternyata Ashraf saat itu tengah belajar.


“Masya Allah,” ucap Asyila lirih ketika melihat Ashraf yang tengah belajar seorang diri.


Ashraf tak mengetahui bahwa Bundanya tengah memperhatikan dirinya. Saat itu ia tengah serius dan bersungguh-sungguh untuk bisa hafal isi di dalam buku milik Sang kakak, Arsyad.


Jadi, Ashraf dari tadi disini. Sepertinya Ashraf berkeinginan besar sekolah di pondok pesantren. Ya Allah, semoga keinginan Ashraf bisa terwujud.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian.


Ashraf keluar dari kamarnya untuk mencari makanan yang bisa ia makan. Belajar dengan bersungguh-sungguh ternyata membuat perutnya lapar.


“Bunda sedang membuat apa?” tanya Ashraf pada Bunda kesayangannya itu.


“Sedang buat salad buah,” jawab Asyila.


Sebenarnya, Asyila sengaja membuat salad buah untuk Ashraf yang tengah belajar. Akan tetapi, salad buah belum selesai Ashraf ternyata sudah turun untuk mencari makanan.


“Bunda, Ashraf mau salad buah. Tapi, di bawa ke kamar ya Bunda!” pinta Ashraf.


“Ashraf dari tadi di dalam kamar, memangnya Ashraf sedang ngapain?” tanya Asyila penasaran.


“Belajar, Bunda. Sebentar lagi Ashraf ikut tes, jadi Ashraf harus banyak belajar biar lulus tes dan bisa sekolah di pondok pesantren yang sama dengan Kak Arsyad,” ungkap Ashraf.


Asyila tersenyum lebar dan mengangkat kedua tangannya ke atas dengan penuh semangat.


“Semangat ya sayang, Bunda yakin Ashraf bisa lulus tes,” ujar Asyila dengan penuh semangat.


“Terima kasih, Bunda,” balas Ashraf tersenyum malu-malu.


Asyila kembali fokus dengan buah-buahan dihadapannya yang sudah ia potong kecil-kecil untuk Ashraf terlebih dahulu.


Sekitar 5 menit kemudian, salad buah pun siap untuk diberikan kepada Ashraf.


“Ini sayang, salad buah untuk Ashraf!” Asyila memberikan semangkuk salad buah kepada Ashraf.


“Wah... Terima kasih, Bunda. Ashraf naik ke atas dulu ya mau belajar lagi,” tutur Ashraf dan melenggang pergi meninggalkan dapur dengan membawa semangkuk salad buah.


Asyila menyentuh dadanya dan berharap apa yang dicita-citakan oleh Arsyad, Ashraf maupun Akbar akan terwujud dikemudian hari.


“Aunty!” Dyah berjalan mendekat ke arah Asyila.


“Wah.. buah-buahan sebanyak ini untuk apa, Aunty?” tanya Dyah.


“Oh, ini! Hhmm.. untuk membuat salad buah, kamu mau?” tanya Asyila.


“Ya ampun, Aunty. Tentu saja Dyah mau!” seru Dyah.


“Kalau begitu, bantu Aunty memotong buah-buahan ini dan boleh Aunty minta tolong?” tanya Asyila.


“Boleh, memangnya minta tolong apa Aunty?” tanya Dyah penasaran.


“Begini, kalau salad buahnya sudah jadi, Dyah tolong antar salad buah ini ke rumah samping,” terang Dyah.


“Baiklah, Aunty!” seru Dyah dan dengan semangat memotong buah-buahan segar yang sebelumnya sudah dicuci bersih oleh Asyila.


Asyila berjalan menuju kulkas dan mengeluarkan buah anggur serta jeruk agar salad buah buatannya dan Dyah semakin banyak.


“Aunty, Ashraf memangnya kemana? Dari tadi Dyah tidak melihat adik Ashraf,” ujar Dyah sembari memotong buah apel.


“Itu Ashraf ada di kamarnya, sedang belajar. Agar bisa lulus tes masuk ke pondok pesantren,” jawab Asyila.


“Wah... Ashraf sepertinya memang ingin sekolah di pondok pesantren, itu artinya adik Akbar akan sendirian. Aunty tidak mau nambah lagi?” tanya Dyah dengan tersenyum lebar hingga kedua matanya menyipit sempurna.


“Hussss... Kamu ini kalau bicara tidak di rem, kalau di dengar Pamanmu bisa bahaya. Lagipula, adikmu Akbar, masih terlalu kecil. Akan tetapi, ada kemungkinan untuk menambah lagi,” jelas Asyila.


Dyah tertawa kecil mendengar penjelasan dari Aunty-nya.


“Pasti seru punya adik banyak,” ujar Dyah.


Asyila geleng-geleng kepala dan memilih untuk memarut keju untuk campuran salad buah.


Arumi menghampiri Asyila dan juga Dyah yang tengah sibuk di dapur.


“Sedang membuat apa ini? Kenapa buah-buahan nya dipotong menjadi kecil-kecil?” tanya Arumi penasaran.


“Oh, ini Nek mau kami buat menjadi salad buah,” jawab Dyah.

__ADS_1


“Hmm... Sepertinya segar, Nenek juga sudah lama tidak makan salad buah,” sahut Arumi dan mendaratkan bokongnya di kursi tepat di samping Dyah.


__ADS_2