
Asyila mendapat kabar dari Abraham bahwa Sang Ayah sudah tersadar dari koma. Tentu saja itu adalah kabar gembira bagi Asyila dan yang lainnya, mereka tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih atas mukjizat yang Allah berikan kepada keluarga mereka khususnya Herwan.
Tidak hanya itu, para sahabat Abraham pun ikut bahagia dan mereka berbondong-bondong datang ke rumah sakit untuk menjenguk Ayah mertua dari seorang Abraham Mahesa.
“Sayang, sudah siap belum?” tanya Asyila kepada kedua putra kecilnya.
“Sudah Bunda,” balas Arsyad.
“Sudah juga Bunda!” seru Ashraf yang sangat bersemangat untuk bertemu dengan Kakeknya. Herwan.
Dyah masih sibuk dengan hijabnya, ia ingin terlihat cantik dihadapan semua orang.
“Sudah siap, Dyah?” tanya Asyila memastikan.
“Sebentar lagi ya Aunty, ini hijabnya sedikit berantakan,” jawab Dyah dan berhati-hati memperbaiki hijabnya.
Setelah selesai merapikan hijabnya, Dyah bergegas membawa koper besar milik Pamannya yang berisi pakaian mereka.
Pagi itu mereka akan check out hotel. Asyila, kedua putra kecilnya dan juga Dyah sangat tidak sabar untuk segera pergi ke rumah sakit.
“Ayo semuanya!” Asyila menggandeng tangan kedua putra kecilnya dengan menggendong tas ransel yang berisi peralatan tempurnya.
Usai melakukan pembayaran, Asyila dan lainnya menunggu diluar hotel. Tak butuh waktu lama, Pak Udin datang menjemput mereka.
“Pak Udin tolong bawa mereka ke rumah sakit, saya akan pergi dengan menggunakan motor,” ucap Asyila.
Arsyad dan Ashraf kompak menggelengkan kepala mereka. Mereka tidak ingin naik mobil tanpa ditemani oleh Asyila.
“Arsyad, Ashraf. Kalian naik mobil ya! Kita akan bertemu lagi di rumah sakit, tolong dengarkan apa yang Bunda katakan.”
“Baik, Bunda,” balas Arsyad dan Ashraf kompak.
Asyila melambaikan tangan pada Arsyad dan Ashraf yang sudah berada di dalam mobil. Perlahan mobil itu meninggalkan Asyila yang masih terus memperhatikan kedua putra kecilnya.
“Nona Asyila, bukan?” Seorang wanita mendekat ke arah Asyila untuk memastikan bahwa apa yang ia lihat adalah benar.
Asyila mengangguk kecil dan tersenyum tipis ke arah wanita yang baru saja menyebutkan namanya.
“Mbak kenal saya?” tanya Asyila yang merasa tidak mengenali wanita disampingnya itu.
“Tentu saja, beberapa tahun yang lalu Nona Asyila menyelamatkan saya,” jawabnya yang terlihat sangat senang karena wanita muda yang berdiri disampingnya benarlah Asyila. Wanita muda beberapa tahun yang lalu menyelamatkan saya.
__ADS_1
Asyila sama sekali tidak ingat, dia bukan hanya menyelematkan satu orang saja, bahkan banyak orang yang sudah ia selamatkan. Akan tetapi, untuk wanita satu ini Asyila sama sekali tak mengingatnya.
“Dulu saya pernah mengalami kecelakaan dan Nona Asyila lah yang membantu saya. Kejadiannya sekitar 2 tahun yang lalu, di kota Bandung. Apakah Nona Asyila bisa mengingatnya?”
Asyila samar-samar mengingat kejadian dua tahun yang lalu, tak butuh waktu lama akhirnya Asyila mengingatnya.
“Mbak yang dulu kecelakaan motor itu? Yang kalau tidak salah membawa keponakan Mbak?” tanya Asyila.
“Alhamdulillah, akhirnya Nona Asyila mengingat juga. Bolehkah saya meminta nomor ponsel Nona Asyila? Kalau Nona Asyila ada waktu luang saya ingin mengajak Nona Asyila minum teh.”
Asyila menyetujuinya dan memberikan nomor ponselnya.
“Oya, maaf saya sampai lupa. Perkenalkan nama saya Dora,” ucap Dora memperkenalkan dirinya.
“Asyila, panggil saya Asyila dan Mbak Dora tidak perlu memakai embel-embel Nona,” balas Asyila.
“Bisakah kita menjadi teman?” tanya Dora yang ingin sekali menjadi teman Asyila.
“Boleh,” jawab Asyila dengan senyum manisnya.
Setelah mendengar persetujuan Asyila, Dora bergegas pamit. Ia masuk ke dalam mobil berwarna putih dan sepertinya pria yang menjemputnya adalah suami dari Dora.
Asyila sedikit heran melihat penampilan Dora yang lumayan berani dalam berpakaian terbuka. Sangat berbeda jauh dengan saat Dora mengalami kecelakaan, akan tetapi Asyila tidak mau ambil pusing. Ia pun bergegas menuju rumah sakit untuk segera bertemu dengan Sang Ayah tersayang.
Tanpa pikir panjang, Asyila mempercepat laju motornya dan menghentikan pria tersebut dengan motor.
“Minggir kamu!” Pria itu cepat-cepat berlari menjauhi orang-orang yang mengejar dirinya.
Asyila tak menyerah begitu saja, ia kembali mengendarai motor dan berusaha menghentikan pria itu.
“Berhenti!” Asyila terpaksa menabrak tubuh pria tersebut hingga pria yang menjambret tas itu tersungkur.
Asyila menghentikan motornya dan menangkap pria itu dengan kedua tangannya. Untungnya, Asyila sudah mengenakan sarung tangan sehingga ia tidak bersentuhan secara langsung dengan pria tersebut.
Orang-orang datang dan langsung memukuli penjabret tas itu. Akan tetapi, Asyila segera menghentikan perbuatan yang main hakim sendiri dan meminta mereka untuk mengantarkan si penjabret itu ke kantor polisi terdekat.
Pujian demi pujian terlontar dari mulut mereka, mereka sangat kagum dengan Asyila yang begitu berani.
“Ini tas Mbak ya! Lain kali hati-hati ya Mbak, apalagi disekitar pasar seperti ini,” ucap Asyila mengingatkan wanita yang hampir saja menjadi korban penjabretan.
“Ya Allah, terima kasih atas bantuan Mbak. Saya mengucapkan beribu-ribu terima kasih karena Mbak sudah menyelamatkan harta saya,” ucap wanita yang mengenakan pakaian gamis berwarna hitam dan hijab yang senada dengan warna gamisnya.
__ADS_1
Beberapa orang pun masih mengerumuni Asyila karena ingin melihat secara dekat wajah cantik Asyila. Bahkan, beberapa dari mereka memotret wajah Asyila menggunakan ponsel mereka.
“Maaf semuanya, saya harus pergi sekarang,” ucap Asyila dan bergegas menaiki motor.
Asyila mengendarai motor dengan kecepatan sedang dan berharap Arsyad maupun Ashraf tidak ngambek karena keterlambatannya.
Rumah Sakit.
Asyila berlari kecil menuju ruangan Sang Ayah, dari kejauhan tampak Ema dengan keluarga kecilnya.
“Asyila!” Ema berlari kecil menghampiri sahabatnya dan memeluk tubuh Asyila, “Maaf Asyila, Aku baru datang sekarang. Tolong maafkan aku,” imbuh Ema.
“Kamu ini seperti siapa saja, Aku tahu kamu pasti sangat sibuk. Maaf karena Aku tidak memberitahukan mu masalah Ayahku sakit,” ucap Asyila yang memang sengaja tidak memberitahukan masalah yang sedang dihadapi oleh Asyila dan keluarganya.
“Sebenarnya Aku tahu Ayahmu sakit dua hari yang lalu dari Pak Udin. Tapi, aku baru bisa datang sekarang karena kemarin Ibu mertuaku sempat sakit dan sekarang sedang berada di rumah bersama Mami,” terang Ema.
“Ayo masuk!” ajak Yogi yang juga tidak sabar untuk bertemu dengan sahabatnya, Abraham.
Merekapun masuk ke dalam dan cukup banyak orang yang berada di ruangan Herwan.
Melihat sahabatnya datang, Abraham langsung menyambutnya dan mempersilakan mereka untuk duduk bergabung dengan yang lainnya.
Arsyad dan Ashraf yang awalnya duduk tenang di dekat Dyah, langsung berdiri dan berjalan menghampiri Bunda mereka.
“Bunda kenapa lama sekali?” tanya Arsyad.
“Iya sayang, maafkan Bunda ya. Tadi dijalan sedikit macet jadi Bunda telat,” jawab Asyila terpaksa berbohong.
“Ibu, bagaimana keadaan Ayah?” tanya Asyila sambil melirik kearah Sang Ayah yang sedang berbaring dengan mata terpejam.
“Alhamdulillah, Ayahmu baik-baik saja. Hanya saja, untuk beberapa hari ke depan harus banyak istirahat agar bisa segera pulang ke rumah,” jelas Arumi.
“Selamat pagi Ibu Arumi!” sapa Ema sambil menyerahkan parsel buah.
“Terima kasih, Nak Ema. Oya, Ibu Icha kemana?” tanya Arumi.
“Mami kebetulan tidak datang karena harus menemani Ibu mertua. Tapi, Mami tadi sudah menitip salam untuk Ibu Arumi,” balas Ema.
Satu persatu sahabat Abraham meninggalkan ruangan itu, termasuk Dayat dan juga Edi. Mereka harus kembali ke kantor polisi untuk melaksanakan kembali tugas mereka.
Abraham 💖 Asyila
__ADS_1
Mohon beri like 💖 komen 👇