
Setelah mengambil air wudhu, keduanya pun melaksanakan sholat sunah dua raka'at.
Abraham menjadi imam sholat dan Asyila menjadi makmum.
Usai melaksanakan sholat sunah dua raka'at, kedua bergegas menuju tempat tidur. Akan tetapi, saat mereka akan memadu kasih bayi mungil mereka tiba-tiba terbangun dan merengek seketika itu juga.
“Huffftt...” Abraham menghembuskan nafasnya yang terasa berat.
“Maaf ya Mas,” tutur Asyila yang tengah menyusui bayi mungil mereka.
“Sudah, tidak apa-apa. Mas memakluminya,” jawab Abraham yang sedikit kecewa dan berharap bisa kembali melanjutkan apa yang seharusnya ia lakukan bersama istri kecilnya.
Abraham menoleh ke arah jam yang ternyata sudah hampir tengah malam, ia akhirnya mengurungkan niatnya dan barangkali ada hari besok untuk bisa memadu cinta dan kasih di tempat tidur bersama istri kecilnya.
“Syila, malam ini kita tidur saja ya,” tutur Abraham sedikit kecewa.
Asyila mengernyitkan keningnya dan seketika itu menoleh ke arah suaminya.
“Mas marah ya sama Asyila?” tanya Asyila dengan tatapan sedih.
“Tidak sama sekali, kenapa Asyila berpikiran seperti itu. Lihatlah ini hampir mendekati tengah malam, lagipula besok malah juga bisa. Mas tidur duluan ya,” ucap Abraham.
Asyila akhirnya mengiyakan, meskipun di dalam hatinya ia sedikit sedih karena tak jadi melayani suami tercintanya itu.
“Ayo tidur!” ajak Abraham dan memeluk tubuh istri kecilnya menyamping.
Asyila tersenyum dan mulai memejamkan matanya untuk segera tidur.
“Mas, Asyila sangat mencintai Mas Abraham,” tutur Asyila lirih.
“Tidak hanya Asyila, Mas juga bahkan lebih mencintai Asyila untuk selamanya,” balas Abraham dan mempererat dekapannya.
Asyila tersenyum manis dan akhirnya ia tertidur dengan sangat nyenyak karena pelukan dari suami tercintanya.
Keesokan paginya.
Asyila tertawa kecil ketika melihat Arsyad dan Ashraf sedang bermain monopoli di teras depan dengan begitu serius. Sementara dirinya, sedang menyirami tanaman hias milik almarhumah Nenek Erna, Nenek dari suaminya.
“Aunty, Bela bantu ya?” tanya Bela yang ingin membantu Asyila menyirami tanaman hias.
“Tidak usah, Bela. Lebih baik Bela main bersama Arsyad dan juga Ashraf,” balas Asyila.
Asyila kemudian melambaikan tangannya ke arah Arsyad dan meminta Arsyad untuk mengajak Bela bermain bersama.
Arsyad mengangguk setuju dan bergegas menghampiri Bela untu mengajak gadis kecil itu bermain.
“Ayo, Kak Bela. Kita bermain bersama!” ajak Arsyad.
Bela tersenyum lebar dan mengiyakan ajakan Arsyad yang mengajaknya bermain bersama.
Asyila kembali fokus dengan aktivitasnya yang tengah menyiram tanaman hias.
“Astaghfirullahaladzim, Mas kenapa sangat senang membuat Asyila terkejut?” tanya Asyila pada suaminya yang tiba-tiba muncul sembari menyentuh punggungnya.
“Mas sama sekali tak bermaksud membuat Asyila terkejut, Asyila saja yang banyak melamun. Ayo kasih tahu Mas, Asyila sedang memikirkan apa?” tanya Asyila penasaran.
“Tidak sedang memikirkan apa-apa, Mas. Oya, Mas rapi begini mau kemana?” tanya Asyila penasaran.
“Mau ke bengkel bersama dengan Pak Udin,” jawab Abraham.
“Ke bengkel? Mau ngapain Mas?” tanya Asyila semakin penasaran.
“Syila lupa ya, kalau mobil Mas bagian kanan telah penyok. Oleh karena itu, Mas harus ke bengkel untuk memperbaiki mobil,” terang Abraham.
“Hanya berdua saja?” tanya Asyila.
Ashraf yang tak sengaja mendengar percakapan Ayah serta Bundanya dengan semangat meminta Ayahnya untuk mengajak dirinya ikut ke bengkel.
“Ayah, Ashraf ikut ya!” pinta Ashraf.
Abraham seketika itu menoleh dan sedikit membungkuk.
“Sayang, lebih baik Ashraf di rumah ya. Kalau Ashraf ikut ke bengkel, yang ada Ashraf malah bosan,” balas Abraham yang menolak keikutsertaan buah hatinya secara pelan-pelan.
“Tidak mau. Pokoknya Ashraf harus ikut, kalau tidak Ashraf menangis seharian,” tegasnya.
“Ashraf yakin mau ikut? Kemungkinan agak lama di bengkel, jangan merengek minta pulang ya!” pinta Abraham.
“Siap, Ayah!” seru Ashraf yang sangat senang akhirnya Ayahnya mengizinkannya untuk ikut ke bengkel.
Abraham menggerakkan tangannya memberi isyarat agar Arsyad datang mendekat.
Arsyad yang tengah bermain monopoli bersama Bela, seketika itu berlari kecil menghampiri Ayahnya.
“Iya Ayah,” sahut Arsyad yang sudah berada dihadapan Ayahnya, Abraham.
“Arsyad sayang, Ayah dan adik Ashraf mau ke bengkel. Arsyad mau ikut, tidak?” tanya Abraham.
Tanpa berpikir, Arsyad langsung menolak, “Arsyad di rumah saja Ayah,” jawab Arsyad.
__ADS_1
“Loh, Arsyad kenapa tidak mau ikut?” tanya Abraham terheran-heran.
“Arsyad mau di rumah saja, Ayah. Sebentar lagi Arsyad dan Kak Bela mau belajar,” jawabnya.
Abraham tersentuh dengan jawaban bijak dari putra sulungnya.
“Iya sayang, belajar yang pintar ya Nak. Ayah tahu kalau Arsyad bisa.”
“Terima kasih, Ayah. Arsyad main lagi ya Ayah sama Kak Bela,” tutur Arsyad dan berlari kecil untuk melanjutkan permainan monopoli bersama Bela.
Abraham menoleh ke arah istri kecilnya dengan memberikan senyum terbaiknya, begitu juga dengan Asyila yang membalas senyuman suaminya.
“Tuan Abraham, mari berangkat!” ajak Pak Udin.
“Syila, Mas berangkat dulu ya ke bengkel. Tenang saja, bengkel tak jauh dari sini hanya sekitar 5 menit kalau mengendarai mobil, kami pergi dulu. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!”
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Asyila dan mencium punggung tangan suaminya.
Ashraf pun mencium punggung tangan Bundanya sebelum ia benar-benar pergi bersama Ayahnya ke bengkel.
“Hati-hati!” Asyila dengan penuh cinta melambaikan tangan pada suami serta putra kedua mereka.
Mobil tersebut perlahan meninggalkan area rumah sampai akhirnya tak terlihat lagi.
Asyila yang sudah selesai menyirami tanaman hias, memutuskan untuk segera masuk ke dalam rumah dan beres-beres kamar. Sekaligus, mencari pakaian yang kotor untuk dicuci.
“Asyila sayang!” panggil Arumi pada Asyila yang akan masuk ke kamar.
Asyila mengurungkan niatnya masuk ke kamar dan segera mendekat ke arah Ibunya, Arumi.
“Iya, Ibu!” seru Asyila, “Ibu mau pergi kemana berpakaian rapi seperti ini?” tanya Asyila pada Ibunya.
“Iya sayang, Ibu dan Ayah mau pulang ke rumah kita. Sebelum Ashraf, kami akan kembali kesini,” terang Arumi.
“Mau bersih-bersih rumah ya Ibu?” tanya Asyila.
“Iya sayang, Asyila tahu sendiri Ibu dan Ayah sudah lama tinggal disini. Kami juga harus melihat rumah kita,” balas Arumi.
“Ayah dan Ibu mau naik apa? Mobil yang satunya, 'kan dibawa oleh Pak Eko,” tutur Asyila.
“Asyila sayang, bukankah di garasi masih ada motor, kami bisa menggunakan motor itu,” ujar Arumi dengan senyum manisnya.
“Hehe.. hehe... Iya ya, Ibu. Asyila hampir lupa,” ucap Asyila.
Herwan datang menghampiri putri kesayangannya dengan maksud untuk segera pamit ke rumah mereka.
“Kami pulang dulu ya Nak,” ucap Herwan.
“Hati-hati ya Ayah, Ibu. Kalau sudah sampai rumah, tolong hubungi Asyila secepat mungkin!” pinta Asyila.
“Tenang saja, Asyila sayang. Kami akan menghubungi kamu ketika telah tiba di rumah,” sahut Arumi.
Asyila berjalan ke arah teras depan untuk mengantarkan Ayah serta Ibunya untuk kembali ke rumah mereka.
“Nenek dan Kakek mau kemana?” tanya Arsyad dengan tatapan terkejut.
“Arsyad cucu Nenek, kami ingin pulang ke rumah. Arsyad diam di rumah ya, jaga Bunda dan juga Kak Bela!”
“Arsyad mau ikut, Nek,” sahut Arsyad yang memang sudah sangat lama tidak mengunjungi rumah dari Bundanya tercinta.
“Lain kali ya Arsyad sayang, soalnya Kakek dan Nenek pulang menggunakan motor bukan mobil,” ujar Arumi.
Arsyad hanya bisa mengiyakan, meskipun sebenarnya ia ingin ikut pergi ke rumah keluarga Bundanya, Asyila.
“Kami pergi dulu ya, Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!” Arumi dan Herwan pun berjalan menuju garasi.
Arsyad melambaikan tangannya begitu juga dengan Asyila dan juga Bela.
Sampai akhirnya, keduanya pun benar-benar meninggalkan area rumah tersebut.
“Di rumah hanya kita bertiga saja, Bunda,” ujar Arsyad.
“Kok bertiga sayang? Kan, ada adik bayi di kamar,” ujar Asyila.
“Oh, iya ya. Arsyad hampir saja lupa,” tutur Arsyad.
Asyila tertawa kecil sembari membelai lembut rambut putra sulungnya.
“Kak Bela! Ayo belajar bersama, mainnya nanti lagi. Ayo Kak!” ajak Arsyad.
Bela mengiyakan dan terlebih dahulu membereskan main monopoli mereka. Kemudian, mereka bersama-sama melenggang pergi menuju ruang keluarga untuk belajar bersama.
Asyila menghela napasnya dan kembali menuju kamarnya untuk mengumpulkan pakaian kotor agar segera dicuci.
“Kesayangan Bunda tercinta sudah bangun ya, Alhamdulillah kali ini tidak rewel. Bunda mau mencuci pakaian kotor dulu ya sayang, Akbar sayang di ruang keluarga dulu ya bersama Kak Arsyad dan juga Kak Bela,” terang Asyila panjang lebar.
Asyila menggendong buah hatinya keluar dari kamar dan membawanya ke ruang keluarga. Kemudian, meletakkan Bayi mungilnya di ranjang bayi.
“Bela dan Arsyad tolong jaga adik bayi dulu ya, kalau adik bayi rewel panggil saja Bunda di kamar mandi belakang. Bunda mau mencuci pakaian kotor!”
__ADS_1
“Baik, Aunty Asyila!” seru Bela.
“Siap, Bunda!” seru Arsyad.
Asyila merasa sedikit lega dan bergegas kembali ke kamarnya untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
“Ternyata lumayan juga ya,” tutur Asyila bermonolog ketika mengumpulkan pakaian miliknya, suami serta bayi mungilnya yang ternyata sangat banyak.
1 jam kemudian.
Asyila hanya tinggal menjemur pakaian di halaman belakang rumah, kebetulan cuaca hari itu cukup cerah dan Asyila berharap hujan tidak turun sebelum pakaiannya kering.
Satu-persatu Asyila menjemur pakaian tersebut, sampai akhirnya ia selesai menjemur pakaian yang sangat banyak tersebut.
“Bunda!” panggil Arsyad yang tiba-tiba muncul dan membuat Asyila terkejut.
“Astaghfirullahaladzim,” ucap Asyila sambil menyentuh jantungnya yang berdetak lebih cepat karena terkejut, “Ada apa sayang? Kenapa terlihat seperti ada hal yang darurat?” tanya Asyila terheran-heran.
“Bunda, Kak Dyah datang bersama Kak Fahmi, adik Asyila, Papa Temmy dan juga Mama Yeni,” terang Arsyad.
“Benarkah?” tanya Asyila dan seketika itu juga Asyila berjalan dengan terburu-buru untuk menyambut kedatangan keluarga Dyah.
Asyila melangkahkan kakinya dan ternyata mereka memang benar-benar datang.
“Ya Allah, kenapa datang tidak kabar-kabar?” tanya Asyila yang sangat terkejut sekaligus senang dengan kehadiran Dyah serta keluarganya.
Dyah berlari kecil dan seketika itu memeluk Aunty kesayangannya.
“Ya Allah, Dyah sangat kangen dengan Aunty. Aunty apa kabar?” tanya Dyah masih memeluk erat tubuh Asyila.
Mereka saling bersalaman satu sama lain, kemudian Asyila mempersilakan mereka untuk segera beristirahat. Dikarenakan, mereka semua tengah berpuasa. Kecuali, Dyah yang sedang datang bulan.
“Aunty! Paman, Ashraf, Kakek Herwan dan Nenek Arumi mana? Kenapa tidak terlihat dari tadi?” tanya Dyah penasaran.
“Pamanmu dan Ashraf saat ini masih di bengkel. Sementara Kakek dan Nenek sedang pulang ke rumah untuk bersih-bersih rumah,” terang Asyila.
“Papa dan Mama istirahatlah dulu, Dyah masih ingin mengobrol dengan Aunty,” tutur Dyah pada kedua orangtuanya.
Temmy dan Yeni pun beranjak dari duduk mereka. Kemudian, mereka berdua bergegas menuju kamar yang biasa mereka tempati.
“Aunty, saya juga mau ke kamar,” ucap Fahmi yang saat itu tengah menggendong Bayinya yang berumur 6 bulan.
“Iya, Fahmi,” balas Asyila.
Fahmi pun bergegas pergi menuju kamar untuk beristirahat dengan putri kecilnya.
“Kalian berangkat jam berapa memangnya? Baru jam segini kalian sudah sampai,” tutur Asyila.
“Sebelum sholat subuh, Aunty. Ya mau bagaimana lagi, habisnya Jakarta sampai sekarang sering sekali banjir,” sahut Dyah.
“Iya begitulah, bahkan semalam ada insiden tak terduga yang dialami oleh Pamanmu. Untungnya tidak apa-apa, hanya mobil bagian kanan mengalami penyok,” terang Asyila.
“Astaghfirullahaladzim, untung saja Paman Dyah tidak apa-apa. Oya, adik Akbar dimana Aunty?” tanya Dyah yang sangat rindu dengan bayi mungil dari pasangan Abraham dan Asyila.
“Ada dikamar, kamu mau lihat?” tanya Asyila.
Dengan semangat Dyah mengiyakan dan Asyila pun mengajak Dyah untuk melihat bayi mungilnya di kamar.
“Assalamu’alaikum adik bayi,” ucap Dyah dengan menirukan suara anak kecil.
“Wa’alaikumsalam, Kak Dyah,” jawab Asyila yang juga menirukan suara anak kecil.
“Aunty, boleh Dyah gendong adik Akbar?” tanya Dyah yang sangat ingin menggendong Adiknya itu.
“Boleh, silakan!” seru Asyila yang memperbolehkan Dyah menggendong bayi mungilnya.
Dyah dengan hati-hati menggendong bayi mungil tersebut.
“Hallo adik Akbar! Sebentar lagi kamu sudah bisa tengkurap sama seperti Kak Asyila,” terangnya yang mengajak bayi mungil itu berbicara.
“Dyah, kamu puasa?” tanya Asyila.
Dyah menoleh ke arah Aunty-nya dan menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu tunggu sebentar, Aunty akan membawa makanan ke kamar agar kamu bisa makan!”
“Ya ampun, Aunty Asyila memang yang terbaik. Terima kasih, Aunty kesayangan!”
Asyila yang sudah berada di dapur, dengan cepat mengambil roti tawar dan mengoleskan roti tawar tersebut dengan berbagai rasa, seperti sela strawberry, selai cokelat, selai nanas dan juga selai kacang. Setelah semuanya sudah diolesi rata, Asyila pun bergegas pergi menuju kamarnya dan memberikan roti tersebut kepada Dyah.
“Ini makan dan minumlah, tidak perlu sungkan dengan Aunty,” tutur Asyila sambil memberikan nampak yang berisi secangkir air minum dan roti yang sudah ia olesi berbagai rasa selai.
Dyah mengucapkan terima kasih dan menikmati makanan tersebut di sofa. Sementara Asyila, menggendong bayi mungilnya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Dyah yang tengah asik mengunyah.
Dyah sangat senang memiliki Aunty yang begitu perhatian, sedari dulu Aunty itu tak pernah berubah sama sekali. Justru, Aunty semakin baik dan memperlakukannya seperti keponakannya sendiri.
Aunty Asyila memang sangat baik dan selalu baik. Tidak hanya Paman yang beruntung mendapatkan Aunty Asyila, aku pun sangat beruntung berkali-kali lipat.
Like ❤️
__ADS_1