
Bandung.
Hubungan Dyah dan Fahmi semakin hari semakin dekat, rencana pernikahan pun sepertinya sudah ada di depan mata. Dyah merasa sangat bahagia karena akhirnya ia menemukan pria yang benar-benar mengerti serta memahami dirinya.
Ia tidak perlu menjadi wanita yang terlihat kalem ataupun wanita yang selalu jaga image, dikarenakan Fahmi adalah pria yang mencintainya apa adanya.
“Kalian berdua kenapa malah duduk di lantai? Ayo masuk! Mama telah menyiapkan sarapan untuk kalian!” ajak Yeni.
Keduanya pun terkesiap dan bergegas masuk ke dalam rumah. Disaat itu juga, Kevin baru saja tiba di depan rumah gadis yang ia cintai. Ketika ingin memasuki halaman rumah kedua orang Dyah, Kevin tiba-tiba menghentikan langkahnya. Pria muda itu yang awalnya sumringah langsung berubah kecut, ia tahu bahwa motor yang sedang terparkir tepat di depan teras rumah Dyah adalah motor saingannya.
“Apa aku harus mundur secepat ini?” tanya Kevin bermonolog dengan posisi bersandar di pagar rumah tersebut.
Diruang makan.
Mereka berempat tengah menikmati sarapan bersama, Fahmi sangat senang karena sekarang ia tidak perlu lagi menyembunyikan identitasnya sebagai calon suami dari gadis yang ia cintai.
Usai menikmati sarapan, Yeni meminta mereka untuk segera pergi menuju kantor, tempat dimana Dyah bekerja.
Keduanya pun pamit dan bergegas keluar rumah, ketika mereka baru saja keluar dari rumah rupanya ada Kevin yang tengah duduk di kursi teras.
“Kevin, kamu ngapain datang kemari?” tanya Dyah terkejut.
Kevin terkesiap dan dengan santainya ia memberikan sepucuk bunga mawar merah kepada Dyah.
“Kevin, kamu apa-apaan?” tanya Dyah dan melangkah menjauh ketika Kevin berjalan mendekat ke arahnya.
Temmy dan Yeni saling tukar pandang dengan terheran-heran.
“Papa dan Mama sebaiknya langsung berangkat kerja saja, urusan ini biar Fahmi yang menanganinya,” ucap Fahmi yang terlihat sangat bijak.
Orang tua Dyah akhirnya pergi, meninggalkan Dyah, Fahmi dan juga Kevin.
“Semoga saja tidak ada perang dunia ketiga diantara mereka,” ucap Yeni yang sudah berada di dalam mobil.
“Serahkan semuanya kepada calon menantu kita, Ma. Fahmi pasti bisa menyelesaikan masalah Kevin yang terus-menerus mengejar putri kita.”
“Kalau dilihat-lihat, ternyata Dyah pintar juga ya merebut hati cowok. Mama jadi iri dengan Dyah,” ucap Yeni tertawa ngakak.
“Astaghfirullahaladzim, sadar Ma. Mama sudah berumur setengah abad lebih, kenapa malah iri dengan putri sendiri?”
__ADS_1
“Iya deh, iya. Maaf,” balas Yeni sambil monyong-monyong.
Setelah orang tua Dyah pergi, Fahmi mengajak Dyah untuk duduk.
Dyah pun duduk dan dengan wajah tak senang, Kevin akhirnya ikut duduk.
“Apa yang membuatmu pagi-pagi seperti ini datang menemui Dyah?” tanya Fahmi penasaran.
Kevin mengernyitkan keningnya dan terlihat tak senang dengan pertanyaan Fahmi.
“Memangnya aku salah jika ingin menemui Dyah?” tanya Kevin mulai emosi.
Dyah terkesiap dan mengajak Fahmi untuk segera pergi mengantarkannya ke kantor. Gadis itu merasa akan terjadi sesuatu hal yang buruk jika keduanya saling berhadapan.
“Mas Fahmi, ayo kita pergi sekarang!” ajak Dyah sambil menarik jaket yang dikenakan oleh Fahmi.
Fahmi pun mengiyakan dan segera naik ke atas motor.
“Dan untuk kamu Kevin, tolong jangan datang lagi kemari. Aku tidak ingin calon suamiku salah paham,” terang Dyah dan berlalu begitu saja.
Deg!
Kevin tertegun dengan mata yang mulai memerah, ia benar-benar terkejut ketika mengetahui bahwa posisi Fahmi lebih unggul dari dirinya.
“Mencintai seseorang apakah harus sesakit ini?” tanya Kevin sambil menyentuh dadanya yang terasa sesak.
Bunga mawar yang sedang dipegangnya, ia jatuhkan begitu saja. Ia benar-benar patah hati, gadis yang ia cintai ternyata sudah memiliki calon suami.
“Ya Allah, apakah hamba benar-benar bukan jodoh Dyah? Apakah Engkau benar-benar tidak membuat nasib baik untukku?”
Ternyata benar, sekuat-kuatnya pria, ia akan menangis juga jika melibatkan perasaan. Untuk pertama kalinya, Kevin menyadari bahwa cinta tak bisa dipaksakan. Ia sudah berulang kali mencoba mendekati Dyah, akan tetapi nasib baik tak berpihak kepadanya.
Allah memiliki caranya sendiri untuk mempertemukan tulang rusuknya yang hilang.
Di perjalanan menuju kantor, Dyah terlihat sedang melamun. Gadis itu melamun memikirkan Kevin, ia takut jika Kevin membenci dirinya.
Sampai akhirnya, Fahmi menghentikan motornya karena sudah sampai di depan kantor Dyah.
Dyah masih saja melamun, hingga Fahmi menyadarkan lamunannya.
__ADS_1
“Kamu sedang melamun kan apa Dyah? Apakah Kevin yang tengah mengganggu pikiranmu?”
Dyah tak bisa berbohong, ia pun mengiyakan.
“Iya, Mas Fahmi. Kevin sudah Dyah anggap seperti sahabat sendiri, bagaimana jika Kevin membenci Dyah?” tanya Dyah sedih.
“Jujur saja, Mas tidak ingin kamu dekat-dekat dengan Kevin. Akan tetapi, Kevin sepertinya bukan tipe orang yang pendendam. Mas yakin, cepat atau lambat Kevin akan mengerti dan bisa menerima kenyataan bahwa kita sebentar lagi akan menikah,” terang Fahmi.
Dyah tersenyum lebar dan mengucapkan terima kasih karena Fahmi bisa mengerti serta memahami dirinya.
“Dyah, kok baru datang? Cepat masuk! Pak Hendra sudah ada di dalam,” ucap Puput.
“Maaf ya Mas, Dyah masuk dulu. Terima kasih sudah mengantarkan Dyah, Dyah masuk ya! Assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikumsalam,” balas Fahmi sambil melambaikan tangan ke arah Dyah yang perlahan meninggalkan dirinya.
Setelah Dyah tak terlihat lagi, barulah Fahmi menyalakan mesin motor dan bergegas kembali ke perumahan Absyil.
Diperjalanan menuju perumahan Absyil, Fahmi dikejutkan oleh sebuah mobil yang sengaja menghadang jalannya. Ia pun refleks mengerem dan hampir saja terjatuh.
“Kevin!” Fahmi semakin terkejut karena ternyata Kevin lah yang sengaja menghadang dirinya.
Kevin berjalan mendekati Fahmi dengan mata mengenakan kacamata. Kalian tahu alasan Kevin mengenakan kacamata?
Yups, alasannya adalah kedua matanya sembab karena menangis.
“Apa benar yang dikatakan oleh Dyah?” tanya Kevin sambil mencengkram kerah baju yang dikenakan oleh Fahmi.
“Bersikaplah gentleman dan jangan bersikap pengecut seperti ini,” balas Fahmi sambil melepaskan tangan Kevin.
Kevin tersadar bahwa apa yang ia lakukan adalah salah. Tidak sepantasnya ia melakukan hal yang membuat harga dirinya jatuh.
“Percayalah, Allah sudah menciptakan manusia berpasang-pasangan. Meskipun tidak dengan Dyah,” terang Fahmi.
“Maaf, tidak sepatutnya aku seperti ini,” ucap Kevin dan cepat-cepat masuk ke dalam mobil.
Kevin langsung banting setir dan bergegas meninggalkan Fahmi. Di dalam mobil, Fahmi kembali menangis. Ia merasa bahwa dirinya adalah pria cengeng, pria yang gampang sekali menangis.
Kevin terus mengendarai mobilnya tanpa arah dan tujuan, rasanya ia sudah kehilangan semangat. Ia ingin marah, akan tetapi ia harus marah dengan siapa?
__ADS_1
Ia pun hanya bisa menangis dan berharap patah hatinya segera sembuh.
Mau crazy up? Komen!