
Malam hari.
Kondisi Asyila perlahan mulai membaik, melihat Sang istri yang sudah mulai nafsu makan, membuat Abraham gembira karena istri kecilnya itu tidak seperti sebelumnya yang sulit untuk makan.
“Mas, tolong ambilkan Asyila kacang rebus!” pinta Asyila menunjuk ke arah meja.
Abraham mengiyakan dan segera mengambilkan kacang Reza yang diinginkan oleh Asyila.
“Hei Nara, kamu itu kenapa lewat situ? Lewat sana, biar kamu bertemu dengan Ibumu!” teriak Dyah begitu kesal melihat adegan film yang membuat emosinya memuncak.
“Dyah, sabar. Itu hanya film,” ucap Fahmi mengingatkan istrinya.
“Dyah tidak bisa sabar, Mas. Rasanya Dyah ingin masuk ke dalam televisi dan menjambak rambut Nara,” balas Dyah yang terlihat terpancing emosi.
Abraham dan Asyila tertawa lepas melihat ekspresi dendam di wajah Dyah. Bagaimanapun, itu hanyalah film dan Dyah malah terbawa emosi oleh film yang sedang tayang tersebut.
Dyah menoleh ke arah Aunty dan Pamannya, Dyah pun tersenyum lebar dan menyadari bahwa ia terlalu larut dalam film yang tengah tayang tersebut.
“Maaf, Dyah jadi emosi begini,” tutur Dyah dengan tersenyum bodoh.
“Dyah, lain kali jangan seperti itu. Yang ada malah kamu darah tinggi,” tutur Asyila.
“Hehe... Iya, Aunty. Dyah tidak akan begitu lagi,” balas Dyah.
“Tin! Tin! Tin!” Suara klakson mobil berbunyi.
Abraham dan Asyila tukar pandang ketika mendengar suara klakson mobil tersebut.
“Mas, bukankah itu suara mobil Mas yang berada di Jakarta?” tanya Asyila memastikan.
“Iya, Syila. Mas sangat hafal dengan suara klakson mobil Mas,” jawab Abraham.
“Tunggu apalagi? Ayo keluar!” ajak Dyah penasaran yang sudah bangkit dari duduknya.
Abraham, Asyila, Dyah dan Fahmi dengan kompak berjalan menuju ruang depan untuk melihat siapa yang datang.
“Bunda!” Ashraf berteriak heboh ketika melihat Bundanya dari jendela.
Abraham dan yang lainnya pun terkejut ketika mengetahui bahwa Arumi, Herwan dan Ashraf tiba di Bandung.
Abraham cepat-cepat membuka pintu untuk keluarganya itu.
“Ayah!” Ashraf memeluk Ayahnya yang baru saja membukakan pintu.
Abraham mengangkat tubuh Ashraf tinggi-tinggi dan memeluk tubuh putra kecilnya itu dengan penuh semangat.
“Ayah dan Ibu kenapa tidak kabar-kabar kalau akan datang kemari?” tanya Abraham.
“Mas juga tidak tahu kalau Ayah dan Ibu datang kemari?” tanya Asyila yang mengira bahwa kedatangan orang tua bersama dengan Ashraf atas permintaan dari Abraham.
“Tidak, Syila,” jawab Abraham.
Arumi dan Herwan tertawa kecil mendengar percakapan Abraham bersama dengan putri tunggal kesayangan mereka.
“Kami memang sengaja tidak memberitahukan kalian, biarlah ini menjadi kejutan!” seru Arumi.
Asyila memeluk Ibu serta Ayahnya secara bergantian. Kemudian, mencium punggung tangan kedua orangtuanya. Dyah dan Fahmi pun berganti mencium orang tua dari Asyila.
Setelah Dyah dan Fahmi selesai mencium punggung tangan kedua orang tua Asyila, kini Abraham yang bergantian mencium tangan kedua mertuanya.
“Ayah, Ibu! Mari masuk!” Abraham mempersilakan kedua mertuanya untuk segera masuk ke dalam.
“Pak Udin kenapa masih disitu? Ayo masuk ke dalam! Pak Eko malam ini sedang tidak disini,” terang Asyila mengajak Pak Udin untuk ikut masuk ke dalam rumah bersama dengan yang lain.
Pak Udin mengiyakan dan bergegas masuk ke dalam rumah.
“Bunda, adik bayi mana?” tanya Ashraf pada Bundanya.
“Ada, sayang. Ada di dalam kamar,” jawab Asyila.
“Bunda, ayo ke kamar! Ashraf mau melihat adik bayi!” pinta Ashraf dan menggandeng tangan Bundanya agar segera ikut menemaninya ke dalam kamar.
Ashraf terkejut melihat adiknya yang sudah bisa tengkurap.
“Bunda, kok adik tidurnya begini?” tanya Ashraf padahal saat itu bayi Akbar tidak tertidur.
Asyila tersenyum dan mengangkat putra bungsunya, kemudian merebahkan bayi Akbar di ranjang tempat tidur.
“Ashraf sayang, adik Akbar juga harus tumbuh besar. Lihat, adik Akbar sedang berusaha tengkurap,” tutur Asyila memperlihatkan bagaimana bayi Akbar menggerakkan tubuhnya ke samping untuk bisa tengkurap.
“Wah, sama seperti adik Asyila dulu ya Bunda?” tanya Ashraf.
“Iya, Ashraf sayang. Malah, adik Asyila sekarang sudah bisa jalan,” jelas Asyila.
“Haaa? Yang benar, Bunda?” tanya Ashraf memastikan.
“Iya Ashraf sayang. Akan tetapi, adik Asyila sekarang sedang tidur,” jawab Asyila.
“Iya, Bunda tidak apa-apa. Besok, 'kan? Bisa,” terang Ashraf dan ikut merebahkan tubuh di samping adik kecilnya yang tengah tengkurap.
Saat Ashraf ingin mencium pipi adiknya, tiba-tiba Ashraf berteriak kesakitan ketika wajahnya dipukul oleh adiknya.
“Aakkhh... Bunda, wajah Ashraf dipukul adik Akbar,” terang Ashraf yang memang cukup sakit setelah mendapatkan pukulan dari tangan kecil adiknya.
__ADS_1
“Sini Bunda tiup, sepertinya adik Akbar gemas dengan kakaknya,” terang Asyila dan meniup-niup lembut ke arah wajah Ashraf.
Ashraf tertawa kecil sembari melirik ke arah adiknya yang tengah tertawa.
Asyila pun akhirnya ikut tertawa melihat kedua buah hatinya yang sama-sama tertawa.
“Bunda, adik Akbar tertawa,” ucap Ashraf menyentuh pipi gembul adiknya.
“Iya sayang, Bunda juga mendengar kalau adik Akbar tertawa,” sahut Asyila.
Asyila dengan gemas menggendong buah hatinya dan mencubit gemas pipi bayi Akbar.
Bayi Akbar kembali tertawa dan tawanya kini lebih jelas daripada yang sebelumnya.
Ashraf dan Asyila ikut tertawa lepas mendengarkan suara tawa menggemaskannya bayi Akbar.
Abraham yang baru saja masuk, terkejut mendengar suara tawa putra kecilnya.
“Akbar? Masya Allah,” ucap Abraham sembari mendekat ke arah istri dan dua buah hati mereka.
“Ayah, adik Akbar tertawa kencang,” ujar Ashraf.
“Iya, Ashraf sayang. Ayah juga mendengarnya,” sahut Abraham.
Setelah cukup lama bayi Akbar tertawa, kini tiba-tiba ia menangis seakan-akan protes dengan kedua orangtuanya dan juga Kakaknya, Ashraf.
Asyila tertawa kecil dan mencoba menenangkan buah hatinya itu.
Abraham mengajak Ashraf untuk meninggalkan kamar karena Asyila pasti ingin menyusui buah hati mereka.
“Ashraf, ayo kita keluar. Adik Akbar pasti ingin tidur,” ujar Abraham mengajak Ashraf untuk keluar dari kamar.
Ashraf mengiyakan dan ikut keluar dari kamar bersama dengan Ayah tersayangnya.
“Ashraf, adik Akbar mana?” tanya Arumi pada Ashraf yang telah tiba di ruang keluarga.
“Adik Ashraf sedang menangis di dalam kamar, Nek. Tadi itu, adik Ashraf tertawa besar sekali. Seperti ini, hahaha.. haha.. hahaha,” ujar Ashraf mempraktekkan bagaimana adik kecilnya tertawa.
Arumi, Herwan serta yang lain pun tertawa melihat Ashraf yang dengan semangat mempraktekkan bagaimana adiknya tertawa.
“Ashraf, sini duduk dekat dengan Nenek!” panggil Arumi agar Ashraf segera duduk di sampingnya.
Ashraf mengiyakan dan duduk di samping Nenek kesayangannya.
“Ayah, Ibu! Apakah Ayah dan Ibu berencana lama untuk tinggal di Bandung?” tanya Abraham.
“Mungkin sekitar 2 Minggu, dikarenakan Ashraf sudah menerima raport dan Alhamdulillah Ashraf mendapatkan juara pertama di kelasnya,” ungkap Arumi.
Abraham menganga lebar mendengar bahwa Ashraf mendapatkan prestasi di sekolahnya.
Ashraf dengan malu-malu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke arah Ayahnya.
“Selamat ya sayang, Ayah dan Bunda sangat bangga dengan Ashraf. Apapun yang Ashraf lakukan, Ayah pasti akan mendukung Ashraf,” puji Abraham pada Ashraf.
“Ayah, Ashraf sekolah di tempat Kak Arsyad ya!” pinta Ashraf yang ingin sekolah di tempat Kakaknya, Arsyad.
“Ashraf sudah yakin dengan keputusan Ashraf? Sekolah di pondok tidaklah mudah, Ashraf. Ashraf tidak boleh menangis, harus menuruti aturan di pondok dan yang paling penting makanan disana apa adanya. Maksud Ayah, tidak setiap hari makan ayam, makan ikan seperti itu,” terang Abraham secara pelan-pelan agar Ashraf mengerti apa yang disampaikan oleh Abraham.
“Ayah, Ashraf mau sekolah di pondok,” terangnya.
“Baiklah, kalau itu keputusan Ashraf. Secepatnya, Ayah akan mengurusi persyaratan untuk menyekolahkan Ashraf di pondok. Akan tetapi, disana pasti ada tes sebelum masuk. Ashraf sanggup mengahadapi tes tulis dan tes hafalan?” tanya Abraham.
“Insya Allah, Ayah,” jawab Ashraf.
Abraham tersenyum dan memeluk erat tubuh Ashraf.
Abraham sangat bangga dengan buah hatinya yang memiliki keinginan besar untuk bersekolah di pondok pesantren.
Asyila tiba di ruang keluarga, ia melihat suami serta buah hati mereka sedang berpelukan.
“Sepertinya Bunda melewatkan sesuatu,” tutur Asyila.
“Bunda, Ashraf mau sekolah di pondok pesantren tempat Kak Arsyad,” terang Ashraf.
Asyila saat itu menangis mengetahui keputusan Ashraf yang ingin melanjutkan sekolahnya di pondok.
“Bunda kenapa menangis?” tanya Ashraf pada Bundanya.
Asyila duduk di sofa dan menyentuh wajah Ashraf dengan air mata yang terus mengalir.
“Keputusan Ashraf sudah bulat?” tanya Asyila.
“Keputusan bulat itu bagaimana Bunda?” tanya Ashraf yang belum mengerti maksud perkataan Bundanya.
“Ashraf sayang, apakah Ashraf sudah yakin untuk melanjutkan pendidikan Ashraf di pondok?” tanya Asyila.
“Sudah, Bunda,” jawab Ashraf yang terlihat memiliki tekad yang kuat.
“Ya Allah, ternyata kesayangan Bunda ini sudah besar. Kalau memang itu keinginan Ashraf, Ashraf harus kuat ya tinggal disana. Ashraf juga tidak boleh cengeng, yang dikit-dikit menangis karena merindukan Bunda, Ayah ataupun yang lain!”
“Ayah sama Bunda jangan sedih, Ashraf sekolah biar semakin pintar dan menjadi anak Sholeh seperti yang Ayah sama Bunda inginkan,” terangnya.
Seketika itu, mereka menangis terharu mendengar keterangan dari Ashraf.
__ADS_1
“Mas, putra kita ternyata sudah besar,” tutur Asyila pada suaminya.
Ashraf menyeka air mata Bundanya dan menciumi pipi Bundanya secara bergantian.
“Bunda jangan nangis, yang nangis itu cuma bayi,” ujar Ashraf.
Dyah meneteskan air matanya sembari menangis di bahu suaminya.
“Mas, adik Ashraf sekarang sudah besar,” ucap Dyah lirih.
“Sudah jangan nangis, tidak dengar apa yang dikatakan Ashraf tadi, yang boleh menangis itu hanya bayi,” sahut Fahmi.
Beberapa saat kemudian.
Ashraf yang memang sudah mengantuk, memutuskan untuk segera tidur. Akan tetapi, Asyila tak memperbolehkan Ashraf tidur seorang diri, Asyila pun meminta Ashraf untuk tidur bersama.
Ashraf dengan semangat mengiyakan permintaan dari Bundanya.
“Ayo Bunda, Ashraf juga mau tidur dengan adik Akbar!” ajak Ashraf sembari menarik tangan Bundanya menuju kamar.
Asyila pun pamit kepada yang lain yang masih berada di ruang keluarga.
Melihat Ashraf dan istrinya yang sudah pergi masuk ke dalam kamar, Abraham pun memutuskan untuk beristirahat karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.
“Ayah, Ibu! Abraham pamit ke kamar, Ayah dan Ibu jangan tidur malam-malam karena tak baik untuk kesehatan,” tutur Abraham pada kedua mertuanya.
“Mas, apa yang dikatakan Nak Abraham memanglah benar. Ayo kita tidur!” ajak Arumi.
Dyah dan Fahmi pun bergegas menuju kamar untuk beristirahat, sementara Pak Udin sudah lebih dulu tidur karena kelelahan menyetir mobil selama beberapa jam.
Di dalam kamar, Ashraf tidak langsung tidur. Ia mengajak kedua orangtuanya mengobrol sebelum mereka benar-benar tidur.
Ashraf mengobrol banyak hal, terutama saat dirinya bersekolah.
“Ayah, Bunda. Ashraf suka sekali pelajaran matematika,” tutur Ashraf.
“Selain, matematika apalagi sayang?” tanya Abraham penasaran.
“Apa ya Ayah? Semuanya Ashraf suka,” jawabnya.
“Alhamdulillah!” seru Abraham dan Asyila secara kompak.
Ashraf terus berbicara panjang lebar, sampai akhirnya ia terlelap dengan memeluk tubuh Ayahnya.
Asyila tertawa kecil melihat Ashraf yang begitu lengket memeluk Suaminya, Abraham.
“Mas Abraham, masih ingat tidak bagaimana Ashraf tidak ingin dekat dengan Mas Abraham? Apalagi saat Ashraf baru selesai mandi, Mas Abraham ingin membantu Ashraf memakaikan baju, eh Ashraf malah menangis histeris,” terang Asyila mengingatkan kejadian beberapa tahun yang lalu.
“Tentu saja, apalagi ketika Ashraf yang suka kentut,” sahut Abraham dan tertawa geli ketika mengingat bagaimana Ashraf sangat gemar kentut sembarangan.
“Sekarang, masa-masa seperti itu tidak akan bisa terulang lagi, Mas,” ujar Asyila.
Saat mereka sedang mengingat-ingat masa kecil buah hati mereka, tiba-tiba Ashraf kentut dengan suara yang cukup keras.
Abraham dan Asyila seketika itu juga turun dari tempat tidur ketika mendengar suara kentut Ashraf.
Mereka saling tukar pandang dengan tatapan terheran-heran, kemudian kompak tertawa lepas dengan apa yang baru saja mereka dengar.
“Brruuuttt!” Suara kentut Ashraf lagi-lagi terdengar dan kali ini begitu keras.
Abraham dan Asyila tertawa terpingkal-pingkal hingga akhirnya Ashraf terbangun dari tidurnya.
“Ayah, Bunda! Kenapa tertawa? Ayo sini, naik ke tempat tidur!” panggil Ashraf dan kembali memejamkan matanya.
“Ashraf tadi kent...”
“Sssuutsss, Mas jangan bilang. Nanti Ashraf malah menangis,” ucap Asyila memotong ucapan suaminya.
“Hehe... Iya, maaf. Untung saja Asyila mengingatkan, kalau tidak Ashraf pasti sudah ngambek dan menangis keras,” sahut Abraham.
“Ayah, Ibu!” panggil Ashraf yang terlihat mulai kesal.
“Iya sayang, sebentar ya. Ayah dan Bunda mau mengambil air wudhu, Ashraf mau ikut?” tanya Asyila.
Dengan mata yang mengantuk, Ashraf turun dari tempat tidur untuk ikut berwudhu dengan kedua orangtuanya.
Abraham dan Asyila kompak menggandeng tangan Ashraf sembari menahan tawa karena hal yang tak terduga kembali terjadi.
“Ayah, Bunda! Tadi Ashraf mendengar suara bom, seperti ini bunyinya, brrruuutt,” ucap Ashraf yang tak menyadari bahwa itu adalah suara kentutnya.
“Benarkah? Ayah dan Bunda tidak mendengar suara bom itu,” sahut Asyila.
“Ayo, Ashraf sekarang wudhu!” pinta Abraham dengan terus menahan tawanya.
Ashraf menoleh ke arah Ayahnya dengan tatapan tajam.
“Ayah kenapa dari tadi seperti itu? Memang ada yang lucu?” tanya Ashraf protes.
“Tidak sayang, tidak ada yang lucu. Sepertinya tadi Ayah juga mendengar suara bom brrruuutt yang Ashraf maksud tadi,” balas Abraham.
Ashraf langsung menghentakkan kakinya, sembari menangis air matanya.
“Ayah, kenapa bunyinya seperti kentut Ashraf?” tanya Ashraf begitu polos.
__ADS_1
Sia-sia Abraham dan Asyila menahan tawa mereka, saat itu juga mereka tertawa terpingkal-pingkal di dalam kamar mandi mendengar pertanyaan Ashraf yang menggelitik perut.