
Asyila makan dengan sangat sedikit, ia tidak tenang karena terus memikirkan suaminya yang tak kunjung tiba.
“Aunty kenapa malah melamun?” tanya Dyah karena Aunty-nya sama sekali tidak menikmati sarapan.
Asyila membalas pertanyaan Dyah dengan senyuman dan perlahan memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Dyah mengunyah makanan dengan sangat lahap dan tak butuh waktu lama, makanannya pun habis.
“Aunty, Dyah sudah selesai makan,” ucap Dyah dan segera mencuci peralatan makan kotor yang sebelumnya ia gunakan.
Setelah mencuci peralatan makan, Dyah pun pamit untuk kembali ke rumahnya dengan berjalan kaki karena jarak rumah keluarga Pamannya dan rumah keluarga kecil Dyah tidaklah jauh.
“Aunty, Dyah pulang dulu ya. Kalau Ashraf belum juga mendingan, tolong beritahu Dyah. Sekarang Dyah harus pulang, Assalamu'alaikum.”
“Wa’alaikumsalam,” balas Asyila tak bersemangat.
Asyila memandangi punggung Dyah yang perlahan meninggalkan area rumahnya.
Setelah Dyah benar-benar tak terlihat, Asyila kembali masuk ke dalam untuk merapikan meja makan.
Saat Asyila sedang mengelap meja makan, suara klakson mobil berbunyi dan dengan cepat Asyila berlari menyambut suaminya.
“Mas Abraham!” Asyila berlari untuk segera memeluk suaminya yang baru saja keluar dari mobil.
“Syila kenapa sangat bersemangat?” tanya Abraham yang sangat senang mendapat pelukan dari istri kecilnya.
Pak Udin memilih untuk pergi meninggalkan sepasang suami istri itu.
“Asyila takut Mas kenapa-kenapa,” tutur Asyila.
“Jadi, Syila mengkhawatirkan Mas?”
“Sudah tahu Asyila khawatir, malah ditanya lagi. Oya, obat Ashraf ada?”
Abraham mengiyakan dan memperlihatkan beberapa obat sirup untuk putra kecil mereka.
“Alhamdulillah,” ucap Asyila bernapas lega.
Abraham mencium sekilas pipi istrinya dan merangkul pinggang sang istri untuk segera masuk ke dalam rumah.
Tanpa diketahui oleh Abraham dan juga Asyila, rupanya ciuman sekilas Abraham dilihat oleh Ema yang saat itu sedang menyapu teras rumah.
“Astagfirullahaladzim, baru juga keluar rumah sudah melihat mereka berdua,” ucap Ema sembari mengelus dada.
Ema memanyunkan bibirnya dan segera memanggil suaminya.
“Abang Yogi!” panggil Ema setengah berteriak.
Tak butuh waktu lama, Yogi keluar menghampiri istrinya.
“Ada apa, adik Ema?” tanya Yogi setengah panik.
“Cepat!” pinta Ema sambil menggerakkan pipinya.
“Cepat apa?” tanya Yogi yang tak mengerti isyarat dari istrinya.
“Ya ampun, Abang tidak mengerti maksud Adik menggerakkan wajah begini?” tanya Ema semakin menggerakkan pipinya dengan gerakan cepat dan berulang kali.
“Wajah Adik kesemutan?” tanya Yogi kebingungan.
“Kalau Adik begini itu tandanya minta cium. Sekarang cepat cium pipi Adik!” pinta Ema yang terdengar sangat memaksa.
__ADS_1
Yogi terperangah mendengar permintaan istrinya.
“Muaacchhh...” Yogi dengan semangat memberikan kecupan basah di pipi istrinya.
“Sebelah sini belum,” ucap Ema sambil menunjuk ke arah pipi kanannya.
“Muaaaccchhh..”
Ema tersenyum puas dan melenggang masuk ke dalam rumah.
Yogi semakin bingung melihat tingkah istrinya yang berlalu begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.
***
Siang hari.
Kondisi Ashraf perlahan mulai membaik dan demamnya pun sudah mulai membaik, bahkan Ashraf terlihat sudah jauh lebih baik dan makan pun sudah terlihat normal.
“Alhamdulillah, kesayangan Ayah dan Bunda tidak sakit lagi. Ashraf makan yang banyak ya,” pinta Abraham ketika melihat buah hatinya sedang makan dengan sangat lahap.
“Ayah mau pergi kemana?” tanya Ashraf ketika melihat Ayahnya sudah berpenampilan rapi.
“Ayah mau pergi, sayang. Ayah ada urusan yang sangat penting dan harus Ayah selesai secepatnya,” terang Abraham yang akan pergi untuk menemui orang-orang yang seharusnya sudah ia bantu sejak dulu.
“Ashraf boleh ikut, Ayah?” tanya Ashraf.
“Tidak boleh sayang. Ashraf kalau mau ikut harus sembuh dulu,” jawab Abraham dan mengecup lembut kening putra keduanya.
Asyila tiba-tiba muncul dan berdiri tepat disamping suaminya.
“Mas, Asyila ikut ya!” pun Asyila yang juga ingin ikut bersama suaminya, “Boleh ya Mas, Akbar juga ikut dengan kita. Boleh ya!” pinta Asyila dan berharap suaminya mengizinkannya untuk ikut.
Asyila terdiam sejenak dan perlahan mengerti dengan maksud Sang istri.
“Ya sudah, Syila akan menunggu hari dimana Mas akan mengajak Asyila pergi ke tempat yang dimaksud oleh Mas,” balas Asyila.
Abraham tersenyum dan pamit untuk segera melakukan perjalanan.
Abraham juga mengatakan kemungkinan ia akan pulang sangat malam dan meminta istri kecilnya untuk tidak menunggu kepulangannya.
Asyila, Arumi dan perlahan berjalan menuju halaman depan rumah.
“Ayah, Ibu. Abraham berangkat, do'akan semoga Abraham bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik,” tutur Abraham meminta restu.
“Dimana Nak Abraham berada, kami pasti mendo'akan Nak Abraham,” sahut Arumi.
Abraham tersenyum dan kini mendekat ke arah istri kecilnya.
“Syila Mas berangkat, tolong jaga buah hati kita dan jangan memikirkan yang tidak-tidak. Tolong jangan tunggu Suamimu ini, karena suamimu ini ingin istrinya tidur nyenyak,” tutur Abraham dan mengecup mesra kening Istri kecilnya.
Asyila memejamkan matanya sembari menikmati kecupan mesra Sang suami.
Abraham tersenyum manis setelah mengecup kening istrinya, kemudian ia mengucapkan salam dan perlahan masuk ke dalam mobil.
Asyila terus melambaikan tangannya dan berharap semuanya berjalan dengan sangat lancar dan tidak ada rintangan sedikitpun.
“Oek... Oek... Oek...” Bayi Akbar yang berada di gendongan Arumi tiba-tiba menangis.
“Kenapa sayang? Sini sama Bunda, Akbar haus ya mau minum susu?”
Asyila berjalan masuk ke dalam rumah dan dengan langkah pelan ia berjalan menaiki anak tangga untuk segera menyusui bayi mungilnya.
__ADS_1
Diperjalanan, Abraham mengirim pesan singkat kepada Dayat untuk segera berangkat menuju tempat yang sudah mereka sepakati. Abraham sengaja mengajak Dayat serta Edi untuk datang ke tempat tersebut, hal tersebut agar tidak ada yang berani membuat keonaran mengenai Abraham yang ingin membangun tempat ibadah disekitar daerah tersebut.
Usai mengirim pesan kepada Dayat dan juga Edi, Abraham pun berganti mengirim pesan kepada Menik.
“Maaf, Tuan Abraham. Setelah jalur ini, kita lewat mana lagi?” tanya Pak Udin yang masih asing dengan jalan yang ia lalui.
“Pak Udin tidak perlu gugup, Pak Udin ambil jalan lurus dan ketika pertigaan Pak Udin langsung ambil kiri,” terang Abraham.
“Baik, Tuan Abraham,” balas. Pak Udin.
“Oya, Pak Udin. Nanti kalau melihat minimarket atau semacamnya, tolong mampir dulu ya. Ada barang-barang yang harus saya beli!”
“Siap, Tuan Abraham!” serunya.
Beberapa saat kemudian.
Pak Udin menghentikan mobil tepat diarea parkir mini market dan tanpa pikir panjang, Abraham bergegas turun untuk berbelanja.
“Pak Udin harus ikut saya ke dalam karena belanjaan saya kali ini sangatlah banyak,” terang Abraham.
Sesampainya di dalam minimarket, Abraham langsung membawa troli belanja.
“Pak Udin tolong isikan apapun untuk kebutuhan perut sebanyak mungkin, Ok!” perintah Abraham.
“Baik, Tuan Abraham,” balas Pak Udin tanpa bertanya itu apa kebutuhan makanan sebanyak itu.
Abraham berjalan dengan penuh semangat dan memasukkan minyak sayur, tepung, bumbu masak, beras dan lain-lain untuk diberikan kepada Menik dan juga orang-orang dikawasan tersebut.
Hampir 1 jam lamanya, akhirnya dua troli belanja penuh dengan kebutuhan dapur.
Pak Udin tercengang melihat total belanjaan yang menginjak belasan juta tersebut.
“Apa Udin kenapa bengong? Tolong bantu saya mengangkat barang-barang ini dan memasukannya ke dalam mobil!” pinta Abraham.
Setelah semuanya masuk ke dalam mobil, Pak Udin pun bertanya karena dari lubuk hatinya yang paling dalam dirinya penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh majikannya itu.
“Tuan Abraham, kalau boleh tahu semua kebutuhan sehari-hari ini untuk siapa? Bukankah dirumah masih sangat banyak stoknya,” terang Pak Udin mengungkapkan rasa penasarannya yang sedikit mengganggu kalau tidak dikeluarkan.
“Semua ini milik orang lain, anggap saja semua ini bagian mereka,” terang Abraham.
Pak Udin tersenyum dengan tatapan terkagum-kagum.
“Tuan Abraham memang dari dulu tak pernah berubah, sangat senang berbagi kebahagiaan untuk yang lain,” puji Pak Udin.
“Ah Pak Udin ini, sudahlah ayo kita lanjutkan lagi perjalanan kita!”
Tanpa disadari oleh Abraham maupun Pak Udin, para pegawai minimarket itu tengah serius memperhatikan Abraham maupun Pak Udin.
Mereka terlihat sangat senang dan terpukau dengan Abraham yang berbelanja mencapai belasan juta.
“Selama aku bekerja disini, belum pernah ada yang membeli stok makanan seperti pria itu,” ucap salah satu dari empat karyawan.
“Sepertinya pria itu tajir melintir,” puji yang lain.
Perjalanan pun kembali berlanjut dan Pak Udin lagi-lagi bertanya mengenai jalan yang harus mereka lewati.
“Pak Udin santai saja, kita tidak akan tersesat. Pokoknya Pak Udin lurus dulu,” tutur Abraham.
“Baik, Tuan Abraham,” balas Pak Udin patuh.
Abraham ❤️ Asyila
__ADS_1