Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Kejutan Untuk Buah Hati Tercinta


__ADS_3

Asyila terbangun dari tidurnya ketika bermimpi menemui kedua buah hatinya. Tanpa sadar, Asyila meneteskan air matanya ketika mengingat mimpinya tersebut.


“Syila kenapa?” tanya Abraham ketika melihat wajah istri kecilnya sudah dipenuhi air mata.


“Mas, kita ke Jakarta sekarang ya!” pinta Asyila.


“Kenapa tiba-tiba ingin ke Jakarta?” tanya Abraham terheran-heran.


“Asyila ingin bertemu dengan Arsyad dan juga Ashraf. Boleh ya Mas!” pinta Asyila setengah memohon.


“Kalau bertemu dengan Ashraf sudah dipastikan bisa. Akan tetapi, kalau bertemu dengan Arsyad seperti belum bisa. Karena jadwal untuk bertemu dengan Arsyad bukanlah bulan ini, Syila,” terang Abraham.


“Ya sudah tidak apa-apa, Mas. Yang penting Syila bisa bertemu dengan putra kecil kita,” balas Asyila.


Abraham mengiyakan dan terlebih dulu menghubungi sahabatnya untuk meminta tolong menangani perusahaannya dalam waktu beberapa hari ke depan.


Kemudian, sepasang suami istri tersebut bersama-sama mengemasi pakaian mereka untuk segera berangkat menuju Jakarta.


“Mas, tolong jangan beritahu Ibu dan juga Ayah kalau kita ke Jakarta ya!” pinta Asyila.


“Iya, Mas mengerti maksud Syila. Syila tidak ingin menyusahkan Ayah dan Ibu karena kedatangan kita, bukan?”


“Iya, Mas. Kalau Ayah dan Ibu sampai tahu kita ke Jakarta. Mereka pasti sibuk menyiapkan makanan untuk kita dan Asyila tidak ingin mereka repot-repot melakukan hal itu,” balas Abraham.


Abraham mengiyakan sembari mengemasi pakaian mereka untuk beberapa hari ke depan. Rencananya, Abraham ingin tinggal di Jakarta selama 3 hari. Meskipun sangat singkat, akan tetapi sudah dapat mengurangi rindu mereka berdua kepada buah hati mereka.


“Yang ini mau Syila bawa?” tanya Abraham sambil memperlihatkan lingerie seksi milik istri kecilnya.


“Mas, apa Asyila masih pantas memakai pakaian seperti itu?” tanya Asyila sambil menahan malu.


“Tentu saja,” balas Abraham sambil mencolek hidung sang istri.


Asyila yang dalam suasana hati kurang baik hanya bisa mengangguk kecil. Dalam hatinya ia terus saja memikirkan buah hatinya.


“Ada apa? Kenapa melamun?” tanya Abraham penuh perhatian sembari memeluk tubuh istri kecil dari belakang.


Abraham menyingkirkan rambut istri kecilnya yang menutupi tengkuk leher sang istri. Kemudian, menciumi tengkuk istri kecilnya berulang kali.


“Mas tahu Syila sedang memikirkan kedua putra kecil kita. Akan tetapi, Syila tidak boleh sampai bersedih. Toh, Arsyad dan Ashraf jauh dari kita karena keinginan mereka yang ingin bersekolah,” ungkap Abraham.


Asyila berbalik badan dan mencium bibir suaminya dengan penuh semangat.


“Mas, ayo cepat berangkat ke Jakarta,” bujuk Asyila.


Abraham tersenyum bahagia sambil menyentuh bibirnya yang baru saja dicium oleh sang istri.


“Ini juga kita mau berangkat, ya sudah Syila lebih baik mandi duluan!”


“Baik, Mas. Asyila mandi duluan ya,” balas Asyila dan bergegas menyambar handuk milik untuk segera mandi.


Abraham terus saja memandangi istri kecilnya yang tengah berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Syila terlihat sangat merindukan anak-anak. Sampai-sampai Syila bermimpi tentang mereka berdua.


Di dalam kamar mandi, Asyila cepat-cepat membersihkan dirinya. Ia tidak sabar ingin segera bertemu dan memberikan kejutan kepada Ashraf Mahesa, putra kecilnya bersama sang suami.


Beberapa menit kemudian.


Asyila keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar sempurna ditubuhnya. Ia menoleh ke setiap sudut kamar dan tak menemukan keberadaan suaminya.


“Mas Abraham kemana? Kenapa di dalam kamar tidak ada?” tanya Asyila dan cepat-cepat mengenakan pakaiannya.

__ADS_1


Usai mengenakan pakaiannya, Asyila bergegas keluar dari kamar untuk mencari suaminya.


“Mas! Mas Abraham!” panggil Asyila sambil menuruni anak tangga.


Abraham tiba-tiba muncul dan mengangkat tubuh istri kecilnya tinggi-tinggi. Seakan-akan tubuh sang istri tidaklah berat dan membuat Asyila kembali terkejut.


“Mas! Turunkan Asyila!” pinta Asyila sambil memejamkan matanya karena takut terjatuh.


Abraham tertawa kecil sambil menurunkan tubuh sang istri.


“Kebiasaan,” celetuk Asyila sambil memukul lengan suaminya.


“Ya mau bagaimana lagi? Mas memang suka melakukannya,” sahut Abraham.


“Iya, Asyila tahu kalau Mas adalah suami yang jahil,” ledek Asyila.


Beberapa saat kemudian.


Abraham dan Asyila telah berada di dalam mobil untuk melakukan perjalanan menuju Jakarta. Sebelumya, Asyila telah memberikan kunci rumah kepada sahabatnya dan meminta Ema serta Dyah untuk tetap berjualan meskipun tanpa dirinya. Asyila telah memberikan kepercayaannya kepada Dyah maupun Ema.


“Bagaimana, apakah Tuan Muda Abraham dan juga Nona Asyila sudah siap?” tanya Eko yang baru saja masuk ke dalam mobil setelah menutup gerbang rumah.


“Ya,” jawab Abraham singkat.


“Sudah, Pak Eko. Ayo berangkat!”


“Oke, siap!” seru Eko dan bergegas menghidupkan mesin mobil untuk segera melakukan perjalanan menuju Jakarta.


Asyila tersenyum manis dan memeluk tubuh suaminya sembari membayangkan ekspresi wajah dari buah hatinya ketika melihat ia dan juga sang suami datang.


“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Abraham penasaran.


“Asyila tidak sabar ingin melihat wajah Ashraf,” balas Asyila dan semakin mempererat pelukannya.


Mereka berdua terus saja lengket seperti perangko. Sampai-sampai aku merasa seperti seorang jomblo. 😅


“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri, Eko?” tanya Abraham terheran-heran.


“Oh itu, tadi ada sepasang kucing lagi bermesraan,” jawab Eko sambil menahan tawanya.


“Tidak ada kerjaan kamu? Lebih baik fokus menyetir saja!”


“Siap, Tuan Muda Abraham!” seru Eko.


Untuk mengurangi keheningan di dalam mobil, Eko pun memutar musik dan ternyata musik yang diputar oleh Eko adalah musik yang sangat disukai oleh Abraham.


“Jangan diganti!” perintah Abraham ketika melihat Eko ingin mengganti lagu tersebut.


Eko mengiyakan dan memutuskan untuk fokus ke arah depan.


Disepanjang perjalanan, Abraham maupun Asyila tak banyak berbicara. Hanya saling menggenggam tangan satu sama lain.


Beberapa jam kemudian.


Asyila terkesiap dan bergegas turun dari mobil ketika mobil berhenti tepat di depan kediaman suaminya.


“Hati-hati, Syila,” ucap Abraham ketika melihat sang istri buru-buru keluar dari mobil.


Abraham pun turun dan segera menyusul istri kecilnya yang sudah berada di depan pintu.


“Assalamu’alaikum,” ucap Asyila.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham.


Disaat yang bersamaan, Ashraf tengah berada di ruang keluarga dan berlari kecil setelah mendengar suara yang tak asing baginya.


“Ayah! Bunda!” Ashraf berteriak kegirangan sembari berlari menghampiri kedua orangtuanya yang tiba-tiba sudah berada di hadapannya.


“Ya Allah, sayang. Bunda kangen sama kamu, Nak,” ucap Asyila yang sudah berlinang air mata.


“Ayah juga kangen dengan kamu Nak,” tutur Abraham dengan mata berkaca-kaca.


Ashraf menangis terharu, bocah kecil itu terlihat begitu bahagia melihat kedua orangtuanya yang datang secara tiba-tiba.


“Ya Allah, kalian berdua datang kesini kenapa tidak kabar-kabar?” tanya Arumi dengan ekspresi terkejut.


Arumi menghampiri putri tunggalnya dan juga menantu kesayangannya.


“Assalamu’alaikum, Ibu!” Abraham dan Asyila pun mencium punggung tangan Arumi secara bergantian.


“Wa’alaikumsalam, ayo masuk!” ajak Arumi.


Ashraf masih saja menangis dan dengan cepat Abraham menggendong buah hatinya untuk masuk ke dalam rumah.


“Kalian kenapa datang tanpa memberi kabar?” tanya Herwan dengan ekspresi tak kalah terkejutnya.


“Kami sengaja, Ayah,” jawab Asyila


“Sengaja tidak memberi kabar?” tanya Arumi memperjelas maksud dari putri tunggalnya, “Atau kalian tidak ingin membuat Ibu masak-memasak di dapur?” tanya Arumi lagi.


Abraham dan Asyila saling melirik mendengar pertanyaan dari Arumi.


“Hhhmmm... Kalian ini kenapa seperti itu? Ibu justru senang jika masak banyak, apalagi saat kalian datang,” tutur Arumi.


Ashraf masih saja menangis, bocah kecil itu sangat senang melihat kedua orangtuanya.


“Ayah sama Bunda nanti malam tidur sama Ashraf ya!” pinta Ashraf.


“Ashraf mau tidur sama Ayah dan Bunda?” tanya Asyila.


“Iya, Bunda,” jawab Ashraf dan merentangkan tangannya ke arah Asyila agar Asyila segera menggendongnya.


Abraham menghela napasnya dan memberikan Ashraf kepada Asyila.


“Masya Allah, baru beberapa bulan tidak ketemu Ashraf semakin berisi saja,” ucap Asyila yang memang merasakan berat buah hatinya bertambah.


“Ashraf makannya banyak Bunda,” balas Arumi sambil menirukan suara anak kecil.


Ashraf tak memedulikan apa yang dikatakan oleh Neneknya, bocah kecil itu terlalu fokus dengan wanita dihadapannya. Dipeluknya leher Asyila sembari menangis kecil.


Terlihat jelas, bahwa Ashraf sangat merindukan Bundanya tersayang.


“Sudah jangan nangis,” ucap Asyila.


Ashraf mengangguk kecil dan perlahan menghentikan air matanya.


Disaat yang bersamaan, Eko masuk dengan membawa sebuah koper berukuran cukup besar serta kantong plastik yang ukurannya pun cukup besar.


“Ini ditaruh dimana, Tuan Muda?” tanya Eko.


“Taruh saja di depan kamarku!” perintah Abraham.


Eko mengiyakan dan bergegas membawa koper serta kantong plastik tersebut ke depan kamar Abraham.

__ADS_1


“Ayo kita makan bersama!” ajak Arumi yang kebetulan memasak semur jengkol serta ikan gurame bakar.


Abraham dan Asyila mengiyakan ajak Arumi. Kemudian, merekapun bergegas menuju dapur untuk makan bersama.


__ADS_2