
Wanita itu tersenyum dengan air mata yang terus berlinang membasahi pipinya.
“Kesayangan Bunda...” Wanita itu berjongkok dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar agar Ashraf segera memeluknya.
“Hiks... Hiks... Bunda!” teriak Ashraf dan secepat mungkin berlari untuk segera memeluk Bundanya.
Ashraf menangis sekuat-kuatnya, ia menangis dengan rasa bahagia karena akhirnya wanita yang ia harapkan selama ini sudah berada dihadapannya dan tengah memeluk tubuhnya.
“Bunda...” Arsyad yang baru saja keluar dari rumah untuk melihat adiknya, malah dikejutkan oleh sosok yang sangat dirindukan olehnya, “Bunda..” Arsyad berlari dan ikut memeluk Bundanya dengan sangat erat.
“Ya Allah, Bunda kangen sama kalian berdua Nak. Maafkan Bunda yang baru bisa menemui kalian,” ucap Asyila dengan suara gemetar karena tak bisa menyembunyikan rasa kebahagiaannya ketika bertemu dengan kedua hatinya yang cukup lama terpisah darinya.
“Hiks... Hiks... Bunda dari mana saja? Ayah bilang Bunda sudah meninggal,” ucap Arsyad menanyakan keberadaan Bundanya yang selama ini menghilang.
“Maafkan Bunda ya sayang. Maaf karena telah membuat kalian menunggu Bunda terlalu lama. Bunda akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Bunda, sekarang Bunda ingin memperkenalkan murid-murid Bunda dan juga teman-teman Bunda yang sudah Bunda anggap seperti saudara Bunda sendiri. Dan satu lagi, Bunda membawa hadiah untuk kalian,” terang Asyila dengan air mata penuh kebahagiaan.
Salah satu wanita yang usianya lebih tua dari Asyila, perlahan mendekat ke arah Asyila dan juga kedua buah hatinya.
Kemudian, dengan hati-hati memberikan seorang bayi mungil kepada Asyila.
“Tebak, siapa bayi mungil ini?” tanya Asyila yang terus menetaskan air mata bahagianya.
Arsyad dan Ashraf seketika itu mengatakan bahwa bayi mungil yang digendong oleh Bunda mereka adalah adik mereka.
“Iya sayang, ini adik kalian. Usianya baru 3 Minggu,” terang Asyila dengan bibir gemetar.
Tangisan Arsyad dan Ashraf semakin kencang, mereka sangat bahagia karena Bunda tercinta mereka dan juga adik mereka telah kembali.
Bayi mungil itu tak menangis sama sekali. Malah, ia tertidur dengan sangat pulas.
Bibir serta hidungnya sangat persis dengan Ayahnya, Abraham Mahesa.
Asyila bangkit dan mempersilakan para muridnya serta yang lainnya untuk masuk ke dalam rumah. Saat itu Asyila tahu bahwa suaminya tidak berada di rumah, karena jika suaminya ada di rumah sudah sejak dari tadi suaminya akan keluar untuk menyambut kedatangan mereka.
Arsyad dan Ashraf berjalan masuk sambil terus memegangi pakaian yang dikenakan oleh Bunda mereka. Terlihat sangat jelas, bahwa keduanya tak ingin jauh-jauh dari Bunda mereka yang telah lama menghilang.
“Ibu Sri, Ibu Marni, Ibu Yati, Pak Antok, Pak Dewo dan Anak-anak tunggu disini sebentar ya!” pinta Asyila.
Sekitar 15 orang anak yang ikut mengantarkan Asyila kembali kerumahnya. Sebenarnya, ada lebih banyak yang ingin ikut. Akan tetapi, mobil yang mereka gunakan tidaklah banyak. Hanya 3 mobil saja dan itupun mereka harus berdesakan.
Ketiga wanita dua pria yang sama-sama berprofesi sebagai guru, terlihat sangat bahagia. Mereka menyeka air mata yang tersisa karena akhirnya Asyila bisa kembali ke pelukan keluarganya.
“Ibu guru, Bunda tinggal disini?” tanya salah satu murid TK kepada Ibu Sri.
“Iya sayang, Bunda Asyila tinggal disini,” jawab Ibu Sri.
Asyila masuk ke dalam kamarnya dan seketika itu juga ia menangis terharu.
Bau suaminya membuat hatinya tenang dan juga bahagia.
“Bunda jangan pergi lagi, Bunda harus tetap disini,” ucap Arsyad.
“Bunda tidak boleh meninggalkan rumah ini,” ucap Ashraf.
Asyila menggigit bibirnya sendiri dan mencium kening kedua putranya secara bergantian.
Kemudian, meletakkan bayi mungilnya di tempat tidur.
“Peluk Bunda sekali lagi, Nak. Bunda sangat dan sangat merindukan kalian.”
Arsyad dan Ashraf pun memeluk tubuh Bunda mereka dengan sangat erat, seperti tak ingin lepas dari pelukan hangat yang sudah lama tidak mereka rasakan.
“Tolong maafkan Bunda ya sayang, ada hal yang membuat Bunda tidak bisa pulang untuk berkumpul dengan kalian. Meskipun begitu, kalian tidak perlu takut lagi. Bunda akan selalu ada disisi kalian dan tidak akan lagi menghilang dari pandangan kalian,” ungkap Asyila.
Asyila sangat berterima kasih kepada Allah karena atas izin Allah, dirinya bisa kembali berkumpul dengan keluarga kecilnya. Meskipun, suami serta kedua buah hati mereka menganggap dirinya sudah meninggal.
Cukup lama Asyila berpelukan dengan kedua buah hatinya, sampai akhirnya Asyila meminta Arsyad dan juga Ashraf untuk tetap di dalam kamar. Sementara dirinya, turun kebawah untuk menyuguhkan cemilan dan juga minuman hangat.
Awalnya Arsyad dan juga Ashraf menolak permintaan dari Bunda mereka. Mereka berdua takut jika wanita dihadapan mereka tiba-tiba menghilang.
Asyila menyeka air matanya dan memberi tatapan tulus kepada keduanya.
“Lihat mata Bunda. Apa Bunda akan berbohong kepada kalian? Bunda harus turun untuk melayani tamu, tolong bantu Bunda menjaga Adik bayi!” pinta Asyila.
__ADS_1
Keduanya mengangguk dan sebelum Asyila meninggalkan kamar, keduanya dengan kompak kembali memeluk Bunda mereka.
Beberapa menit kemudian.
Asyila datang dan membawa beberapa cemilan serta teh hangat untuk para tamu.
“Silakan dinikmati,” tutur Asyila mempersilakan mereka untuk menikmati teh dan juga cemilan.
Ketiga wanita yang ikut mengantarkan Asyila, seketika itu menangis dan kompak memeluk Asyila. Mereka berulang kali mengucapkan terima kasih kepada Asyila yang sudah banyak membantu mereka dalam urusan pendidikan.
Sampai kapanpun, mereka tak akan pernah melupakan jasa-jasa Asyila.
“Selamanya kami akan berhutang Budi kepada Mbak Asyila. Terima kasih atas semua yang telah Mbak Asyila lakukan,” ucap Ibu Sri yang sudah seperti Ibu bagi Asyila.
Asyila menangis terharu dan mengucapkan terima kasih kepada mereka semua yang telah banyak membantu Asyila.
Terlebih lagi Pak Antok yang telah menyelamatkan Asyila pada saat Asyila tenggelam karena ingin dibunuh oleh orang-orang yang tak dikenalnya.
“Pak Antok, sebelumnya Saya mengucapkan terima kasih atas apa yang telah Pak Antok lakukan untuk saya. Selamanya saya akan selalu mengingat kebaikan Pak Antok dan juga keluarga,” ucap Asyila dengan terus berlinang air mata.
Pak Antok tersenyum lebar dan menangis terharu mendengar ucapan Asyila.
“Ini semua sudah takdir dari Allah. Allah masih sayang dengan Mbak Asyila dan kehadiran Mbak Asyila justru membuat warna baru bagi kita serta desa kita. Kalau boleh jujur, kami sedikit tak ikhlas melepaskan Nona Asyila,” terang Pak Antok.
“Lihatlah Anak-anak ini! Mereka semua sangat sayang kepada Mbak Asyila. Apalagi saat Mbak Asyila mengajar, mereka begitu semangat dan tak memberi waktu kepada guru-guru yang lain untuk mengajar,” tutur Ibu Marni.
Anak-anak bergantian memeluk Asyila, mereka sebentar lagi akan berpisah dengan sosok wanita yang begitu baik terhadap mereka. Cara Asyila memberikan ilmu pengetahuan dapat diacungi jempol dan membuat mereka ingin berlama-lama berada di kelas.
Cukup lama mereka berbincang-bincang, sampai akhirnya mereka harus berpisah dan entah kapan mereka akan kembali bertemu.
Sebelum pergi, Asyila memberikan sejumlah uang tunai yang sudah ia masukkan ke dalam amplop.
Para guru menolak pemberian Asyila. Akan tetapi, Asyila segera memberi pengertian kepada para guru agar mau menerima uang tersebut. Uang itu bisa digunakan sebagai bantuan kecil untuk fasilitas sekolah dan bisa digunakan untuk hal-hal lainnya.
Akhirnya mereka pun menerima pemberian Asyila dan seketika itu juga Asyila mengucapkan terima kasih atas pengertian mereka.
Karena waktu sudah hampir memasuki waktu Maghrib, merekapun memutuskan untuk segera pergi.
“Bunda Asyila, kami pulang. Terima kasih atas semuanya,” ucap Anak-anak secara kompak dan mencium punggung tangan Asyila secara bergantian.
Asyila sangat terharu sekaligus tersanjung dengan anak-anak didiknya.
“Kalian belajar ya rajin ya Anak-anak. Selamanya kalian adalah anak-anak Bunda Asyila,” ucap Asyila dan untuk kesekian kalinya dirinya menangis terharu.
Satu-persatu mereka keluar dari rumah dan akhirnya pergi meninggalkan perumahan Absyil.
Asyila menggigit bibirnya dan mengucapkan terima kasih kepada Sang Pencipta.
“Ya Allah yang maha kuasa, terima atas karena Engkau telah memberikan hamba kesempatan. Terima kasih telah memberikan hamba tempat yang sangat spesial bagi anak-anak didik hamba serta yang lainnya. Semoga Engkau selalu melindungi mereka sampai tujuan, Aamin Allahumma aamin.”
Asyila menoleh sekilas ke arah rumah sahabatnya dan terlihat jelas bahwa rumah disampingnya kosong.
“Ema dan yang lainnya pasti sedang tidak berada di rumah. Apakah mereka juga merindukan ku?” tanya Asyila bermonolog dan kembali menutup gerbang rapat-rapat.
Setelah menutup gerbang rumah, Asyila bergegas masuk ke dalam rumah dan memutuskan untuk masuk ke dalam kamar terlebih dahulu.
Ketika sedang menaiki anak tangga, Asyila tiba-tiba teringat dengan tas bayi yang isinya adalah pakaian bayi mungilnya. Asyila pun turun dari tangga dan berjalan dengan langkah lebar menuju ruang tamu.
Senyum tipis samar-samar terlihat dibibir Asyila.
“Terima kasih,” tutur Asyila mengingat kebaikan para guru yang membelikan pakaian bayi mungilnya.
Di dalam kamar, Arsyad dan Ashraf terus saja memandangi wajah adik mungil mereka. Arsyad bahkan sangat penasaran jenis kelamin adik barunya itu.
“Kesayangannya Bunda!”
Arsyad dan Ashraf seketika itu menoleh ke arah Asyila yang baru saja masuk ke dalam kamar.
“Bunda!” Mereka dengan cepat berlari menuju Bunda mereka.
“Sudah mau Maghrib, kalian bersiap-siaplah untuk sholat Maghrib!” perintah Asyila.
“Sholat di rumah ya Bunda!” pinta Arsyad yang tidak ingin berjauhan dari Sang Bunda.
__ADS_1
“Ya sudah, tidak apa-apa. Akan tetapi, kalian sholat berdua saja. Bunda lagi cuti,” balas Asyila.
Keduanya mengiyakan dan bergegas mengganti pakaian mereka dengan pakaian yang biasa digunakan untuk sholat. Kemudian, mengambil air wudhu dan menunggu waktu untuk sholat Maghrib.
Beberapa saat kemudian.
Setelah Arsyad dan Ashraf sholat Maghrib berjamaah, Asyila kemudian meminta kedua buah hatinya untuk kembali menjadi bayi mungilnya.
Lalu, Asyila sendiri memutuskan untuk beres-beres rumah dan memasak makanan untuk suaminya.
Asyila berharap, suaminya mau memaafkan dirinya yang telah lama menghilang.
Melihat ruang keluarga yang berantakan, Asyila mulai membereskannya. Tak ada sedikitpun rasa kesal dihatinya. Justru, Asyila sangat senang karena akhirnya ia bisa melakukan pekerjaan di rumahnya sendiri.
Hampir semuanya ia bersihkan dan semakin membuat Asyila bahagia.
“Alhamdulillah, sekarang aku hanya tinggal memasak dan semoga saja Mas Abraham tiba ketika masakan ku sudah siap dihidangkan,” tutur Asyila bermonolog dan mulai mencari sayur di dalam kulkas.
Asyila bersyukur karena sayur-mayur yang berada di dalam kulkas cukup banyak dan juga segar.
Ketika Asyila sedang memasak, perlahan air matanya kembali menetes. Ia baru menyadari bahwa tubuh kedua buah hatinya sangat kurus.
“Arsyad dan Ashraf pasti sulit makan. Semoga saja mereka masih menyukai masakan yang aku masak,” tutur Asyila sambil menyeka air matanya agar tak terus mengalir.
Asyila memotong sayuran tersebut dengan gerakan cepat. Ia tak bisa berlama-lama di dapur karena ingin cepat-cepat berkumpul bersama buah hatinya di dalam kamar.
Selang beberapa menit, seorang pria baru saja tiba dan meminta sopir pribadinya untuk membawa mobil miliknya pulang ke rumah sang sopir.
Tanpa pikir panjang, sopir tersebut mengiyakan dan bergegas pergi meninggalkan perumahan Absyil.
Pria itu menoleh ke arah jam di ponselnya yang ternyata sudah menunjukkan pukul 7 malam.
“Ya Allah, Arsyad dan Ashraf pasti menangis di dalam rumah,” tutur pria tersebut, siapa lagi kalau bukan Abraham.
Abraham membuka gerbang rumahnya dengan sangat pelan dan bergegas masuk ke dalam rumah. Abraham mengernyitkan keningnya karena pintu terbuka sedikit.
“Apa Arsyad dan Ashraf lupa menutupnya?” tanya Abraham bermonolog dan tanpa pikir panjang lagi, Abraham masuk ke dalam untuk melihat keadaan buah hatinya di dalam kamar.
Ketika Abraham ingin menaiki anak tangga, samar-samar Abraham mendengar suara berisik di dapur. Seperti ada seseorang yang sedang menggoreng sesuatu, Abraham pun memutuskan untuk memeriksa keadaan di dapur.
Deg!
Deg!
Abraham tercengang ketika melihat seorang wanita yang tengah sibuk di dapur. Tubuhnya seketika itu gemetar dan rasanya tidak dapat digerakkan. Hanya air matanya yang tiba-tiba mengalir deras.
Ketika wanita itu berbalik, Abraham merasa seperti mimpi. Mimpi yang sangat indah dan membuat Abraham tak ingin bangun dari tidurnya untuk selamanya, agar mimpinya terus berlanjut.
“Mas Abraham...”
Mendengar suara Sang istri yang memanggil namanya, semakin membuat Abraham tak berdaya.
“As-asyila...” Abraham berkata dengan bibir gemetar.
Wanita dihadapannya tiba-tiba berjalan menuju ke arahnya dan dalam hitungan detik wanita dihadapannya sudah memeluk tubuhnya dengan sangat erat.
Abraham bisa merasakan kembali apa yang sudah lama tidak ia rasakan. Pelukan hangat dan penuh cinta dari istrinya kembali ia rasakan.
“Mas, maafkan Asyila,” tutur Asyila menangis dipelukan suaminya.
Abraham tersadar dan seketika itu menangis terharu. Ia akhirnya sadar bahwa wanita yang tengah memeluk dirinya adalah Sang istri yang ia kira sudah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
“Hiks... Hiks...” Keduanya menangis dengan terus memeluk erat satu sama lain.
“Syila, apakah benar ini adalah istriku? Apakah ini benar-benar nyata?” tanya Abraham yang semakin mempererat pelukannya.
“Hiks... Hiks... iya, Mas Abraham. Ini adalah Asyila, wanita yang sangat Mas Abraham cintai,” jawab Asyila yang tak henti-hentinya menangis dipelukan suaminya.
“Ya Allah! Ya Allah! Allahu Akbar!” Berulang kali Abraham menyebut nama Allah atas kebesaran Sang Pencipta yang telah menyatukannya kembali dengan Sang istri.
Abraham ❤️ Asyila
😭😭 Akhirnya Asyila Kembali ❤️
__ADS_1