Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Kembar?


__ADS_3

Asyila menikmati salad buah di kamar sembari memperhatikan wajah suaminya di foto. Tanpa sadar, Asyila meneteskan air matanya karena sangat rindu dengan suaminya yang selalu membuatnya tersenyum dan kadang jengkel.


Beberapa menit yang lalu Asyila mendapat kabar dari Sang Ayah bahwa Arsyad telah membaik dan sudah pulang ke rumah. Asyila pikir Arsyad akan marah karena dirinya tak datang disaat Arsyad membutuhkannya, justru Arsyad mengerti dan meminta Asyila untuk selalu menjaga adiknya.


“Mas, sebentar lagi Asyila akan menemui Mas disana. Tunggu Asyila ya Mas,” tutur Asyila berbicara pada foto Sang suami tercinta.


Wanita muda itu sangat berharap agar suaminya segera sadar. Benturan di kepala Abraham cukup keras dan itu yang menjadi penyebab Sang suami belum sadarkan diri. Untungnya, Abraham tidak mengalami gegar otak ataupun penyakit berbahaya lainnya.


Dari kecelakaan beruntun itu, 10 dari 18 orang mengalami luka ringan sampai luka berat. Sementara 8 orang telah meninggal dunia di tempat lokasi kejadian.


“Bunda makan apa?” tanya Ashraf tiba-tiba bangun dari tidurnya.


Asyila berbalik dan memperlihatkan salad buah yang sedang ia nikmati.


“Mau Bunda!“ pinta Ashraf yang ingin mencicipi nikmatnya salad buah.


“Boleh, tapi jangan banyak-banyak,” balas Asyila dan memberikan sesuap salad buah ke dalam mulut Ashraf.


Bocah kecil itu mulai mengunyahnya dan tersenyum lebar ketika salad buah di mulutnya sudah habis.


“Mau lagi?” tanya yang bersiap-siap untuk menyuapi kembali buah hatinya.


“Sudah Bunda,” balas Ashraf dan ia pun kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Ashraf berharap dirinya segera sembuh, agar dirinya bisa kembali bertemu dengan Sang Ayah tercinta.


“Kesayangan Ayah dan Bunda mau tidur lagi ya sayang? Ya sudah tidurlah, Insya Allah kalau Ashraf sudah membaik besok kita akan ke Jakarta menemui Kak Arsyad dan juga Ayah. Bagaimana?”


Ashraf tersenyum lebar dan di detik berikutnya ia segera memejamkan mata untuk kembali tidur.


Sore hari.


Dyah bersiap-siap untuk kembali ke rumah karena besok pagi dirinya harus kerja dan dengan berat hati Dyah harus meninggalkan Asyila serta Ashraf.


“Aunty, Dyah pamit mau pulang. Insya Allah nanti malam Papa dan Mama sudah pulang,” tutur Dyah yang terlihat tak semangat.


“Kamu pulang sama siapa?” tanya Asyila.


Dyah tersenyum tipis dan memperlihatkan Asyila pada ponselnya.


“Kan, ada ini Aunty,” tutur Dyah.


Asyila geleng-geleng kepala dan disaat yang bersamaan Fahmi datang.


“Assalamu’alaikum,” ucap Fahmi diluar pintu.

__ADS_1


Dyah mengernyit keningnya dan seketika itu juga dirinya salah tingkah.


“Wa'alaikumsalam, ayo masuk!” seru Asyila mempersilakan Fahmi untuk segera masuk ke dalam.


“Aunty, Dyah sudah mau pulang. Kenapa Mas Fahmi malah kemari?” tanya Dyah berbisik-bisik di telinga Asyila.


“Dyah mau pulang, tolong antarkan ya!” pinta Asyila.


Fahmi mengiyakan dengan senyum manisnya dan itu semakin membuat Dyah salah tingkah serta canggung.


Asyila menyenggol lengan Dyah dan Dyah pun mau tak mau pulang bersama Fahmi. Asyila menahan tawanya ketika ada pemandangan lucu. Yaitu, kedua kaki Fahmi terlihat gemetaran.


“Aunty, Dyah pulang dulu ya Wassalamu'alaikum.”


Fahmi pun ikut mengucapkan salam dan Asyila segera membalas salam dari keduanya.


Dyah dan Fahmi terlihat sangat canggung ketika berada di atas motor. Asyila lagi-lagi tak bisa menahan tawanya, calon suami istri itu membuat Asyila teringat saat dirinya dan suami melakukan pendekatan.


Dyah melotot ke arah Aunty-nya yang terus tertawa melihat dirinya bersama dengan Fahmi.


“Ayo cepatlah!” pinta Dyah karena tak ingin semakin malu.


Mereka pun bergegas pergi meninggalkan Perumahan Absyil.


Ya Allah, kenapa hamba malah menjadi seperti ini? Haduh, Ayolah Dyah! Kenapa malah kamu gugup seperti ini?


“Dyah, mau makan mie ayam?” tanya Fahmi sambil sedikit menoleh ke belakang.


“Apa?” tanya Dyah yang tak mendengar apa yang dikatakan oleh Fahmi.


Fahmi mengangguk kecil, mengira bahwa Dyah mengiyakan ajakannya. Dan tak butuh waktu lama, Fahmi pun berbelok ke arah mie ayam yang beberapa hari lalu ia singgahi bersama dengan Ibu Murni.


“Kita ngapain kemari?” tanya Dyah.


“Aku tadi mengajakmu kemari, kamu pun setuju,” jawab Fahmi.


“Oh, yang tadi itu aku membalas kata “Apa” kalau sudah begini, ya sudah ayo!” seru Dyah sambil tersenyum lebar, berusaha menutupi rasa canggung.


“Benar tidak apa-apa? Kalau kamu tidak suka, kita langsung pergi saja,” tutur Fahmi.


Kruyuk kruyuk!


Dyah terkejut dan segera memukul perutnya sendiri yang bunyi disaat yang tidak tepat.


“Jangan tertawa!” perintah Dyah pada Fahmi yang menertawakan perutnya.

__ADS_1


Fahmi segera menutup mulutnya sembari terus menahan tawanya. Calon istri Fahmi benar-benar terlihat menggemaskan dan itu salah satu hal yang membuat Fahmi tertarik kepada Dyah.


“Sudah jangan tertawa lagi,” ucap Dyah sembari menoleh ke arah perutnya.


“Ehem..” Fahmi berdehem dan segera mengajak Dyah masuk ke dalam kedai mie ayam.


Ketika baru masuk, seorang wanita tua menyambut mereka dan mengira bahwa keduanya adalah adik kakak.


“Kembar ya?” tanya pemilik kedai mie ayam tersebut pada Dyah dan juga Fahmi.


Dyah dan Fahmi saling tukar pandang setelah mendengar pertanyaan dari pemilik kedai.


“Masnya ya yang kakaknya?” tanya pemilik kedai itu lagi.


Dyah dan Fahmi kompak geleng-geleng kepala.


Si pemilik kedai terkekeh dan masih mengira bahwa keduanya adalah kembar.


“Ayo kesana!” ajak Dyah sambil melangkah mencari tempat duduk.


Kembar? Ibu-ibu itu pasti salah lihat. Jelas-jelas kami tidak mirip sama sekali.


Dyah duduk dengan memasang wajah sebel, hal itu malah berbanding terbalik dengan Fahmi yang terlihat sangat senang karena ia dan calon istrinya dibilang kembar.


“Lucu ya?” tanya Dyah yang kini memasang wajah jutek.


Fahmi mengangkat kedua alisnya dan memberikan sate telur puyuh kepada Dyah. Dyah yang awalnya jutek perlahan mulai tersenyum dan segera menikmati sate telur puyuh.


“Enak,” ucap Dyah.


“Ssuuttt, kalau mau lagi ambil saja. Aku yang akan membayarnya!”


Dyah yang lapar langsung saja melahap habis sate telur puyuh tersebut. Soal perut Dyah memang nomor satu dan akhirnya Fahmi memiliki cara tersendiri untuk semakin membuat Dyah dekat padanya. Syukur-syukur membuka hati untuknya, sehingga akan lebih cepat bagi Fahmi untuk menyatakan Cinta dan menikahi Dyah.


“Silakan mie ayamnya dinikmati, minum nya apa?” tanya pemilik kedai mie ayam.


“Es jeruk,” balas Dyah dan Fahmi kompak.


Pemilik kedai itu kembali terkekeh mendengar jawaban kompak dari keduanya.


“Selain kembar, kalian juga kompak,” ucapnya dan melenggang pergi untuk membuatkan es jeruk.


Lagi-lagi Dyah terheran-heran dengan apa yang dikatakan oleh pemilik kedai tersebut.


Kembar? Kompak?

__ADS_1


“Apa ada yang aneh dengan wajahku?” tanya Fahmi pada Dyah yang terus memperhatikan dirinya. Sampai-sampai Fahmi salah tingkah dibuatnya.


Dyah tersadar dan segera kembali mengunyah sate teluk puyuh dihadapannya.


__ADS_2