
Sore hari.
Asyila menghela napasnya ketika baru saja memasukkan motor ke dalam garasi. Sore itu, ia baru pulang dari pasar untuk membeli keperluan sehari-hari dan juga untuk acara masak-memasak bersama dengan sahabatnya, Ema. Untungnya, pasar tempat biasa Asyila beli buka sampai sore. Jadi, tidak perlu berangkat pagi-pagi untuk berbelanja.
“Assalamu’alaikum,” ucap Asyila ketika memasuki rumah.
Asyila menutup pintu rumah dan tak lupa menguncinya. Kemudian, ia bergegas melangkahkan kakinya menuju dapur untuk menata bahan-bahan belanjaannya ke dalam kulkas.
Asyila menatanya dengan penuh serius, suasana di dalam rumah itu sangatlah hening. Dan perlahan membuat Asyila merasakan kesepian yang mendalam.
“Ya Allah, sekarang Arsyad dan Ashraf lagi apa disana?” tanya Asyila sambil membayangkan wajah kedua buah hatinya.
Wanita muda itu terlihat begitu sedih, ia sangat merindukan tawa buah hatinya. Ada banyak kenangan yang sudah ditorehkan oleh keduanya di dalam rumah tersebut.
“Azzam, Bunda juga merindukan Azzam. Azzam disana baik-baik ya sayang, tunggu kami di surga,” ucap Asyila yang juga merindukan buah hatinya yang sudah berada di surga.
Usai menata bahan-bahan makanan, Asyila memutuskan untuk berisitirahat sejenak di dalam kamar sekaligus bersiap-siap menyambut kedatangan suaminya yang kurang dari 1 jam akan tiba.
“Sebaiknya aku merebahkan tubuh dulu dan setelah itu berhias untuk menyambut kedatangan Mas Abraham,” ucap Asyila bermonolog sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Wanita muda itu memejamkan matanya sejenak, hingga akhirnya ia pun tertidur.
Disisi lain.
Abraham saat itu masih berada di perusahaan. Ternyata, ada banyak pekerjaan yang harus segera ia selesaikan. Belum lagi beberapa berkas yang masih menunggu untuk mendapat tanda tangan darinya.
“Kenapa semua berkas ini belum juga pergi dari mejaku?” tanya Abraham sambil memijat kepalanya yang terasa pusing.
Yogi tertawa kecil mendengar keluhan dari sahabatnya.
“Iya, aku tahu bahwa kau saat ini ingin cepat-cepat pulang menemui istrimu yang cantik itu. Akan tetapi, pekerjaan kita belum selesai dan memang harus diselesaikan hari ini juga,” terang Yogi.
Abraham menghela napasnya yang terasa berat sambil menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya.
“Sepertinya memang pulang telat hari ini,” ucap Abraham yang terlihat pasrah.
“Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Aku pun akan lembur bersamamu,” sahut Yogi.
“Kau yakin ingin lembur? Sebaiknya kau pulang saja duluan. Aku tidak apa-apa di sini sendirian,” balas Abraham.
Yogi terkekeh kecil dan kembali ke kursinya untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.
Beberapa jam kemudian.
“Alhamdulillah,” ucap Abraham ketika pekerjaan yang ia tangani sudah selesai.
Abraham menoleh ke arah jam yang melingkar sempurna ditangannya, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 22.15 WIB.
__ADS_1
“Ya Allah, ternyata sudah sangat malam. Apakah Syila sudah tidur?”
Tanpa pikir panjang, Abraham langsung menyambar jas kerja miliknya dan berlari kecil meninggalkan ruangannya.
Abraham berlari kecil sambil menenteng tas kerja miliknya yang cukup berat.
“Selamat malam, Pak Abraham!” sapa penjaga perusahaan.
Abraham membalas sapaan tersebut dan terus berlari kecil menuju area parkir.
“Selamat malam, Tuan muda Abraham!” sapa Eko yang terlihat begitu semangat. Maklum saja, Eko kini sangat jarang mengantar jemput tuannya itu.
“Kamu baru sampai apa dari tadi?” tanya Abraham sambil masuk ke dalam mobil.
“Tentu saja dari jam 8 tadi, Tuan muda Abraham,” balas Eko.
Abraham mengernyitkan keningnya dan segera merogoh ponselnya. Ternyata ponsel miliknya mati total, kehabisan baterai.
“Ternyata ponselku lupa dikasih makan, kalau begitu ayo kita pergi. Syila pasti sudah menungguku.”
Eko mengangguk kecil dan bergegas menuju perumahan Absyil.
Ditengah perjalanan menuju perumahan Absyil, tiba-tiba ada dua orang yang tengah adu mulut di jalan raya. Kebetulan, jalan raya yang tengah dilewati oleh Eko dan juga Abraham cukup sepi.
“Kenapa berhenti, Eko?” tanya Abraham pada sopir pribadinya.
Abraham seketika itu menoleh untuk memastikan apa yang dikatakan oleh Eko. Ketika melihat pertengkaran tersebut dari dalam mobil, Abraham geleng-geleng kepala dan memutuskan untuk turun dari mobil.
“Maaf, kalau boleh tahu kalian berdua ada masalah apa?” tanya Abraham.
“Kamu jangan ikut campur urusan kami,” tegas si pria sambil menunjuk-nunjuk Abraham dengan telunjuknya.
Abraham yang tak suka dengan perlakuan pria dihadapannya, seketika itu memegang tangan si pria sambil memberikan tatapan tajam.
“Kalau ada masalah keluarga sebaiknya kalian selesaikan dengan baik-baik. Bila perlu kalian panggil orang yang bisa menengahi kalian berdua dan tolong jangan membuat keributan di jalan raya seperti ini, bahaya,” terang Abraham.
“Salahkan saja suami saya, Mas. Dia berulang kali selingkuh dan tidak menafkahi anak serta istrinya. Sementara uang yang dia punya malah diberikan kepada wanita lain,” terang si wanita sambil berlinang air mata.
Mendengar hal tersebut hati Abraham langsung panas. Abraham paling benci dengan pria yang suka berselingkuh.
“Hei, Kau! Apakah kau benar-benar telah berselingkuh?” tanya Abraham sambil menuntun pria itu untuk minggir agar tak menghalangi pengendara lain yang ingin lewat.
“Kamu jangan ikut campur, ini urusanku dan bukan urusanmu!” teriaknya.
Abraham menahan diri untuk tidak menghajar pria dihadapannya. Dikarenakan, Abraham tidak ingin membuat suasana hatinya menjadi buruk karena harus segera menemui istri kecilnya yang tengah menantinya di rumah.
“Ya saya tahu bahwa hal tersebut adalah urusanmu. Akan tetapi, menyakiti hati wanita bukanlah suatu perkara kecil. Apa untungnya berselingkuh? Yang ada kau mendapatkan dosa dan hidupmu akan terus-menerus mendapatkan masalah. Cobalah berpikir lebih jernih, pikirkan masa depan keluarga kalian terlebih lain buah hati kalian. Kalau begitu, saya permisi. Wassalamu'alaikum!”
__ADS_1
“Wa’alaikumsalam,” balas si wanita. Sementara si pria terlihat bengong mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Abraham.
Abraham masuk ke dalam mobil dan meminta Eko untuk kembali melakukan perjalanan mereka menuju perumahan Absyil.
Abraham berdo'a di dalam hatinya agar Allah bisa menyelamatkan pernikahan mereka. Karena pernikahan bukan suatu hal yang mudah untuk dilepaskan begitu saja, apalagi karena permasalahannya adalah perselingkuhan.
***
Perumahan Absyil.
Abraham turun dari mobil dan bergegas mendekat ke arah pintu. Diketuknya pintu tersebut agar Sang istri bisa segera membukakan pintu untuknya.
Selang beberapa menit, Asyila pun membukakan pintu dengan ekspresi wajah yang tak pernah dibayangkan oleh Abraham.
“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham sambil melebarkan senyumnya ke arah sang istri.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Asyila datar dan mencium punggung tangan suaminya. Kemudian, membawa masuk tas kerja milik suaminya ke dalam kamar.
Asyila melenggang begitu saja menuju kamar tanpa mengeluarkan sepatah kata pun kecuali, membalas salam dari Abraham.
Abraham tahu bahwa istri kecilnya tengah ngambek, bagaimana tidak? Janji untuk pulang sore tidak bisa ditepati, belum lagi dengan ponsel Abraham yang mati total sehingga istri kecilnya tidak bisa menghubungi dirinya.
Sesampainya di dalam kamar, Asyila langsung membuka hijab yang ia kenakan dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sedikit terbuka. Kemudian, kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dan seketika itu membuat Abraham bingung.
Abraham mencoba mendekati istri kecilnya, akan tetapi Asyila hanya diam dan terus diam
“Ngambek ya?” tanya Abraham.
Pertanyaan yang seharusnya tak diucapkan oleh Abraham.
Asyila sekali lagi terdiam dan berbalik badan membelakangi suaminya yang mencoba untuk mengajak sang istri berbicara.
“Iya, Mas salah,” ucap Abraham.
Asyila kembali tak mengeluarkan sepatah katapun, suaminya itu benar-benar membuatnya khawatir.
“Iya, Mas mengaku salah,” tutur Abraham yang terlihat kebingungan melihat istri kecilnya ngambek.
Abraham menghela napasnya dan memutuskan untuk membersihkan diri. Asyila memanyunkan bibirnya dan menoleh ke arah suaminya yang sedang berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Asyila jelas saja ngambek, Mas bilang kepada Asyila sampai rumah sebelum jam 5. Belum lagi ponsel Mas yang tidak bisa dihubungi,” omel Asyila dan memutuskan untuk segera tidur. Meskipun, ia sangat ingin mengutarakan kekesalan kepada suaminya.
Selang beberapa menit, Abraham akhirnya keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang masih setengah basah. Pria itu pun menoleh ke arah istri kecilnya yang masih dengan posisi membelakangi dirinya.
Syila benar-benar ngambek. Aku memang sungguh keterlaluan, seharusnya mengisi daya baterai ponselku. 😭
Kalau begini, aku tidak bisa mendapatkan jatah.
__ADS_1