Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Mencari Keberkahan Dalam Kebaikan


__ADS_3

Keesokan paginya.


Asyila terlihat sangat serius dengan ponselnya sampai-sampai Asyila mengabaikan suaminya yang tengah mengajak dirinya berbicara.


Abraham menghela napasnya dan mendekat ke arah istri kecilnya yang terus saja memperhatikan ponsel.


“Syila, Mas dari tadi mengajak Syila berbicara. Syila kenapa dari tadi hanya melihat ponsel saja?” tanya Abraham.


Saat itu dan detik itu juga, Asyila meletakkan ponselnya dan meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan.


“Maaf ya Mas, bukan maksud Asyila mengabaikan Mas. Asyila sedang mengirim pesan sekaligus menunggu jawaban dari tukang catering,” terang Asyila dan sekali lagi meminta maaf pada suaminya.


“Jadi itu masalahnya, memangnya kapan tukang catering nya datang?” tanya Abraham dan mengambil ponsel Sang istri.


“Asyila juga tidak tahu, Mas. Kata pihak catering, mereka akan sampai sebelum jam 8. Akan tetapi, ini sudah hampir jam dan mereka belum juga datang,” terang Asyila.


“Mungkin ada macet atau hal lain di jalan. Asyila tenang ya, insya Allah mereka akan datang,” balas Abraham sembari membelai lembut rambut panjang Asyila yang tengah terurai.


“Aamiin ya rabbalalamin,” sahut Asyila.


“Syila sekarang ganti pakaian dan kita tunggu mereka di ruang tamu!” perintah Abraham.


Asyila mengiyakan dan mengecup lembut bibir suaminya sebelum ia mengganti pakaiannya.


Abraham tersenyum lebar setelah mendapatkan kecupan mesra di bibirnya dari istri kecilnya itu. Kemudian, ia berjalan menghampiri bayi mungil mereka yang saat itu tengah terlelap.


“Akbar sayang, ayo bangun. Tidak boleh bermalas-malasan!” perintah Abraham sembari menyentuh bibir bayi Akbar.


Bayi Akbar pun terbangun dari tidurnya dan mengira bahwa jari Ayahnya adalah ASI.


Abraham tertawa geli dan segera menjauhi jari telunjuknya dari bibir bayi kecilnya itu.


“Ugh... Ugh...” Mulut bayi Akbar bergerak-gerak dan akhirnya menangis sekencang mungkin.


“Mas apakan bayi kita?” tanya Asyila yang sudah selesai mengganti pakaiannya dan tengah mengenalnya hijabnya.


“Mas tidak ngapa-ngapain,” jawab Abraham dengan terus tertawa geli.


Asyila yang sudah mengenakan hijab miliknya, dengan langkah kesal mengambil bayi mungilnya yang tengah berada di keranjang bayi.


“Ayah nakal ya sayang?” tanya Asyila dengan memberikan lirikan tajam ke arah suaminya.


Abraham hanya bisa tersenyum bodoh ketika mendapat lirikan tajam dari Sang istri.


“Bagaimana caranya, bayi kita harus diam. Pagi ini, jadwal Asyila sangat banyak,” ucap Asyila dan memberikan bayi mungil mereka pada Abraham.


Setelah itu, Asyila melenggang pergi meninggalkan Sang suami yang tengah mencoba menenangkan bayi mungil mereka.


“Selamat pagi, Mbok Num!” Asyila tersenyum sembari menyapa Mbok Num. “Kaki Mbok masih pegal-pegal?” tanya Asyila.


“Alhamdulillah, sudah membaik Nona Asyila. Berkat salep yang Nona Asyila berikan semalam,” terang Mbok Num.


“Alhamdulillah, hari ini Mbok Num perbanyak istirahat ya dan jangan dulu membuat kue kacang. Biar yang lainnya saja yang membuat kue kacang!”


“Baik, Nona Asyila,” sahut Mbok Num.


Asyila mengangguk kecil dan kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu.


Disaat yang bersamaan, Abraham bernapas lega karena bayi Akbar sudah tak menangis lagi dan malah kembali tidur.


“Buah hatiku yang satu ini memang beda dari kakak-kakaknya, kalau yang ini paling suka tidur,” ucap Abraham dan kembali meletakkan bayi mungilnya di ranjang bayi. Kemudian, melenggang pergi menyusul Sang istri yang sudah berada di ruang tamu.


Asyila duduk di ruang tamu sembari melirik ke arah depan rumah barangkali catering yang ia pesan tiba.


“Bagaimana, apakah mereka sudah menjawab pesan dari Syila?” tanya Abraham sembari mendaratkan bokongnya di samping Sang istri.


“Belum, Mas. Oya, bayi kita mana?” tanya Asyila karena Abraham datang ke ruang tamu hanya seorang diri.


“Akbar tidur lagi,” jawab Abraham.


“Haaa?” Asyila terlihat kaget dengan jawaban dari suaminya. “Tidur lagi?” tanya Asyila memastikan sekali lagi.


“Iya, istriku sayang. Bayi kita tidur lagi,” terang Abraham.

__ADS_1


Asyila geleng-geleng kepala mendengar keterangan dari suaminya.


“Buah hati kita yang satu ini memang menggemaskan,” ucap Asyila.


“Akan tetapi, lebih menggemaskan Bundanya,” sahut Abraham.


“Menggemaskan bagi Mas Abraham?” tanya Asyila memastikan dengan tersipu malu-malu.


“Oh, tentu saja!” seru Abraham.


Abraham melirik ke arah depan rumah dan ternyata sudah ada mobil yang berhenti tepat di depan gerbang rumah mereka.


“Syila, seperti yang kita tunggu-tunggu sudah tiba,” tutur Abraham sembari menunjuk ke arah luar.


“Iya, Mas. Sepertinya begitu. Ayo kita keluar!” ajak Asyila dengan menggandeng tangan suaminya agar segera keluar rumah.


Dua wanita dan satu pria keluar dari mobil dengan seragam berwarna kuning bertuliskan catering lestari.


“Assalamu’alaikum, dengan Mbak Asyila?” tanya salah satu wanita dari dua wanita tersebut.


“Wa’alaikumsalam, iya dengan saya sendiri,” jawab Asyila.


“Maaf sebelumnya, kami tadi sedikit tersesat. Pesanan Mbak Asyila sudah ada di dalam mobil,” terangnya. “Mau diletakkan dimana nasi kotaknya?” tanya nya lagi.


“Oh, di dalam saja. Di ruang tamu,” jawab Asyila.


Mereka bertiga saat itu juga mengeluarkan nasi kotak yang Asyila pesan dan meletakkannya di ruang tamu.


Setelah semuanya sudah berada di ruang tamu, Asyila memberikan uang tunai.


“Maaf, Mbak Asyila. Uangnya kelebihan 500 ribu.”


“Oh itu memang saya lebihkan,” sahut Asyila.


“Ini benar untuk kami?” tanya mereka memastikan.


“Iya, ambil saja. Semoga berkah dan saya minta tolong untuk mendo'akan sahabat saya yang tengah mengandung agar saat melahirkan nanti Ibu dan buah hatinya selamat,” pinta Asyila.


Tanpa Abraham dan Asyila sadari, ternyata Ema, Yogi dan juga Kahfi mendengar perkataan Asyila yang membuat Ema menangis terharu.


Ema yang berada di balik gerbang dan ingin menghampiri sahabatnya, mendadak menghentikan langkahnya ketika mendengar perkataan Asyila. Ema menangis terharu dipelukan suaminya.


“Mas Abraham, Mas dengar, tidak? Seperti suara Ema yang tengah menangis,” tutur Asyila dan perlahan berjalan menuju luar gerbang.


Asyila terkejut melihat Ema yang telah menangis dipelukan Yogi.


“Ema, kamu kenapa menangis? Perutmu sakit?” tanya Asyila yang terlihat panik.


Ema berbalik arah dan kini menangis dipelukan Asyila.


“Terima kasih sahabat terbaikku,” ucap Ema disela-sela tangisnya.


“Iya sama-sama, tapi kenapa malah kamu menangis seperti ini?” tanya Asyila.


Abraham ikut terheran-heran dengan Ema yang menangis di depan rumahnya.


“Aku tadi tak sengaja mendengar permintaan mu kepada tukang catering tadi, aku menangis gara-gara terharu,” ungkap Ema yang masih memeluk Asyila.


“Jadi itu yang membuat kamu menangis? Sudah jangan menangis lagi, ayo masuk ke dalam!” ajak Asyila sembari menyeka air mata Sahabatnya, Ema.


Merekapun masuk ke dalam untuk mempersiapkan keberangkatan mereka yang ingin berbagi sedikit rezeki.


Asyila tersenyum dan mengambil amplop yang di dalam amplop tersebut telah berisikan uang tunai.


“Ayo, bantu aku meletakkan amplop ini di dalam nasi kotak!” pinta Asyila.


Amplop tersebut sebelumnya sudah Asyila lapisi dengan plastik, sehingga amplop aman bila dimasukkan ke dalam nasi berisi makanan.


Beberapa saat kemudian.


Eko, Abraham dan juga Yogi kompak memasukkan nasi kotak tersebut ke dalam mobil untuk dibagikan kepada orang yang kurang mampu. Tidak hanya nasi kotak saja, Asyila bahkan telah menyiapkan sembako seperti beras, minyak, telur dan mie instan untuk dibagikan.


“Semuanya sudah siap, tinggal dibagikan saja kepada orang yang kurang mampu,” tutur Asyila.

__ADS_1


Ema tidak ikut pergi membagikan nasi kotak dan juga sembako karena Asyila tidak ingin sahabatnya kelelahan. Jadi, yang pergi adalah Eko, Abraham, Asyila, Yogi dan juga Kahfi.


“Ema kami pergi dulu, kau istirahatlah di dalam dan jika ingin makan sesuatu, minta tolonglah kepada Mbok Num,” tutur Asyila sebelum meninggalkan perumahan Absyil.


“Kamu tenang saja, kalau aku lapar aku akan mencarinya di belakang. Kamu pergilah, sekali lagi aku mengucapkan banyak terima kasih karena kamu telah merayakan kehamilan ku dengan berbagi rezeki. Kemungkinan, Mami dan Ibu mertuaku akan tiba di perumahan Absyil beberapa jam lagi,” ungkap Ema.


“Ya sudah kami pergi dulu, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!”


“Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, hati-hati semuanya!” seru Ema.


Mobil pun perlahan keluar dari halaman rumah dan akhirnya meninggalkan perumahan Absyil.


“Mas, kita lewat di gang sebelah situ yang Mas. Soalnya, disana banyak sekali orang-orang yang tidak mampu,” tutur Asyila menunjuk arah di depannya yang sekitar 200 meter lagi.


“Eko, kita lurus setelah ada pertigaan belok kiri!” perintah Abraham.


“Baik, Tuan Abraham!” seru Eko.


Asyila sangat senang dan juga bahagia, karena bisa berbuat baik kepada sesama manusia.


Yogi melihat sekilas ke arah sepasang suami istri yang duduk di kursi tengah, Yogi bersyukur memiliki sahabat seperti Abraham dan istrinya pun sangat beruntung memiliki sahabat seperti Asyila.


Mau bagaimanapun, Yogi berhutang Budi kepada keduanya yang sangat baik. Tidak hanya baik kepada dirinya dan juga Istri. Akan tetapi, sepasang suami istri itu juga baik kepada orang lain dan tidak pandang bulu.


Tak butuh waktu lama, mereka tiba di sebuah desa yang terlihat rumah penduduknya terlihat jauh dari kata sederhana.


Mobil pun berhenti dan saat itu juga Abraham serta yang lain turun untuk memberikan sedikit rezeki.


Asyila mengetuk pintu rumah yang tertutup dan tak butuh waktu lama, pintu pun terbuka.


“Assalamu’alaikum,” ucap Asyila dengan begitu ramah.


“Wa’alaikumsalam, ada apa ya Teh?” tanya seorang Ibu tua yang kebingungan.


Asyila tersenyum dan memberikan nasi kotak serta sembako kepada wanita dihadapannya.


“Ini ada rezeki dari Allah melalui kami, tolong diterima ya Ibu,” ucap Asyila.


“Alhamdulillah, akhirnya kami bisa makan,” tutur wanita itu dan bersujud tepat dihadapan Asyila.


“Astaghfirullahaladzim, Ibu tidak boleh bersujud seperti ini, ayo bangun. Semoga rezeki ini bermanfaat untuk Ibu,” terang Asyila dan karena kasihan, Asyila pun memberikan amplop yang masih sisa di dalam tasnya untuk wanita dihadapannya.


Setelah itu, Asyila serta yang lain melanjutkan langkah mereka untuk memberikan rezeki tersebut dari pintu ke pintu rumah.


Beberapa saat kemudian.


Akhirnya semua nasi kotak dan sembako telah habis diberikan kepada orang yang membutuhkan.


Asyila serta yang lain memutuskan untuk kembali ke perumahan Absyil.


“Alhamdulillah ya Mas, akhirnya semua berjalan dengan sangat lancar. Perasaan Asyila sekarang semakin damai,” terang Asyila.


“Asyila memang istri idaman, terima kasih untuk semua ini,” sahut Abraham pada istri kecilnya dan tak lupa memberikan kecupan mesra di kening Sang istri tercinta.


Yogi tak heran lagi dengan keromantisan sepasang suami istri itu, Yogi bahkan berharap bahwa mereka berdua terus bahagia sampai akhir hayat mereka.


Disaat yang bersamaan, Ema tengah menikmati rujak buah yang dibuat oleh Mbok Num.


Dikarenakan, Ema tergiur pada buah-buahan segar di atas meja makan tersebut. Ia pun meminta Mbok Num untuk membuat rujak buah keinginan dan Ema pun tak lupa mengucapkan terima kasih pada Mbok Num yang telah bersedia membuatkan rujak buat khusus untuknya.


“Sehat terus ya Mbak Dyah,” ucap Mbok Num pada Ema.


“Sekali lagi terima kasih ya Mbok. Maaf merepotkan Mbok Num,” balas Ema.


“Mbak Ema santai saja dengan Mbok Num,” sahut Mbok Num dengan senyum ramahnya.


“Mbok Num temani Dyah disini, Mbok Num juga harus makan rujak buah yang Mbok buat sendiri,” ucap Ema menawarkan rujak buah tersebut.


Mbok Num saat itu juga menolak tawaran dari Ema.


“Kok Mbok Num tidak mau?” tanya Ema yang terlihat kecewa.


“Mbak Ema jangan salah paham, baiklah Mbok makan,” balas Mbok Num dan akhirnya ikut menikmati rujak buah tersebut.

__ADS_1


__ADS_2