
Abraham berlari secepat mungkin menuju dapur setelah mencium bau gosong yang sangat menyengat.
“Astaghfirullahaladzim, ya Allah,” ucap Abraham sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
Niat hati ingin membuat kejutan untuk istri tercinta dengan cara membuat brownies kukus. Dan ternyata, yang didapatkan oleh Abraham adalah brownies kukus yang gosong.
“Kalau sudah begini, siapa juga yang mau memakannya?” tanya Abraham dengan memasang ekspresi wajah kecewa dan juga sedih.
Abraham ingin sekali memberikan kejutan untuk istri kecilnya. Setidaknya dengan cara seperti itu, Asyila semakin mencintainya.
“Sudah jam segini, kenapa Asyila belum juga kembali?” tanya Abraham ketika waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB.
Baru saja Abraham memikirkan istri kecilnya, sang istri sudah datang. Abraham yang mendengar suara motor bergegas menghampiri istri kecilnya untuk membantu Sang istri membawa barang-barang belanjaan.
Ketika baru saja keluar dari pintu, Abraham terkejut melihat sang istri membawa seorang Nenek pulang ke rumah.
“Assalamu’alaikum, Mas!” Dengan senyum manisnya, Asyila mendekati suaminya dan mencium punggung tangan suaminya.
“Wa’alaikumsalam, Syila kenapa baru pulang?” tanya Abraham penasaran.
“Sebenarnya, diperjalanan menuju pasar Asyila tak sengaja melihat Nenek inem diganggu oleh anak-anak muda yang nakal. Lalu, Asyila datang mengusir mereka dan bisa Mas lihat sekarang, Asyila membawa Nenek inem kemari karena ada sesuatu hal yang sangat penting untuk kita bahas, Mas,” terang Asyila.
Abraham terdiam sejenak dan menyentuh kedua bahu istri kecilnya.
“Apa maksud Asyila mengusir anak-anak nakal?” tanya Abraham.
“Asyila membawa potongan kayu yang cukup besar dan mengancam mereka untuk pergi. Karena melihat Asyila yang seperti itu, mereka cepat-cepat kabur,” jawab Asyila yang tentu saja perkataannya tidaklah jujur.
Nenek Inem sudah tidak kaget dengan apa yang dikatakan oleh Asyila. Dikarenakan, sebelumnya Asyila memberitahukan dirinya bahwa suaminya itu tidak tahu mengenai keahlian yang Asyila miliki.
“Lain kali biar Mas ikut juga pergi ke pasar, Mas tidak ingin hal-hal buruk terjadi kepada Asyila, terlebih lagi kejadian malam itu masih membekas di hati Mas,” balas Abraham yang terlihat begitu khawatir.
“Mas jangan memikirkan hal-hal yang membuat Mas sedih, Asyila sekarang sudah sehat dan bahkan Asyila sudah bisa melompat setinggi mungkin,” ucap Asyila mencoba mencairkan suasana.
“Baiklah, Mas percaya dengan Syila,” balas Abraham.
__ADS_1
Asyila tersenyum manis dan menuntun Nenek Inem untuk masuk ke rumah.
Saat memasuki rumah semakin dalam, hidung Asyila perlahan mencium bau gosong.
“Mas, kenapa bau gosong?” tanya Asyila penasaran.
Abraham menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil menuntun istri kecilnya berjalan menuju dapur.
“Lihatlah!” Abraham menunjukkan panci kukus yang didalamnya sudah hitam dengan brownies yang sudah gosong.
Mulut Asyila menganga lebar melihat hal itu. Ia pun meminta sang suami untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dengan malu-malu, Abraham menceritakan keinginannya untuk membuat brownies kukus agar istri kecilnya semakin mencintainya. Akan tetapi, yang didapatkan oleh Abraham adalah brownies kukus yang sudah gosong dan tak layak untuk dimakan.
Asyila tersentuh dengan apa yang dilakukan suaminya. Meskipun gosong, Asyila bisa merasakan cinta sang suami kepada dirinya benar-benar tulus.
“Syila mau ngapain?” tanya Abraham ketika sang istri mengambil brownies kukus gosong itu.
Asyila belum menjawab, wanita muda itu meletakkannya di piring dan mengambil pisau. Kemudian, memotong brownies tersebut untuk mengambil bagian dalamnya. Ternyata, ada bagian dalamnya yang masih tersisa dan tidak gosong.
“Jangan dimakan!” pinta Abraham.
Asyila tersenyum dan mulai mengunyahnya m Meskipun ada rasa gosongnya, tapi tetap saja Asyila harus menghargai buatan suaminya yang memang dikhususkan untuk dirinya.
Abraham geleng-geleng kepala dan segera memeluk tubuh istri kecilnya.
“Lain kali, Mas akan membuatkan brownies kukus yang enak dan yang pasti rasanya tidak akan pernah Asyila lupakan,” ucap Abraham.
“Terima kasih, ya Mas,” tutur Asyila dan menangis di pelukan suaminya.
Di dapur, mereka berpelukan cukup lama. Sampai akhirnya, Asyila ingat dengan Nenek Inem yang tengah berada di ruang tamu seorang diri.
“Mas, untuk sementara ini boleh ya Nek Inem tinggal disini? Asyila ingin membuat perhitungan kepada anak-anak nakal itu, Nek Inem harus mendapatkan keadilan,” ucap Asyila yang terlihat geram ketika mengingat kelima anak muda yang nakal itu.
Abraham penasaran dan meminta istri kecil menjelaskan secara detail mengenai Nek Inem dan ke-lima anak-anak muda yang nakal itu.
Asyila dengan geram menceritakan bahwa mereka telah sering mengganggu Nek Inem. Bahkan, mereka tak segan-segan mengambil uang hasil jerih payah Nenek Inem sebagai buruh cuci. Asyila juga menceritakan bagaimana orang-orang bersikap acuh tak acuh kepada Nek Inem, ketika Nek Inem meminta bantuan kepada orang-orang yang bisa dikatakan memiliki jabatan di kampungnya.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Abraham pun ikut geram. Tanpa pikir panjang, Abraham memutuskan untuk mencari keadilan atas nama Nenek Inem.
Disaat yang bersamaan, Nenek Inem tengah duduk sambil memikirkan kejadian tadi. Ia sangat takut, jika orang tua mereka yang memiliki uang melakukan hal yang tidak-tidak dengannya dan juga wanita muda yang telah membantunya, yaitu Asyila.
Nenek Inem sangat takut, sampai-sampai ia tidak ingin pulang.
Apalagi, ketika mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat ke-lima anak-anak muda yang nakal itu merusak tembok bagian dapur di rumah peninggalan suaminya. Nek Inem mengadukan kejadian itu kepada ketua RT. Akan tetapi, apa yang diadukan oleh Nek Inem sama sekali tidak di gubris. Bahkan, setelah kejadian itu Nek Inem difitnah sebagai Nenek jahat.
“Nek Inem kenapa menangis?” tanya Asyila sambil menghapus air mata Nek Inem.
Nenek Inem tak bisa diam lagi, ia pun menceritakan kejadian beberapa tahun yang lalu. Apa yang dikatakan oleh Nek Inem di dengar langsung oleh Abraham dan membuat Abraham tidak bisa menahan kemarahannya.
Abraham tidak habis pikir, bagaimana bisa mereka melakukan hal tersebut kepada Nek Inem. Ketua RT pun seharusnya lebih perhatian kepada masyarakatnya dan bukan mengabaikan Nek Inem seperti itu.
“Nenek Inem tenang saja, disini Nenek Inem aman. Siang ini juga, saya akan membuat mereka yang terlibat datang langsung kemari dan meminta maaf atas perbuatan mereka yang semena-mena terhadap Nek Inem,” terang Abraham.
Nek Inem pun bisa melihat bagaimana tegasnya seorang Abraham. Akhirnya, Nek Inem menyadari bahwa Asyila maupun Abraham adalah orang-orang baik dan memiliki keadilan yang tinggi.
“Terima kasih, sekali lagi saya ucapkan terima kasih,” ucap Nek Inem setengah membungkuk.
Asyila dengan cepat memeluk tubuh wanita paruh baya itu. Dan mengatakan, bahwa apa yang ia dan suaminya lakukan adalah kewajiban bagi sesama manusia yang memiliki hati.
Abraham bergeser menjauh dan meminta sahabatnya untuk datang ke perumahan Absyil setelah sholat Dzuhur. Abraham ingin melihat seberapa hebatnya orang tua dari anak-anak muda yang nakal itu.
“Mas menelpon siapa?” tanya Asyila penasaran.
“Mas baru saja menghubungi Dayat, insya Allah setelah sholat Dzuhur mereka akan datang kemari,” jawab Abraham.
“Mereka? Maksud Mas Abraham, Pak Dayat dan juga Pak Edi?” tanya Asyila.
Abraham mengiyakan dan kembali mendaratkan bokongnya di sofa untuk mendengar penjelasan Nek Inem mengenai hidupnya selama ditinggal oleh Sang suami.
Beberapa menit kemudian.
Asyila membawa Nek Inem untuk makan bersama, bahkan Asyila meminta Nek Inem untuk menganggap rumah itu sebagai rumah Nek Inem sendiri. Dari dulu, Asyila membantu siapapun dengan tulus dan tak pandang bulu. Baginya, harta yang dimiliki oleh suami dan juga dirinya adalah titipan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
__ADS_1
“Makan yang banyak ya Nek, pokoknya Nek Inem tinggal disini tidak perlu merasa terbebani. Anggap saja ini rumah sendiri dan anggap saja saya seperti cucu Nek Inem,” tutur Asyila dengan senyum manisnya.
Nek Inem merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan Asyila dan juga Abraham yang baik hati. Di zaman sekarang, sangat sulit menemukan orang-orang seperti sepasang suami istri tersebut.