Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Berulang Kali Membohongi Ashraf


__ADS_3

Sore hari.


Dyah dan Fahmi akhirnya keluar dari rumah sakit setelah hampir 1 Minggu di rumah sakit.


Ketika baru menginjakkan kakinya di depan rumah Sang Paman, Dyah tiba-tiba menangis karena teringat dengan sosok Aunty-nya.


Fahmi sebagai suami, berusaha menguatkan Dyah dengan terus merangkul pinggang sang istri.


“Mas, Dyah tidak sanggup melangkah masuk lebih dalam lagi,” ucap Dyah yang kakinya sangat kaku untuk masuk ke dalam rumah.


“Ayo masuklah, jangan membuat yang lainnya semakin sedih,” balas Fahmi.


Perlu diketahui, Ema beserta keluarga kecilnya sudah tak menginap di rumah Abraham. Dikarenakan, Icha tiba-tiba sakit dan memerlukan kehadiran putrinya itu.


Untungnya, dihari itu juga Dyah dan Fahmi telah keluar dari rumah sakit. Sehingga, Ashraf tidak terlalu kesepian karena tak ada Kahfi yang menemaninya bermain.


“Assalamu’alaikum,” ucap keduanya ketika melangkah masuk ke ruang tamu.


Herwan menyambut kedatangan keduanya, dikarenakan Arumi sedang sakit kepala di kamarnya.


“Kak Dyah!” Ashraf berlari kecil menghampiri Dyah, “Kak Dyah dari mana saja? Mana Bunda?” tanya Ashraf yang berpikir bahwa Bundanya pergi bersama dengan Kakaknya, Dyah.


Dyah terdiam seribu bahasa, ia bingung untuk mengatakan apa kepada Ashraf. Pikirannya benar-benar buntu dan hanya kesedihan yang ia rasakan.


Rasa bersalah masih terus menghantuinya dan berpikir bahwa penyebab kematian Aunty-nya adalah dirinya sendiri.


“Asharf, Kak Dyah istirahat dulu ya. Ashraf sudah makan?” tanya Fahmi mencoba mengalihkan pertanyaan Ashraf yang menanyakan keberadaan Bundanya, Asyila.


Ashraf menggelengkan kepalanya, ia ingin makan. Akan tetapi, tidak ada yang menawarinya makan.


“Ashraf mau makan?” tanya Fahmi sambil menyentuh kepala Ashraf dengan penuh kelembutan.


“Mau,” jawab Ashraf sambil menyentuh perutnya.


Fahmi tertawa kecil dan membawa bocah kecil itu menuju ruang makan.


Dyah menyentuh dadanya yang terasa sesak, ia benar-benar tak tega melihat wajah Ashraf yang penuh harapan mengenai Bundanya.


Bagaimana jika Ashraf sampai tahu mengenai meninggalnya Aunty?


Ya Allah, untuk membayangkannya saja sudah sangat membuat hamba ketakutan.


Dyah tenggelam dalam lamunannya, sampai-sampai ia tak mendengar panggilan Arumi.


“Dyah!” Arumi menghampiri Dyah sembari menepuk bahu Dyah cukup keras.


Dyah terkesiap dan hampir saja ia kehilangan keseimbangannya.

__ADS_1


“Hati-hati, Dyah!” Arumi dengan gesit menangkap tubuh Dyah yang hampir jatuh, “Kamu kenapa diam melamun?” tanya Arumi dengan jantung yang berdetak kencang. Telat sedikit saja, entah apa yang akan terjadi selanjutnya kepada Dyah dan calon bayinya.


Dyah seketika itu memeluk Arumi dan menangis saat itu juga.


“Maafkan Dyah, Nek. Maafkan Dyah,” ucap Dyah meminta maaf atas apa yang telah terjadi.


Arumi segera melepaskan pelukan Dyah dan menghapus air mata Dyah dengan tangannya.


“Jangan membahas masalah kematian Asyila, Nenek mohon jangan lagi membahas mengenai Putri Nenek,” balas Arumi yang tak ingin memperparah keadaan yang ada.


Disaat yang bersamaan, Fahmi sedang menemani Ashraf makan. Fahmi tersenyum bahagia melihat Ashraf makan dengan lahap dan berharap Ashraf tidak mengetahui mengenai kematian Bundanya.


Dan, meskipun kedepannya Ashraf mengetahuinya, Fahmi ingin tak dalam waktu dekat.


“Kak Fahmi, mau itu,” ucap Ashraf sambil menunjuk ke arah udah goreng, “Bunda suka makan ini,” imbuhnya yang terus saja membahas tentang Bundanya tercinta.


Fahmi hanya diam mengangguk dan terus memperhatikan cara makan bocah kecil itu.


“Makannya yang pelan-pelan saja, kalau mau nambah jangan sungkan-sungkan bilang sama Kak Fahmi,” tutur Fahmi.


Ashraf tersenyum lebar sambil memberikan jempol tangannya ke arah Fahmi tanda setuju.


Setelah Ashraf selesai makan, Fahmi langsung mencuci piring serta gelas yang telah digunakan oleh Ashraf.


“Ashraf mau kemana?” tanya Fahmi ketika melihat Ashraf beranjak dari duduknya.


“Mau memetik buah anggur,” jawabnya.


“Iya,” jawab Ashraf dengan wajah polosnya.


“Tunggu Kak Fahmi sebentar, Kak Fahmi juga mau memetik buah anggur,” balas Fahmi.


Setelah mencuci peralatan makan, Fahmi dan Ashraf berjalan berdampingan menuju halaman belakang rumah.


Setibanya di kebun anggur milik almarhumah Nek yut, Ashraf dengan gembira berlari dan melompat-lompat berusaha menggapai buah anggur yang bergelantungan dengan warna ungu kehitam-hitaman.


“Ashraf jangan melompat-lompat seperti itu, biar Kak Fahmi saja yang mengambilnya,” ucap Fahmi dan dengan hati-hati memetik buah anggur yang segar itu.


Ketika keduanya tengah asik menikmati buah anggur, Abraham tiba-tiba datang untuk memberitahukan kepada keduanya kalau di depan sudah ada bodyguard yang bertugas menjaga kediamannya.


Seharusnya sudah dari kemarin-kemarin mereka bertugas menjaga rumah. Akan tetapi, Abraham tidak sempat menghubungi mereka dikarenakan kejadian yang sangat-sangat mengejutkan.


“Ayah, terus Bunda kapan pulang kesini?” tanya Ashraf sambil mengupas kulit anggur yang berada di tangannya.


Abraham menjambak rambutnya sendiri dan berusaha untuk tetap tersenyum dihadapan putra kecilnya.


“Buah anggurnya enak, Nak?” tanya Abraham mengalihkan pertanyaan Ashraf.

__ADS_1


“Enak, rasanya manis-manis asam,” jawabnya dan memberikan sebutir buah anggur kepada Abraham.


Abraham menerimanya dan melahapnya dengan cepat.


“Hhmmm.. Rasanya enak sekali,” ucap Abraham memuji rasa anggur yang diberikan oleh Ashraf.


“Iya dong!” seru Ashraf.


Abraham menghela napasnya yang terasa sangat berat, entah sampai kapan ia harus berbohong dan mengalihkan pertanyaan putra kecilnya yang terus menanyai keberadaan Bundanya.


Istriku, dimana kamu sekarang? Mas rindu melihat senyuman mu, istriku. Apakah buah hati kita baik-baik disana?


Apakah Azzam sudah bertemu denganmu, istriku?


Dalam hati Abraham, Abraham terus bertanya-tanya. Meskipun kecil kemungkinan, Abraham masih berharap sang istri masih hidup dan dalam keadaan sehat tanpa kekurangan suatu apapun.


“Ayah, mau lagi?” tanya Ashraf dan dengan tangan kecilnya, Ashraf memberikan buah anggur kepada Sang Ayah.


Abraham tersadar dari lamunannya dan menerima buah anggur pemberian Ashraf dengan senyum lebarnya.


Malam hari.


Ashraf tiba-tiba menangis dan sangat ingin tidur dengan dipeluk oleh Bundanya. Akan tetapi, Bundanya belum juga datang menemuinya dan membuat hatinya semakin kesepian.


“Ayah, video call Bunda!” pinta Ashraf sambil memegang ponsel milik Ayahnya.


“Sayang, Ponsel Bunda sengaja ditinggalkan. Kalau tidak percaya, Ashraf lihat saja di dekat mukena yang biasanya digunakan Bunda untuk sholat,” terang Abraham.


Ashraf menoleh ke arah yang dimaksud oleh Ayahnya dan ternyata benar, ponsel Bundanya ada di sana.


“Ayah, kenapa Bunda tidak bawa ponsel ini?” tanya Ashraf dengan berderai air mata.


“Karena Bunda tidak ingin diganggu oleh siapapun. Maksudnya, Bunda ingin urusan disana cepat selesai agar bisa segera pulang. Kalau Bunda membawa ponsel, terus Ashraf menelpon Bunda terus-menerus, yang ada Bunda malah tidak jadi pulang,” jelas Abraham yang lagi-lagi membohongi buah hatinya.


Ashraf menghentikan tangisannya dan kembali meletakkan ponsel milik Bundanya di tempat semula.


“Ayah, ayo puk-puk Ashraf,” ucap Ashraf sambil memukul-mukul bokongnya sendiri agar Sang Ayah mengerti apa yang ia maksudkan.


Abraham mengiyakan dan menuruti keinginan Ashraf yang minta di puk-puk.


Maafkan Ayah ya Nak. Maaf karena berulang kali harus membohongi Ashraf. Ayah hanya tidak ingin Ashraf semakin sedih karena hilangnya sosok seorang Bunda.


“Ayah...” ucap Ashraf sambil memukul-mukul bokongnya sendiri.


“Maaf-maaf, Ayah kurang fokus,” balas Abraham dan dengan hati-hati memukul-mukul bokong Ashraf, seperti yang Ashraf contohnya padanya.


Ashraf tersenyum tipis sambil berusaha menghapus air matanya yang tersisa.

__ADS_1


“Jangan lupa baca Do'a sebelum tidur,” ucap Abraham mengingatkan Ashraf.


“Baik, Ayah,” jawab Ashraf dan mengikuti apa yang dikatakan oleh Abraham.


__ADS_2