
kila begitu kasihan melihat Bela yang saat itu benar-benar lemas karena ternyata bela mabuk mobil.
Berulang kali Asyila memberikan minyak oles agar Bela tak lagi muntah-muntah. Akan tetapi, justru memperparah keadaan dan membuat Bela hanya duduk dengan kondisi tubuh yang sangat melemah.
“Sabar ya Bela, tidak sampai setengah jam lagi kita sudah tiba di rumah,” tutur Asyila yang terlihat sangat panik.
Bela hanya mengedipkan mata karena ia tidak sanggup berbicara. Perutnya yang awalnya terisi makanan seketika itu juga menjadi sangat kosong.
Abraham pun tak kalah panik, ia tidak mengira bahwa Bela ternyata mabuk perjalanan jauh.
“Eko, agak cepat!” perintah Abraham pada Eko.
Eko mengiyakan dan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
Beberapa saat kemudian.
Asyila cepat-cepat keluar dari mobil sembari menuntun Bela. Disaat itu juga, Bela kembali muntah-muntah dan untuk berjalan pun ia sudah tidak sanggup.
“Astaghfirullahaladzim, siapa ini Asyila? Kenapa bisa sampai muntah-muntah begini?” tanya Arumi yang baru saja keluar dari rumah dan melihat gadis kecil yang berada di samping Asyila muntah terus-menerus.
Asyila menghampiri Ibunya dan tak lupa mengucapkan salam. Kemudian, mencium punggung tangan Ibu tercintanya itu.
“Ibu, tolong siapkan air hangat atau apapun untuk mengurangi rasa mual Bela!” pinta Asyila.
Arumi panik dan berlari kecil untuk membuat teh jahe merah untuk Bela.
Abraham pun turun dengan menggendong bayi mungilnya dan tak sempat bersalaman dengan Ibu mertuanya karena keburu masuk ke dalam.
“Ayah!” Asyila berjalan mendekat ke arah Ayahnya.
Herwan tersenyum lebar menyambut kedatangan mereka.
“Assalamu'alaikum,” ucap Abraham dan Asyila secara kompak. Lalu, mereka bergantian mencium punggung tangan Herwan.
“Ayo, kalian masuklah dulu!” ajak Herwan dan meminta izin untuk menggendong cucu keempatnya.
Abraham tertawa kecil dan memberikan bayi Akbar ke gendongan Kakeknya.
“Ayah! Bunda!” Ashraf berlari secepat mungkin menghampiri kedua orangtuanya yang baru saja tiba.
Abraham dan Asyila pun merentangkan kedua tangan mereka lebar-lebar ketika melihat Ashraf berlari mendekati mereka berdua.
“Ashraf kangen sama Bunda dan Ayah,” ucap Ashraf yang kini sudah berada di dekapan kedua orangtuanya.
“Kami pun sangat merindukan Ashraf,” balas Abraham.
Bela yang masih berada di dekat mereka hanya bisa diam sembari merasakan sakit di perutnya yang tak tertahankan.
Asyila tersandar dan kini perhatiannya tertuju pada Bela.
“Bela sayang, ayo masuk ke dalam rumah sama Aunty.” Asyila terlihat begitu perhatian dengan Bela, sampai-sampai Ashraf cemburu dengan gadis kecil tersebut.
“Ayah, itu siapa?” tanya Ashraf yang masih berada di dekapan Ayahnya.
Abraham bingung menjawab serta menjelaskan siapa Bela sebenarnya. Ia pun memutuskan untuk tidak menjawab karena yang akan menjawab adalah istri kecilnya.
“Nanti biar Bunda yang menjelaskan, ayo masuk!” ajak Abraham.
Beberapa saat kemudian.
Di ruang keluarga.
Mereka semua tengah berkumpul dan Bela pun sudah tidak muntah-muntah seperti sebelumnya.
Arumi yang sedari tadi ingin menanyakan siapa gadis dihadapannya akhirnya memberanikan diri untuk bertanya mengenai Bela kepada Asyila dan juga Abraham.
“Ibu ingin bertanya kepada Asyila dan juga Nak Abraham, sebenarnya siapa gadis kecil ini?” tanya Arumi.
Herwan dan Ashraf pun menoleh ke arah Bela yang saat itu duduk tepat disamping Asyila.
Asyila melirik ke arah suaminya dan kemudian, membawa masuk Bela ke kamar untuk berisitirahat sejenak. Bela pun menurut dan seketika itu juga dirinya tidur di kamar yang biasa ditempati oleh Dyah.
“Dimana Bela?” tanya Abraham saat istri kecilnya kembali ke ruang keluarga.
“Asyila suruh tidur,” jawab Asyila.
“Kenapa tidak menjawab pertanyaan Ibu?” tanya Arumi yang semakin penasaran.
Abraham mengangguk kecil, memberi isyarat agar istri kecilnya lah yang menjawab serta menjelaskan bagaimana bisa Bela bersama dengan mereka berdua.
__ADS_1
Asyila mengangguk kecil, mengerti isyarat tersebut.
“Jadi, sebenarnya begini.....” Asyila mulai menceritakan awal pertama suaminya membawa Bela yang terluka dan terus menceritakan tentang Bela hingga kejahatan kedua orang tua Bela yang tak bisa lagi termaafkan.
1 jam kemudian.
Arumi dan Herwan menangis setelah tahu bahwa gadis berusia 12 tahun tersebut telah mengalami kesulitan yang benar-benar mengiris hati.
Ashraf yang juga mendengar hal tersebut, hanya bisa diam meskipun tidak semua cerita Bundanya bisa ia pahami dan mengerti.
“Karena Ayah dan Ibu sudah tahu, Asyila mohon bersikaplah biasa kepada Bela. Maksud Asyila jangan sampai Bela merasa tidak nyaman tinggal disini,” terang Asyila.
“Tenang saja Nak, kami akan memperlakukan Bela sebaik mungkin. Orang tuanya benar-benar jahat, tidak seharusnya gadis kecil seperti Bela diperlakukan dengan begitu tidak manusiawi. Untungnya Bela bertemu kalian, seandainya bertemu ya lain? Astagfirullahaladzim, Ibu bahkan takut membayangkannya,” ujar Arumi.
“Ibu jangan ikut emosi, mereka sudah mendapatkan ganjaran yang setimpal,” sahut Abraham.
“Ibu sama sekali tidak emosi, hanya saja Ibu sangat geram,” balas Arumi yang saat itu tengah menggendong cucu keempatnya.
“Kalian pasti lelah, istirahatlah dulu,” ucap Herwan.
Abraham mengiyakan dan mengajak Sang istri untuk segera beristirahat di kamar mereka.
“Ashraf mau kemana?” tanya Arumi ketika melihat Ashraf berjalan membuntuti kedua orangtuanya, “Ashraf disini saja sama adik bayi,” imbuh Arumi.
Ashraf menghela napasnya dan menuruti perkataan dari neneknya itu.
Di dalam kamar, Abraham maupun Asyila langsung melepaskan pakaian mereka dan mengenakan pakaian yang lebih santai. Tak lupa mereka mengambil air wudhu sebelum beristirahat.
Setelah mengambil air wudhu, keduanya pun bergegas tidur dan akan bangun sebelum waktu sholat Dzuhur.
Sore hari.
Arumi dan Asyila tengah sibuk di dapur, keduanya tengah merapikan isi kulkas sekaligus ingin membuat menu makanan untuk sahur mereka nanti.
“Asyila sayang...”
“Iya Ibu, ada apa?” tanya Asyila yang saat itu tengah menata telur di dalam kulkas.
“Apakah Bela tidak ada saudara?” tanya Arumi penasaran mengenai keluarga Bela.
“Kalau soal itu sebenarnya Asyila dan juga Mas Abraham sudah pernah menanyakan. Akan tetapi, Bela tidak tahu karena selama ini kedua orangtuanya tidak pernah memberitahukan dirinya. Dan lagi, tidak pernah ada saudara yang datang untuk bertemu dengan orangtuanya,” terang Asyila apa adanya.
“Ya Allah, kasihan sekali Bela. Hidupnya pasti sangat tertekan memiliki orang tua seperti mereka, tidak hanya dimanfaatkan tapi juga disiksa,” ucap Arumi.
“Bela sayang, kenapa datang ke dapur?” tanya Asyila.
Bela perlahan menggelengkan kepalanya, “Bela mau membantu Aunty memasak,” jawabnya.
“Bela tidak perlu membantu Aunty dan Nenek memasak. Lagipula, Bela sekarang belum sepenuhnya membaik. Lebih baik duduk saja, atau temani lah Ashraf bermain permainan monopoli di ruang keluarga!” pinta Asyila.
Bela mengiyakan dan menyusul Ashraf yang berada di ruang keluarga.
“Bela sepertinya anak yang sangat penurut,” tutur Arumi ketika Bela sudah tidak berada di dapur.
“Alhamdulillah,” balas Asyila dengan senyum manisnya.
Karena 1 jam lagi akan memasuki waktu Maghrib, keduanya pun memulai aktivitas mereka untuk memasak bersama.
Sementara Abraham dan Herwan tengah mengobrol di ruang tamu membahas masalah pekerjaan.
****
Asyila melambaikan tangannya pada suami, kedua orangtuanya, Ashraf dan juga Bela yang akan melaksanakan sholat tarawih di masjid.
Hanya dirinya yang berada di rumah serta beberapa bodyguard yang menjaga rumah.
“Sayang, hanya kita berdua saja di dalam rumah. Bunda harap, kamu jangan rewel ya. Insya Allah, besok Bunda ingin puasa. Semoga Allah mengizinkannya,” tutur Asyila dan memutuskan untuk memompa ASI untuk stok bayi mungilnya esok hari.
Tentu saja Asyila melakukannya di dalam kamar, ASI miliknya bisa dikatakan sangat banyak karena suaminya selalu memberikannya vitamin yang terbaik.
Di Masjid.
Ketika Abraham baru saja memasuki Masjid, para jama'ah dengan sangat ramah tersenyum lebar seakan-akan mereka menunggu kehadiran sosok seorang Abraham Mahesa.
Sholat tarawih pun berlangsung dan Abraham ditunjuk untuk menjadi imam sholat.
Usai melaksanakan sholat tarawih berjama'ah di Masjid, para pria pun menghampiri Abraham dan berjabat tangan.
“Sudah sangat lama tidak melihat Tuan Abraham, bagaimana kabar Tuan Abraham dan istri?” tanya salah satu dari mereka.
__ADS_1
“Pak Hamid ini kenapa harus memanggil saya dengan sebutan Tuan? Panggil saja nama Saya, kabar saya dan juga istri saya Alhamdulillah baik-baik saja,” jawab Abraham.
“Tuan Abraham ini aneh-aneh saja, menurut saya itu adalah panggilan yang sangat cocok,” balas Pak Hamid.
“Pak Hamid bisa saja, lain kali mainlah ke rumah!” pinta Abraham.
“Insya Allah, semoga Allah mengizinkan untuk saya main ke rumah Tuan Abraham,” jawab Pak Hamid.
Abraham menoleh ke arah luar, rupanya kedua mertuanya, Ashraf dan juga Bela tengah menunggu dirinya.
“Pak Hamid, saya harus pulang ke rumah. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!”
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Pak Hamid.
Abraham menyalami satu-persatu para jama'ah dan ia pun bergegas pulang bersama keluarganya.
Setibanya di rumah, Abraham langsung masuk ke dalam kamar untuk segera bertemu dengan istri kecilnya.
“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham ketika memasuki kamar.
“Wa’alaikumsalam, Mas ternyata sudah pulang. Kenapa tidak memanggil Asyila?” tanya Asyila.
“Mas tahu Syila sedang menidurkan bayi kita, makanya Mas tidak memanggil Asyila,” jawab Abraham.
Abraham menoleh ke atas nakas yang sudah terdapat banyak stok ASI.
“Stok ASI langsung Mas masukin ke dalam freezer ya,” tutur Abraham yang paham harus melakukan apa.
“Masya Allah, tidak hanya tampan. Suami Asyila bahkan sangat pengertian,” puji Asyila.
Abraham yang gemas seketika itu juga menciumi pipi istri kecilnya berulang kali, hingga Asyila tertawa geli dibuatnya.
“Mas, hentikan. Geli,” ucap Asyila.
Bukannya berhenti, Abraham malah semakin bersemangat dan membuat bayi mungil mereka menangis.
“Cup... Cup... Cup.... Ayah kamu itu nakal sayang, kalau sudah besar jangan dekat-dekat sama Ayah ya. Dekatnya sama Bunda saja,” tutur Asyila dan dengan hati-hati menyusui bayi mungil menggemaskan tersebut.
“Buatnya bersama, ya harusnya Akbar juga dekat sama Mas juga,” sahut Abraham membela diri.
“Iya deh, iya,” balas Asyila sambil menahan tawanya melihat ekspresi wajah suaminya itu.
“Mas ke dapur dulu ya menaruh ini,” tutur Abraham dan membawa semua ASI milik istri kecilnya untuk dimasukkan ke dalam freezer.
Abraham pun meletakkan semua stok ASI buah hatinya ke dalam freezer dan disaat itu juga ada Ibu mertuanya.
“Nak Abraham sedang apa?” tanya Arumi sambil meletakkan sebuah teko ke atas meja.
“Oh ini, Abraham sedang menaruh stok ASI,” jawab Abraham.
“Banyak sekali, apakah Asyila besok akan berpuasa?” tanya Arumi yang sebelumnya tidak sempat menanyakan perihal putri kesayangannya puasa atau tidak.
“Insya Allah Asyila puasa, Ibu,” jawab Abraham.
Arumi mengangguk kecil dan melenggang pergi meninggalkan Abraham yang masih sibuk menata Asi tersebut.
Usai semuanya tertata rapi, Abraham memutuskan untuk berkumpul sejenak bersama mertuanya.
“Ayah, Ibu,” ucap Abraham dan duduk di sofa.
“Nak Abraham, apakah di Jakarta kalian akan lama?” tanya Arumi penasaran.
“Insya Allah sampai lebaran ke-tiga kami akan kembali ke Bandung,” jawab Abraham.
Arumi dan Herwan terkejut mendengar jawaban Abraham.
“Lalu, bagaimana dengan pekerjaan Nak Abraham yang berada di Bandung?” tanya Arumi.
“Insya Allah Abraham akan menangani pekerjaan Abraham dari rumah,” jawab Abraham.
Arumi dan Herwan yang tak terlalu mengerti dengan perusahaan hanya bisa mengangguk setuju.
Ketika Abraham sedang berbincang-bincang dengan orang tua dari istri kecilnya, tiba-tiba Asyila datang dan duduk tepat di samping suaminya.
“Sepertinya ada hal seru yang sedang dibicarakan, Asyila bahkan tidak diajak mengobrol,” tutur Asyila yang sedikit ngambek karena sedari tadi dirinya menunggu suaminya di dalam kamar.
Abraham yang merasa bersalah, seketika itu meminta maaf dan berusaha membuat istri kecilnya tersenyum.
“Maaf ya istriku yang cantik, jangan ngambek ya,” bisik Abraham dan menghembuskan nafasnya ke telinga Asyila.
__ADS_1
Asyila yang geli hanya bisa tertawa karena ulah suaminya.
Arumi dan Herwan saling tukar pandang melihat keromantisan putri serta menantu kesayangan mereka.