
Abraham terkejut melihat Akbar yang telah dipenuhi luka lebam seluruh tubuhnya. Abraham mendekat sembari menyentuh wajah malang putra kecilnya, Akbar Mahesa.
“Syukurlah, Akbar baik-baik saja,” ucap Edi ketika memeriksa denyut nadi Akbar.
Abraham menitikkan air matanya dan mengambil pakaian serta jaket bulu milik putra kecilnya yang berserakan di lantai. Dengan perlahan, Abraham mengenakan pakaian tersebut pada tubuh kecil Akbar Mahesa.
“Siapapun wanita bercadar itu, aku selamanya akan sangat berhutang budi padanya. Tidak hanya sekali, dua kali dia datang menyelamatkan keluargaku,” tutur Abraham yang sangat berterima kasih atas bantuan wanita bercadar tersebut.
Abraham menggendong putra kecilnya dan bergegas meninggalkan tempat menyengat hidung tersebut.
****
Perumahan Absyil.
Asyila mematikan motornya tepat di depan gerbang rumahnya, perlahan ia menarik motor tersebut dan masuk ke dalam garasi tanpa diketahui oleh Eko yang saat itu tengah terlelap.
Setelah motor terparkir di garasi, Asyila cepat-cepat masuk ke dalam rumah dan berlari kecil masuk ke dalam kamar.
Setibanya di dalam kamar, Asyila cepat-cepat melepaskan pakaian serba hitam miliknya dan merendamnya dengan deterjen agar bau dari sampah segera menghilang.
Asyila yang bau, bergegas membersihkannya dirinya agar kamar tidurnya bersama Sang suami tidak terkontaminasi dengan bau sampah yang begitu menyengat hidung.
Di dalam kamar mandi, Asyila menitikkan air matanya dan berusaha menahan sakit pada tubuhnya yang perlahan mulai berdatangan. Jika beberapa jam yang lalu, dirinya tidak terlalu merasakan sakit, kali ini sakit ditubuhnya perlahan mulai muncul.
Bahkan, dibagian punggungnya Asyila bisa melihat munculnya legam ketika dirinya bercermin.
Jangan sampai Mas Abraham mengetahui lebam di punggungku ini. Jika sampai tahu, aku pasti akan bingung untuk mencari alasan yang tepat.
Disaat yang bersamaan, Abraham terheran-heran melihat ponselnya yang sama sekali tidak ada notifikasi pesan atau panggilan dari Sang istri.
“Dari tadi, tak ada satupun pesan atau panggilan masuk dari Asyila. Tidak biasanya Asyila seperti ini, atau mungkin Asyila pingsan?” tanya Abraham panik.
Saat itu juga, Abraham menghubungi Sang istri untuk memastikan apakah istri kecilnya baik-baik saja di rumah ataukah tidak?
Akan tetapi, Asyila sama sekali tak menerima panggilan telepon dari Abraham dan membuat Abraham semakin panik.
Tak kehilangan akal, Abraham pun menghubungi Ayah mertuanya untuk mengetahui kabar dari Sang istri tercinta.
Herwan yang saat itu tengah terjaga, terkejut mendengar dering ponselnya. Ia pun segera menerima sambungan telepon dari menantu idamannya itu.
“Hallo, assalamualaikum. Nak Abraham, apakah cucu kami Akbar sudah ditemukan?” tanya Herwan yang terdengar sangat panik.
“Wa'alaikumsalam, Ayah jangan cemas. Akbar telah kami temukan dan sedang di rawat,” jawab Abraham yang tidak ingin membuat Ayah mertuanya cemas sekaligus khawatir dengan keadaan Akbar.
“Ya Allah, Alhamdulillah. Lalu, kenapa Akbar harus di rawat? Apakah Akbar terluka?” tanya Herwan yang semakin panik.
Arumi mengambil paksa telepon dari tangan suaminya untuk mendengar langsung keterangan dari Abraham.
“Nak Abraham, ini Ibu. Bagaimana keadaan Akbar? Ibu tidak ingin sampai terjadi sesuatu kepada Akbar,” ujar Arumi yang kembali menangis.
Herwan pun mengambil ponselnya kembali dan ingin mendengar kabar Akbar melalui Abraham.
“Ayah dan Ibu tenanglah, Akbar baik-baik saja dan secepatnya kami akan pulang ke rumah,” terang Abraham. “Ayah, bagaimana keadaan Asyila?” tanya Abraham yang ingin mengetahui keadaan istri kecilnya.
“Asyila ada di dalam kamar, beberapa jam yang lalu Asyila meminta Ayah dan Ibu untuk tidak mengganggunya di dalam kamar. Sepertinya, Asyila sangat sedih sampai-sampai ia ingin menyendiri di dalam kamar,” ungkap Herwan, pada Sang menantu idamannya itu.
Abraham mengernyitkan keningnya mendengar penjelasan dari Ayah mertuanya. Ia pun mengakhiri panggilan telepon tersebut karena ingin melihat keadaan putra kecilnya, Akbar Mahesa yang sedang berada di kamar pasien.
Asyila telah selesai membersihkan dirinya dan juga telah selesai mencuci pakaiannya yang sebelumnya sangat bau. Ia keluar dari kamar mandi dan bergegas mengenakan piyama nya, setelah itu ia mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer agar cepat kering, sehingga ia bisa mengeringkan pakaiannya yang basah dan juga mencuci motor agar bau di motor tersebut segera hilang untuk menghilangkan bukti yang ada.
Beberapa menit kemudian.
Rambut Asyila pun akhirnya kering dan Asyila memutuskan untuk mengenakan hijab miliknya. Setelah itu, dirinya keluar sembari membawa ranjang pakaian untuk segera dikeringkan.
Setibanya di belakang dekat dapur, Asyila mulai mengeringkan pakaiannya agar segera kering.
Arumi dan Herwan samar-samar mendengar suara mesin cuci, mereka pun memutuskan untuk pergi melihat kenapa mesin cuci berbunyi di malam hari.
“Asyila!” Arumi memanggil putrinya yang tengah mengeringkan pakaian di waktu tengah malam.
Asyila berbalik sembari menampilkan ekspresi wajah sedih.
“Ibu, Asyila tidak bisa memikirkan betapa ketakutannya Akbar saat ini. Makanya, Asyila mencari kesibukan yang Asyila sendiri juga tidak tahu kenapa melakukannya,” terang Asyila yang memang dalam hatinya ia begitu sedih ketika mengingat bagaimana kondisi Akbar.
__ADS_1
Arumi kembali menangis dan memeluk putrinya yang tentu saja begitu sedih.
“Asyila jangan sedih ya Nak. Akbar sekarang sudah baik-baik saja,” terang Arumi.
“Benarkah? Itu artinya, Akbar sudah ditemukan?” tanya Asyila berpura-pura terkejut sekaligus lega mengetahui kabar bahwa Akbar telah ditemukan. “Terima kasih ya Allah,” imbuh Asyila.
“Asyila cobalah hubungi nak Abraham, pasti Nak Abraham saat ini juga mengkhawatirkan Asyila. Sebab, Nak Abraham tadi menghubungi Ayah dan menanyakan kondisi Asyila,” terang Asyila.
Saat itu juga, Asyila berlari masuk ke dalam kamar untuk menghubungi suaminya. Asyila menyalahkan dirinya sendiri yang lupa menghubungi suaminya, Asyila berharap bahwa suaminya tidak curiga terhadapnya.
“Hallo, assalamu'alaikum,” ucap Asyila pada suaminya.
“Wa'alaikumsalam, bagaimana keadaan Asyila?” tanya Abraham yang juga mengkhawatirkan kondisi Sang istri.
“Mas tidak perlu mengkhawatirkan Asyila, sekarang bagaimana keadaan Akbar? Mas sudah memberi mereka pelajaran?” tanya Asyila.
“Syila tidak perlu banyak pikiran, Ok! Akbar saat ini baik-baik saja, Syila sebaiknya beristirahat,” balas Abraham yang tidak ingin Sang istri malah semakin sedih.
“Tetap saja, Asyila khawatir Mas. Tolong jaga Akbar ya Mas, Asyila tidak ingin hal ini terjadi lagi,” ujar Asyila pada suaminya.
Abraham terus mencoba menenangkan Sang istri dan perlahan Asyila mulai tenang ketika mendengar penjelasan dari suaminya itu.
Setelah Asyila sudah mulai membaik, Abraham pun memutuskan sambungan telepon mereka.
Asyila bernapas lega, sepertinya Sang suami tidak mencurigai dirinya. Kalau suaminya tahu, entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Sudah jam segini, aku harus kembali mengeringkan pakaianku dan setelah itu mencuci motor,” ujar Asyila dan bergegas meninggalkan kamarnya untuk melanjutkan aktivitasnya yang belum juga selesai.
Beberapa saat kemudian.
Eko terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara gemericik air, ia mengira bahwa dirinya lupa mematikan kran air. Akan tetapi, bunyi air tersebut berasal dari garasi mobil.
“Kok suara airnya malah di garasi mobil?” tanya Eko terheran-heran dan melihat air mengalir keluar dari garasi mobil.
Eko pun berjalan mendekat untuk melihat dari mana air itu berasal.
“Ya Allah, saya kira siapa. Nona Asyila ngapain cuci motor di jam tengah malam seperti ini? Nona Asyila ngelindur?” tanya Eko terheran-heran.
Asyila yang awalnya berusaha untuk tidak membangunkan Eko, akhirnya malah membangunkan Eko juga.
“Nona Asyila santai saja, untuk apa saya bilang masalah mencuci motor di malam hari seperti ini kepada Tuan Abraham. Sebaiknya, Nona Asyila masuk ke dalam dan sini biarkan saya saja yang melanjutkan mencuci motor,” ujar Eko.
“Pak Eko, sudah tidak apa-apa. Hitung-hitung untuk mengurangi rasa sedih di hati saya,” jawab Asyila. “Oya, Pak Eko. Akbar sudah ditemukan oleh Mas Abraham,” imbuh Asyila.
“Alhamdulillah, akhirnya Mas Akbar ditemukan juga,” sahut Eko mengucapkan syukur atas ditemukannya Akbar Mahesa.
Eko pamit untuk kembali ke pos miliknya agar bisa segera beristirahat. Karena ia tahu, besok adalah hari yang paling sibuk untuknya.
Keesokan paginya.
Asyila telah mendapat kabar dari suaminya, bahwa sebentar lagi mereka akan pulang ke Perumahan Absyil. Asyila tak sabar ingin melihat keadaan putra kecilnya, Akbar Mahesa yang begitu menyedihkan.
Kondisi Asyila sedikit menurun, meskipun begitu ia berusaha untuk terlihat baik-baik saja dihadapan orang tuanya serta yang lain.
Dyah dan Fahmi telah mendapat kabar mengenakan Akbar yang sempat diculik, untuknya Akbar cepat ditemukan oleh Pamannya.
“Aunty, kenapa wajah Aunty kelihatan begitu lelah?” tanya Dyah yang sejak tadi memperhatikan wajah Aunty-nya yang begitu lemah, lesu dan juga letih.
“Dyah, mungkin karena semalaman aku menangis,” jawab Asyila.
“Aunty, Akbar sudah berhasil ditemukan dan dalam keadaan baik-baik saja. Aunty, tidak perlu lagi menangis, kasihan kesehatan Aunty bisa terganggu karena terlalu banyak berpikir,” terang Dyah yang tak ingin jika Aunty-nya kembali sakit.
Asyila mengiyakan apa yang dikatakan oleh Dyah dan berbaring sejenak di sofa sembari membayangkan bagaimana kondisi tubuh Akbar semalam.
Beberapa saat kemudian.
Abraham akhirnya tiba bersama dengan Akbar, saat itu Akbar digendong oleh Ayahnya.
Kondisi Akbar sebenarnya belum sepenuhnya membaik, akan tetapi Akbar juga tidak ingin rawat inap di rumah sakit. Baginya, rumah adalah obat yang sesungguhnya.
“Akbar!” Asyila mendekat ke arah Akbar dan menciumi pipi putra kecilnya berulang kali.
“Bunda, jangan nangis,” ucap Akbar dengan senyum lebarnya, seakan-akan dirinya tak pernah mengalami sesuatu hal yang buruk.
__ADS_1
Abraham mengucapkan salam dan bergegas membawa Akbar menuju kamar untuk segera beristirahat.
Arumi dan juga Herwan terlihat begitu khawatir dengan Akbar yang di gendong oleh Abraham.
Setelah merebahkan tubuh kecil Akbar, Abraham pun meminta putra kecilnya untuk kembali tidur agar segera sembuh.
“Syila, sebaiknya kita tinggalkan dulu Akbar. Mas tidak ingin, jika mereka masuk ke dalam kamar dan malah membuat Akbar mengingat kembali kejadian yang menyiksa dirinya,” terang Abraham mengajak Sang istri untuk segera keluar dari kamar.
Asyila dengan patuh mengiyakan apa yang dikatakan eh Suaminya itu.
Kini, Abraham serta yang lain telah berkumpul di ruang keluarga.
“Asyila, Ayah, ibu serta yang lain. Sebenarnya, yang menyelamatkan Akbar adalah wanita bercadar,” ungkap Abraham.
“Wa-wanita bercadar? Siapa itu, Paman?” tanya Dyah penasaran, begitu juga dengan yang lain.
“Sebenarnya, beberapa tahun yang lalu wanita bercadar itu pernah membantu Paman dan juga teman Paman. Tidak hanya itu, wanita bercadar itu pernah menyelamatkan Ashraf yang dulu sempat diculik dan kini malah menyelamatkan Akbar dari penculik tersebut,” ungkap Abraham.
Asyila tiba-tiba gugup mendengar ucapan suaminya. Akan tetapi, sekuat mungkin Asyila tak menunjukkan kegugupannya. Asyila sepertinya sangat tidak ingin jika identitasnya sebagai wanita bercadar diketahui oleh keluarganya terutama oleh Sang suami, Abraham Mahesa.
“Kalau mendengar dari cerita Paman, apakah dia itu adalah wanita? Maksud Dyah, apakah orang itu benar-benar wanita dan apakah secara kebetulan dia menyelamatkan Ashraf dan juga Akbar? Bisa jadi, dia adalah seorang pria yang juga mengenal kita,” ujar Dyah.
Asyila yang saat itu ingin tengah memegang gelas, tiba-tiba saja gelas di tangannya terlepas karena ucapan dari Dyah.
Abraham terkejut dan meminta istri kecilnya untuk tidak menyentuh pecahan gelas kaca tersebut.
Asyila mengiyakan dan saat itu juga pergi meninggalkan ruang keluarga untuk segera masuk ke dalam kamarnya.
Abraham sedikit bingung dengan sikap Sang istri yang pergi begitu saja.
“Paman, Aunty sepertinya tidak sedang baik-baik saja,” tutur Dyah pada Sang Paman.
Abraham hanya mengangguk kecil sembari memunguti pecahan gelas kaca tersebut.
Di dalam kamar, Asyila terlihat sangat panik. Sebelumnya, ia tidak pernah sepanik ini seakan-akan dirinya tengah membuat kesalahan yang fatal dan dipenjarakan.
“Ya Allah, jangan sampai mereka tahu siapa aku sebenarnya,” ucap Asyila memohon pertolongan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Malam hari.
Setelah melaksanakan sholat isya, seluruh keluarga berkumpul di ruang keluarga sembari menikmati cemilan pop corn yang dibuat oleh Arumi.
“Dengar semuanya, selamanya kita memiliki hutang Budi terhadap wanita bercadar itu. Semoga saja, apa yang dilakukan olehnya bisa memberikan pahala yang begitu banyak untuknya dan juga keluarganya,” terang Abraham.
“Aamiin Allahumma Aamin!” seru Asyila serta yang lain.
Asyila perlahan sudah mulai membaik, ia akan berusaha untuk terlihat baik-baik saja dihadapan semua keluarganya.
Akbar yang kini duduk di samping Bundanya, terlihat begitu lemas. Meskipun begitu, ia masih bisa menunjukkan senyum cerianya kepada yang lain.
“Ayah, Akbar tidak mau pergi ke pasar malam lagi,” ucapnya yang agak trauma dan takut bila dikemudian hari dirinya kembali di culik.
Abraham serta yang lainnya bisa memahami perasaan Akbar yang tentu saja sangat trauma sekaligus takut.
“Iya sayang, Akbar tidak perlu lagi pergi ke pasar malam,” sahut Abraham.
Akbar mengedipkan sebelah matanya ke arah Ayahnya.
Abraham tercengang melihat bagaimana Akbar menggoda dirinya. Abraham pun membalas kedipan mata putra kecilnya itu.
Melihat kondisi putra kecilnya yang perlahan mulai membaik, Asyila begitu senang. Asyila pun puas memberikan pelajaran kepada orang-orang yang telah menculik putra kecil kesayangannya itu.
“Bunda, Akbar mau pop corn!” pinta Akbar agar Bundanya mau menyuapi pop corn ke dalam mulutnya.
Asyila dengan semangat mengiyakan dan perlahan menyuapi pop corn ke dalam mulut Akbar.
“Enak, sayang?” tanya Asyila dengan tatapan penuh kasih sayang dan juga keibuan.
“Enak, Bunda. Kan, Bunda yang menyuapi Akbar,” jawab Akbar dan terkekeh kecil.
Asyila kembali meneteskan air matanya dan cepat-cepat ia menoleh ke arah lain agar tak dilihat oleh Akbar. Kemudian, ia menyeka air matanya dan kembali tersenyum semanis mungkin ke arah Akbar.
Abraham serta yang lain melihat jelas bagaimana Asyila menangis dan menutupi kesedihannya itu dengan senyum manisnya.
__ADS_1
“Syila tidak boleh menangis,” tutur Abraham menggunakan bahasa bibir pada istri kecilnya.
Asyila mengangguk kecil ketika membaca gerakan bibir suaminya.