Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Kehangatan Keluarga


__ADS_3

Dyah telah selesai menikmati makanannya sampai habis dan sekali lagi ia mengucapkan terima kasih atas perhatian dari Aunty-nya.


“Terima kasih, Aunty. Sekarang Dyah benar-benar kenyang,” ucap Dyah sambil menyentuh perutnya yang sudah terisi makanan.


“Alhamdulillah, kamu suka?” tanya Asyila.


“Tentu saja Dyah suka, Aunty. Dyah langsung ke dapur habis itu beristirahat ya Aunty, badan Dyah agak pegal-pegal,” ucap Dyah.


“Ya sudah sana, Aunty juga mau beristirahat sebentar. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan panggil Aunty!” pinta Asyila.


“Aunty tenang saja,” sahut Dyah dan setelah itu melenggang pergi keluar dari kamar.


Kini, hanya ada Asyila dan bayi mungilnya yang berada di dalam kamar.


“Sayang, Ayah sampai jam segini belum juga datang. Apa mungkin sedang antre ya sayang?” tanya Asyila pada bayi mungilnya yang masih menyusu.


Di ruang keluarga.


Arsyad dan Bela tengah melanjutkan aktivitas mereka untuk belajar bersama setelah menyambut kedatangan Dyah serta keluarga.


“Ayo Kak Bela, Kak Bela bisa,” ucap Arsyad memberi semangat pada Bela yang tengah mengeja.


Bela dengan serius mengeja huruf abjad yang ditulis oleh Arsyad dan sangat berharap bahwa dirinya bisa membaca tulisan tersebut.


“Bu-ku. Buku,” ucap Bela dan menoleh ke arah Arsyad untuk memastikan apakah bacaannya sudah benar apa belum.


“Iya, Kak Bela. Kak Bela tidak perlu ragu-ragu, Arsyad tidak akan marah. Ayo Kak Bela, semangat!” seru Arsyad yang begitu semangat.


Bela tersenyum lebar dan kembali fokus dengan tulisan dihadapannya.


“Sa-ri, Sari,” ucap Bela dan kembali menoleh ke arah Arsyad.


Asyila tersenyum lebar sembari mengangguk tanda bahwa bacaan Bela sudah benar.


Dyah yang tak sengaja melintas, terkejut melihat Arsyad yang tengah mengajari Bela membaca.


“Wah, ternyata Arsyad pintar juga ya sekaligus berani. Sebaiknya aku tidak mengganggu mereka berdua,” tutur Dyah bermonolog dan bergegas menuju kamar untuk segera beristirahat.


Dyah tiba di kamar yang biasa ia tempati, ia menoleh ke arah suaminya yang tengah terlelap bersama putri kecil mereka.


“Sedang tidur ternyata,” ucap Dyah lirih.


Dyah melepaskan hijab miliknya dan berganti pakaian secepat mungkin agar tak dilihat oleh suaminya. Setelah itu, ia masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci tangan, kaki serta membasuh wajahnya yang terasa lengket.


Baru saja Dyah keluar dari kamar mandi, ia sudah dikejutkan oleh suaminya yang tengah berdiri dihadapannya dengan mata melotot tajam.


“Astaghfirullahaladzim,” ucap Dyah dan refleks memukul wajah suaminya.


“Aawww, kenapa Mas di pukul?” tanya Fahmi sambil mengusap wajahnya yang agak sakit karena pukulan istrinya.


“Maaf, habisnya Mas Fahmi ngapain berdiri di depan pintu dengan mata melotot seperti itu?” tanya Dyah sambil memperagakan cara suaminya melotot.


“Dyah seharusnya tahu, kalau Mas habis bangun dari tidur dan mata melotot seperti ini memang sudah biasa. Bahkan, Dyah juga sering melotot seperti ini,” ucap Fahmi yang melotot ke arah istrinya.


Dyah memanyunkan bibirnya dan memukul dada suaminya sebanyak dua kali.


“Sana basuh wajahnya!” perintah Dyah.


“Iya, Dyah sayang. Mas memang ingin membasuh wajah agar segar,” balas Fahmi dan masuk ke dalam kamar mandi saat itu juga.


Dyah mengembungkan pipinya dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


“Nyaman sekali, rasanya aku ingin cepat-cepat tidur,” ucap Dyah yang sangat nyaman dengan kasur tersebut.


Fahmi keluar dari kamar mandi dan ternyata waktu hampir mendekati waktu sholat Dzuhur. Ia pun meminta istrinya untuk mengambil handuk di koper yang belum sempat mereka keluarkan.


“Dyah, tolong ambilkan Mas handuk! Mas mau mandi!”


Dyah terkesiap tanpa protes dirinya mengambil handuk di dalam koper dan memberikannya pada Sang suami.


“Ini Mas handuknya,” ucap Dyah sambil menyerahkan handuk kepada suaminya.


“Terima kasih,” balas Fahmi dan menyentuh pipi istrinya sekilas, sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


Dyah meloncat-loncat kegirangan karena tindakan suaminya yang menurutnya sangat romantis.


“Aahhh... So sweet,” ucap Dyah dengan sangat bahagia, kemudian ia kembali naik ke tempat tidur untuk merebahkan tubuhnya sekaligus meluruskan kakinya yang sedikit pegal.


Disisi lain.


Ashraf merasa jenuh ketika berada di bengkel, ternyata apa yang dikatakan oleh Ayahnya memanglah benar. Tidak seharusnya ia ikut pergi ke bengkel menemani Ayahnya tersebut.


Ashraf mulai mengantuk dan perlahan dirinya bergeser bersandar di tembok dengan terus memperhatikan mobil milik Ayahnya yang tengah diperbaiki.


Saat Ashraf sudah menyandarkan tubuhnya di tembok, ia pun akhirnya tertidur dan ketika ia tak sengaja bergerak, ia hampir saja terjungkal dan untungnya Ayahnya dengan sigap menyambut tubuhnya.

__ADS_1


“Ashraf ngantuk?” tanya Abraham yang terlihat sangat terkejut karena hampir saja putra keduanya terjungkal ke depan.


Ashraf terdiam sejenak karena ia masih terkejut. Kemudian, wajahnya berubah ekspresi menjadi sedih dan akhirnya ia menangis.


Tangisan Ashraf benar-benar mengganggu orang-orang disekitarnya dan Abraham berusaha untuk menenangkan putra keduanya agar tak menangis.


Abraham menggendong putra keduanya itu sembari menepuk-nepuk bokong Ashraf.


Perlahan Ashraf mulai tenang dan karena terlalu nyaman, ia pun kembali terlelap di dalam gendongan Ayahnya.


Sekitar 10 menit kemudian, mobil milik Abraham telah selesai diperbaiki. Abraham memberikan uang tunai dan meminta Pak Udin untuk membayarnya dikarenakan Abraham sedang menggendong putra keduanya, Ashraf.


Pak Udin mengiyakan dan bergegas membayar biaya penanganan mobil tersebut. Setelah itu, ia menghampiri Abraham dan memberikan uang kembali kepada tuannya.


Seperti biasa, Abraham menolak dan memberikan uang tersebut kepada Pak Udin.


“Alhamdulillah, terima kasih Tuan Abraham!” seru Pak Udin yang lagi-lagi mendapatkan rezeki dari Tuannya.


“Iya, sama-sama Pak Udin. Ayo Pak kita pulang sekarang!” pinta Abraham karena waktu sholat Dzuhur sudah hampir mendekati.


Pak Udin masuk ke dalam mobil untuk segera menyalakan mesin mobil sekaligus segera pulang ke rumah.


***


Abraham akhirnya tiba di rumah, disaat itu juga ia melihat ada Kakak sepupunya yang tengah duduk di teras depan.


“Bukankah itu Abang Temmy?” tanya Abraham terheran-heran.


“Iya, Tuan Abraham. Itu memang Pak Temmy,” sahut Pak Udin.


Setelah mobil baru saja berhenti, Abraham pun turun dan meninggalkan Ashraf yang masih berada di dalam mobil.


“Abang Temmy kapan datang?” tanya Abraham dan merekapun saling berjabat tangan.


“Sekitar 3 jam yang lalu, kamu habis darimana?” tanya Temmy.


“Oh itu, servis mobil di bengkel. Abang kesini sama siapa saja?”


“Ada Mbak Yeni, Dyah dan keluarga kecilnya. Oya, dimana Ashraf?” tanya Temmy.


Abraham menepuk dahinya sendiri, kemudian berbalik badan untuk mengeluarkan putra keduanya yang masih di dalam mobil.


“Abang Temmy tunggu sebentar ya, aku akan membawa Ashraf ke kamarnya dulu. Takutnya Ashraf bangun dan malah rewel,” ucap Abraham dengan sangat lirih.


“Abang, apakah tidur disini?” tanya Abraham yang tiba-tiba datang dan langsung mendaratkan bokongnya di kursi samping Temmy.


“Iya, Abraham. Kemungkinan kami akan tinggal disini sampai lebaran ke-dua, apakah boleh?” tanya Temmy.


“Abang ini seperti bertanya dengan siapa saja, tentu saja boleh. Oya, Bang. Ayo siap-siap ke masjid, 5 menit lagi waktunya sholat Dzuhur!” ajak Abraham.


Temmy beranjak dari duduknya untuk mengambil sarung di kopernya, sementara Abraham bergegas menuju kamarnya untuk berpamitan kepada istri kecilnya.


“Mas Abraham sudah pulang ternyata, Mas pasti tahu kalau Abang Temmy dan yang lainnya datang kemari. Maaf ya Mas karena Asyila lupa memberitahukan kepada Mas mengenai kedatangan mereka,” tutur Asyila.


“Sudah, tidak apa-apa. Mas berangkat dulu ya ke masjid, Syila jangan lupa sholat Dzuhur,” tutur Abraham mengingatkan istri kecilnya untuk melaksanakan sholat wajib.


“Mas tenang saja, Asyila tidak akan lupa mengenai kewajiban Asyila sebagai umat Islam,” balas Asyila.


“Ya sudah, suamimu ini berangkat dulu. Oya, Ashraf sedang tidur dan Mas sengaja tidak membangunkannya. Kalau Ashraf sudah bangun, tolong ingatkan putra kecil kita untuk sholat Dzuhur!” pinta Abraham.


“Baik, Mas. Asyila akan mengingat perkataan Mas Abraham,” jawab Asyila dengan senyum manisnya.


Abraham akhirnya pamit untuk melaksanakan sholat Dzuhur berjama'ah di masjid.


Asyila menghela napasnya dan tersenyum lebar ketika membayangkan wajah suaminya yang tampan tersebut.


“Astaghfirullahaladzim, ingat Asyila. kamu masih puasa,” ucap Asyila bermonolog dan berusaha untuk tak membayangkan wajah suaminya yang sangat menggoda.


Sore hari.


Para wanita tengah sibuk memasak di dapur, mereka memasak makanan dengan sangat kompak.


Arumi dan Yeni bertugas memasak makanan, sementara Asyila dan Dyah ditugaskan untuk menghaluskan bumbu-bumbu untuk memasak.


“Syila dan Dyah sudah menghaluskan bumbunya?” tanya Arumi menghampiri Asyila dan juga Dyah.


“Asyila sudah, Ibu. Ini bumbunya Asyila taruh di mangkuk,” ujar Asyila dan menyerahkan mangkuk tersebut pada Ibunya.


“Tunggu sebentar ya, Nek. Tinggal sedikit lagi,” sahut Dyah yang masih menghaluskan bumbu dengan mesin blender.


“Iya Dyah, kamu tenang saja. Jangan panik,” balas Arumi.


Setelah bumbu masak jadi, Arumi meminta Asyila dan juga Dyah untuk menata piring serta alat makan lainnya. Sementara Arumi dan Yeni mulai memasak menu buka puasa.


Ruang keluarga.

__ADS_1


Abraham dan Fahmi sedang mengobrol ringan, sembari mengendong bayi mereka masing-masing. Sementara Arsyad, Ashraf dan juga Bela tengah fokus menonton kartun.


Jika Abraham dan Fahmi di ruang keluarga, lain halnya dengan Herwan dan Temmy yang malah asik mengobrol di pos penjagaan tempat Pak Udin.


Waktu terus berjalan, sampai akhirnya adzan Maghrib pun berkumandang. Mereka semuanya seketika itu berkumpul di meja makan untuk segera membatalkan puasa mereka.


Kali ini, ruang tamu benar-benar terasa sangat ramai. Suara berisik anak-anak yang begitu bahagia karena suasana yang sangat ramai sekaligus hangat.


Asyila menangis terharu, ia tiba-tiba teringat akan sosok almarhumah Nenek Erna.


“Aunty kenapa menangis?” tanya Dyah lirih ketika melihat air mata Aunty-nya menetes.


Asyila cepat-cepat menyeka air matanya dan mengatakan sejujurnya mengenai rasa rindunya terhadap Nenek dari suaminya.


Dyah pun tertunduk sedih, bagaimanapun sosok almarhumah Nenek buyutnya tidak akan pernah dapat dilupakan.


Hujan deras tiba-tiba turun dan Herwan pun memutuskan untuk melaksanakan sholat Maghrib berjama'ah di rumah bersama keluarga serta penghuni rumah lainnya yaitu, Pak Udin dan para bodyguard.


Abraham menyetujui keputusan Herwan, dikarenakan tidak hanya hujan saja. Akan tetapi, gemuruh pun mulai terdengar dan saling bersahutan sehingga terjadilah suara petir yang sangat kencang.


“Bunda!” teriak Ashraf ketika suara petir terdengar sangat keras.


Untungnya kedua bayi tak menangis sedikitpun, karena mereka sudah berada didalam pelukan ibu mereka masing-masing.


“Ashraf sayang, kamu yang tenang ya. Kami semua disini, usahakan jangan berteriak,” tutur Abraham sembari memeluk erat tubuh putra keduanya yang sangat takut dengan suara kilatan petir.


Setelah berbuka puasa dengan air dan juga buah kurma, merekapun memutuskan untuk segera melaksanakan sholat Maghrib berjama'ah di ruang tamu yang ruangannya memang cukup besar untuk menampung keluarga yang memang cukup banyak jumlahnya.


“Fahmi, kali ini kamulah yang jadi imam sholat!” pinta Abraham.


Fahmi sedikit gugup dan berusaha untuk tetap kelihatan tenang dalam menjadi imam sholat Maghrib.


Usai melaksanakan sholat Maghrib, mereka kompak memanjatkan do'a agar keluarga mereka diberikan keselamatan, kesehatan, sejahtera, kebaikan dan yang pasti selalu bersyukur dengan apa yang Allah berikan kepada mereka.


“Aamiin,” ucap Abraham serta yang lainnya.


Ashraf beranjak dari duduknya dan tak sabar ingin segera melanjutkan berbuka puasanya dengan makanan yang menurutnya sangat lezat.


“Ayo semuanya, ayo ke ruang makan!” ajak Ashraf.


Melihat betapa senangnya Ashraf, mereka dengan kompak tertawa karena ekspresi wajah Ashraf benar-benar menggemaskan.


“Ayo Bunda!” ajak Ashraf sambil menarik-narik tangan Bundanya agar segera menuju ke ruang makan.


“Iya sayang, ayo kita bersama-sama ke ruang makan,” sahut Asyila.


Setelah semuanya berkumpul, Abraham meminta Ashraf untuk memimpin Do'a.


Ashraf memanyunkan bibirnya dan dengan penuh keberanian ia melafalkan bacaan Do'a sebelum makan.


Tanpa pikir panjang lagi, merekapun makan bersama dengan sangat hangat.


Selain cinta, orang juga membutuhkan keluarga yang hangat.


Keluarga adalah sesuatu hal yang sangat membahagiakan bagi setiap orang yang memilikinya, bahkan tak jarang ada orang yang sangat ingin memiliki keluarga hangat. Tetapi, ia tak bisa mendapatkan serta memilikinya.


Oleh karena itu, kita harus bersyukur saat masih memiliki keluarga lengkap sekaligus keluarga yang hangat.


Bela yang berada ditengah-tengah keluarga hangat tersebut ikut bahagia, ia benar-benar senang karena Allah mengabulkan do'a-do'anya yang ia pikir itu semua hanyalah halusinasinya saja.


“Bela sayang, kenapa melamun?” tanya Asyila berbisik ditelinga Bela.


“Bela sayang Aunty, Bela sayang semuanya. Terima kasih Aunty,” jawab Bela yang juga berbisik ditelinga Asyila.


Asyila merasa sangat tersentuh dengan ucapan Bela.


“Kami juga sayang sama Bela, sekarang Bela makan ya!” pinta Asyila agar Bela segera menikmati hidangan di hadapannya.


Bela mengangguk kecil dan mulai menikmati hidangannya.


Abraham mencolek perut istri kecilnya dan seketika itu juga Asyila menoleh ke arah suaminya.


“Mas kenapa colek perut Asyila?” tanya Asyila setengah berbisik.


“Ya mau bagaimana lagi, Syila dari tadi Mas perhatikan sedang berbisik-bisik dengan Bela. Sekarang suapi makanan untuk Mas!” pinta Abraham dan memberikan sendok tersebut ke tangan istri kecilnya.


Asyila menerima sendok makan tersebut dan mulai menyuapi makanan ke dalam mulut suaminya.


“Ehemm.. Sepertinya ada pengantin baru nih,” celetuk Dyah dan terkekeh kecil.


Abraham hanya diam sembari memberikan tatapan tajam ke arah keponakannya yang mengganggu keromantisannya bersama Sang istri.


“Ya ampun, seramnya,” celetuk Dyah dan kembali terkekeh kecil.


Like ❤️

__ADS_1


__ADS_2