Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Pulangnya Putra Sulung Abraham Dan Asyila


__ADS_3

Beberapa Minggu kemudian.


Asyila sedang duduk bersama kedua orangtuanya dan juga Bela di teras depan rumah. Siang itu, mereka tengah menantikan kedatangan Arsyad dari pondok pesantren, tempat dimana Arsyad mempelajari ilmu agama Islam lebih dalam lagi.


“Kira-kira mereka sudah sampai mana ya Ibu?” tanya Asyila yang terlihat tak sabaran ingin memeluk putra pertamanya.


“Tunggu saja sebentar lagi, tidak sampai setengah jam mereka pasti sudah sampai,” balas Arumi pada putri kesayangannya.


Bela menatap wajah bayi mungil nan menggemaskan yang saat itu tengah terlelap di kereta bayi.


“Aunty, adik bayi kapan bisa jalan?” tanya Bela.


Asyila tertawa kecil mendengar pertanyaan Bela.


“Bela sayang, kalau ditanya kapan bisa jalan itu mungkin membutuhkan waktu beberapa bulan lagi,” jawab Asyila dengan sangat lembut.


“Bela tidak sabar ingin melihat adik bayi berjalan, pasti sangat lucu.”


Asyila melebarkan senyumnya dan membelai rambut Bela dengan penuh kasih sayang.


“Tetapi....” Bela tiba-tiba menundukkan kepalanya dan membuat Asyila mengernyitkan keningnya.


“Tetapi, apa Bela?” tanya Asyila penasaran.


“Bela mau tinggal di panti asuhan saja Aunty,” jawab Bela yang ingin tinggal di panti asuhan.


Asyila, Arumi dan juga Herwan seketika itu terkejut mendengar perkataan Bela yang ingin tinggal di panti asuhan.


“Bela kenapa berbicara seperti itu? Aunty ada salah ya? Kalau begitu, Aunty minta maaf ya sayang,” ucap Asyila panik karena ia sudah sangat sayang dengan Bela.


“Bela dapat omongan ini darimana? Siapa yang menghasut Bela untuk tinggal di panti asuhan?” tanya Arumi yang juga tak ingin jika Bela sampai pergi.


“Bela ingin tinggal disana, Aunty. Tolong kirim Bela ke panti asuhan!” pinta Bela.


Asyila dengan tegas menolak keinginan serta permintaan Bela. Bagaimanapun, Bela sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.


“Tidak boleh,” tegas Asyila.


“Bela sayang, kehidupan di panti asuhan tidak semudah yang Bela bayangkan. Lagipula, banyak anak-anak panti yang ingin memiliki orang tua angkat, tolong mengertilah maksud kami,” terang Arumi pada Bela.


Asyila terlihat sangat kesal, akan tetapi ia memilih untuk diam karena takut jika ia tak sengaja mengeluarkan kata yang tak ingin di dengar oleh Bela.


Bagaimanapun juga, Asyila sangat menyayangi Bela dan sangat senang dengan adanya Bela di dalam kehidupan keluarganya.


“Maaf, Bela tidak akan lagi berbicara masalah tadi,” tutur Bela yang telah menyadari kesalahannya.


Asyila mendongakkan kepalanya dan merentangkan tangannya lebar-lebar.


“Sini peluk Aunty!” pinta Asyila yang terlihat sangat menyayangi Bela.


Bela perlahan mendekat dan ia pun akhirnya menangis dipelukan Asyila. Setiap dirinya berada dipelukan Asyila, ia menjadi tenang seakan-akan Asyila itu adalah seseorang yang sangat menyayangi dirinya.


“Bela jangan berkata seperti itu lagi ya, jangan buat Aunty sedih. Bela paham, 'kan?” tanya Asyila sambil menyeka air mata Bela.


“Paham, Aunty,” jawab Bela yang merasa bersalah karena telah mengatakan hal tersebut.


“Kami semua sayang kamu, Bela. Kami pun tak rela kalau kamu sampai pergi dari kami,” tutur Asyila.


Bela terus saja menangis, ia menangis terharu mendengar ucapan Asyila.


“Sudah, jangan menangis lagi. Nanti cantiknya hilang!”


Bela tertawa kecil sambil menyeka sisa air matanya.


“Bela sayang Aunty dan sayang semuanya,” tutur Bela dari lubuk hatinya yang terdalam.

__ADS_1


“Kamu pun sangat sayang sama Bela,” balas Asyila sambil menyeka air matanya.


Arumi dan Herwan saling tukar pandang satu sama lain. Mereka senang akhirnya Bela tak jadi pergi ke panti asuhan.


Ponsel Asyila tiba-tiba berbunyi dan seketika itu juga Asyila beranjak sedikit menjauh karena tak ingin bayi mungilnya terbangun.


“Siapa?” tanya Arumi dengan menggunakan bahasa bibir.


“Mas Abraham,” jawab Asyila yang juga menggunakan bahasa bibir.


Asyila menyandarkan tubuhnya di tembok dan mulai menerima sambungan telepon dari kekasih halalnya itu.


“Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Istriku,” ucap Abraham dari balik telepon.


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Iya suamiku,” balas Asyila sambil melirik ke arah kedua orang tuanya barangkali mereka mendengar ucapan Asyila.


“Syila, kami pulang sedikit terlambat karena ban tiba-tiba bocor,” ucap Abraham.


“Astaghfirullahaladzim, dimana Mas? Terus anak-anak bagaimana?” tanya Asyila mulai khawatir.


“Syila tenang saja, ini mobil sedang ditangani. Insya Allah tak banyak memakan waktu, tunggu kami pulang ya istriku!”


“Tentu saja, Mas. Ini Asyila, Ibu, Ayah dan Bela sedang menunggu kepulangan Mas dan Anak-anak.”


“Sudah dulu ya Syila, ini Ashraf sedikit ngambek.”


“Baik, Mas. Hati-hati ya Mas,” ucap Asyila khawatir.


“Tenang saja, ya sudah Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!”


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” balas Asyila dan kembali duduk di kursi yang sebelumnya ia duduki.


“Ada apa Nak Abraham telepon, Asyila?” tanya Arumi penasaran.


“Ban mobil tiba-tiba bocor Ibu. Alhamdulillah nya sekarang sedang diperbaiki dan setelah semuanya beres, mereka akan langsung pulang,” jawab Asyila menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada mobil suaminya.


Asyila tersenyum dan menoleh ke arah Bela yang tengah duduk di samping kereta bayi.


“Bela mengantuk?” tanya Asyila pada Bela.


Bela dengan jujur mengiyakan pertanyaan Asyila.


“Kalau mengantuk, Bela masuk saja kedalam. Tidurlah, tidak perlu takut apalagi sungkan. Ayo pergilah tidur!” perintah Asyila.


Bela mengiyakan dan ia pun pamit untuk segera tidur siang.


“Kasihan sekali Bela, sampai saat ini Ibu masih sangat kesal dengan apa yang kedua orangtuanya lakukan,” tutur Arumi yang sangat geram dengan kelakuan kedua orang tua yang memperlakukan Bela seperti bukan anak kandung mereka.


“Ibu, sudahlah jangan bicara seperti itu. Bagaimanapun kita harus mendo'akan kedua orang tua Bela agar kedepannya mereka berubah menjadi baik,” balas Asyila.


“Apa yang dikatakan oleh Asyila ada benarnya,” sahut Herwan sambil menoleh ke arah istrinya, Arumi dengan tatapan serius.


Arumi tersadar dan mengelus-elus dadanya berulang kali sembari mengucapkan istighfar agar hatinya menjadi tenang.


“Ibu, nanti sore kita masak apa ya?” tanya Asyila yang bingung ingin memasak apa untuk berbuka puasa.


“Ibu kemarin membeli ikan laut, bagaimana kalau ikan lautnya di sambal balado?” tanya Arumi.


“Boleh juga, tapi tidak mungkin hanya ikan sambal balado saja Ibu,” jawab Asyila.


“Syila tenang saja, di dalam kulkas banyak sayuran. Nanti sore setelah sholat ashar kita mengolahnya bersama-sama!”


“Siap, Ibu!” seru Asyila sambil mengacungkan kedua jempol tangannya dengan dilengkapi senyum cantiknya.


Beberapa saat kemudian.

__ADS_1


Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, Asyila serta kedua orangtuanya langsung beranjak dari duduk mereka ketika melihat mobil milik Abraham memasuki halaman rumah.


Pak Udin turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Abraham. Barulah Arsyad dan juga Ashraf menyusul turun dari mobil.


“Bunda!” teriak Arsyad sambil berlari secepat mungkin menuju Bundanya tersayang.


“Arsyad!” teriak Asyila sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


Keduanya pun akhirnya berpelukan dan saling menumpahkan rasa rindu mereka dengan tangisan kebahagiaan.


“Arsyad kangen Bunda,” ucap Asyila disela-sela ia menangis.


“Bunda pun kangen Arsyad,” balas Asyila dengan terus memeluk putra sulungnya.


Melihat kedekatan Bunda serta Kakaknya, Ashraf pun berlari bergabung agar bisa dipeluk oleh Bundanya.


“Bunda, Ashraf juga mau!” pinta Ashraf dengan memasang wajah melas agar Bundanya juga memeluk dirinya.


Asyila menoleh ke arah putra keduanya dan menarik tubuh Ashraf ke dalam pelukannya.


Abraham geleng-geleng kepala begitu juga dengan Arumi dan Herwan yang melihat bagaimana Ashraf ingin mendapatkan pelukan yang sama dari Bundanya.


Usai berpelukan, Arsyad mencium punggung tangan Bundanya, Nenek serta Kakeknya secara bergantian. Ashraf pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Kakaknya, Arsyad.


“Ayo sayang kita masuk ke dalam, Arsyad pasti sangat lelah!” ajak Asyila dengan menggandeng tangan putra sulungnya.


“Bunda, Ashraf juga mau!” pinta Ashraf yang ingin digandeng oleh Bundanya.


Asyila terkekeh geli mendengar permintaan Ashraf dan ia pun menggandeng tangan kedua putranya menuju kamar.


“Arsyad dan Ashraf langsung tidur ya, Bunda ingin kalian berdua istirahat tidur siang.”


“Baik, Bunda,” balas Arsyad yang sangat penurut.


“Bunda, Ashraf tidak ngantuk. Ashraf mau ke ruang keluarga saja nonton kartun,” ungkap Ashraf.


“Adik, nontonnya nanti saja. Ayo kita ganti baju habis itu kita tidur siang!” ajak Arsyad.


Ashraf yang awalnya tak mau akhirnya mengiyakan ajakan dari kakaknya, Arsyad.


“Bunda tinggal ya sayang, kalau sudah bangun dan Bunda tidak ada di ruang tamu ataupun ruang keluarga, datang saja ke kamar Ayah dan Bunda,” tutur Asyila.


“Baik, Bunda,” jawab Arsyad.


Asyila tersenyum lebar dan ia pun melenggang pergi untuk segera menemui suaminya.


“Ayah, Mas Abraham dan bayi kami mana?” tanya Asyila pada Ayahnya yang tengah duduk seorang diri di ruang tamu.


“Nak Abraham sudah masuk ke dalam kamar bersama dengan bayi kalian,” jawab Herwan.


“Kalau begitu Asyila menyusul Mas Abraham ke kamar ya Ayah,” balas Asyila dan melenggang pergi meninggalkan ruang tamu.


Asyila pun tiba di dalam kamar dan melihat suaminya yang saat itu tengah terlelap di tempat tidur, sementara bayi mereka berada di ranjang bayi.


“Mas Abraham pasti sangat lelah,” tutur Asyila dengan sangat lirih.


Asyila melepaskan hijab miliknya dan kemudian merebahkan tubuhnya di samping suaminya. Ia menatap wajah suaminya dengan tatapan penuh cinta hingga ia pun tertidur pulas dengan posisi menghadap ke arah suaminya, Abraham.


Disaat yang bersamaan, Arsyad mencoba membuat adiknya tertidur dengan menepuk-nepuk pelan bokong adiknya.


“Agak kuat Kak Arsyad!” pinta Ashraf sambil mempraktekkan bagaimana ia menepuk-nepuk bokongnya sendiri.


Arsyad pun kembali menepuk-nepuk bokong adiknya dan tak butuh waktu lama, Ashraf akhirnya tertidur juga.


Melihat adiknya yang sudah terlelap, Arsyad pun memutuskan untuk segera tidur.

__ADS_1


Sebelum tidur siang, Arsyad terlebih dulu mengambil air wudhu. Kemudian setelah itu ia kembali naik ke tempat tidur dan tak lupa membaca do'a sebelum tidur yang sudah menjadi kebiasaannya sejak masih sangat kecil.


Like ❤️


__ADS_2