Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Fahmi Cemburu


__ADS_3

Bandung.


Seperti biasanya, Dyah pulang dijemput oleh Fahmi, calon suaminya yang sampai saat ini belum Dyah ketahui.


Dyah sendiri perlahan sudah mulai membuka hatinya untuk Fahmi dan hebatnya lagi, Fahmi belum juga sadar bahwa Dyah telah membuka hati untuknya.


Karena Dyah adalah sosok gadis yang bisa dikatakan cuek dan apa adanya.


“Mau langsung pulang atau mampir dulu?” tanya Fahmi pada Dyah.


“Cie.. yang dijemput sama pacarnya,” ucap salah satu teman Dyah.


“Sok tahu,” celetuk Dyah dan naik ke atas motor dengan bibir manyun.


Fahmi tertawa kecil melihat wajah calon istrinya dan bergegas menuju arah pulang.


“Mas, kita jangan langsung pulang ya! Mampir ke apotek sebentar,” ucap Dyah.


“Apotek?” tanya Fahmi memastikan.


“Iya, Apotek,” jelas Dyah sambil senyum-senyum.


Fahmi mengangguk dan terus mengendarai motornya menuju apotek terdekat. Sesampainya di apotek, Dyah cepat-cepat masuk dan hal yang tak terduga pun terjadi.


Fahmi melihat rok bagian belakang yang dikenakan oleh Dyah berwarna merah yang artinya saat itu Dyah tengah menstruasi. Fahmi pun cepat-cepat turun dan langsung menutupi bagian belakang Dyah dengan jaket yang ia kenakan.


Dyah menoleh ke arah Fahmi dengan tatapan terkejut karena berpikir bahwa Fahmi sedang melakukan perbuatan tercela.


“Tolong jangan salah sangka, sepertinya kamu sedang....” Fahmi tak sanggup mengatakannya, karena ia tidak ingin Dyah merasa malu.


Dyah pun tertegun dan ia baru saja menyadari bahwa ia tengah bocor.


“Ya ampun, bagaimana ini?” Dyah terlihat sangat kebingungan dan untungnya Fahmi meminjamkannya jaket sehingga hal yang memalukan tersebut tanpa sampai dilihat oleh orang lain.


“Sekarang tunggulah diluar, biar aku yang membelikannya,” ucap Fahmi.


“Memangnya Mas tahu apa yang mau aku beli?” tanya Dyah.


“Iya, aku tahu. Sudah sana tunggu di luar!” perintah Fahmi.


Dyah pun keluar dengan langkah ragu-ragu, ia ragu dengan apa yang akan dibeli oleh Fahmi.


Beberapa menit kemudian.


Fahmi keluar dari apotek dan menyerahkan bungkus kresek berwarna hitam yang didalamnya ternyata adalah pembalut.


“Ba-bagaimana Mas Fahmi tahu kalau....” Dyah tak berani melanjutkan ucapannya, ia sangat malu sekaligus senang dengan apa yang telah dilakukan oleh Fahmi.


Sangat jarang ada seorang pria yang dengan penuh percaya diri membeli pembalut wanita.


“Sudah tidak apa-apa, sekarang kita akan cari pom bensin terdekat agar kamu bisa menggantinya. Tolong jangan berpikir hal yang tidak-tidak tentang aku, karena aku akan berusaha menjagamu,” tegas Fahmi.


Kata-kata Fahmi membuat Dyah menjadi bingung, ditambah Fahmi mengatakan akan berusaha menjaga dirinya.


Dyah mengangguk kecil dan mengira bahwa apa yang dikatakan oleh Fahmi adalah perintah dari Pamannya.


“Terima kasih,” ucap Dyah dan kembali naik ke atas motor.

__ADS_1


Fahmi tersenyum manis dan perjalanan mereka kembali dilanjutkan.


Hingga akhirnya, mereka berhenti di pom bensin terdekat.


Dyah dengan malu-malu turun dari motor dan berlari kecil masuk ke dalam toilet.


Di dalam toilet, Dyah cepat-cepat mengganti pembalut dan jantungnya tiba-tiba berdegup dengan cukup kencang ketika mengingat perkataan Fahmi yang kini membuatnya salah paham.


Apakah Mas Fahmi menyukaiku? Ah, rasanya tidak mungkin. Mana mungkin pria setampan dia menyukai gadis bermata sipit seperti aku ini.


Bukannya cepat-cepat keluar dari toilet, Dyah malah sibuk memikirkan Fahmi yang entah kenapa membuat Dyah mengalami kegugupan yang cukup besar. Dyah terkesiap ketika ponselnya berbunyi dan ternyata ada pesan singkat dari Kevin yang memberitahunya bahwa Kevin sudah berada di rumah.


Dyah pun bergegas keluar dari toilet untuk segera sampai ke rumah dan tidak ingin membuat Kevin menunggu lama.


“Mas, ayo pulang sekarang!” perintah Dyah.


“Siap!” seru Fahmi dan melanjutkan perjalanan menuju rumah calon mertuanya.


Setibanya di rumah, Fahmi terkejut melihat seorang pria yang tengah berdiri sembari tersenyum ke arah calon istrinya.


“Hai Kevin, kapan kamu sampai ke Bandung?” tanya Dyah yang terlihat sangat akrab dan itu membuat Fahmi cemburu.


“Tadi malam, bagaimana pekerjaanmu hari ini?” tanya Kevin pada Ema.


Fahmi yang melihat adegan tersebut merasa sangat cemburu. Dadanya sangat panas dan ia tidak ingin calon istrinya tersenyum lepas kepada pria lain.


Akan tetapi, Fahmi sadar bahwa ia dan Dyah sedang dalam masa pendekatan meskipun kedua orang tua Dyah telah menerima lamarannya untuk mempersunting putri tunggal mereka.


Temmy dan Yeni terlihat bingung dengan suasana saat itu, keduanya tahu bahwa Fahmi adalah calon menantu mereka dan keduanya pun tahu bahwa Kevin menyukai putri kesayangan mereka.


“Mama, Papa! Fahmi langsung pulang saja, Assalamu'alaikum,” ucap Fahmi yang tidak ingin berlama-lama melihat calon istrinya bersama dengan pria lain.


“Iya ada apa?” tanya Fahmi dengan ekspresi datar.


Dyah merasa bahwa Fahmi tak senang dengan adanya Kevin. Akan tetapi, Dyah pun tidak bisa mengusir Kevin yang sengaja datang menemui dirinya.


“Tolong jangan pulang dulu!” pinta Dyah.


Perasaan kesal Fahmi sekejap langsung hilang ketika Dyah memintanya untuk tidak pulang. Fahmi pun mengiyakan dan mereka semua masuk ke dalam rumah.


Dyah cepat-cepat masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya. Sementara itu, Fahmi dan Kevin saling menatap seakan-akan tatapan mereka adalah tatapan peperangan.


Yeni dan Temmy pun bingung harus berbuat apa, karena Fahmi adalah calon menantu mereka dan Kevin adalah teman kuliah putri mereka.


“Mama dan Papa apa kabar?” tanya Kevin yang tiba-tiba sok akrab dengan kedua orang tua Dyah.


Yeni dan Temmy saling tukar pandang setelah mendengar panggilan dari Kevin.


Sementara itu, Fahmi cemburu dengan panggilan Kevin yang terlihat sangat akrab dengan kedua calon mertuanya.


“Alhamdulillah, kami baik,” jawab Temmy sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Oya sebentar, Kevin ada oleh-oleh untuk Mama, Papa dan juga Dyah,” ucap Kevin dan berlari kecil keluar mengambil sesuatu di dalam mobilnya.


“Nak Fahmi, tolong jangan salah paham,” ucap Yeni pada calon menantunya dan berharap agar Fahmi tidak salah paham dengan panggilan Kevin kepada mereka berdua.


“Iya, Mas,” jawab Fahmi.

__ADS_1


Kevin kembali masuk ke dalam rumah dengan membawa paper bag berukuran besar.


“Ini untuk Mama, ini untuk Papa dan ini untuk Dyah,” terang Kevin sambil memberikan paper bag tersebut.


“Terima kasih, nak Kevin,” ucap Temmy dan Yeni sambil menerima oleh-oleh dari Kevin.


Kevin terus mengajak kedua orang tua Dyah berbicara, sementara Fahmi memilih untuk menata hatinya yang sedang cemburu. Sampai akhirnya, Dyah datang membawa nampan berisi teh dan juga cemilan.


“Silakan dinikmati,” ucap Dyah sembari meletakkan nampan tersebut.


Ketika Fahmi ingin mengucapkan kata terima kasih, rupanya Kevin lebih dulu mengucapkannya dengan suara yang cukup lantang.


Lagi-lagi Fahmi hanya bisa menghela napasnya dan memilih untuk menata hatinya.


“Dyah, malam Minggu kamu ada acara tidak? Aku ingin membawamu jalan-jalan!” ajak Kevin.


Dyah terdiam sejenak dan melirik sekilas ke arah Fahmi yang ternyata saat itu tidak melihat ke arahnya.


Entah kenapa, Dyah sama sekali tidak tertarik dengan ajakan dari Kevin. Bagaimanapun, ia sudah menolak perasaan Kevin dan Dyah tak mungkin bisa sedekat dulu setelah Kevin menyatakan isi hatinya.


Dyah tidak ingin persahabatannya yang terjalin cukup lama akan pupus begitu saja ketika Kevin sekali lagi menyatakan cintanya.


Hal tersebut bukan tanpa sebab, Dyah sudah bisa menilai sikap Kevin yang masih belum melupakan perasaannya.


“Malam Minggu sepertinya aku banyak sekali pekerjaan kantor,” ucap Dyah mencari alasan.


“Kalau begitu, bagaimana malam Senin?” tanya Kevin yang terlihat sangat bersemangat untuk mengajak Dyah keluar.


“Kalau itu, hari Seninnya aku harus masuk sangat pagi,” jawab Dyah.


Kevin menghela napasnya dengan memasang wajah sedih.


“Baiklah, kalau kapan-kapan kamu longgar hubungi saja aku. Aku akan membawamu jalan-jalan,” terang Kevin.


Fahmi masih diam, ia sedikit senang karena Dyah tidak pergi bersama Kevin.


Bagaimanapun, Fahmi mengetahui bahwa Kevin tertarik dengan calon istrinya.


“Maaf semuanya, kalau begitu saya pamit karena ada urusan yang harus saya selesaikan. Wassalamu'alaikum,” ucap Kevin yang baru saja mendapat pesan singkat dari seseorang.


“Wa’alaikumsalam,” balas mereka.


Setelah Kevin benar-benar pergi, Dyah menghela napasnya dan memeluk lengan Yeni.


“Ma...” ucap Ema sambil menoleh sekilas ke arah Yeni.


“Iya Mama tahu, kenapa tadi tidak langsung menolak ajakan Kevin dan malah membuat alasan?” tanya Yeni dan sekaligus mewakili rasa penasaran Fahmi.


Fahmi menoleh ke arah Dyah dengan sangat serius untuk mendengarkan secara langsung apa yang dikatakan oleh Dyah.


“Ma, kita bahas di dalam saja ya,” ucap Dyah yang tidak ingin siapapun mendengar apa yang dikatakan olehnya termasuk, Temmy dan juga Fahmi.


Fahmi pun mengerti maksud dari Dyah dan ia pun pamit untuk segera kembali ke rumah.


“Mas, jaketnya,” ucap Dyah yang ingin mengambil jaket milik Fahmi yang masih berada di kamarnya.


“Kamu bawa saja, lain kali aku akan mengambilnya. Semuanya, saya pulang dulu. Wassalamu'alaikum!”

__ADS_1


“Wa’alaikumsalam!” seru mereka.


Fahmi pun bergegas pergi dengan motornya dan masih dengan perasaan cemburu.


__ADS_2