
Acara makan bersama akhirnya selesai juga, tanpa disadari oleh Dyah. Fahmi tersenyum kearahnya dan yang melihatnya justru Abraham serta istri kecilnya.
“Kalau begitu kami pulang dulu, terima kasih atas jamuan yang sangat enak,” ucap Murni.
Dyah ingin bertanya kepada Pamannya, akan tetapi Dyah tak berani. Ia pun memutuskan untuk tidak bertanya dan segera membereskan bekas makan.
“Dyah!” panggil Temmy.
“Iya, Pa!” Dyah segera berbalik dan menghampiri Papa nya.
Temmy menatap wajah putri tunggalnya dan menggenggam kedua pundak Dyah.
“Papa percaya dengan Dyah, sekarang Dyah sudah besar dan Papa berharap Dyah menjadi gadis yang penurut. Tidak hanya kepada Papa dan Mama, Dyah juga harus menurut kepada calon suami Dyah kelak,” ucap Temmy penuh harapan.
Dyah terheran-heran sekaligus terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Papanya. Sebelumnya, Temmy tak pernah sekaligus membahas tentang calon suami.
Sungguh, Dyah merasa ada sesuatu hal yang besar dibalik ucapan Papanya.
“Kenapa Papa berbicara seperti itu? Perjalanan Dyah masih panjang, Pa. Calon suami apa? Bahkan, kekasih pun Dyah tak punya,” balas Dyah.
Yeni mendekat dan memberikan isyarat kedipan mata kepada suaminya agar diam dan tak perlu menjawab pertanyaan dari putri mereka.
“Pa, ayo kita pulang!” ajak Yeni sambil memeluk lengan Temmy.
Abraham merangkul pinggang istri kecilnya dan mendekat ke arah orang tua Dyah.
“Apakah kalian ingin pulang sekarang?” tanya Abraham.
Dyah merasa diabaikan dan dengan kesal ia melenggang pergi menuju kamarnya.
“Sudah, biarkan saja Dyah,” ucap Temmy menahan Yeni yang ingin menyusul Dyah.
“Dyah pasti belum mengerti apa yang Mas katakan,” tutur Abraham.
“Ya sudah kalau begitu, aku titip Dyah. Besok Nak Fahmi yang akan mengantarkan Dyah pulang,” ucap Temmy yang bersiap-siap untuk kembali ke rumahnya.
Abraham mengiyakan dan mengantarkan Temmy serta Yeni ke depan rumah. Kedua orang tua Dyah pun pergi meninggalkan perumahan Absyil.
“Mas..” Asyila tersenyum dan memeluk suaminya, “Semoga semuanya berjalan lancar ya Mas,” imbuh Asyila.
“Aamiin!”
Di dalam kamar Dyah malah asik bermain game di ponselnya. Ia memilih untuk melupakan apa yang dikatakan oleh Temmy, perkataan Papa nya sempat membuat Dyah terkejut sekaligus terheran-heran. Akan tetapi, Dyah hanya menganggapnya seperti angin lalu saja. Toh, ia belum kepikiran untuk menikah dan berpikir bahwa usianya masih sangat muda untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Meskipun, Dyah telah mencapai usia matang yaitu 24 tahun menuju 25 tahun.
Ashraf tiba-tiba masuk ke dalam kamar Dyah dan langsung merebahkan tubuhnya. Seperti biasa, ia akan langsung tidur ketika sudah sampai kamar.
“Anak ini, cepat sekali tidurnya,” celetuk Dyah dan ikut merebahkan tubuhnya tepat disamping Ashraf.
Di dapur Asyila sedang mencuci piring dan dibantu oleh Abraham. Asyila berkali-kali meminta suaminya untuk tidak turun ke dapur membantunya, akan tetapi Sang suami bersikeras untuk membantu istri kecilnya yang tengah sibuk di dapur.
“Mas, jangan terlalu sering-sering membantu Asyila. Kalau begini terus, yang ada Mas lah yang menjadi Ibu rumah tangga,” ucap Asyila setengah mengomel.
“Memangnya kalau Suami ikut membantu istrinya, langsung jadi Ibu rumah tangga. Begitu?”
Asyila menyenggol bokong suaminya dan justru Asyila lah yang hampir terjatuh. Untungnya Abraham memiliki tangan yang gesit sehingga Asyila tak sampai jatuh ke lantai.
“Hati-hati, jangan sampai calon buah hati kenapa-kenapa,” ucap Abraham menggoda istri kecilnya.
Asyila mencubit perutnya suaminya dengan cukup kuat karena Sang suami sangat senang menggodanya.
“Ashraf belum masuk sekolah, Mas. Kalau tambah satu lagi yang ada kita kelimpungan,” tutur Asyila.
“Mas 'kan, pernah bilang kalau kita akan membentuk tim kesebelasan, Syilaku. Jadi, tak masalah kalau memiliki bayi lagi.”
Asyila geleng-geleng kepala, bukannya ia menolak untuk kembali memiliki seorang bayi. Akan tetapi, ia masih belum siap jika harus menambah anak lagi apalagi Ashraf ada bocah kecil yang cukup rewel.
Ditambah, suaminya akan semakin sulit untuk menggaulinya.
Beberapa menit kemudian.
Dyah terbangun dan tersadar bahwa seharusnya ia mencuci piring. Tanpa pikir panjang, ia berlari kecil menuju dapur dan betapa terkejutnya Dyah ketika melihat semuanya sudah selesai.
“Ya Allah, kenapa hamba sampai ketiduran?”
Dyah benar-benar merasa bersalah karena bukannya membantu Aunty-nya, dirinya malah tertidur dikamar.
“Ini semua gara-gara Papa,” ucap Dyah dengan sangat kesal.
__ADS_1
Abraham dan Asyila baru saja menuruni anak tangga. Mereka kemudian memanggil Dyah yang terlihat kebingungan di dapur.
“Dyah!” panggil Abraham.
“Iya Paman!” seru Dyah sembari berlari kecil menghampiri Pamannya.
“Besok kamu pulang diantarkan oleh Fahmi ya,” ucap Abraham.
Deg!
“Fa..Fahmi?” Dyah terlihat tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Pamannya, “Fa... Fahmi siapa Paman?” tanya Dyah.
“Tetangga baru Paman, rumahnya tidak jauh dari sini. Jaraknya sekitar 7 rumah dari rumah Paman ini,” terang Abraham.
Deg! Deg!
Ya Allah, kenapa ini bisa sangat kebetulan. Apa benar sekarang pria pemilik sapu tangan itu telah menjadi tetangga Paman dan Aunty.
Lalu, kenapa malah dia yang mengantarkan aku dan bukan Paman atau Pak Eko?
“Dyah, kamu dengar tidak apa yang Paman katakan?” tanya Abraham dan menyentil kuat kening Dyah.
“Aaawww, sakit Paman.”
“Makanya kalau orang tua ngomong itu didengarkan jangan malah dibawa melamun,” balas Abraham.
“Iya-iya, maaf.”
“Dimana Ashraf? Apa adikmu tertidur?” tanya Asyila.
“Iya Aunty, adik Ashraf sekarang sedang tertidur. Oya Aunty, Dyah minta maaf karena ketiduran jadinya tidak membantu Aunty beres-beres,” ucap Dyah merasa bersalah.
“Sudah tidak apa-apa, kebetulan ada Pamanmu yang selalu membantu Aunty,” balas Asyila sembari melirik suaminya yang berdiri tepat disisinya.
Abraham tak tega membangunkan Ashraf, akhirnya ia berangkat ke masjid seorang diri tanpa mengajak Ashraf.
“Mas ke masjid dulu, 5 menit lagi bangunkan Ashraf dengan lembut,” tutur Abraham dan mencium kening istri kecilnya di depan Dyah.
Dyah memiringkan bibirnya melihat keromantisan Paman dan Aunty-nya yang dari dulu selalu terlihat romantis.
“Aunty, Dyah ke kamar dulu ya. Apa mau Dyah yang sekalian membangunkan Ashraf?” tanya Dyah menawarkan diri.
Keesokan harinya.
Seperti yang telah dikatakan oleh Sang Paman. Fahmi lah yang akan mengantarkan Dyah untuk pulang ke rumah, mau tak mau Dyah pun menyetujui apa yang dikatakan oleh Pamannya tersayang.
Dyah berjalan menuju luar rumah dengan begitu lemas, matanya terlihat sangat sayu karena semalaman sulit tidur. Penyebabnya adalah Fahmi yang terus-menerus menghantuinya.
“Dyah, kamu semalaman begadang?” tanya Asyila karena terlihat sekali mata Dyah memerah dan sangat letih. Seperti orang yang kesulitan untuk tidur.
“Ti... tidak, ini karena tadi kelilipan debu,” jawab Dyah berbohong.
Disaat yang bersamaan, Fahmi datang dengan membawa motor matiknya. Sebenarnya ia memiliki motor jenis naked. Akan tetapi, Fahmi lebih nyaman menggunakan motor matiknya dibandingkan motor jenis naked.
Fahmi turun dari motor untuk segera mengantarkan Dyah pulang.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Fahmi.
“Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” balas Asyila dan juga Dyah.
“Saya kemari mau mengantarkan Mbak Dyah pulang,” ucap Fahmi dengan sangat sopan.
“Iya silakan, kebetulan Pamannya sudah berangkat dari pagi-pagi buta,” balas Asyila.
Dyah mengernyitkan keningnya ke arah Asyila, Dyah merasa bahwa Aunty-nya sudah cukup dengan pria yang akan mengantarkannya pulang.
Deg! Deg!
Dyah tak sengaja menatap mata Fahmi dan disaat yang bersamaan, Fahmi pun menatap mata sipit Dyah.
Asyila yang berada di antara keduanya mendadak nostalgia saat masa-masa awal pendekatannya dengan Sang suami. Asyila pun akhirnya menyadari bagaimana posisi Dyah ketika menjadi nyamuk antara dirinya dan Sang suami tercinta.
“Ehemm!” Asyila berdehem membuat Dyah dan Fahmi terkesiap serta menjadi salah tingkah.
“Matahari sudah mulai panas,” ucap Asyila sambil tersenyum kearah Fahmi.
Fahmi mengangguk kecil dan mengajak Dyah untuk segera naik motor.
__ADS_1
Dyah sangat grogi karena sebelumnya ia belum pernah naik motor dengan pria muda. Kecuali, tukang ojek pangkalan yang menjadi langganannya.
“Apa ada yang aneh?” tanya Fahmi.
Dyah sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Fahmi. Dyah sibuk melamunkan bagaimana bisa Fahmi tinggal di perumahan Absyil dan bagaimana mungkin pria didepannya mengantarkannya pulang ke rumah sementara pria tersebut telah menikah.
“A...aku naik ojek saja,” ucap Dyah yang tiba-tiba menolak dibonceng oleh Fahmi.
“Kenapa? Malu dengan kendaraan ku yang seperti ini?” tanya Fahmi kebingungan.
Asyila belum juga masuk ke dalam rumah, dari teras rumah ia terus memperhatikan Dyah dan Fahmi yang belum juga pergi.
“Tidak, bukan begitu. Aku hanya merasa bersalah,” ucap Dyah ragu-ragu.
“Bersalah? Memangnya kamu berbuat salah apa?” tanya Fahmi yang masih belum berani menatap mata Dyah lama-lama.
“Dyah! Kenapa belum naik? Cepat nanti kamu telat,” ucap Asyila setengah berteriak.
Dyah menggigit bibir bawahnya dan terpaksa naik di atas motor Fahmi. Kemudian, Fahmi pun bergegas mengantarkan Dyah untuk pulang.
Dyah memutuskan untuk diam dan tak ingin melakukan apapun. Ia sedikit merasa jengkel karena tidak berani bertanya mengenai bordiran nama di sapu tangan Fahmi.
Fahmi pun bingung harus berbicara apa kepada Dyah. Ia bahkan gugup dan mengendarai motor dengan begitu lambat.
Orang ini kenapa membawa motor lambat sekali? Kalau begini aku telat masuk kerja.
“Pria sapu tangan, cepatlah sedikit!” pinta Dyah yang entah kenapa Dyah lebih menyukai memanggil Fahmi dengan sebutan pria sapu tangan.
Fahmi tersenyum tipis dan mengikuti apa yang dikatakan oleh Dyah.
“Saya belum tahu jalan pulang Mbak Dyah, tolong arahkan jalannya!” Fahmi berkata dengan cukup keras agar gadis dibelakangnya bisa mendengar apa yang dia katakan.
“Ok,” jawab Dyah singkat.
Keinginan Dyah untuk tetap diam akhirnya pupus sudah. Dikarenakan pria yang sedang membonceng dirinya belum tahu arah rumahnya.
Deg! Deg!
Dyah menyentuh dadanya yang benar-benar sangat grogi. Rasanya seperti seluruh tubuhnya tersengat listrik namun, tidak sampai membuatnya kehilangan nyawa.
Karena keasikan melamun, Dyah sampai tak sadar bahwa arah rumahnya sudah terlewat cukup jauh.
“Stop!” teriak Dyah begitu mendadak.
“Ciiiittttt, Bruk!”
Apa yang terjadi? Akhirnya Fahmi maupun Dyah terjatuh dari motor karena ulah Dyah yang tiba-tiba menghentikan laju motor Fahmi. Fahmi pun refleks dan mengerem secara tiba-tiba, hingga keduanya pun terjatuh.
Orang-orang yang berada disekitar mereka langsung menghampiri keduanya dan membantu keduanya untuk bangkit. Untungnya, tidak ada yang terluka dalam insiden tersebut.
Akan tetapi, siku tangan Fahmi berdarah karena melindungi tubuh Dyah yang hampir saja membentur aspal jalan.
“Neng dan Aa' nya tidak kenapa-kenapa?” tanya mereka pada Dyah dan juga Fahmi.
Fahmi tak menghiraukan luka di siku tangannya, justru ia mengkhawatirkan serta mencemaskan keadaan Dyah.
“Mbak Dyah baik-baik saja?” tanya Fahmi yang terlihat sangat panik.
Dyah benar-benar bingung harus menjawab apa, karena ia pun tahu kalau Fahmi telah menyelamatkan dirinya.
Orang-orang menuntun Dyah dan Fahmi untuk menepi ke sisi jalan. Sementara motor Fahmi, cepat-cepat disembunyikan ke rumah sekitar agar tak menimbulkan keramaian lebih lagi jika polisi datang.
“Minumlah dulu!” Salah satu wanita tua dengan mengenakan kain batik memberikan Fahmi dan Dyah teh hangat.
Gadis itu tiba-tiba menangis ketika melihat darah dari siku tangan Fahmi terus mengeluarkan darah. Karena tak ingin melihat darah Fahmi yang terus mengalir, Dyah memutuskan untuk mencari apotek terdekat dan membeli kain kasa untuk menutupi luka Fahmi.
Akan tetapi, Fahmi malah mengikuti Dyah karena tak ingin sesuatu hal terjadi kepada calon istrinya itu.
Sesampainya di apotek, Dyah meminta kain kasa dan disaat yang bersamaan, Fahmi datang. Tanpa pikir panjang, Dyah meminta salah satu petugas di apotek itu untuk memeriksa dan mengobati luka Fahmi.
“Sudah jangan menangis, saya tidak apa-apa,” ucap Fahmi agar Dyah segera menghentikan tangisannya.
“Ini semuanya salahku, tidak seharusnya aku melamun. Maafkan aku,” ucap Dyah yang terus saja menangis seperti anak kecil kehilangan permen lollipop.
Fahmi segera mendapatkan pertolongan dan tak butuh waktu lama, luka Fahmi pun sudah terbalut oleh perban.
Dyah segera mengeluarkan ponselnya dan dengan keadaan menangis, Dyah menceritakan bahwa dirinya dan Fahmi mengalami kecelakaan tunggal kepada Papanya.
__ADS_1
Terima kasih atas kunjungan Anda! 💖