
Suara adzan subuh berkumandang, Asyila yang sebelumnya telah mandi bergegas untuk mengenakan pakaian dengan tubuh gemetar.
Meskipun Asyila sakit, Asyila tak melupakan kewajiban untuk sholat.
Asyila mengenakan pakaian dengan sangat hati-hati dengan tubuh gemetar karena kedinginan, padahal air yang ia gunakan untuk mandi adalah air hangat.
Setelah berhasil mengenakan pakaiannya, Asyila kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
1 jam kemudian.
Mbok Num meminta Dyah untuk ke kamar Asyila karena sudah waktunya bagi bayi Akbar untuk mandi.
Dyah mengiyakan dan bergegas menuju kamar Aunty serta Pamannya.
“Aunty, ini Dyah,” tutur Dyah tanpa mengetuk pintu.
“Masuk saja, Dyah. Tidak Aunty kunci,” balas Asyila dari dalam kamar.
Dyah perlahan membuka pintu kamar tersebut dan melangkah masuk.
“Aunty, adik Akbar sudah waktunya dimandikan. Dyah bawa ya, biar dimandikan oleh Mbok Num di kamar mandi belakang,” terang Dyah.
“Mandikan saja disuruh, biarkan Mbok Num masuk ke kamar!” pinta Asyila.
“Karena Aunty sudah mengatakannya, Dyah akan keluar untuk memanggil Mbok Num,” sahut Dyah dan menenggelamkan pergi ke luar dari kamar untuk memanggil Mbok Num yang tengah berada di dapur.
Mbok Num saat itu tengah menggoreng telur yang sebelumnya telah direbus untuk dibuatkan telur balado.
“Mbok Num, masuk saja ke kamar Aunty,” ucap Dyah pada Mbok Num.
“Baiklah, Mbak Dyah,” sahut Mbok Num dan meninggalkan pekerjaannya saat itu juga untuk segera memandikan bayi dari pasangan Abraham dan Asyila.
Mbok Num mengetuk pintu terlebih dahulu dan Asyila pun mempersilakan Mbok Num untuk masuk memandikan bayi Akbar.
“Maaf ya Mbok Num, Asyila telah merepotkan Mbok Num,” ujar Asyila pada Mbok Num yang saat itu akan masuk ke dalam kamar mandi untuk mempersiapkan air hangat bayi Akbar.
“Nona Asyila tidak perlu mengatakan kalimat itu, Mbok juga senang kalau setiap hari memandikan Mas Akbar,” balas Mbok Num dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Selang beberapa menit, air hangat untuk bayi Akbar telah siap. Mbok Num berjalan mendekat ke arah bayi tersebut untuk melepaskan pakaiannya.
Asyila merasa sangat terbantu dengan kehadiran Mbok Num di hidupnya.
“Mas Abraham tumben tidak mengirim pesan? Apakah Mas Abraham disana sangat sibuk? Atau memang ada hal yang sangat penting?” tanya Asyila bermonolog ketika melihat ponsel miliknya yang tak ada notifikasi dari Sang suami tercinta.
Asyila memikirkan suaminya sampai akhirnya bayi Akbar telah selesai dimandikan.
“Nona Asyila!” panggil Mbok Num ketika melihat Asyila melamun.
Mbok Num sekali lagi memanggil Asyila sembari menyentuh tangan Asyila, saat itu juga Asyila tersadar dari lamunannya.
“Iya, Mbok Num. Ada apa?” tanya Asyila.
“Maaf, Nona Asyila. Mas Akbar mau dipakaikan baju yang mana?” tanya Mbok Num.
“Yang warna hijau muda itu ya Mbok Num, itu setelan kok,” jawab Asyila sembari menunjuk ke arah lemari kecil milik bayi Akbar.
“Baik, Nona Asyila.”
Mbok Num melangkah mendekat ke arah almari kecil milik bayi Akbar, kemudian mengambil pakaian bayi yang dimaksud oleh Asyila. Setelah itu, Mbok Num secara perlahan memakaikan pakaian tersebut kepada bayi Akbar.
“Alhamdulillah, sudah selesai Nona Asyila,” tutur Mbok Num dan memberikan Bayi Akbar ke dalam pangkuannya Bundanya.
“Sekali lagi terima kasih ya Mbok Num,” ujar Asyila.
“Karena Mas Akbar sudah mandi, Mbok Num permisi dulu,” tutur Mbok Num dan bergegas meninggalkan Asyila bersama dengan bayinya.
Asyila perlahan menyusui bayinya agar kembali tidur.
__ADS_1
Siang hari.
Dyah tengah duduk bersama dengan Bela di teras depan rumah, Dyah menyadari ada yang kurang. Akan tetapi, Dyah tidak tahu itu apa.
Sampai akhirnya Dyah sadar bahwa Pak Eko dan mobil Pamannya tidak ada.
“Mas Fahmi!” panggil Dyah pada suaminya. “Mas Fahmi!” panggil Dyah lagi.
Fahmi berlari kecil menghampiri istrinya yang berteriak-teriak memanggil namanya.
“Ada apa, Dyah?” tanya Fahmi.
“Mas, Pak Eko dan mobil kemana ya? Kok Dyah tidak tahu,” ujar Dyah menanyakan sopir pribadi Pamannya berserta mobil milik Pamannya.
“Oh itu, Pak Eko kebetulan sekitar jam 9 tadi pergi, Mas juga tidak tahu kemana. Ya Mas kira perginya sebentar,” ungkap Fahmi pada istrinya.
“Ini sudah jam 1, Pak Eko memang pergi kemana?” tanya Dyah penasaran.
“Sudah jangan dipikirkan, nanti juga pulang sendiri,” sahut Fahmi dan kembali masuk ke dalam rumah karena sedang menemani putri kecil mereka bermain.
Dyah kembali duduk di kursi dan disaat yang bersamaan, mobil pun tiba memasuki halaman rumah.
“Ternyata Pak Eko sudah kembali,” tutur Dyah.
Eko turun dari mobil dan berlari kecil membuka pintu mobil seperti ada seseorang yang duduk di kursi tengah.
Dyah pun terkejut sekaligus senang ketika tahu bahwa pria yang baru saja turun dari mobil adalah Paman kesayangannya, Abraham Mahesa.
“Alhamdulillah, akhirnya Paman kembali!” Dyah berlari kecil mendekati Pamannya. “Paman kemana saja? Sekarang, temui Aunty di dalam kamar!” perintah Dyah sembari melipat kedua tangannya ke dada.
“Memangnya kenapa dengan istri Paman?” tanya Abraham penasaran.
“Paman lihat saja sendiri,” jawab Dyah dengan sangat ketus.
Seketika itu juga, Abraham berlari masuk ke dalam rumah untuk segera menemui istri kecilnya.
“Syila...” Abraham terkejut melihat wajah istri kecilnya yang memucat.
“Syila kenapa begini?” tanya Abraham menyentuh pipi istri kecilnya dan mengecup bibir Sang istri secara perlahan.
Asyila meneteskan air matanya ketika suaminya sudah berada di hadapannya.
“Ya Allah, akhirnya Mas pulang. Mas kenapa pulang tidak memberitahu Asyila?” tanya Asyila yang kini sudah berpelukan.
“Mas ingin memberi kejutan untuk Asyila. Dan ternyata, Mas sendiri yang mendapatkan kejutan karena Asyila tengah sakit, kita ke dokter ya!”
“Tidak usah, Mas. Asyila sudah ada obat dan tinggal meminum obat tersebut sampai habis, sekarang Asyila sangat bahagia karena Mas pulang dengan selamat,” ungkap Asyila.
“Maafkan Suamimu ini, istriku. Setelah misi di Surabaya berhasil, Dayat serta yang lain ditugaskan untuk pergi ke Palembang. Mas akhirnya memilih untuk membantu mereka, ternyata masalah disana tidak segampang itu. Butuh 3 hari bagi kami sampai akhirnya mereka benar-benar tertangkap. Setelah misi di Palembang selesai, Mas memutuskan untuk pergi ke Surabaya karena harus membawa oleh-oleh untuk Syila serta yang lain,” ungkap Abraham panjang lebar pada istri kecilnya.
“Melihat Mas dalam keadaan baik seperti ini, Asyila sudah sangat senang. Terima kasih karena telah kembali,” ujar Asyila yang merasa lebih baik setelah kehadiran suaminya.
“Syila sudah makan siang?” tanya Abraham sembari melirik ke arah buah hati mereka yang berada di ranjang bayi dan ternyata tidak tidur malah Asyila menghisap jari jempolnya.
“Belum, Mas. Mulut Asyila pahit,” jawab Asyila apa adanya.
“Itu artinya Syila belum minum obat?”
“Belum, Mas,” jawab Asyila lirih.
Abraham melepaskan pelukannya dan berjalan mendekati buah hati mereka.
“Kesayangan Ayah tidak tidur? Malah menghisap jari jempol?” tanya Abraham dan menciumi seluruh wajah buah hatinya berulang kali, sampai akhirnya bayi Akbar menangis karena ulah Ayahnya sendiri.
Abraham tertawa geli dan memberikan bayi Akbar kepangkuan Bundanya, Asyila.
“Sepertinya bayi kita haus, setelah bayi Akbar menyusu Mas akan membawa Syila ke ruang makan. Kebetulan Mas juga belum makan, Mas tidak ingin sampai Asyila telat minum obat,” tegas Abraham yang sengaja mengatakan hal itu agar istri kecilnya mau sembuh dengan meminum obat tepat waktu.
__ADS_1
Setelah mengatakan kalimat tersebut, Abraham melepaskan pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Asyila tersenyum bahagia mendengar perkataan Suaminya. Akhirnya, setelah beberapa Asyila kesepian, kini ada suaminya yang membuat Asyila kembali bersemangat.
“Akbar sayang, akhirnya Ayah kembali. Kita pun bisa tidur bersama lagi,” tutur Asyila pada buah hatinya.
Di ruang keluarga, Dyah sangat senang karena akhirnya Paman kesayangannya itu kembali. Dyah tak tega jika harus melihat Aunty-nya sakit, terlebih lagi bila tak ada Sang Paman yang menemani Aunty kesayangannya itu.
Dyah dan Fahmi saat itu juga beranjak dari sofa ketika melihat Abraham menghampiri sepasang suami istri itu.
“Kenapa berdiri seperti itu? Duduklah, ini ada oleh-oleh untuk kalian,” terang Abraham dan membagikan oleh-oleh yang ia beli kepada Dyah, Fahmi dan juga Bela.
Mereka bertiga dengan kompak mengucapkan terima kasih kepada Abraham dan juga Asyila.
“Ya sudah, jangan lupa dinikmati oleh-oleh yang Paman beli. Sekarang Paman mau ke ruang makan, bersama dengan Aunty kalian. Oya, kalian sudah makan siang?” tanya Abraham.
“Kami sudah, Paman,” jawab ketiganya dengan kompak.
Abraham pun melanjutkan langkahnya menuju ruang makan sembari merangkul pinggang Sang istri.
“Mbok Num, ini ada oleh-oleh untuk Mbok Num serta yang lain, tolong dibagi rata!” pinta Abraham pada Mbok Num.
Mbok Num menerima oleh-oleh tersebut dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
Setelah itu, Abraham berjalan menuju meja makan bersama Sang istri tercinta.
“Hati-hati, istriku,” tutur Abraham membantu Sang istri duduk di kursi.
“Terima kasih, Mas,” balas Asyila dengan tersenyum manis.
Abraham mengambil piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk pauk untuknya bersama Sang istri tercinta yang tengah sakit.
“Kalau sampai besok Syila belum juga membaik, Mas akan membawa Asyila ke rumah sakit. Bila perlu menjalani rawat inap di rumah sakit,” terang Abraham yang tak tega melihat istri kecilnya lemas tak berdaya seperti sekarang.
“Mas tenang saja, insya Allah Asyila besok sudah membaik,” sahut Asyila pada suaminya.
Abraham membaca do'a sebelum makan bersama dengan istri kecilnya. Kemudian, Abraham menyuapi makanan pada istri kecilnya dengan penuh kehati-hatian.
“Mas, pahit,” tutur Asyila yang memang merasakan makanan yang di dalam mulutnya begitu pahit.
“Meskipun pahit, cobalah untuk mengunyahnya dan menelannya!” pinta Abraham yang terdengar seperti memaksa istri kecilnya untuk menelan makanan tersebut.
Asyila dengan patuh mengikuti apa yang dikatakan oleh suaminya.
“Sudah, Mas,” terang Asyila yang telah berhasil menghabiskan makanan di dalam mulutnya.
“Coba buka mulut Asyila!” pinta Abraham yang ingin memastikan bahwa apa yang dikatakan istri kecilnya adalah benar.
“Aaaa!” Asyila membuka mulutnya lebar-lebar.
“Bagus,” puji Abraham dan kembali menyuapi makanan pada Sang istri.
Dyah mengintip dari kejauhan, ia benar-benar salut dengan Pamannya yang berhasil membujuk Aunty-nya untuk makan. Dikarenakan, sebelumnya Dyah berusaha membujuk Aunty-nya untuk makan. Akan tetapi, Aunty-nya menolak dan Dyah pun akhirnya menyerah karena tak tega jika harus memaksa Aunty kesayangannya itu.
Setelah makan siang bersama, Abraham membawa Asyila ke kamar untuk segera meminum obat sekaligus beristirahat agar Sang istri segera sembuh.
“Sudah, Mas,” tutur Asyila yang telah selesai meminum obat.
“Coba lihat!” pinta Abraham.
Lagi-lagi Asyila harus membuka mulutnya agar suaminya percaya bahwa apa yang masuk ke dalam mulutnya telah ia telan.
“Alhamdulillah, sekarang Asyila tidurlah!” pinta Abraham.
“Mas Abraham tidak tidur? Tidur ya Mas, sambil peluk Asyila!” pinta Asyila yang sangat ingin tidur di pelukan suaminya.
“Iya, istriku. Ini Mas ganti baju dulu ya, soalnya cuaca siang ini agak panas,” terang Abraham.
__ADS_1
“Kenapa tidak pakai AC saja, Mas?” tanya Asyila.
“Ya ampun, Mas lupa,” sahut Abraham sembari menyentuh dahinya sendiri.