Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Anak Sakit Secara Bersamaan


__ADS_3

Ashraf pagi-pagi buta sudah rewel, Abraham maupun Asyila berpikir bahwa Ashraf hanya rewel seperti biasanya. Akan tetapi, setelah Abraham mencium pipi Ashraf, barulah Abraham tahu bahwa buah hatinya bersama istri tercintanya sedang demam.


Abraham tanpa pikir panjang menghubungi Yogi untuk meminjam mobil, jikalau menghubungi Eko sudah pasti akan cukup lama sampai Eko tiba di perumahan Absyil.


“Assalamu’alaikum.” Setelah mendengar kabar bahwa Ashraf sakit dan Abraham ingin meminjam mobil, Yogi pun cepat-cepat datang.


“Wa’alaikumsalam, mari masuk Pak Yogi!” Asyila mempersilakan suami dari sahabat masuk ke dalam rumah.


Abraham berjalan menuruni anak tangga sembari menggendong tubuh Ashraf yang sangat panas. Ashraf bahkan menggigil dan semakin membuat Abraham khawatir.


Yogi cepat-cepat keluar untuk membukakan pintu mobil.


“Maaf merepotkan mu,” ucap Abraham pada Yogi.


“Sama sekali tidak,” jawab Yogi dan bergegas mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.


Asyila mencoba untuk tetap tenang. Meskipun, saat itu ia sangat ketakutan dengan kondisi buah hatinya yang mendadak jatuh sakit.


“Semuanya akan baik-baik saja,” bisik Abraham pada Asyila yang terlihat syok.


“Iya Mas,” jawab Asyila lirih.


Sesampainya di rumah sakit, Abraham langsung berlari dan meminta perawat untuk segera menangani buah hatinya.


Akan tetapi, Ashraf tidak bisa langsung ditangani karena Abraham harus antri terlebih dahulu dikarenakan saat itu rumah sakit begitu ramai.


Sebagai warga negara Indonesia yang baik, Abraham pun mematuhi peraturan itu dan berharap Ashraf baik-baik saja.


15 menit kemudian.


Akhirnya waktu bagi Ashraf datang, Abraham dengan cepat membawa buah hatinya ke dalam ruangan untuk diperiksa.


“Maaf, Tuan dan Nyonya harus menunggu diluar,” ucap Sang dokter.


“Baik, dok,” balas Abraham.


Yogi duduk diam sembari berdo'a untuk kesehatan Ashraf. Bagaimanapun, Ashraf sudah dianggap seperti anaknya sendiri.


“Ya Allah, semoga Ashraf baik-baik saja,” ucap Asyila memohon pada Allah agar buah hatinya baik-baik saja.


Abraham mengelus-elus bahu istri kecilnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Kau, jaga selalu hatimu...


Saat jauh dariku, tunggu aku kembali... (Nada dering ponsel Abraham)


Abraham segera mengeluarkan ponselnya dan ternyata yang menghubunginya adalah Ayah mertuanya, Herwan.


“Assalamu’alaikum, Ayah,” ucap Abraham.


Asyila meminta suaminya agar membesarkan volume dengan bahasa bibir.


“Wa’alaikumsalam, Nak Abraham. Bisakah kalian ke Jakarta secepatnya?” tanya Herwan yang terdengar begitu panik.

__ADS_1


“Memangnya ada apa Ayah?” tanya Asyila yang tak kalah panik.


“Arsyad sekarang sedang di rumah sakit, badannya panas dan kami bingung harus bagaimana,” terang Herwan, “Ibumu dari tadi menangis dan membuat Ayah takut,” imbuh Herwan.


Deg! Abraham dan Asyila tak bisa berkata-kata. Dua buah hati mereka sakit secara bersamaan.


“Mas, bagaimana ini? Putra kita sama-sama membutuhkan kita. Akan tetapi...” Asyila tidak bisa membendung air matanya, ia menangis dan tak peduli bagaimana orang-orang melihatnya.


Abraham pun merasa sangat sedih, orang tua mana yang akan diam saja mengetahui bahwa buah hati mereka sakit.


“Apakah Ashraf juga sakit?” tanya Herwan dari balik telepon.


“Iya, Ayah. Maaf, Abraham akan menghubungi Ayah lagi, Assalamu'alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


Abraham terpaksa memutuskan sambungan telepon lebih awal, dikarenakan keadaan istri kecilnya semakin terpuruk.


Yogi pun ikut sedih dan otaknya langsung buntu ketika mencoba mencari solusi untuk Arsyad dan Ashraf yang sama-sama membutuhkan kedua orangtuanya.


Jika Abraham pergi seorang diri, sudah pasti Asyila akan sedih dan keduanya sama-sama bingung. Begitu pula sebaliknya, keadaan mereka saat itu benar-benar seperti buah simalakama.


“Hiks... hiks... Mas, bagaimana ini?” tanya Asyila bingung sembari memukuli dada suaminya.


Abraham pun bingung, jika ini menyangkut orang lain mungkin ia masih bisa mencari solusi. Akan tetapi, lain halnya dengan yang ia alami sekarang. Kedua buah hatinya jatuh sakit secara bersamaan.


Dan kedua buah hati mereka pasti sangat membutuhkan Abraham dan Asyila.


Asyila tiba-tiba memiliki ide dan meminta suaminya untuk pergi ke Jakarta dan besoknya Asyila lah yang pergi ke Jakarta secara bergantian.


Tanpa pikir panjang, Abraham langsung menyetujui apa yang dikatakan oleh istri kecilnya. Hal itu adalah jalan satu-satunya agar kedua putra kecil mereka bisa ditemani oleh salah satu dari orang tua mereka meskipun, tidak datang secara bersamaan.


“Mas pergi dulu, jangan lupa selalu menghubungi Mas perihal keadaan Ashraf!” pinta Abraham.


“Mas juga, pokoknya harus selalu memberi kabar kepada Asyila perihal keadaan Arsyad!”


Sepasang kekasih halal itu pun akhirnya berpisah. Yogi menangis terharu dengan cinta Abraham dan Asyila yang begitu besar. Jika ada yang bisa membuat Yogi iri, itupun adalah Abraham dan Asyila.


Asyila berdiri dengan kaki gemetar, ia menatap punggung suaminya yang perlahan semakin menjauh bersama Yogi.


“Ya Allah, ujian apalagi yang Engkau berikan kepada keluarga kami? Semoga kami bisa melewatinya,” ucap Asyila sembari menoleh ke atas langit-langit rumah sakit.


Asyila menyandarkan tubuhnya di kursi dengan terus berharap agar kedua buah hatinya cepat sembuh.


Dokter keluar dari ruangan Ashraf dan dengan cepat Asyila bangkit menghampiri dokter wanita itu.


“Dok, bagaimana keadaan Ashraf?” tanya Asyila sembari meneteskan air mata.


“Kami sudah memeriksanya dan Ashraf terkena demam berdarah,” jawab dokter Intan.


Deg! Asyila sangat syok, ia yakin kediamannya bersih dari yang namanya nyamuk.


“Anak saya bisa sembuh 'kan, dok?” tanya Asyila.

__ADS_1


“Untuk lebih jelasnya, mari ke ruangan saya!” ajak dokter Intan.


“Baik, dok,” jawab Asyila.


Asyila berjalan membuntuti Intan menuju ruangan. Sesampainya di ruangan dokter Intan, Asyila dipersilakan duduk.


Dokter Intan pun menjelaskan kondisi Ashraf dan Ashraf harus dirawat seminggu penuh dan bahkan, lebih dari seminggu.


Asyila tentu saja sedih, seminggu bukan waktu yang singkat. Apalagi, ia harus melihat buah hatinya tetap berada di atas ranjang.


“Nyonya Asyila yang sabar, Ashraf pasti akan segera sembuh,” ucap dokter Intan menyemangati Asyila.


“Aamiin. Terima kasih atas penjelasannya, dok. Kalau begitu saya permisi,” tutur Asyila dan segera pergi menuju ruang perawatan anak.


Ketika Asyila ingin memasuki ruangan buah hatinya, ponselnya berbunyi dan ternyata yang menghubunginya adalah Arumi, Ibu dari Asyila.


“Hallo, Assalamu’alaikum,” ucap Asyila.


“Wa’alaikumsalam, Nak. Bagaimana keadaan cucu kami?” tanya Arumi.


Asyila pun menjelaskan kondisi buah hatinya kepada Arumi, tak ada sedikitpun yang Asyila tutup-tutupi atau melebih-lebihkan perihal keadaan Ashraf.


“Ya Allah, kamu yang tenang ya sayang. Pasti tidak akan mudah menghadapinya,” ucap Arumi.


“Iya, Ibu. Tolong jaga Ashraf ya Ibu! Mas Abraham saat ini sedang dalam perjalanan menuju Jakarta, Asyila sekarang benar-benar pasrah,” tutur Asyila.


“Kita sama-sama berdo'a ya Nak. Semoga Arsyad dan Ashraf segera sembuh.”


“Ibu, apakah sudah ada kabar dari dokter mengenai kondisi Arsyad?”


“Belum, Nak. Dari tadi Ibu dan Ayahmu menantikan kabar baik dari dokter. Akan tetapi, sampai sekarang dokter belum juga keluar dari ruangan,” jawab Arumi.


Asyila memukuli dadanya sendiri dan ia jatuh begitu saja ke lantai. Jika sudah menyangkut soal anak, orang tua manapun pasti akan sedih, panik, khawatir, gelisah pokoknya semuanya bercampur menjadi satu.


“Teteh yang sabar ya!” Dua orang wanita mendekati Asyila dan membantu Asyila untuk bangkit.


Salah satu dari mereka menyodorkan air minum dan Asyila pun menerimanya.


“Terima kasih,” ucap Asyila dengan air mata yang terus berlinang. Kemudian, Asyila memutuskan panggilan telepon begitu saja.


“Kalau boleh tahu, anaknya sakit apa?”


“Anak saya sakit demam berdarah,” jawab Asyila.


Beberapa menit kemudian.


“Teteh yang sabar ya, kami pamit pulang!”


Asyila mengucapkan terima kasih dan kedua wanita itu pergi. Kemudian, Asyila masuk ke ruang rawat buah hatinya.


“Sayang, yang kuat ya nak!” pinta Asyila sambil membelai lembut rambut buah hatinya.


Ashraf terlihat sangat pucat dan semakin membuat hati Asyila sedih.

__ADS_1


“Sayang, yang semangat ya nak!” pinta Asyila dan mengecup lembut kening buah hatinya.


Abraham ❤️ Asyila


__ADS_2