Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Salsa Tak Sabar Ingin Menikah


__ADS_3

Abraham tak bisa berlama-lama di rumah sakit, dikarenakan buah hatinya sedang berada dikamar sendirian.


Abraham pun pamit bergegas kembali ke perumahan Absyil.


“Nak Abraham, bagaimana kalau Salsa menanyakan kamu?” tanya Herwan.


“Abraham tidak ada urusannya dengan wanita itu. Bilang saja apa adanya, Abraham pamit. Assalamu'alaikum!”


“Paman, saya ikut,” ucap Fahmi yang memilih untuk segera pulang ke rumah.


“Wa’alaikumsalam,” balas Arumi dan juga Herwan.


Abraham terus melangkah kakinya dan bergegas masuk ke dalam mobil.


Setibanya di perumahan Absyil, Abraham berlari keluar dari mobil dan berharap buah hatinya tidak menangis di kamar.


Ketika Abraham masuk, Ashraf saat itu tengah duduk bersandar di kepala ranjang sambil memandangi foto Bundanya tercinta.


“Bunda, kapan Bunda pulang? Bunda jangan marah ya sama Ashraf,” ucap Ashraf yang tak menyadari bahwa Ayahnya tengah melihat dirinya.


Ashraf menangis bukan karena rasa sakit di lulut. Akan tetapi, karena rasa rindunya kepada Sang Bunda yang sampai detik ini belum juga tercurahkan.


“Ehem..” Abraham berdehem untuk memecahkan kesedihan Ashraf.


Ashraf mendongakkan kepalanya menoleh ke arah Abraham yang ternyata sudah berdiri dihadapannya.


“Ashraf kenapa menangis?” tanya Abraham sambil mendekati Ashraf dan menghapus air mata Ashraf.


“Ayah. Bunda masih marah ya?” tanya Ashraf.


“Marah? Memangnya Ashraf punya salah apa?” tanya Abraham penasaran.


“Kata Tante Salsa, Ashraf nakal. Tidak bisa diam, jadinya Bunda marah tidak mau pulang menemui Ashraf,” jawab Ashraf apa adanya.


Wanita itu benar-benar tak punya hati.


Aku sudah tak tahan lagi, lihat saja apa yang akan aku lakukan untuk membuatmu menyesal karena telah masuk ke dalam kehidupan keluargaku.


“Sudah ya sayang, Ashraf tidak boleh menangis. Apapun yang dikatakan oleh Tante Salsa, Ashraf tidak perlu mendengarkannya,” tutur Abraham pelan-pelan.


Ashraf mengangguk kecil dan perlahan menghentikan tangisannya.


“Itu baru anak Ayah dan Bunda,” puji Abraham.


Disaat yang bersamaan, Fahmi masuk ke dalam kamar dan mendekati istrinya yang saat itu menampilkan ekspresi cemberut.


“Suami pulang bukannya disambut dengan senyuman. Ini malah memasang wajah cemberut,” ucap Fahmi dan menciumi pipi tembam Dyah yang seperti bakpao.


“Dyah masih kesal dengan wanita itu. Lagipula, apa dia tidak ada kerjaan sampai-sampai melakukan hal gila seperti itu?” tanya Dyah kesal.


“Apa yang Dyah katakan memang benar. Wanita itu tidak ada kerjaan, sehingga melakukan hal seperti itu. Meskipun begitu, kita harus mendo'akannya agar cepat sembuh,” tutur Fahmi.

__ADS_1


“Cepat sembuh dan pergi secepat mungkin dari kehidupan Paman,” tegas Dyah.


Beberapa hari kemudian.


Kondisi Salsa perlahan mulai membaik.


Dan selama beberapa hari Salsa di rawat, tak pernah sekalipun Abraham datang menjenguk. Hal tersebut, mulai Salsa sangat kesal dan bersikukuh untuk mendapatkan cinta seorang Abraham Mahesa.


“Bu, kapan kami menikah?” tanya Salsa.


“Kita bahas ini lain waktu ya,” balas Arumi.


Salsa mengangguk kecil tanda setuju.


“Dok, bagaimana keadaan Salsa?” tanya Arumi pada dokter wanita yang saat itu tengah memeriksa kondisi Salsa.


“Kondisi Mbak Salsa sudah sangat membaik dan lukanya juga sudah mulai kering. Kemungkinan, dua hari Mbak Salsa sudah diperbolehkan pulang,” terang Dokter wanita itu.


Salsa tersenyum tipis sambil membayangkan wajah pria yang ia sukai.


“Terima kasih, Dok,” ucap Arumi ketika dokter dihadapannya ingin keluar dari ruangan.


“Sama-sama,” jawab sang dokter wanita.


Setelah dokter itu pergi, Arumi bersiap-siap untuk kembali ke rumah.


“Ibu mau kemana?” tanya Salsa.


“Lalu, siapa yang menemani Salsa disini?” tanya Salsa yang terlihat tak setuju jika Arumi pulang meninggalkannya di rumah sakit.


“Nak Salsa jangan sedih, Ibu pulang cuma sebentar,” jelas Arumi.


Salsa pun mengiyakan dan kembali memejamkan matanya agar segera tidur.


Di perumahan Absyil.


Arumi baru saja tiba dengan tukang ojek yang mengantarkannya. Ia memberikan uang tersebut dan segera masuk ke dalam.


“Assalamu’alaikum,” ucap Arumi sambil mengusap-usap bajunya yang terkena rintikan air hujan.


“Wa’alaikumsalam, Ibu pulang naik apa?” tanya Abraham ketika melihat Ibu mertuanya sudah berada di depan pintu rumah.


Arumi masuk ke dalam sambil tersenyum santai.


“Ibu pulang pakai jasa Abang ojek,” jawab Arumi dengan santainya.


“Bu, kenapa tidak menghubungi Abraham?” tanya Abraham yang merasa tak enak dengan Ibu mertuanya, ”Dan lagi, diluar saat ini tengah hujan,” imbuh Abraham.


“Sudah tidak apa-apa, lagipula hujannya hanya gerimis saja. Oya, Insya Allah Salsa lusa akan kembali ke sini. Paling cepat besok dia kembali,” tutur Arumi.


“Bu, sepulangnya Salsa dari rumah sakit akan ada pertunjukan hebat. Abraham harap Ibu maupun Ayah mengikuti permainan Abraham,” terang Abraham.

__ADS_1


“Nak Abraham tenang saja, bukankah selama ini Ibu mengikuti keinginan Nak Abraham.”


Abraham bernapas lega dan mengucapkan terima kasih atas pengertian Ibu mertuanya.


“Ibu mandi dulu ya,” ucap Arumi bergegas menuju kamarnya untuk membersihkan diri sekaligus menemui suaminya, Herwan.


Dyah keluar dari kamarnya sambil menggendong bayi mungilnya.


“Paman, apakah tadi ada Nenek Arumi?” tanya Dyah memastikan.


“Iya, itu tadi Nenek Arumi. Sini Arumi biar Paman yang menggendongnya,” tutur Abraham.


Dyah mengiyakan dan memberikan putri mungilnya ke dalam gendongan Pamannya.


“Cucu kakek yang lucu,” ucap Abraham mengajak Cucunya berbicara.


“Paman, besok Papa dan Mama kemari,” ujar Dyah.


“Lalu?” tanya Abraham singkat. Akan tetapi, pandangannya terus menatap ke arah bayi mungil yang tengah tertidur pulas.


“Sepertinya sudah waktunya kami untuk pulang ke rumah kami sendiri,” ucap Dyah.


Abraham seketika itu menoleh ke arah Keponakannya.


“Untuk sementara ini tetaplah disini. Sampai semuanya benar-benar aman,” balas Abraham yang masih tidak tenang jika Dyah dan keluarga kecilnya kembali ke rumah mereka sendiri.


“A-apakah masih tidak aman, Paman?” tanya Dyah yang mulai panik.


“Insya Allah sudah aman. Akan tetapi, kita masih harus berjaga-jaga,” jawab Abraham.


Dyah mengiyakan dan memutuskan untuk membiarkan buah hatinya bersama Pamannya berdekatan.


“Paman tolong jaga Asyila ya. Dyah mau ke kamar,” ucap Dyah dan melenggang masuk ke dalam kamarnya.


Abraham tersenyum tipis dan memilih untuk membawa bayi mungil itu ke kamarnya.


Ketika baru masuk ke dalam kamar, Ashraf sudah lebih dulu memberikan senyum terbaiknya pada Ayahnya.


“Asik ada adik Lala,” ucap Ashraf yang terlihat sangat senang dengan adanya Asyila kecil.


Abraham memberi isyarat tangan agar Ashraf tak terlalu berisik agar bayi mungil itu tetap tertidur.


“Ayah, sini Ayah!” panggil Ashraf meminta agar bayi mungil itu segera diletakkan di tempat tidur bersama dengannya.


Abraham dengan hati-hati meletakkan bayi mungilnya itu tepat di samping buah hatinya, Ashraf.


Ashraf tersenyum lebar meskipun saat itu luka di lulutnya belum sepenuhnya kering.


“Ayah, adik Ashraf kapan lahir?” tanya Ashraf yang tiba-tiba ingat bahwa Bundanya sedang mengandung adiknya.


Mendapat pertanyaan yang tak disangka-sangka, membuat Abraham seketika itu diam. Abraham bingung harus menjawab apa pada Ashraf yang terlihat sangat antusias.

__ADS_1


__ADS_2