
Keesokan paginya.
Arsyad melambaikan tangannya setelah berpamitan kepada para orang tua. Pagi itu, ia akan melakukan perjalanan menuju pondok pesantren tempat ia mengenyam pendidikan agama.
“Arsyad pergi ya, Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Arsyad yang sudah berada di dalam mobil.
Pagi itu, Ashraf diantar oleh Pak Udin dan juga Sang Ayah tercinta. Meskipun sangat berat, tetapi Arsyad mengerti kalau ia harus bisa menjadi seorang yang bertanggung jawab untuk pendidikannya.
“Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!” seru mereka dengan terus melambaikan tangan ke arah Arsyad.
Mobil itu pun perlahan keluar dari halaman rumah dan akhirnya meninggalkan perumahan Absyil.
Asyila menitikkan air matanya setelah putra sulungnya pergi.
“Bunda jangan nangis, kak Arsyad pergi karena mau sekolah,” ucap Ashraf berusaha menghibur hati Bundanya.
“Iya sayang, Bunda tidak akan nangis lagi,” balas Asyila dan tersenyum lebar.
“Bunda sini!” Ashraf menggerakkan tangannya memberi isyarat agar Sang Bunda mendekat padanya.
Asyila mengernyitkan keningnya dan setengah membungkuk.
“Apa sayang?” tanya Asyila penasaran.
Ashraf tersenyum sembari menyeka air mata Bundanya.
“Sudah ya, Bunda jangan menangis lagi. Yang boleh nangis cuma adik Lala sama Adik Akbar,” tutur Ashraf.
“Siap!” seru Asyila sembari mengacungkan jempol tangannya.
Disaat yang bersamaan, seorang bocah sudah banjir air mata dalam pelukan hangat Ayahnya. Siapa lagi kalau buka Arsyad yang akhirnya tak bisa membendung air matanya.
“Menangis lah, tidak perlu malu-malu sama Ayah,” ucap Abraham sambil mengusap-usap punggung putra sulungnya.
“Ayah, jangan kasih tahu adik Ashraf sama Bunda ya kalau Arsyad menangis,” pinta Arsyad.
“Arsyad tenang saja, ini rahasia kita bertiga sama Allah,” balas Abraham.
****
“Ibu, apakah tukang masak sudah datang?” tanya Asyila yang baru saja turun dari anak tangga sembari menggendong bayi mungilnya.
“Tenang saja, mereka sudah datang dan sedang sibuk di dapur. Asyila lebih baik di dalam kamar saja,” jawab Arumi.
Dua wanita dengan santainya menghampiri Asyila dan juga Arumi.
“Ya ampun, Nona Asyila ini kemana saja? Pulang-pulang kesini sudah bawa bayi,” celetuk salah satu penghuni perumahan Absyil.
Asyila hanya tersenyum tipis mendengar perkataan wanita dihadapannya yang sedikit pedas.
“Ibu-ibu ini, tolong ya bantuin saya di dapur,” pinta Arumi berusaha untuk tetap tenang.
Kedua wanita itu mengangguk setuju dan bergegas menuju dapur.
Asyila hanya bisa mengelus dada dan berusaha untuk tetap tenang karena hari itu adalah hari spesial untuk Akbar Mahesa.
Ema berlari kecil menaiki anak tangga ketika melihat Asyila yang akan masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
“Asyila!” panggil Ema.
Mendengar namanya dipanggil, Asyila seketika itu menoleh.
“Iya Ema, ada apa?” tanya Asyila.
“Bo-boleh aku menggendong bayi Akbar?” tanya Ema malu-malu.
“Tentu saja boleh, Akbar pasti sangat senang di gendong sama Mama Ema,” balas Asyila dan dengan hati-hati memberikan bayinya kepada Ema.
“Ya ampun, lucu sekali. Aku sudah sangat lama tidak menggendong bayi,” ucap Ema dengan tatapan terpukau.
“Tambah lagi aja,” bisik Asyila.
Ema hanya mengangguk kecil sambil tersipu malu.
“Ayo masuk ke kamar saja!” ajak Asyila membawa Ema masuk ke dalam kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar, Asyila meminta Ema untuk bersantai-santai di tempat tidurnya. Ema dengan cepat menolak dan memilih bersantai-santai di sofa.
“Oya, Pak Abraham tidak kelihatan. Apa pergi mengantarkan Arsyad ke pondok pesantren?”
“Iya, Ema. Mas Abraham sedang mengantarkan Arsyad ke pondok pesantren dan insya Allah sebelum Ashar sudah tiba disini.”
“Terus, acaranya dimulai jam berapa?” tanya Ema.
“Insya Allah setelah sholat Dzuhur sampai malam jam 9,” jawab Asyila.
“Wah, pasti ramai sekarang yang datang.”
Asyila dan Ema terkejut ketika mendengar suara keributan di bawah. Tanpa pikir panjang, keduanya bergegas turun ke bawah untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
“Bu, sebaiknya anda itu jaga mulut. Saya perhatikan, anda ini selalu mencari gara-gara. Dan saya masih ingat benar, ketika anda membuat Paman saya sedih di rumah sakit ketika saya habis melahirkan,” ucap Dyah kesal.
“Ya ampun, saya itu hanya mengeluarkan pendapat saya saja. Ya siapa tahu 'kan, bayi itu bukan milik Tuan Abraham,” ucapnya.
Plak!!!!
Asyila tiba-tiba datang dan memberikan tamparan keras pada wanita yang baru saja memfitnah bayi mungilnya yang jelas-jelas adalah anak kandung dari seorang Abraham Mahesa.
Semua yang melihat bagaimana Asyila menampar wanita itu merasa sangat puas. Hampir semuanya menghujat mulut pedas wanita tersebut.
“Sadarkah anda, ucapannya anda akan menggiring opini yang tidak-tidak tentang bayi kami. Apakah saya harus melakukan tes DNA dan menunjukkan ke anda secara langsung? Saya juga manusia biasa yang puji batas kesabaran,” tegas Asyila.
Arumi berlari ke arah putrinya dan memeluk putrinya seketika itu juga.
“Anda sudah sangat keluar, silakan keluar dari sini!” Yeni yang geram akhirnya mengusir wanita itu.
Setelah kepergian dari wanita yang sangat meresahkan, merekapun mendekati Asyila dan memberikan dukungan kepada Asyila agar tidak lagi menangis.
“Maaf semuanya,” ucap Asyila sambil berderai air mata dan dengan sedih kembali naik ke kamarnya.
Ema yang saat itu tengah menggendong bayi Akbar, ikut menyusul Asyila yang tengah menaiki anak tangga.
“Itu Ibu-ibu mulutnya pedas banget, tidak bisa dijaga. Seharusnya tadi Dyah cekik saja Ibu itu,” ucap Dyah geram.
“Mama setuju ucapan kamu Dyah, bila perlu wanita itu tidak usah tinggal disini,” sahut Yeni.
__ADS_1
“Husss... Tidak baik bicara seperti itu,” tutur Temmy.
“Terus bicara yang baik itu seperti apa, Pa? Lagipula Ibu itu duluan yang cari gara-gara,” terang Yeni.
Yeni dengan kesal kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya mengiris bawang merah.
“Mas, sini biar Asyila sama Dyah!” Dengan kesal, Dyah mengambil bayinya dan masuk ke dalam kamar.
Para pria dan wanita yang masih berada di ruang tamu, menyalahkan sikap wanita yang telah mengatakan hal tidak-tidak mengenai Asyila serta bayi mungilnya.
Beberapa jam kemudian.
Kediaman keluarga Abraham Mahesa perlahan mulai ramai, para tetangga datang dengan membawa kado untuk bayi Akbar.
“Assalamu’alaikum,” ucap mereka kompak.
“Wa’alaikumsalam, silakan masuk Ibu-ibu!” Arumi dan Yeni dengan ramah mempersilakan mereka untuk masuk ke dalam rumah.
Sementara para pria yang datang, disambut oleh Fahmi, Herwan dan juga Yogi.
“Nona Asyila dan bayinya mana?” tanya seorang wanita muda.
“Ada di dalam,” jawab Yeni.
“Maaf ya Bu sebelumnya, tadi Ibu Ti cerita ke saya mengenai bayinya Nona Asyila dan juga Tuan Abraham. Saya yang mendengarnya langsung marah karena ucapannya yang seperti itu. Jujur, kami-kami ini tidak suka dengan sikap Ibu Ti,” terangnya Ridha.
Arumi dan Yeni saling tukar pandang mendengar keterangan dari Ridha.
“Tapi, untuk memastikannya kita harus melihat secara langsung bayi itu,” celetuk wanita yang wajahnya terlihat mirip dengan Ibu Ti.
“Bu, anda jangan ikut-ikutan seperti saudari Ibu itu,” sahut Ridha kesal.
“Iya, apalah Ibu ini. Mentang-mentang sepupu Ibu Ti, jadinya ikut berkata yang tidak-tidak,” celetuk yang lainnya.
Dyah yang geram langsung memasang wajah marahnya.
“Tolong ya Ibu-ibu, jangan membuat fitnah yang tidak-tidak!” teriak Dyah.
Wanita yang berstatus sepupu Ibu Ti, seketika itu meminta maaf dan diam membisu melihat wajah Dyah yang sangat marah.
Disaat yang bersamaan, Asyila turun dengan bayi mungilnya.
“Kamu kenapa teriak-teriak, Dyah?” tanya Asyila dan duduk di dekat Ibunya tercinta.
Para tetangga yang berada di ruangan itu, khususnya para wanita langsung menatap wajah Akbar.
“Lihatlah, dilihat sekilas saja bayi itu sangat mirip dengan Tuan Abraham,” tegas Ridha yang sangat kesal dengan orang-orang yang suka bergosip.
Asyila pun memilih diam, ia tidak ingin mulutnya malah melukai hati orang lain. Meskipun, ia masih kepikiran dengan perkataan kasar dari Ibu Ti yang benar-benar menyulut emosi dihatinya.
“Asyila..” Arumi yang berada di samping putrinya, seketika itu menyentuh bahu Sang putri.
“Ibu tenang saja, Asyila tidak apa-apa,” balas Asyila.
Abraham ❤️ Asyila
Like ❤️
__ADS_1