Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Kesedihan Arsyad Dan Ashraf


__ADS_3

Malam hari.


Abraham mencoba mendekati kedua putranya yang sejak pagi tak ingin berbicara padanya. Abraham memaklumi sikap dari Arsyad maupun Ashraf yang seperti itu. Toh, siapa yang tidak kecewa jika selama ini dibohongi oleh keluarganya sendiri, terlebih lagi itu adalah Ayah mereka.


Sejak pagi sampai setelah waktu sholat isya, Ema lah yang menemani kedua bocah itu.


Dan untungnya, kehadiran Ema membuat Arsyad maupun Ashraf bisa sedikit lebih tenang.


Malam itu, Abraham berharap Dyah datang untuk menginap dirumahnya. Akan tetapi, malam itu Dyah masih berada di rumah kedua orangtuanya dan akan sampai sebelum jam 9 malam.


“Arsyad.. Ashraf..” Abraham mencoba mendekati keduanya yang saat itu tengah berada di tempat tidur sambil menutup seluruh tubuh mereka dengan selimut.


Arsyad dan Ashraf yang memang belum tidur, akhirnya memilih untuk membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh mereka.


Abraham tersenyum dan berusaha mendekati kedua putra kecilnya.


“Kalian masih marah sama Ayah?” tanya Abraham menunjuk dirinya sendiri.


Arsyad dan Ashraf kompak mengiyakan pertanyaan dari Ayah mereka dengan sangat lirih.


“Maaf, hanya kata maaf yang bisa Ayah kalian ucapkan saat ini. Kalian pasti sangat kecewa dengan Ayah,” tutur Abraham sambil menundukkan kepalanya.


Abraham menyesali perbuatannya yang telah membohongi Arsyad maupun Ashraf. Bahkan, Abraham lebih sering membohongi putra keduanya, Ashraf yang sangat merindukan kasih sayang dari Bunda tercintanya.


Disaat yang bersamaan, ponsel Abraham berbunyi. Abraham mengambil ponselnya di saku celana dan mulai menerima sambungan telepon dari keponakannya, Dyah.


“Hallo, Assalamu'alaikum. Paman, ini Dyah. Dyah sudah di depan pintu rumah Paman,” ucap Dyah panjang lebar dan seketika itu memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


Abraham kembali memasukkan ponsel pintarnya ke dalam saku dan meminta kedua buah hatinya untuk turun menyambut kedatangan Dyah bersama bayi mungilnya.


“Dibawah sudah ada Kak Dyah dan juga adik Asyila. Ayo turun!” ajak Abraham sambil tersenyum.


Arsyad dan Ashraf pun turun. Akan tetapi, mereka masih cuek bebek terhadap Ayah mereka.


Keduanya berjalan menuruni anak tangga untuk menyambut kedatangan Dyah beserta bayinya.


Abraham hanya bisa mengikuti kedua buah hatinya dari belakang. Bagaimanapun, Arsyad dan Ashraf pasti sangat kecewa dengan kebohongan Abraham selama ini.


Arsyad dan Ashraf tak bisa membuka pintu karena kedua tidak sampai. Keduanya kompak menoleh ke arah Ayah mereka. Namun, tidak mengatakan sepatah katapun.


Abraham yang mengerti maksud mereka, seketika itu membuka kunci bagian atas pintu dan pintu pun terbuka.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum!” sapa Dyah dengan memberikan senyum terbaiknya kepada Arsyad dan juga Ashraf.


“Wa’alaikumsalam,” balas Abraham, Arsyad dan juga Ashraf.


“Kak Dyah... Hiks .. hiks ..” Tiba-tiba keduanya menangis sembari memeluk Dyah.


Dyah terkejut dan meminta agar keduanya berhenti menangis.


“Adik-adik kak Dyah tersayang, kalian berhentilah menangis. Kalau kalian terus menangis seperti ini, yang ada malah Asyila juga ikut menangis,” terang Dyah.


Dyah memperlihatkan wajah bayi mungilnya pada Arsyad dan juga Ashraf. Seketika itu juga, keduanya berhenti menangis.


“Sudah, jangan menangis lagi. Bantu Kak Dyah membawa barang-barang itu!” pinta Dyah.


Tanpa berpikir panjang, keduanya kompak membawa barang-barang milik Dyah yang sekiranya bisa mereka bawa.


Abraham tersenyum tipis, meskipun hatinya sangat sedih karena Arsyad maupun Ashraf belum mau berbicara dengannya.


Fahmi tiba-tiba datang dan segera menggeret koper yang belum dibawa masuk.


“Paman, kenapa melamun?” tanya Fahmi.


“Dari rumah, ada barang yang harus dibawa pulang ke rumah. Oya, Dyah sudah masuk ke dalam?”


“Sudah. Arsyad dan Ashraf juga ada di kamar,” jawab Abraham.


Fahmi mengangguk kecil dan segera masuk ke dalam rumah.


Kini, hanya Abraham saja yang masih berdiri seorang diri dan bingung harus melakukan apa.


Dalam jiwanya, ia begitu rapuh dan penuh dengan rasa bersalah.


Sangatlah wajar bagi kedua putranya untuk tidak tersenyum padanya.


Dan Abraham mengakui kesalahannya yang telah membohongi kedua putranya terlebih lagi Ashraf dengan waktu yang cukup lama.


“Paman.. Apakah Paman terus-menerus menyalahkan diri Paman? Dyah akan berusaha membuat Arsyad maupun Ashraf mengerti. Sekarang, Paman beristirahatlah dikamar. Biar Arsyad dan Ashraf kami yang mengurusnya,” ucap Dyah.


“Baiklah, Paman serahkan anak-anak Paman kepada Dyah dan juga Fahmi,” balas Abraham dan melenggang pergi menuju kamarnya.


Keesokan paginya.

__ADS_1


Setelah melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid, Abraham memutuskan untuk pergi ke perusahaan. Hal tersebut Abraham lakukan karena ia ingin menenangkan dirinya dan tak ingin melihat wajah sedih Arsyad serta Ashraf. Belum lagi ketika Arsyad dan Ashraf memilih untuk tak menyapa Ayah mereka pada saat pulang dari masjid.


“Paman mau kemana? Kenapa sudah rapi begini?” tanya Dyah yang saat itu tak sengaja melihat Abraham yang akan tengah berdiri di depan pintu rumah.


“Paman ada urusan. Tolong perhatikan Arsyad dan juga Ashraf. Mereka harus sarapan tepat waktu, maaf karena merepotkan kamu dan juga Fahmi,” tutur Abraham.


Dyah dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Paman jangan bicara seperti itu lagi. Siapa juga yang repot? Justru, kami sangat senang karena Asyila ada temannya,” balas Dyah.


Abraham tak ingin berlama-lama, ia pun pamit dan bergegas masuk ke dalam mobil untuk melakukan perjalanan menuju perusahaannya.


“Ayah pergi kemana, Kak Dyah?” tanya Arsyad ketika tak sengaja melihat mobil Ayahnya keluar dari halaman rumah mereka.


“Ayah ada urusan penting, makanya pergi,” balas Dyah.


Arsyad menundukkan kepalanya dan merasa bersalah karena telah mengabaikan Ayahnya.


“Arsyad kenapa malah sedih?” tanya Dyah sambil berjongkok dan mencoba menyentuh kedua pipi adiknya itu.


“Arsyad kangen sama Bunda. Ayah sekarang pasti sedih karena Arsyad dari kemarin tidak mau bicara sama Ayah,” terang Arsyad dan seketika itu juga menangis.


Siapa yang tidak sedih jika ditinggalkan oleh orang yang disayangi. Dan itulah yang dirasakan oleh Arsyad. Diusianya yang terbilang masih sangat kecil, ia harus kehilangan sosok Bundanya untuk selama-lamanya. Kini, tidak ada lagi sosok yang selalu mengingatkannya untuk makan, mandi, sholat dan lain-lain.


“Ssuutts... Arsyad kalau rindu dengan Bunda, Arsyad harus sering-sering kirim Do'a. Dan satu lagi, Arsyad harus minta maaf sama Ayah ketika Ayah sudah pulang nanti. Arsyad sanggup?”


Tak pikir panjang lagi, Arsyad mengiyakan apa yang dikatakan oleh Dyah.


Bahkan, Arsyad akan mengajak adiknya untuk kembali menyapa Ayah mereka.


“Nah, itu baru anak Ayah Abraham dan juga Bunda Asyila,” puji Dyah.


Arsyad menghapus air matanya dan berlari kecil menaiki anak tangga.


“Arsyad!” panggil Dyah.


Arsyad menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Dyah.


“Arsyad mau kirim Do'a buat Bunda,” tutur Arsyad dan kembali melanjutkan langkahnya untuk segera masuk ke dalam kamarnya.


Arsyad mengambil air wudhu dengan air mata yang terus menetes. Ia sangat merindukan Bundanya dan sangat berharap bahwa ucapan Ayahnya adalah kebohongan.


“Hiks... Hiks... Bunda..” Arsyad menangis dan terus memanggil nama Bundanya.

__ADS_1


__ADS_2